Rujuk

Lho, kok tiba-tiba ada kata rujuk? Sebenarnya ini tidak berniat mencari sensasi saja (perhatikan kata saja, berarti ada juga niat cari sensasi itu …. hahhaha …), tetapi juga memang karena kata itulah yang pertama kali terlintas di benakku saat akan membuat tulisan ini. Aku tidak akan merangkum teori tentang bagaimana cara membuat judul karangan yang menarik, tetapi izinkanlah kukutip sedikiiit saja salah satu pengertian kata rujuk dalam bahasa Indonesia: ‘bersatu kembali’.

Nah, apanya yang disatukan kembali? Apa yang sempat terpisah? Apa yang sebetulnya ingin kuceritakan? Jawabannya: hubunganku dan Hamdan dengan dokter atau klinik untuk urusan kehamilan.

Alasan “berpisah”

Para sahabat atau pengunjung yang menjelajahi lapak kami ini karena didorong oleh satu minat khusus bertemakan “infertilitas”, “ikhtiar kehamilan”, “trying to conceive”, dan sebangsanya, mungkin sempat membaca tulisanku yang berjudul “ikhtiar (kehamilan) terakhir”. Dalam tulisan yang kubuat hampir dua tahun yang lalu itu, salah satu yang kusampaikan adalah keputusanku dan Hamdan untuk berhenti berkunjung ke dokter untuk urusan program kehamilan. Keputusan itu sebetulnya berkaitan dengan banyak hal, seperti masalah infertilitas yang berulang, masalah keuangan, hingga masalah stres.

Intinya, waktu itu kami tidak melihat ada solusi baru di bidang medis untuk masalah infertilitas kami yang berulang (setelah setiap masalah baru diatasi, muncul masalah lama). Aku tidak siap menghadapi kenyataan bahwa setiap masalah yang telah berhasil kami atasi sebelumnya (sel telur tidak matang, morfologi sperma, hingga antibodi antisperma) ternyata tidak berhasil mengantarkanku pada hasil yang diharapkan: hamil. Terus datang ke dokter pun lebih sering membuatku sedih, kesal, atau bahkan marah, daripada senang dan bersemangat. Belum lagi pada saat itu baik aku dan Hamdan memutuskan untuk kuliah lagi dan sedang tidak bekerja sebagai pegawai tetap di mana pun. Sebanyak apa pun tabungan yang ada, kami tidak segila itu untuk menghabiskannya dalam sekejap hanya untuk mengusahakan kehamilan, yang tidak kami kategorikan sebagai kebutuhan primer.

Namun, alasan utama “perpisahan” kami dengan dokter kandungan waktu itu sebenarnya ada pada faktor yang terakhir kusebut: STRES. Tanpa kusadari, sebenarnya aku masih menyimpan harapan yang begitu tinggi sehingga ketika tidak terwujud, perasaan kecewa yang muncul begitu besar. Aku pun belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain. Tidak semua orang berkesempatan (meskipun ingin) untuk melakukan ikhtiar berupa pengobatan medis demi mendapatkan keturunan. Namun, di antara mereka yang tidak mendapat kesempatan tersebut, lebih banyak kutemukan rasa pasrah daripada yang sebaliknya. Kehidupan mereka seperti menunjukkan nasihat yang mengatakan: daripada menyiksa diri karena memikirkan kesempatan yang tidak diperoleh, lebih baik menerima, bersyukur atas hal yang dimiliki, lalu hidup tenang dan bahagia.

Tidak jarang pula, di antara mereka yang sudah lupa pada masalah ketiadaan anak itu, tiba-tiba pada suatu waktu dianugerahi kejutan begitu saja. Tentu saja tidak ada yang dapat menjelaskan apa persisnya yang berproses di dalam tubuh mereka sehingga kehamilan yang sebelumnya begitu sulit terjadi, datang begitu saja. Beberapa ahli (tidak hanya dokter kandungan, tetapi juga psikolog, psikiater, terapis, dll) mengatakan bahwa hal itu berhubungan dengan tingkat stres yang hilang sehngga setiap organ tubuh yang terkait menjadi lebih sehat.

