Rujuk

Lho, kok tiba-tiba ada kata rujuk? Sebenarnya ini tidak berniat mencari sensasi saja (perhatikan kata saja, berarti ada juga niat cari sensasi itu …. hahhaha …), tetapi juga memang karena kata itulah yang pertama kali terlintas di benakku saat akan membuat tulisan ini. Aku tidak akan merangkum teori tentang bagaimana cara membuat judul karangan yang menarik, tetapi izinkanlah kukutip sedikiiit saja salah satu pengertian kata rujuk dalam bahasa Indonesia: ‘bersatu kembali’.

Nah, apanya yang disatukan kembali? Apa yang sempat terpisah? Apa yang sebetulnya ingin kuceritakan? Jawabannya: hubunganku dan Hamdan dengan dokter atau klinik untuk urusan kehamilan.

Alasan “berpisah”

Para sahabat atau pengunjung yang menjelajahi lapak kami ini karena didorong oleh satu minat khusus bertemakan “infertilitas”, “ikhtiar kehamilan”, “trying to conceive”, dan sebangsanya, mungkin sempat membaca tulisanku yang berjudul “ikhtiar (kehamilan) terakhir”. Dalam tulisan yang kubuat hampir dua tahun yang lalu itu, salah satu yang kusampaikan adalah keputusanku dan Hamdan untuk berhenti berkunjung ke dokter untuk urusan program kehamilan. Keputusan itu sebetulnya berkaitan dengan banyak hal, seperti masalah infertilitas yang berulang, masalah keuangan, hingga masalah stres.

Intinya, waktu itu kami tidak melihat ada solusi baru di bidang medis untuk masalah infertilitas kami yang berulang (setelah setiap masalah baru diatasi, muncul masalah lama). Aku tidak siap menghadapi kenyataan bahwa setiap masalah yang telah berhasil kami atasi sebelumnya (sel telur tidak matang, morfologi sperma, hingga antibodi antisperma) ternyata tidak berhasil mengantarkanku pada hasil yang diharapkan: hamil. Terus datang ke dokter pun lebih sering membuatku sedih, kesal, atau bahkan marah, daripada senang dan bersemangat. Belum lagi pada saat itu baik aku dan Hamdan memutuskan untuk kuliah lagi dan sedang tidak bekerja sebagai pegawai tetap di mana pun. Sebanyak apa pun tabungan yang ada, kami tidak segila itu untuk menghabiskannya dalam sekejap hanya untuk mengusahakan kehamilan, yang tidak kami kategorikan sebagai kebutuhan primer.

Namun, alasan utama “perpisahan” kami dengan dokter kandungan waktu itu sebenarnya ada pada faktor yang terakhir kusebut: STRES. Tanpa kusadari, sebenarnya aku masih menyimpan harapan yang begitu tinggi sehingga ketika tidak terwujud, perasaan kecewa yang muncul begitu besar. Aku pun belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain. Tidak semua orang berkesempatan (meskipun ingin) untuk melakukan ikhtiar berupa pengobatan medis demi mendapatkan keturunan. Namun, di antara mereka yang tidak mendapat kesempatan tersebut, lebih banyak kutemukan rasa pasrah daripada yang sebaliknya. Kehidupan mereka seperti menunjukkan nasihat yang mengatakan: daripada menyiksa diri karena memikirkan kesempatan yang tidak diperoleh, lebih baik menerima, bersyukur atas hal yang dimiliki, lalu hidup tenang dan bahagia.

Tidak jarang pula, di antara mereka yang sudah lupa pada masalah ketiadaan anak itu, tiba-tiba pada suatu waktu dianugerahi kejutan begitu saja. Tentu saja tidak ada yang dapat menjelaskan apa persisnya yang berproses di dalam tubuh mereka sehingga kehamilan yang sebelumnya begitu sulit terjadi, datang begitu saja. Beberapa ahli (tidak hanya dokter kandungan, tetapi juga psikolog, psikiater, terapis, dll) mengatakan bahwa hal itu berhubungan dengan tingkat stres yang hilang sehngga setiap organ tubuh yang terkait menjadi lebih sehat.

Nah, itulah hal yang mendorong “perpisahan” kami dengan dokter kandungan: agar kami dapat “lupa” sejenak dan menurunkan tingkat stres yang mungkin (atau pasti) ada. Baik, mungkin aku salah. Mungkin hanya aku yang stres, Hamdan tidak. Namun dalam hal ini, perlu diingat kembali sebuah dalil yang mengatakan: istri stres akan membuat suami stres. Dalil dari mana itu? Dalil dariku, barusan, berdasarkan pengalaman pribadi!

