Tiga Sebelas Kesembilan dan Kabar Terbaru

Alhamdulillah
Segala puji bagi Allah Swt. yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah menganugerahi kami kehidupan dengan segala kesempatan dan pengalaman luar biasa di dalamnya.

Hari ini, tanggal tiga bulan sebelas –yang bukan sebuah kebetulan menjadi nama blog ini- adalah salah satu momen istimewa bagi kami. Sembilan tahun yang lalu, pada tanggal inilah kami mulai membangun rumah tangga. Sudah mulai tak terhitung (dan tak sanggup kusebutkan satu demi satu) apa saja yang telah kami peroleh, lakukan, dan alami bersama. Yang jelas tidak hanya satu rasa di dalamnya. Manis, asin, asam, pedas, pahit … semua ada, meskipun saat aku menulis ini, lebih banyak manisnya yang teringat … alhamdulillah!

Para pengunjung blog kami yang budiman, dalam kesempatan ini (nggak apa ya, sekali-kali meniru pemimpin upacara yang lagi ceramah), izinkanlah kami menyampaikan permohonan maaf. Pertama, mohon maaf atas setiap komentar yang belum terbalas (atau bahkan belum tertampilkan). Kemudian, maaf berikutnya adalah maaf karena mungkin kami belum sanggup memaparkan seluruh pengalaman berharga yang sebenarnya amat sangat ingin kami bagi. Yah .. walaupun memang hak setiap orang untuk berbagi atau tidak berbagi tentang kisah hidupnya, sebenarnya rasanya seperti punya utang bertahun-tahun gitu lho, selama blog ini tak dibuka-buka.

Awalnya, dulu, aku cukup takjub melihat ternyata blog yang ‘sudah dipenuhi laba-laba’ ini masih sering dikunjungi dan bahkan dikomentari. Namun kemudian, aku ingat apa yang menyebabkannya adalah hal yang pernah membuatku gelisah dan galau selama bertahun-tahun setelah menikah: infertilitas. Betapa tidak sedikit ternyata pasangan lain yang mengalaminya juga!

Eits …coba deh, rewind.
Yang tidak kenal kami di dunia nyata, silakan baca lagi tulisan di atas:
………. yang PERNAH membuatku gelisah……….

Apa? / Ya, PERNAH.
Sekarang bagaimana? Sudah tidak galau? / Alhamdulilah, sudah tidak lagi.
Kenapa? Jangan-jangan …. / Alhamdulillah, sekarang sih adanya susaaaaah cari waktu luang, bahkan untuk merenung sejenak. Boro-boro mau galau. Mandi, makan, bahkan ke toilet  pun sering diburu-buru, seolah-olah ada timer. Yang memegang timernya: anak-anak. Si bayi dan kakaknya.
Hah? Bayi? Kakak? / Iya, benar. Saat ini kami punya bayi. Atas kuasa Allah, ia kulahirkan secara spontan kira-kira sebelas bulan yang lalu dari sebuah kehamilan yang alami. Namanya Anya, perempuan. Selain itu, alhamdulillah begitu lahir, Anya juga sudah punya kakak. Namanya Indri, perempuan juga. Usianya tahun ini 9 tahun, hampir sama persis dengan usia pernikahan kami saat ini. Dialah yang amat sangat menantikan kehadiran seorang adik, yang dengan ketulusannya sungguh-sungguh berdoa secara konsisten agar bundanya yang belum pernah hamil seumur hidupnya segera dapat mengandung seorang bayi. Malaikat kecil ini lahir dari hati kami, dipertemukan dan dijodohkan dengan kami melalui cara yang luar biasa. Kami telah sah mengadopsinya secara legal dari sebuah panti milik pemerintah, setelah melalui prosesnya yang cukup menguji iman selama kurang lebih 2 tahun.

Nah, jadi begitu. Itulah salah satu alasan mengapa blog ini terbengkalai begitu lama …
dan alasan mengapa sekarang (setelah beberapa kata lagi, tepatnya) aku harus berhenti menulis dulu dan melanjutkannya lagi kapan-kapan (ketika si bayi sedang tidur nyenyak lama sekali, bisa dititipkan, atau apalah). Maaf yaaah …. mohon doakan saja aku segera menguasai ilmu supernya emak-emak: multitasking
… dan tentunya, doa kami pula untuk kita semua: semoga kita diberikan keikhlasan atas apapun yang ditentukanNya, karena in sya Allah itulah yang terbaik. Aamiin.