Nah, itulah hal yang mendorong “perpisahan” kami dengan dokter kandungan: agar kami dapat “lupa” sejenak dan menurunkan tingkat stres yang mungkin (atau pasti) ada. Baik, mungkin aku salah. Mungkin hanya aku yang stres, Hamdan tidak. Namun dalam hal ini, perlu diingat kembali sebuah dalil yang mengatakan: istri stres akan membuat suami stres. Dalil dari mana itu? Dalil dariku, barusan, berdasarkan pengalaman pribadi!

Tentu di antara banyak pihak yang mengerti, ada juga yang menyayangkan keputusan kami tersebut. Sebaik-baiknya perjuangan adalah yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Tentu saja, kami tahu itu dan tidak memiliki pendapat yang berbeda. Selamanya kami pun meyakini bahwa kami tidak boleh menyerah. Namun, sebenarnya keputusan itu bukan soal menyerah atau tidak. Pada akhirnya, itu hanya soal menjaga “kewarasan” kami alias kesehatan batiniah dan bukankah itu salah satu faktor terpenting dalam mengusahakan kehamilan? Dengan kata lain, anggaplah “perceraian” kami dari dunia medis untuk program hamil pada saat itu sebagai salah satu ikhtiar lainnya. Selain itu, selama menjauhi dunia medis, kami pun tetap mengikuti pelbagai saran dari mana-mana untuk mencoba pengobatan-pengobatan alternatif. Jadi, niat “menyerah” yang disangkakan itu sesungguhnya memang tidak pernah ada.

Keputusan rujuk

Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun tidak menjumpai dokter kandungan mana pun, niat itu kembali datang. Aku memang tidak langsung menceritakannya di blog ini, tetapi sejak kira-kira pertengan tahun lalu, aku dan Hamdan sudah kembali “menjalin hubungan” dengan salah satu dokter di klinik swasta (Maaf, seperti biasa, aku yang agak “parno-an” ini belum berani untuk langsung menuliskan identitasnya di sini. Bagi yang amat sangat penasaran dan butuh, silakan tinggalkan komentar dan akan kuberi tahu secara pribadi melalui surel). Seperti halnya ada beberapa alasan yang melatari keputusan perpisahan dulu, kali ini pun keputusan rujuk itu didasari oleh beberapa alasan.

Salah satunya adalah diterimanya Hamdan bekerja di sebuah lembaga pemerintah yang berkantor di Jakarta. Akhirnya, alhamdulillah … setelah lima tahun menikah, kami merasakan apa yang namanya tinggal seatap hampir setiap hari! Lalu apa hubungannya dengan keputusan kembali ke dokter? Banyak. Dulu, saat Hamdan lebih sering jauh dariku (bekerja di lepas pantai), kebanyakan pertemuan dengan dokter kujalani sendiri. Meskipun aku tidak keberatan dengan itu (atau setidaknya begitulah yang kukira), setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya itu bukan hal yang baik. Mungkin saja itu salah satu penyebab stresku: mulai dari mengejar janji dengan dokter sendiri (termasuk menyetir saat macet dll), mengantri sendiri bersama ibu-ibu lain yang sudah berperut besar, menghadapi pemeriksaan dokter sendiri, berkonsultasi sendiri, hingga kemudian harus melakukan “transfer ilmu” ke suami. Too much trouble. Kini, dengan Hamdan berkantor di Jakarta, aku dapat berkonsultasi dengan dokter tanpa segala kesusahan itu. Benar-benar peluang yang terlalu berharga untuk dilewatkan, bukan??

Alasan kedua yang terpenting berkaitan dengan masalah stres yang kusebut-sebut sebelumnya. Sebetulnya aku tidak tahu bagaimana mengukurnya, tetapi aku yakin betul, tingkat stresku telah jauh berkurang. Bukti yang kuajukan adalah … aku sampai lupa! Hahaha. Aku lupa bahwa aku punya masalah infertilitas, aku lupa bahwa sebelumnya aku selalu kesal di hari pertama menstruasi karena berarti belum hamil juga, aku lupa bahwa biasanya aku iri pada teman-teman yang melahirkan (apalagi yang lebih muda atau baru menikah), dan bahkan …. aku lupa bahwa kehamilan adalah hal yang sangat kunantikan! Hahahaha.