Tentu di antara banyak pihak yang mengerti, ada juga yang menyayangkan keputusan kami tersebut. Sebaik-baiknya perjuangan adalah yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Tentu saja, kami tahu itu dan tidak memiliki pendapat yang berbeda. Selamanya kami pun meyakini bahwa kami tidak boleh menyerah. Namun, sebenarnya keputusan itu bukan soal menyerah atau tidak. Pada akhirnya, itu hanya soal menjaga “kewarasan” kami alias kesehatan batiniah dan bukankah itu salah satu faktor terpenting dalam mengusahakan kehamilan? Dengan kata lain, anggaplah “perceraian” kami dari dunia medis untuk program hamil pada saat itu sebagai salah satu ikhtiar lainnya. Selain itu, selama menjauhi dunia medis, kami pun tetap mengikuti pelbagai saran dari mana-mana untuk mencoba pengobatan-pengobatan alternatif. Jadi, niat “menyerah” yang disangkakan itu sesungguhnya memang tidak pernah ada.

Keputusan rujuk

Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun tidak menjumpai dokter kandungan mana pun, niat itu kembali datang. Aku memang tidak langsung menceritakannya di blog ini, tetapi sejak kira-kira pertengan tahun lalu, aku dan Hamdan sudah kembali “menjalin hubungan” dengan salah satu dokter di klinik swasta (Maaf, seperti biasa, aku yang agak “parno-an” ini belum berani untuk langsung menuliskan identitasnya di sini. Bagi yang amat sangat penasaran dan butuh, silakan tinggalkan komentar dan akan kuberi tahu secara pribadi melalui surel). Seperti halnya ada beberapa alasan yang melatari keputusan perpisahan dulu, kali ini pun keputusan rujuk itu didasari oleh beberapa alasan.

Salah satunya adalah diterimanya Hamdan bekerja di sebuah lembaga pemerintah yang berkantor di Jakarta. Akhirnya, alhamdulillah … setelah lima tahun menikah, kami merasakan apa yang namanya tinggal seatap hampir setiap hari! Lalu apa hubungannya dengan keputusan kembali ke dokter? Banyak. Dulu, saat Hamdan lebih sering jauh dariku (bekerja di lepas pantai), kebanyakan pertemuan dengan dokter kujalani sendiri. Meskipun aku tidak keberatan dengan itu (atau setidaknya begitulah yang kukira), setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya itu bukan hal yang baik. Mungkin saja itu salah satu penyebab stresku: mulai dari mengejar janji dengan dokter sendiri (termasuk menyetir saat macet dll), mengantri sendiri bersama ibu-ibu lain yang sudah berperut besar, menghadapi pemeriksaan dokter sendiri, berkonsultasi sendiri, hingga kemudian harus melakukan “transfer ilmu” ke suami. Too much trouble. Kini, dengan Hamdan berkantor di Jakarta, aku dapat berkonsultasi dengan dokter tanpa segala kesusahan itu. Benar-benar peluang yang terlalu berharga untuk dilewatkan, bukan??

Alasan kedua yang terpenting berkaitan dengan masalah stres yang kusebut-sebut sebelumnya. Sebetulnya aku tidak tahu bagaimana mengukurnya, tetapi aku yakin betul, tingkat stresku telah jauh berkurang. Bukti yang kuajukan adalah … aku sampai lupa! Hahaha. Aku lupa bahwa aku punya masalah infertilitas, aku lupa bahwa sebelumnya aku selalu kesal di hari pertama menstruasi karena berarti belum hamil juga, aku lupa bahwa biasanya aku iri pada teman-teman yang melahirkan (apalagi yang lebih muda atau baru menikah), dan bahkan …. aku lupa bahwa kehamilan adalah hal yang sangat kunantikan! Hahahaha.

Mungkin, karena alasan itulah, orang tuaku menjadi lebih gelisah. Entah berapa lama mereka menahannya, akhirnya pada suatu hari, tercetuslah pertanyaan tentang –kapan-aku-kembali-ke-dokter. Aku pun ingat kembali pada segala hal yang telah kulupakan itu dan mendiskusikannya dengan Hamdan.

Tidak ada keragu-raguan atau perdebatan yang panjang, kami pun memutuskan untuk “rujuk” dengan dunia medis. Berbeda dengan sebelumnya, rasanya ringan sekali saat membuat keputusan kali ini. Yang kupersiapkan hanya mencari klinik yang banyak direkomendasikan pasutri lain yang juga memiliki masalah infertilitas dan tidak terlalu jauh dari kantor Hamdan. Kriteria terakhir ini penting karena inilah yang berbeda dari hubungan sebelumnya: sedapat mungkin kami selalu datang ke dokter bersama-sama.