Sampai jumpa!
Heidy (+Hamdan)

Setelah rujuk …

Sesuai judul di atas, cerita yang akan kubagi di bawah ini adalah lanjutan dari tulisanku yang berjudul “Rujuk”, yaitu apa saja yang kami lakukan sejak memutuskan kembali ke dokter kandungan. Layaknya utang, aku sudah bertekad pasti menuliskan ceritanya … meskipun kejadiannya sudah lewat hitungan bulan atau bahkan tahun, haha … maaf yaah, tentu saja ini tak lain tak bukan karena ada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup kami (yang sepertinya tidak dapat kuceritakan semua sekaligus karena saking banyaknya).

Dalam tulisan sebelumnya, aku sudah bercerita bahwa dari pemeriksaan-pemeriksaan terakhir yang dilakukan (pada pertengahan tahun 2013), dokter menyimpulkan bahwa aku dan suamiku mengalami unexplained infertility, yang artinya kurang lebih: hanya Allah yang Tahu kenapa kami belum bisa berketurunan, karena seharusnya secara teori sih kondisi kami sudah baik-baik saja … hehehe. Hasil ini sebenarnya cukup mengejutkan bagi kami, mengingat selama 5 tahun lebih kami selalu ‘bertemu’ masalah baru. Kalau bukan aku, Hamdan yang bermasalah. Kalau tidak, dua-duanya sekaligus. Masalah yang satu selesai, muncul masalah berikutnya. Masalah berikutnya selesai, ada lagi masalah lainnya. Bahkan pernah pula setelah ‘menyelesaikan banyak masalah’, masalah pertama datang lagi! Hahahaa (ya sekarang bisa ketawa, dulu mah adanya nangis) …. betapa serunya perjalanan kami!

Jadii, berbekal analisis tentang unexplained infertility itu, dokter terbaru kami dengan santainya menyarankan untuk mencoba cara alami dulu selama beberapa bulan. Tidak ada terapi obat-obatan apapun, yang dia lakukan hanyalah membantu memonitor masa subur melalui USG. Haha … seandainya aku mendapat saran ini pada tahun-tahun sebelumnya, mungkin bulan depannya aku sudah meninggalkan dokter tersebut karena merasa jengkel. Bok … ngitung masa subur mah eike yakin udah cukup ahli, mengingat si siklus bulanan amat sangat teratur. Kalau ujung-ujungnya disuruh alami ya untuk apa ke dokter? Namun, yang terjadi kali ini tidak demikian. Dengan ringan aku dan Hamdan mengikuti saja saran sang dokter. Setiap bulan kami rajin mengunjunginya, kadang antre di klinik berjam-berjam hanya untuk diperiksa dan mengobrol selama 10 menit dengan si dokter! Apa yang membuat kami bisa santai-santai saja melakukannya? Jam terbang, kali ya …. saking udah kenyangnya dengan lika-liku ikhtiar berketurunan ini. Anggap saja kencan, dan anggap saja langkah ini sekadar menunaikan kewajiban berikhtiar, tanpa mengharapkan apapun.

Inseminasi, lagi

Setelah melewati beberapa siklus bulanan dan belum hamil juga, akhirnya sang dokter menawarkan pilihan langkah berikutnya: inseminasi buatan (lagi) atau operasi laparoskopi (lagi, juga). Hwah … pilihan yang sangat mudah, mengingat sampai saat itu aku masih ingat betul ketakutanku di ruang operasi ketika menjalani laparoskopi pada pertengahan tahun 2011.

Maka, pada tahun 2014, kami pun memutuskan untuk mencoba inseminasi lagi. Karena kami sudah pernah melakukannya juga pada tahun 2011, ini bukan inseminasi kami yang pertama, melainkan …. inseminasi yang kedua, ketiga, dan bahkan keempat! Yap, betul … Anda tidak salah baca. Hingga pertengahan tahun 2014, total inseminasi yang sudah pernah kami lakukan adalah 4 KALI. Puas, puas deh.

Laparoskopi, lagi juga

Setelah berkali-kali mencoba inseminasi tetapi belum hamil juga, akhirnya kami pun menghadapi opsi terakhir: laparoskopi lagi. Sebenarnya, beberapa inseminasi yang telah kami coba itu setidaknya menghasilkan satu manfaat: mengulur waktu, menyiapkan mental kami untuk melakukan operasi lagi. Kami mantap memutuskan untuk mencoba laparoskopi lagi pada awal Agustus 2014, tiga tahun setelah laparoskopi yang pertama.