Mungkin, karena alasan itulah, orang tuaku menjadi lebih gelisah. Entah berapa lama mereka menahannya, akhirnya pada suatu hari, tercetuslah pertanyaan tentang –kapan-aku-kembali-ke-dokter. Aku pun ingat kembali pada segala hal yang telah kulupakan itu dan mendiskusikannya dengan Hamdan.

Tidak ada keragu-raguan atau perdebatan yang panjang, kami pun memutuskan untuk “rujuk” dengan dunia medis. Berbeda dengan sebelumnya, rasanya ringan sekali saat membuat keputusan kali ini. Yang kupersiapkan hanya mencari klinik yang banyak direkomendasikan pasutri lain yang juga memiliki masalah infertilitas dan tidak terlalu jauh dari kantor Hamdan. Kriteria terakhir ini penting karena inilah yang berbeda dari hubungan sebelumnya: sedapat mungkin kami selalu datang ke dokter bersama-sama.

Selanjutnya, di klinik tersebut, aku memilih dokter yang direkomendasikan tidak hanya karena pengalamannya dalam menyukseskan suatu program hamil, tetapi juga karena keramahannya atau keakrabannya dengan pasien. Orang mau hamil kan harus senang, pikirku. Jangan sampai nanti aku mogok periksa lagi hanya karena takut atau tegang menghadapi dokter yang sedikit bicara atau galak.

Dari nol lagi

Datang dengan ikhlas, aku tidak banyak berpikir saat pertama kali memeriksakan diri ke dokter kandungan yang baru. Seperti sebelumnya, aku menyusun dan menunjukkan riwayat lengkap ikhtiar kami selama ini pada sang dokter. Namun, entah mengapa, kali ini aku tidak menggebu-gebu membawa segudang pertanyaan untuk dikonsultasikan. Apa yang mau kutanyakan? Sepertinya aku sudah kenyang dengan semua informasi mengenai soal masalah infertilitas, kecuali mungkin tentang satu-dua pendekatan yang berbeda. Selain itu, aku dan Hamdan juga tidak banyak berharap. Mengingat masalah hormon (sel telur tidak matang) yang kudapati di pemeriksaan dokter terakhir setahun sebelumnya, kami pun ikhlas jika menemui masalah yang sama atau masalah-masalah lainnya.

Pemeriksaan demi pemeriksaan pun kami jalani kembali, termasuk di antaranya mengecek kematangan telur melalui pemeriksaan-pemeriksaan USG, cek darah untuk masalah hormon, dan pemeriksaan sperma. Satu yang sangat kusyukuri adalah tidak perlu mengulang tes HSG yang sangat traumatis itu. Lalu, apa hasilnya? Hanya Tuhan yang tahu, ke mana masalah ketidakmatangan sel telur yang terjadi setahun sebelumnya. Lenyap tak berbekas. Begitu pula dengan hasil pemeriksaan lainnya, tidak ada masalah! Alhamdulillah.

Kami pun kembali memulai program hamil (promil) dengan perasaan yang lebih ringan dan santai. Faktor dokter juga berperan penting di sini. Setelah gonta-ganti dokter, dokter kami kali ini adalah dokter yang paling ramah: murah senyum, selalu bersikap santai dan mudah mengakrabkan diri. Meskipun antriannya cukup panjang, ternyata kami cukup dapat menghilangkan rasa lelah yang ada dan bahkan hampir tidak pernah merasa kesal. Kunjungan rutin ke dokter setiap bulannya sudah seperti plesiran atau kencan saja … hahaha. Inilah perbedaan terbesar yang kami rasakan dari saat menjalani program-program sebelumnya: tidak ada beban (termasuk di antaranya tidak banyak berharap, tidak hitung-hitungan, tidak memikirkan hal apa saja yang sudah dikorbankan demi menjalani si promil).

Ah, tak terasa, tulisanku sudah panjang lagi. Sebenarnya masih banyak yang belum kuceritakan terkait program hamil yang kembali kami jalani ini, tapi sepertinya lebih baik kulanjutkan dalam tulisan berikutnya saja, ya. Sekali lagi, terima kasih pada teman-teman yang mau berbagi bersama kami, terutama yang juga terus berjuang agar dikaruniai keturunan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita.