Selanjutnya, di klinik tersebut, aku memilih dokter yang direkomendasikan tidak hanya karena pengalamannya dalam menyukseskan suatu program hamil, tetapi juga karena keramahannya atau keakrabannya dengan pasien. Orang mau hamil kan harus senang, pikirku. Jangan sampai nanti aku mogok periksa lagi hanya karena takut atau tegang menghadapi dokter yang sedikit bicara atau galak.

Dari nol lagi

Datang dengan ikhlas, aku tidak banyak berpikir saat pertama kali memeriksakan diri ke dokter kandungan yang baru. Seperti sebelumnya, aku menyusun dan menunjukkan riwayat lengkap ikhtiar kami selama ini pada sang dokter. Namun, entah mengapa, kali ini aku tidak menggebu-gebu membawa segudang pertanyaan untuk dikonsultasikan. Apa yang mau kutanyakan? Sepertinya aku sudah kenyang dengan semua informasi mengenai soal masalah infertilitas, kecuali mungkin tentang satu-dua pendekatan yang berbeda. Selain itu, aku dan Hamdan juga tidak banyak berharap. Mengingat masalah hormon (sel telur tidak matang) yang kudapati di pemeriksaan dokter terakhir setahun sebelumnya, kami pun ikhlas jika menemui masalah yang sama atau masalah-masalah lainnya.

Pemeriksaan demi pemeriksaan pun kami jalani kembali, termasuk di antaranya mengecek kematangan telur melalui pemeriksaan-pemeriksaan USG, cek darah untuk masalah hormon, dan pemeriksaan sperma. Satu yang sangat kusyukuri adalah tidak perlu mengulang tes HSG yang sangat traumatis itu. Lalu, apa hasilnya? Hanya Tuhan yang tahu, ke mana masalah ketidakmatangan sel telur yang terjadi setahun sebelumnya. Lenyap tak berbekas. Begitu pula dengan hasil pemeriksaan lainnya, tidak ada masalah! Alhamdulillah.

Kami pun kembali memulai program hamil (promil) dengan perasaan yang lebih ringan dan santai. Faktor dokter juga berperan penting di sini. Setelah gonta-ganti dokter, dokter kami kali ini adalah dokter yang paling ramah: murah senyum, selalu bersikap santai dan mudah mengakrabkan diri. Meskipun antriannya cukup panjang, ternyata kami cukup dapat menghilangkan rasa lelah yang ada dan bahkan hampir tidak pernah merasa kesal. Kunjungan rutin ke dokter setiap bulannya sudah seperti plesiran atau kencan saja … hahaha. Inilah perbedaan terbesar yang kami rasakan dari saat menjalani program-program sebelumnya: tidak ada beban (termasuk di antaranya tidak banyak berharap, tidak hitung-hitungan, tidak memikirkan hal apa saja yang sudah dikorbankan demi menjalani si promil).

Ah, tak terasa, tulisanku sudah panjang lagi. Sebenarnya masih banyak yang belum kuceritakan terkait program hamil yang kembali kami jalani ini, tapi sepertinya lebih baik kulanjutkan dalam tulisan berikutnya saja, ya. Sekali lagi, terima kasih pada teman-teman yang mau berbagi bersama kami, terutama yang juga terus berjuang agar dikaruniai keturunan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita.

 

Salam,

Heidy (+Hamdan)

Iklan

Kelanjutan Cerita Ikhtiar Kehamilan: Ketika Soal Lama Datang Kembali

Duh. Baru pindah, sudah pergi lagi berbulan-bulan. Maaf ya blog baru…

Sebagai manusia yang kegiatannya tidak hanya bermeditasi di dalam rumah, tentu saja aku mengalami banyak hal selama tidak ‘muncul’ di blog ini sejak tiga bulan lalu. Kesibukan kuliah memang menjadi alasan pertama yang menghalangiku untuk berbagi cerita baru. Tapi itu bukan satu-satunya alasan. Alasan lain yang sepertinya lebih berperan besar adalah suasana hati. Suasana hatiku. Tsaah… *galau mode ON*

Kegundahgulanaan itu masih berhubungan dengan persoalan rencana kehamilan yang sudah kuceritakan secara runtut sebelumnya. Sebelumnya aku sudah bercerita detil masalah yang aku dan Hamdan alami dalam rangka berketurunan. Secara ringkas: hampir segala faktor masalah ada pada kami. Faktor dariku, ada. Faktor dari suami, ada juga. Bahkan ditambah dengan faktor kombinasi suami-istri (masalah ASA yang membuatku mengikuti terapi PLI sampai belasan kali itu loooh). Namun alhamdulillah, satu per satu masalah itu dapat diatasi seiring dengan berjalannya waktu dan usaha-usaha yang ditempuh. Karena anugerah inilah, aku dan Hamdan terus optimis. Tiap masalah baru selalu datang disertai dengan solusi (meski tentu tidak datang bersamaan saat itu juga)! Kami pun makin yakin bahwa rangkaian perjalanan ini memang nikmat yang khusus diturunkan untuk kami.