Meskipun judul operasinya sama, tetapi kami sangat berharap bahwa hasil yang diperoleh berbeda. Dulu, saat operasi pertama, laparoskopi kulakukan setelah kegagalan inseminasi pertama karena adanya dugaan kehamilan di luar kandungan (yang alhamdulillah tidak ditemukan, terbukti masalahku saat itu hanya usus buntu akut). Setelah operasi, sang obgyn sempat mengobrol dengan ibuku, berkata bahwa sebenarnya aku tidak mengalami masalah kesuburan apapun dan seharusnya bisa hamil kapan saja. Pernyataan inilah yang sempat membuatku ragu untuk melakukan laparoskopi kedua … untuk apa memeriksa ulang ‘isi tubuh’ yang sudah dinyatakan baik-baik saja?

Sedikit secercah harapan kudapatkan dari dsog terakhirku. Sejak aku berprogram di bawah bimbingannya, melalui USG ditemukan adanya kista dan miom yang sangaaaat kecil (kenapa ini tidak ditemukan pada laparoskopi pertama atau oleh obgyn sebelumnya, hanya Tuhan yang Tahu … mungkin saja waktu itu belum ada). Secara teori, seharusnya, kista dan miom sekecil itu tidak menghambat kehamilan. Ada banyak wanita di luar sana yang hamil-hamil saja, padahal punya kista atau miom yang jauh lebih besar. Nah, setelah inseminasi berkali-kali tetap gagal hamil, barulah sang dokter menyarankan agar kista dan miom yang itu diambil, karena … yah, namanya juga ikhtiar maksimal, siapa tahu meskipun ukurannya kecil, keduanya tetap punya peranan dalam menghalangi kehamilan.

Menghadapi laparoskopi kedua, aku lebih siap. Atau mungkin tepatnya: jauh lebih heboh. Hahahahaa. Cari literatur, tanya ke sana ke mari, sampai minta doa dari seluruh keluarga besar (kebetulan operasinya setelah lebaran). Yang paling kuwaspadai adalah masalah hipotermia-ku. Masih teringat dengan jelas, saat operasi pertama, hawa dingin menusuk hingga ke tulang sampai-sampai terbayang meninggal karena kedinginan di meja operasi, bahkan sebelum dibedah. Kalau diceritakan sih kayaknya lucu, yaa … tapi sungguh, saat mengalami sendiri dan mengingatnya sungguh-sungguh menyeramkan. Karena itulah, menjelang operasi kedua, persoalan itulah yang kubicarakan berkali-kali pada dokter-dokter dan perawat. Alhamdulillah, ternyata kekhawatiranku itu mendapat perhatian yang cukup, tidak dilupakan begitu saja. Pakdeku yang kebetulan merupakan seorang dokter spesialis anestesi menyarankan agar aku sudah dibuat ‘lupa’ sebelum masuk ke ruang operasi, dan itulah yang terjadi. Hal terakhir yang kuingat adalah cairan yang disuntikkan melalui infus tepat sebelum aku didorong masuk ke ruang operasi. Ketika sadar lagi, aku sudah berbaring di ruang pemulihan dengan selimut khusus (ada penghangatnya). Weiss … benar-benar pengalaman yang damai, aman dan nyaman …. jauh berbeda dari sebelumnya!

Harapan baru

Dari laparoskopi kedua ini, kami mendapat ‘oleh-oleh’ yang cukup menakjubkan (menurutku) atau menyeramkan (menurut Hamdan): sebuah video yang merekam seluruh tindakan pada bagian dalam tubuhku selama operasi berlangsung. Seru sekali (sekali lagi, menurutku, looh) bisa menyaksikan rekaman tindakan menyayat, mengikis, dan memotong yang dilakukan oleh dokterku. Mengingat semua itu dilakukan untuk ‘membuang’ penyakit, rasanya puassss sekali … (sementara itu, Hamdan menonton sambil bergidik, menahan rasa ngilu …. hahaha … ini kebalik nggak, sih, siapa yang harusnya merasa ngilu).

Pada kunjungan pertama ke dokter setelah operasi, aku sudah mendapat hasil pemeriksaan patologis: kista yang ditemukan adalah kista endometriosis. Selanjutnya, dokterku meresepkanku Tapros, yaitu terapi (dengan cara disuntik) untuk mengistirahatkan rahimku dari siklus bulanan. Terapi ini dilakukan 3 kali, sehingga diharapkan aku tidak mengalami menstruasi selama kurang lebih 3-4 bulan.