 

Salam,

Heidy (+Hamdan)

20 thoughts on “Rujuk

  1. Naaah.. Gitu dong🙂
    Iya bener, faktor stress bisa jadi faktor utama loh *ngaca*.

    Skrg dgn suami yg udah tinggal seatap, bisa bareng ke dokter dan kondisi dompet yg membaik, semoga kalian menjalaninya dengan less-stress dan kembali ikhtiar dgn ikhlas.

    Btw denger baca kata2 “hsg yg traumatis” sumpaah aku jadi takut nih mo ngejalanin hsg bulan depan (kalo masih haid) huaaa…😥

    • Hehe itu untuk segelintir orang aja kok mbak … ada beberapa orang yg menjalaninya dengan baik-baik saja …
      Eh maaf, udah telat banget nih ngebales komennya, sampe udah mau 2 bulan. Gimana mba, berarti mba Cicha udah HSG ya bulan lalu? Semoga hasilnya paten yaa🙂

  2. Assalamu’alaikum, mbak heidy…
    Ketika sedang browsing masalah inseminasi buatan, tanpa sengaja membaca kisah mbak heidy tentang “Cerita Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Inseminasi Buatan”. Tulisan itu membuatku tertarik utk membuka lebih lanjut tulisan mbak heidy… tulisan yang bagus mbak🙂

    Mbak Heidy… membaca blog mbak heidy tanpa sadar aku menangis. Kalo boleh berbagi uneg2, aku sudah menikah 3 tahun tapi belum punya momongan juga. Padahal suamiku adl anak sulung dan lelaki satu2nya. Stelah 9 bulan menikah belum ada tanda kami mengunjungi dokter atas rekomendasi kakak iparku. Kami berdua dinyatakan sehat, mbak. Digelontor obat penyubur sampai badan melar 25kg pun kulakoni. Berbagai tes semacam HSG dan tes darah utk mengecek hormon penunjang kehamilan sudah kami lakukan. Semua baik, mbak. Dokter kami bahkan gemes krn saya nggak kunjung hamil. kami lalu disarankan utk melakukan inseminasi buatan. sayang, suami tidak mendukung. Dia menolak dengn alasan pengen kehamilan yg ‘alami’. Aku tidak bisa membantah dan hanya bisa menahan hasrat utk mencoba inseminasi buatan, meskipun dari kasus2 yang aku baca mlalui forum2 kebanyakan insem pertama kebanyakan gagal. Tapi tidak ada salahnya mencoba, menurutku.

    Komentar sinis dan nylekit datang silih berganti… Termasuk tekanan dari pihak mertua yang mengharapkan cucu pertama segera hadir. Stress berat, mbak.
    Sampai akhirnya papa meninggal 20 februari 2014 kemarin dan aku belum bisa memenuhi permintaan papa yang siap menghadap illahi asal sudah menggendong cucu dariku. Sakit sekali mbak… Pukulan terberat bagiku karena papa-lah sosok yang paling menguatkanku berkaitan dengan momongan. Aku merasa menjadi wanita yg paling nggak beruntung sedunia istilah lebay-nya, mbak…

    Membaca kisah mbak Heidy yang terus berikhtiar (meskipun ada fase ‘cerai’ dg dokter kandungan sementara waktu Heheh…) utk seorang momongan membuat aku jadi sadar, bukan aku sendiri yang kurang beruntung karena blm melengkapi status menjadi seorang bunda. terimakasih, mbak… tulisan2 mbak heidy membuatku termotivasi.

    Terus menulis, berbagi pengalaman dan cerita ya, mbak…
    Semoga Allah berkenan bermurah hati menganugrahkan keturunan bagi kita. Aamiin..