Tiga bulan yang lalu, aku datang berkonsultasi ke dsog baru dengan semangat. Masalah-masalahku yang pernah ada seperti kadar hormon dan ASA sudah teratasi dengan baik. Hamdan masih punya masalah saat terakhir kali memeriksakan diri, tapi menurut dsog sebelumnya, hal itu bisa diatasi melalui langkah inseminasi buatan. Karena itu, datanglah aku ke dsog baruku ini dengan berbekal segudang cerita dan satu rencana: kembali mencoba inseminasi buatan. Jika benar analisis androlog kami bahwa inseminasi pertama dulu gagal karena masalah ASA, maka seharusnya sekarang tidak ada masalah.

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya dalam topik ASA dan terapi PLI, dokter-dokter masih memperdebatkan kebenaran hal ini sebagai faktor penyebab dan solusi dalam masalah infertilitas. Nah, dsog-ku yang baru ternyata termasuk yang tidak percaya atau membenarkan, meski ia juga tidak mengatakannya terang-terangan. Dengan sabar ia mendengarkan ceritaku dan tetap membaca hasil-hasil lab terkait masalah si level ASA, tapi tidak menyarankanku meneruskan terapi PLI. Ia hanya mengakui adanya pro dan kontra di kalangan dokter dan menyerahkan keputusan padaku. Terserah padaku, mau meneruskan atau tidak.

Pemeriksaan – Pemeriksaan Ulang

Langkah yang diambil oleh dsog baruku ini sebelum menyetujui pemikiranku untuk inseminasi adalah pemeriksaan HSG ulang terhadapku dan tentu saja, pemeriksaan terhadap suamiku. Karena saat itu Hamdan masih di laut, maka aku memeriksakan diri lebih dulu (ditemani adik perempuanku, dan alhamdulillah…tidak setraumatis saat pertama kali HSG dulu). Menurut sang dsog, pemeriksaan ulang ini perlu karena pemeriksaan HSGku yang pertama sudah lama sekali (hampir 4 tahun yang lalu) dan mengingat tahun lalu aku sempat mengalami usus buntu. Pemikiran beliau ini kuperoleh setelah panjang lebar menanyainya, karena sepertinya ia sangat berhati-hati bicara demi menjauhkanku dari kegelisahan yang tak perlu. Yah…dasar pasien tak tahu diuntung, aku malah cari masalah sendiri. Awalnya kan aku cukup optimis bahwa saluran telurku tak pernah bermasalah. Gara-gara bertanya itu, aku jadi stres memikirkan bagaimana masalah usus buntu ternyata bisa berdampak negatif terhadap tubaku! Errrgghh…

Aku sujud syukur setelah mendapati hasil foto tuba falopii-ku: kedua saluran tampak paten alias tidak ada sumbatan! Hasil yang sama dengan empat tahun lalu! Alhamdulillaah. Dengan demikian, tinggal menunggu Hamdan. Kecemasan kembali muncul ketika sang dokter menyatakan tidak setuju dengan pendapat dsog sebelumnya mengenai masalah gerak sperma yang dapat dibantu oleh inseminasi buatan. Menurutnya, suami dan istri harus memenuhi syarat untuk melakukan inseminasi buatan: keduanya subur! Lhooo, bingunglah aku jadinya. Kalo dua-duanya subur, buat apa inseminasi buatan, dok? Jawabannya: inseminasi buatan hanya membantu faktor-faktor penghambat yang terjadi melalui cara berhubungan biasa! Wheew…kepalaku seperti diudek-udek oleh info-info yang berbeda ini.

Kegelisahanku karena masalah Hamdan tidak berlangsung lama. Tahu dia juga sempat stres, aku terus menyemangatinya untuk bersama-sama terus mendalami keikhlasan kami. Apapun hasilnya, tidak masalah! Beberapa minggu berselang, Hamdan pun pulang dan memeriksakan diri. Kemudian dengan penuh kesiapan hati , aku pun menanyakan hasilnya pada suster lewat telepon.