Oh, ya. Sebelum dan sesudah operasi, aku sempat bertemu dan mengobrol dengan beberapa suster yang kebetulan juga pernah melakukan operasi serupa. Mereka semua mendoakanku dan menyemangatiku dengan menceritakan kisah sukses mereka: hanya selang beberapa bulan setelah operasi, akhirnya mereka hamil! Masya Allah … yaa setelah kurang lebih tujuh tahun menikah, meskipun ini bukan pertama kalinya aku disemangati, bukan pertama kalinya berprogram hamil, bukan pertama kalinya dioperasi, mendengar kisah sukses seperti itu selalu menumbuhkan harapan baru. Alhamdulillah, meskipun kekecewaan demi kekecewaan juga sudah sangat sering kami lalui, ternyata kami masih diperkenankan memelihara harapan itu. Terima kasih, ya Allah

Rujuk

Lho, kok tiba-tiba ada kata rujuk? Sebenarnya ini tidak berniat mencari sensasi saja (perhatikan kata saja, berarti ada juga niat cari sensasi itu …. hahhaha …), tetapi juga memang karena kata itulah yang pertama kali terlintas di benakku saat akan membuat tulisan ini. Aku tidak akan merangkum teori tentang bagaimana cara membuat judul karangan yang menarik, tetapi izinkanlah kukutip sedikiiit saja salah satu pengertian kata rujuk dalam bahasa Indonesia: ‘bersatu kembali’.

Nah, apanya yang disatukan kembali? Apa yang sempat terpisah? Apa yang sebetulnya ingin kuceritakan? Jawabannya: hubunganku dan Hamdan dengan dokter atau klinik untuk urusan kehamilan.

Alasan “berpisah”

Para sahabat atau pengunjung yang menjelajahi lapak kami ini karena didorong oleh satu minat khusus bertemakan “infertilitas”, “ikhtiar kehamilan”, “trying to conceive”, dan sebangsanya, mungkin sempat membaca tulisanku yang berjudul “ikhtiar (kehamilan) terakhir”. Dalam tulisan yang kubuat hampir dua tahun yang lalu itu, salah satu yang kusampaikan adalah keputusanku dan Hamdan untuk berhenti berkunjung ke dokter untuk urusan program kehamilan. Keputusan itu sebetulnya berkaitan dengan banyak hal, seperti masalah infertilitas yang berulang, masalah keuangan, hingga masalah stres.

Intinya, waktu itu kami tidak melihat ada solusi baru di bidang medis untuk masalah infertilitas kami yang berulang (setelah setiap masalah baru diatasi, muncul masalah lama). Aku tidak siap menghadapi kenyataan bahwa setiap masalah yang telah berhasil kami atasi sebelumnya (sel telur tidak matang, morfologi sperma, hingga antibodi antisperma) ternyata tidak berhasil mengantarkanku pada hasil yang diharapkan: hamil. Terus datang ke dokter pun lebih sering membuatku sedih, kesal, atau bahkan marah, daripada senang dan bersemangat. Belum lagi pada saat itu baik aku dan Hamdan memutuskan untuk kuliah lagi dan sedang tidak bekerja sebagai pegawai tetap di mana pun. Sebanyak apa pun tabungan yang ada, kami tidak segila itu untuk menghabiskannya dalam sekejap hanya untuk mengusahakan kehamilan, yang tidak kami kategorikan sebagai kebutuhan primer.

Namun, alasan utama “perpisahan” kami dengan dokter kandungan waktu itu sebenarnya ada pada faktor yang terakhir kusebut: STRES. Tanpa kusadari, sebenarnya aku masih menyimpan harapan yang begitu tinggi sehingga ketika tidak terwujud, perasaan kecewa yang muncul begitu besar. Aku pun belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain. Tidak semua orang berkesempatan (meskipun ingin) untuk melakukan ikhtiar berupa pengobatan medis demi mendapatkan keturunan. Namun, di antara mereka yang tidak mendapat kesempatan tersebut, lebih banyak kutemukan rasa pasrah daripada yang sebaliknya. Kehidupan mereka seperti menunjukkan nasihat yang mengatakan: daripada menyiksa diri karena memikirkan kesempatan yang tidak diperoleh, lebih baik menerima, bersyukur atas hal yang dimiliki, lalu hidup tenang dan bahagia.

Tidak jarang pula, di antara mereka yang sudah lupa pada masalah ketiadaan anak itu, tiba-tiba pada suatu waktu dianugerahi kejutan begitu saja. Tentu saja tidak ada yang dapat menjelaskan apa persisnya yang berproses di dalam tubuh mereka sehingga kehamilan yang sebelumnya begitu sulit terjadi, datang begitu saja. Beberapa ahli (tidak hanya dokter kandungan, tetapi juga psikolog, psikiater, terapis, dll) mengatakan bahwa hal itu berhubungan dengan tingkat stres yang hilang sehngga setiap organ tubuh yang terkait menjadi lebih sehat.