    • Alaikumsalam wr wb, mba Vitri …
      Maaf yaa, aku baru buka blog lagi jadi telat sekali membalas komentar mbak di atas.
      Subhanallah, terima kasih banyak udah berbagi kisah juga di sini, sungguh menggetarkan hati, mbak ..
      Alhamdulillah kalau tulisanku ada gunanya.
      Pasti ada hikmah di balik apa yg harus kita hadapi ini, termasuk mbak yg kehilangan Papa ketika masih sedang berikhtiar, hanya mungkin kita yg belum tahu.
      Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita, meskipun mungkin di luar harapan/keinginan awal kita.
      Semangat terus yaa, mba Vitri! Semoga kita bisa saling menguatkan tekad dalam berikhtiar dan terus dikaruniai kesabaran .. aamiin🙂

  3. semoga sukses ibu Heidy dan pak Hamdan. Saya juga sedang mencoba hal yang sama dengan yang anda lakukan 4 tahun yang lalu

    • Salam kenal Mba Nindia,

      ya ampun maaf komentar ini terlewat … telat sekali yaa membalasnya … maafff
      Alhamdulillah sudah Mbak, saya hamil tahun 2015 dan sekarang anaknya udah mau setahuun … kabar Mbak Nindia bagaimana?

  4. semoga sukses ya promilnya… dan juga mohon do’anya karna saya juga lagi usaha…

    segala daya upaya ini, untuk menjadi seorang ibu. membuat saya berfikir mungkin saya belum jadi anak yang baik bagi ibu saya, sehingga masih harus belajar. dan tentu saja saat kita siap Allah akan buka jalanya, dan indah pada waktunya.. #menikmatiproses

  5. Assalamu’alaikum, mbak heidy
    Sedihh, terharu,, senang bercampur aduk yang saya baca diblog mba heidy, sudah 4 tahun saya juga belum diberikan momongan oleh ALLAH SWT, hampir putus asa nangis, ya seperti turun naik kadar harapan saya. Tapi setelah membaca blog mba heidy saya mempunyai semangat lagi saya tidak sendiri juga banyak diluar sana yang sama-sama berjuang dan semoga kita semua segera diberi keturunan yang lahir dari rahim kita masing-masing, anak-anak keturunan yang sholeh dan sholeha.
    Amin🙂

    • Alaikumsalam wr wb mb Rizka …
      terima kasih banyak sudah mampir dan berbagi juga di sini ya mbak ..
      alhamdulillah kalau mb Rizka mendapatkan semangat lagi melalui blog ini …
      aamiin YRA untuk doanya, semoga Allah memberikan yg terbaik untuk kita yaa🙂

  6. Assalamualaikum Mba Heidy..
    Salam kenal..
    Awalnya aku browsing saja disela-sela jam kantor.. mencari kenapa akhir-akhir ini aku sering migren (sehari bisa 5-6 kali). Setelah goggling akhirnya sampai ke masalah hormon yg kalo aku baca sepertinya hormon progesteron ku rendah (asumsi aku saja dr sumber-sumber yang q baca). Dan aku menemukan cerita mba heidy dg semua perjuangan untuk mendapatkan momongan. Aslinya pengen menitikkan air mata tp berhubung di kantor ya aku tahan..
    Salut dg semua perjuangan mu mba.. aku pun sudah menikah bulan september 2012 dan smp sekarang aq jg belum punya momongan. Yg jelas sejak aku menikah berat badanku naik drasti.. dr 60 an smp ke 90 (dalam kurun waktu setahun). Banyak penyakit yg akhirnya menghampiriq, setaun yg lalu aq terkena perlemakan hati, edema kaki, dan asam lambung. Yang bikin stres juga adalah haidq yg tidka teratur,, bs sampai 3- 4 bulan skali aq baru haid. Aq pernah ke dokter kandungan krn masalah haid tdk teratur, hanya diberi obat supaya bs haid dan disuruh utk kembali lagi (tapi aku yg malas). Karena RS itu berjarak 64 km dr rumahku, dan aku kerja diluar kota, itu yg membuatku malas ke dokter kandungan.
    Dari blog mba heidy,, aku makin ingin ke dokter kandungan dan ingin punya semangat seperti itu.. semangat utk berjuang.. kmrn aku hanya mencoba minum air klorofil (k-link) dan konsumsi folac (folat acid).. memang 2 bln terakhir aku bs haid bahkan haidq di bulan kmrn smp 2 minggu dengan darah yg lumayan banyaaak (aq sndiri smp heran).. tp di bulan ini haid tidak datang dan malah migren ini yg menemaniku sejak awal bulan.
    Sebenarnya bingung jg dg kondisi badanq ini.. (malah aq yg curhat_).
    Tapi terima kasih utk share nya.. keep spirit..