Nah, itulah hal yang mendorong “perpisahan” kami dengan dokter kandungan: agar kami dapat “lupa” sejenak dan menurunkan tingkat stres yang mungkin (atau pasti) ada. Baik, mungkin aku salah. Mungkin hanya aku yang stres, Hamdan tidak. Namun dalam hal ini, perlu diingat kembali sebuah dalil yang mengatakan: istri stres akan membuat suami stres. Dalil dari mana itu? Dalil dariku, barusan, berdasarkan pengalaman pribadi!

Tentu di antara banyak pihak yang mengerti, ada juga yang menyayangkan keputusan kami tersebut. Sebaik-baiknya perjuangan adalah yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Tentu saja, kami tahu itu dan tidak memiliki pendapat yang berbeda. Selamanya kami pun meyakini bahwa kami tidak boleh menyerah. Namun, sebenarnya keputusan itu bukan soal menyerah atau tidak. Pada akhirnya, itu hanya soal menjaga “kewarasan” kami alias kesehatan batiniah dan bukankah itu salah satu faktor terpenting dalam mengusahakan kehamilan? Dengan kata lain, anggaplah “perceraian” kami dari dunia medis untuk program hamil pada saat itu sebagai salah satu ikhtiar lainnya. Selain itu, selama menjauhi dunia medis, kami pun tetap mengikuti pelbagai saran dari mana-mana untuk mencoba pengobatan-pengobatan alternatif. Jadi, niat “menyerah” yang disangkakan itu sesungguhnya memang tidak pernah ada.

Keputusan rujuk

Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun tidak menjumpai dokter kandungan mana pun, niat itu kembali datang. Aku memang tidak langsung menceritakannya di blog ini, tetapi sejak kira-kira pertengan tahun lalu, aku dan Hamdan sudah kembali “menjalin hubungan” dengan salah satu dokter di klinik swasta (Maaf, seperti biasa, aku yang agak “parno-an” ini belum berani untuk langsung menuliskan identitasnya di sini. Bagi yang amat sangat penasaran dan butuh, silakan tinggalkan komentar dan akan kuberi tahu secara pribadi melalui surel). Seperti halnya ada beberapa alasan yang melatari keputusan perpisahan dulu, kali ini pun keputusan rujuk itu didasari oleh beberapa alasan.

Salah satunya adalah diterimanya Hamdan bekerja di sebuah lembaga pemerintah yang berkantor di Jakarta. Akhirnya, alhamdulillah … setelah lima tahun menikah, kami merasakan apa yang namanya tinggal seatap hampir setiap hari! Lalu apa hubungannya dengan keputusan kembali ke dokter? Banyak. Dulu, saat Hamdan lebih sering jauh dariku (bekerja di lepas pantai), kebanyakan pertemuan dengan dokter kujalani sendiri. Meskipun aku tidak keberatan dengan itu (atau setidaknya begitulah yang kukira), setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya itu bukan hal yang baik. Mungkin saja itu salah satu penyebab stresku: mulai dari mengejar janji dengan dokter sendiri (termasuk menyetir saat macet dll), mengantri sendiri bersama ibu-ibu lain yang sudah berperut besar, menghadapi pemeriksaan dokter sendiri, berkonsultasi sendiri, hingga kemudian harus melakukan “transfer ilmu” ke suami. Too much trouble. Kini, dengan Hamdan berkantor di Jakarta, aku dapat berkonsultasi dengan dokter tanpa segala kesusahan itu. Benar-benar peluang yang terlalu berharga untuk dilewatkan, bukan??

Alasan kedua yang terpenting berkaitan dengan masalah stres yang kusebut-sebut sebelumnya. Sebetulnya aku tidak tahu bagaimana mengukurnya, tetapi aku yakin betul, tingkat stresku telah jauh berkurang. Bukti yang kuajukan adalah … aku sampai lupa! Hahaha. Aku lupa bahwa aku punya masalah infertilitas, aku lupa bahwa sebelumnya aku selalu kesal di hari pertama menstruasi karena berarti belum hamil juga, aku lupa bahwa biasanya aku iri pada teman-teman yang melahirkan (apalagi yang lebih muda atau baru menikah), dan bahkan …. aku lupa bahwa kehamilan adalah hal yang sangat kunantikan! Hahahaha.

Mungkin, karena alasan itulah, orang tuaku menjadi lebih gelisah. Entah berapa lama mereka menahannya, akhirnya pada suatu hari, tercetuslah pertanyaan tentang –kapan-aku-kembali-ke-dokter. Aku pun ingat kembali pada segala hal yang telah kulupakan itu dan mendiskusikannya dengan Hamdan.

Tidak ada keragu-raguan atau perdebatan yang panjang, kami pun memutuskan untuk “rujuk” dengan dunia medis. Berbeda dengan sebelumnya, rasanya ringan sekali saat membuat keputusan kali ini. Yang kupersiapkan hanya mencari klinik yang banyak direkomendasikan pasutri lain yang juga memiliki masalah infertilitas dan tidak terlalu jauh dari kantor Hamdan. Kriteria terakhir ini penting karena inilah yang berbeda dari hubungan sebelumnya: sedapat mungkin kami selalu datang ke dokter bersama-sama.

Selanjutnya, di klinik tersebut, aku memilih dokter yang direkomendasikan tidak hanya karena pengalamannya dalam menyukseskan suatu program hamil, tetapi juga karena keramahannya atau keakrabannya dengan pasien. Orang mau hamil kan harus senang, pikirku. Jangan sampai nanti aku mogok periksa lagi hanya karena takut atau tegang menghadapi dokter yang sedikit bicara atau galak.

Dari nol lagi

Datang dengan ikhlas, aku tidak banyak berpikir saat pertama kali memeriksakan diri ke dokter kandungan yang baru. Seperti sebelumnya, aku menyusun dan menunjukkan riwayat lengkap ikhtiar kami selama ini pada sang dokter. Namun, entah mengapa, kali ini aku tidak menggebu-gebu membawa segudang pertanyaan untuk dikonsultasikan. Apa yang mau kutanyakan? Sepertinya aku sudah kenyang dengan semua informasi mengenai soal masalah infertilitas, kecuali mungkin tentang satu-dua pendekatan yang berbeda. Selain itu, aku dan Hamdan juga tidak banyak berharap. Mengingat masalah hormon (sel telur tidak matang) yang kudapati di pemeriksaan dokter terakhir setahun sebelumnya, kami pun ikhlas jika menemui masalah yang sama atau masalah-masalah lainnya.

Pemeriksaan demi pemeriksaan pun kami jalani kembali, termasuk di antaranya mengecek kematangan telur melalui pemeriksaan-pemeriksaan USG, cek darah untuk masalah hormon, dan pemeriksaan sperma. Satu yang sangat kusyukuri adalah tidak perlu mengulang tes HSG yang sangat traumatis itu. Lalu, apa hasilnya? Hanya Tuhan yang tahu, ke mana masalah ketidakmatangan sel telur yang terjadi setahun sebelumnya. Lenyap tak berbekas. Begitu pula dengan hasil pemeriksaan lainnya, tidak ada masalah! Alhamdulillah.

Kami pun kembali memulai program hamil (promil) dengan perasaan yang lebih ringan dan santai. Faktor dokter juga berperan penting di sini. Setelah gonta-ganti dokter, dokter kami kali ini adalah dokter yang paling ramah: murah senyum, selalu bersikap santai dan mudah mengakrabkan diri. Meskipun antriannya cukup panjang, ternyata kami cukup dapat menghilangkan rasa lelah yang ada dan bahkan hampir tidak pernah merasa kesal. Kunjungan rutin ke dokter setiap bulannya sudah seperti plesiran atau kencan saja … hahaha. Inilah perbedaan terbesar yang kami rasakan dari saat menjalani program-program sebelumnya: tidak ada beban (termasuk di antaranya tidak banyak berharap, tidak hitung-hitungan, tidak memikirkan hal apa saja yang sudah dikorbankan demi menjalani si promil).

Ah, tak terasa, tulisanku sudah panjang lagi. Sebenarnya masih banyak yang belum kuceritakan terkait program hamil yang kembali kami jalani ini, tapi sepertinya lebih baik kulanjutkan dalam tulisan berikutnya saja, ya. Sekali lagi, terima kasih pada teman-teman yang mau berbagi bersama kami, terutama yang juga terus berjuang agar dikaruniai keturunan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita.

 

Salam,

Heidy (+Hamdan)

Ikhtiar (Kehamilan) Terakhir

Dua bulan yang lalu, aku dan Hamdan telah memutuskan untuk berhenti mengunjungi dokter spesialis obstetri dan ginekologi dan menghentikan segala pengobatan medis.

Dokterku yang Baik

Khusus tentang sang dsog, aku ingin bercerita sedikit tentangnya. Sebelum berhenti mengunjunginya, dsog terakhirku itu baru dua bulan lebih sedikit menjadi langgananku. Sungguh sebentar berjodohnya kami!