    • Alaikumsalam wr wb, mba Atik …
      maaf yaa saya telat banget balas komentarnya karena baru buka blog lagi.
      Terima kasih banyak sudah mampir dan sudah berbagi cerita juga di sini, subhanallah memang tiap orang punya ujiannya masing-masing yaa.
      Aku doakan yang terbaik untuk mb Atik, termasuk agar diringankan langkahnya untuk terus berikhtiar, dipermudah, dan mendapat yang terbaik .. aamiin🙂

  7. assalamualaikum mba heidy
    udah dua hari terakhir ini saya baca-baca blog mba heidy. awalnya saya mencari cerita tentang kehamilan dan sudah sering saya lakukan setiap kali menyambangi internet yang dicari pasti tentang kehamilan dan kesabaran dalam menunggu si buah hati datang ke tengah-tengah keluarga. saya menikah awal 2014 dan sudah mau berjalan dua tahun, tetapi saya masih belum diberikan rezeki menjaga dan merawat buah hati, saya dan suami sangat merindukan kehadirannya, terutama saya yang tiap bulan pasti merasa takut akan datang bulan yang tandanya aku belum hamil. Saya salut sama mba heidy yang berjuang dalam mengusahakan kehamilan saya juga ingin sekali punya semangat seperti mba heidy. Mungkin ketika di rumah saya merasa hanya saya sendiri yang belum dkaruniai putra, tapi diluar sama masih banyak yang menunggu kehamilan. saya tetap bersyukur kepada Allah swt yang masih sayang kepada kita semua.
    Maaf sekali mba heidy saya jadi curhat panjang lebar disini saya hanya ingin ada tempat berbagi disini. semangat terus ya mba heidy dalam ikhtiarnya semoga kita semua bisa diberi kesempatan untuk menjadi ibu yang baik. aamiin dan tak pernah henti dalam doa dan berusaha yang terbaik
    wassalam

    • alaikumsalam wr wb ..
      Salam kenal, Mbak Evi .. terima kasih banyak sudah membaca tulisan saya dan ikut berbagi juga di sini ya ..
      Setiap membaca kisah dari sesama pejuang momongan rasanya jadi gimanaa.. gitu ya.
      Bagaimana kabar Mbak Evi sekarang? Alhamdulillah saat membalas komentar ini (maaf telat bangett), saya sudah dikaruniai 2 anak.
      Namun ternyata cerita Mbak Evi masih bermanfaat bagi saya, yaitu mengingatkan saya kembali pada masa-masa penantian itu sehingga ingat untuk lebih bersyukur lagi.
      Sekarang saya sudah menjadi ibu, tapi saya tidak yakin apakah sudah menjadi ibu yang baik … semoga setiap cerita yang dibagi di blog ini bisa turut membantu saya terus berusaha menjadi ibu yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Aamiin.
      Semoga kita selalu semangat berupaya dalam menghadapi segala ujianNya ya Mbak … semangatt!

  8. Halo mbak heidy, salam kenal🙂
    Aku sari, aku senang baca cerita mbak heidy dalam perjuangannya untuk hamil. Aku juga punya kemiripan cerita dg mbak heidy. Aku sudah masuk tahun keempat menikah, tapi belum pernah hamil. Aku baru2 ini coba promil ke dokter kandungan, lagi coba minum penyubur, semoga berhasil ya🙂
    Semoga semua yg sudah pernah kita lakukan dan perjuangkan itu akan membawa kabar baik diwaktu yg tepat ya. Semangaat ^.^

    • Halo Mbak Sari, salam kenal juga!
      Terima kasih sudah mampir ke blog ini, maaf telat sekali membalas komentarnya yaa.
      Sekarang bagaimana kabarnya? Aku doakan yang terbaik ya, apapun itu. Semoga kita tetap semangat berupaya dalam menghadapi setiap ujianNya, ya. Semangattt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s