Sejauh ini, menurut pengamatanku, tak ada yang salah dengannya. Meski awalnya aku menangkap kesan galak dari raut wajahnya, ternyata beliau justru baik sekali. Pada kunjungan pertama, aku langsung memberinya ‘ringkasan cerita’ terkait masalah infertilitasku dan Hamdan sejak menikah beserta bundelan hasil pemeriksaan lab kami.  Ia membaca semuanya dengan seksama, tidak terburu-buru sama sekali. Terasa benar niatnya yang ingin memberiku keleluasaan untuk berkonsultasi. Keluar dari ruangannya, aku baru sadar bahwa ia telah memberiku waktu konsultasi selama 50 menit sendiri! Subhanallah

Hal lain yang membuatku ingin mendoakan dsog yang baik ini adalah kedermawanannya. Tidak hanya sekali ia memberiku potongan biaya untuk jasa konsultasinya hingga lima puluh persen! Bahkan ketika aku mendatanginya untuk konsultasi hasil HSG, aku hanya perlu membayar dua puluh ribu rupiah untuk biaya administrasi rumah sakit. Dengan kata lain, ia menggratiskan seratus persen biaya jasa konsultasinya! Sekali lagi, subhanallah..

Lalu hal yang paling membuatku terharu adalah kebaikan, kesantunan dan kebijaksanaannya sendiri. Setelah diberitahu nomor ponselnya, sangat mudah bagiku untuk menghubunginya. Hebatnya, ia tak pernah lama membalas pesan –pesanku. Jika butuh waktu untuk menjawab pertanyaanku (biasanya seputar jadwal bertemu), ia akan mengirimkan dulu pesan seperti “Mohon waktu..” Jarang betul kan dokter sesantun ini? Ia dapat menjelaskan suatu hal dengan jelas dan rinci, tapi juga terlihat sangat berhati-hati dan tidak membuatku stres. Ia pun tidak pernah memaksakan pemikirannya untukku. Untuk setiap langkah pemeriksaan yang menurutnya perlu kulakukan, berkali-kali ia mengatakan “Jika bersedia…”  dan mengingatkan bahwa kapasitasnya hanyalah untuk menyarankan, sementara keputusan untuk melaksanakannya tetap berada di tanganku. Termasuk untuk langkah yang ia sarankan pada kunjungan terakhir kami : pemeriksaan hormon.

Ya, dengan sangat menyesal, aku menjadikan itu sarannya yang terakhir, memutuskan untuk tidak mengikutinya, dan sudah hampir dua bulan aku tak mengunjunginya kembali. Tak mudah sebenarnya memutuskan hal ini. Bagaimana pun, ia dokter yang baik dan sejauh ini tak ada hal darinya yang membuatku kecewa. Kurasa seandainya aku hamil suatu saat nanti, aku pun ingin kembali berkunjung dan berkonsultasi padanya.

(Bukan) Mengulang Perjalanan

Apa yang akhirnya membuatku memutuskan untuk tidak mengikuti langkah pemeriksaan hormon? Yang menjadi jawabannya adalah seluruh perjalanan kami sendiri terkait usaha untuk berketurunan ini. Aku selalu menerima masalah apapun yang harus kami hadapi untuk urusan berketurunan ini untuk kemudian dicari solusinya, diupayakan untuk diselesaikan. Ikhtiar atau usaha adalah kewajiban. Dengan melakukannya, aku pun memahami bahwa perjalanan kami ini adalah ujian sekaligus anugerah. Setiap pengalaman kami selalu memberikan hikmah baru, nikmat yang berbeda.

Pemeriksaan hormon sudah pernah kulakukan empat tahun yang lalu sebagai pemeriksaan infertilitasku yang pertama dan waktu diketahui bahwa hormon kesuburanku tidak normal. Terapi hormon bukan solusi yang aman untukku yang saat itu juga masih melakukan terapi obat untuk anemia hemolisis. Karena itulah, aku menempuh berbagai jalan pengobatan alternatif dan masalah berhasil terselesaikan beberapa waktu kemudian, meski aku tak tahu persis cara mana yang menyembuhkan kondisiku itu. Bisa jadi salah satu pengobatan alternatif yang kulakukan, atau semuanya sekaligus. Yang jelas kutahu, Allah ridho dan masalah itu pun lenyap, entah melalui jalan yang mana. Nah, wajar kan jika aku termangu begitu mendapati aku kembali mengalami masalah perkembangan sel telur yang diduga terkait masalah hormon, masalah yang sama dengan masalah terdahulu itu? Bagaimana bisa? Apa yang harus kulakukan? Mengulangi seluruh ikhtiarku dulu?

Ketika bertanya pada dsog-ku, ia menjawab bahwa penyebab masalah tidak berkembangnya sel telur tak dapat diuraikan secara tepat. Ada beragam faktor yang dapat mempengaruhinya dan wajar jika seorang wanita mencapai masa subur pada satu siklus dan tidak mencapainya pada siklus berikutnya. Lihatlah kasusku yang delapan bulan sebelumnya diyakini seratus persen subur berdasarkan pemeriksaan laparoskopi. Menurutmu, apa yang terjadi dalam delapan bulan berikutnya? Jika perubahan-perubahan seperti ini wajar atau pasti terjadi, untuk apa aku mencari pengobatan? Bukankah bisa saja nanti aku lagi-lagi sembuh hanya untuk sesaat, lalu kembali lagi ke kondisi ini?

Sama seperti empat tahun lalu, aku tak melirik terapi hormon sebagai solusi. Bagiku, efek samping atau dampak negatif dari cara pengobatan tersebut terlalu besar atau tidak sebanding dengan persentase keberhasilan yang diharapkan. Aku pun berhenti mengunjungi dsog-ku.

Meski demikian, aku tak berhenti mencari informasi dari berbagai sumber dan jika semua sumber informasi itu dituliskan, mungkin jumlahnya mencapai ratusan halaman. Memang, hal ini bukan baru saja kulakukan. Namun kali ini aku semakin ketagihan. Daripada diam melamun sendiri, aku lebih memilih menyibukkan pikiranku dengan membaca. Apa hasil dari kegiatan melahap segunung informasi itu? Kenyang dan buncit, tentu saja. Lalu pusing tujuh keliling karena seperti halnya untuk masalah lain, tak sedikit informasi yang bertentangan di dunia ini. Menurut sumber 1, melakukan A dan mengonsumsi B sangat dianjurkan. Sementara menurut sumber 2, sebaiknya hindari melakukan A dan mengonsumsi B. Begitu seterusnya hingga kuperoleh puluhan sumber. Jadi, mana yang harus kuikuti??

Pada masa kebingungan itu, rasa kesal, marah, dan frustasi merayapiku. Dalam hampir setiap percakapanku dengan Tuhan, kulontarkan pertanyaan apa maksudNYa kali ini? Kenapa? Jadi apa yang diinginkanNya dariku? Lalu ketika teringat olehku Mama yang berkata bahwa orang beriman tidak bertanya “kenapa” pada Tuhannya, aku pun menyadari betapa aku tidak termasuk golongan orang yang beriman.

Kepusinganku akhirnya terobati setelah dari diskusi-diskusi eksklusif dengan Hamdan, aku teringat akan hal terpenting, hal yang menjadi prioritas kami. Apa yang menjadi tujuan hidup kami berdua dan bagaimana kami tak boleh salah ambil jalan, yang ternyata malah menghalangi pencapaian tujuan itu.

Nyaris saja aku melupakan alasan mengapa aku melakukan langkah-langkah ikhtiar itu. Berketurunan bukanlah tujuan hidupku dan Hamdan. Kami memutuskan untuk hidup bersama karena ingin bahagia lahir dan batin, saling mendukung satu sama lain untuk sukses dunia dan akhirat. Dan bahagia maupun sukses itu tak harus terwujud atau terukur dalam hal keturunan, kekayaan, kepopuleran atau hal-hal lain yang sering dibanggakan manusia dalam kehidupan sehari-harinya.

Ikhtiar seharusnya hanyalah wujud kami menunaikan kewajiban sebagai hambaNya. Langkah-langkah kecil kami telah menapaki jalan misterius untuk berusaha mencapai bahagia dan sukses yang hakiki itu. Namun ketika berusaha untuk menganalisis secara rinci bagaimana  tepatnya jalan itu, memperkirakan panjang dan batas-batasnya, kurasa saat itulah niat suci itu tercemar. Ada pamrih, berharap akan imbalan yang setimpal setelah melihat panjangnya jalan yang telah ditempuh. Padahal sebelum iseng mengukur si jarak dan membayangkan sang imbalan itu, perjalanan sudah terasa begitu nikmat. Lihatlah… betapa manusia itu tak pernah puas, tak pandai bersyukur dan gemar mendzhalimi dirinya sendiri.

Ikhtiar itu wajib, dan salah satu kegelisahanku adalah jika kami termasuk lalai dalam melaksanakan kewajiban ini. Namun, ketika kembali kubuka catatan perjalanan kami, kukenali rasa damai itu. Kami sudah menunaikan kewajiban ini, dan terasa kini tibalah saat terindah. Bukan saat untuk mengharap akan imbalan, melainkan saat untuk benar-benar mengikhlaskan segalanya, menghapus segala pamrih. Segala usaha, semua jerih payah itu…kami ikhlas, ya Allah. Bahwa hanya Engkaulah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, kami meyakininya. Maka dengan menyebut namaMu, kami mulai rencana terakhir ini: memutuskan untuk menikmati hidup pemberianMu, berbahagia sekarang juga tanpa menunggu apapun. Jadikanlah apapun kehendakMu yang terbaik bagi kami.

Salam berbagi,

Heidy