“Benar itu atas nama …..?” Aku menyebutkan nama lengkap suamiku, bertanya ulang karena tak percaya ketika sang suster membacakan hasilnya. Suamiku tidak pernah punya masalah dalam hal jumlah sperma. Jumlahnya selalu luar biasa banyak. Yang menjadi masalahnya selama bertahun-tahun adalah pergerakan dan bentuk, yang sempat diperkirakan (lupa oleh siapa, saking banyaknya terapis kami) sebagai bawaan lahir karena dulu ia terlahir sebagai bayi prematur. Masalahnya ini pelan-pelan diatasi oleh berbagai terapi. Pelan-pelan. Bukan ces pleng. Nah, lama tak periksa, wajar kan aku dikagetkan oleh hasil yang jauh lebih baik? Subhanallah Alhamdulillah…

Kami pun mengunjungi sang dsog bersama-sama dengan riang. Sang dokter juga turut senang, karena berarti syarat kami untuk melaksanakan inseminasi buatan telah terpenuhi. Langkah berikutnya adalah persiapan. Pada pertemuan yang merupakan hari ke-3 siklus haidku itu, melalui usg transvaginal, ia melakukan pematauan terhadap sang pujaan hati, sel telurku. Tak lama kemudian, keriangan kami lenyap. Ada kista di salah satu ovariumku.

Padaku yang tak tahu apa-apa soal kista, sang dokter menjelaskan bahwa tampaknya kista yang ia temukan adalah jenis kista persisten (disebut demikian karena ia keras kepala tetap ada, padahal seharusnya setelah masa subur berlalu ia semakin kecil dan hilang pada masa menstruasi). Lalu ia meyakinkanku bahwa biasanya ia akan mengecil dengan sendirinya. Tidak perlu diapa-apakan, kecuali jika ia terus membesar.

Kami mengakhiri pertemuan dengan sang dokter kali itu dengan membuat janji untuk kembali sekitar empat hari kemudian. Aku melalui hari-hari itu dengan terus menenangkan diri melalui shalat, doa, meditasi. Kubayangkan kista itu semakin kecil.

(Bukan) Masalah Baru

Pada pertemuan berikutnya, hal pertama yang kutanyakan pada dokter tentu saja adalah tentang si kista. Ternyata ia masih ada, mengecil namun tidak signifikan. Dan yang baru kusadari: sang dokter tidak terlalu ambil pusing soal itu. Ia lebih memikirkan perihal sel telurku di ovarium satu lagi (yang bebas kista), yang ternyata ukurannya tidak berkembang banyak! Jadi baru pada saat itu aku memahami bahwa sebenarnya tak masalah kista ada di salah satu ovarium, asalkan sel telur di ovarium lainnya berkembang dengan baik! (Djeggaaar…..salah fokus dong gue waktu meditasiii??!!)

Pada kondisi normal, seharusnya terjadi perkembangan seperti ini.

Sel telur yang tidak berkembang = tidak subur. Aku, Hamdan, dan bahkan sang dokter pun terbingung-bingung. Ini adalah masalahku dahuluuuuuuuuu kala, saat pertama kali melakukan pemeriksaan infertilitas. Masalah yang sempat membuat dokter pertamaku menyerah karena terapi hormon tidak dapat disarankan padaku yang dulu juga sedang mengonsumsi steroid yang cara kerjanya bertentangan, untuk masalah anemia hemolisisku. Masalah yang membuatku lari ke berbagai pengobatan alternatif. Masalah yang akhirnya diyakini selesai (entah oleh terapi yang mana) tiga tahun kemudian, dikonfirmasi oleh dokter yang melakukan operasi laparoskopi terhadapku tahun lalu. Masalah yang sudah kulupakan. Dan sekarang….muncul kembali tanpa memberi salam??

Otak dan hatiku mati rasa saat itu. Aku tak tahu sedang berpikir apa atau merasa apa secara tepat. Belakangan, perlahan aku tahu bahwa sedih itu ada, begitu pula dengan kecewa dan marah. Tapi aku tak tahu pada siapa rasa itu sebenarnya ditujukan. Tuhan? Memang apa hakku terhadap Tuhan? Dengan segala konsep ikhlas yang bukan baru saja kupelajari, aku tahu bahwa itu tidak benar. Dan jika saja pengetahuan itu mampu mengendalikan emosi, masalah selesai.

Mengetahui dan mengerti saja tidak cukup, tidak menjamin keberhasilan dalam menerapkannya. Inilah bukti betapa luar biasa sulitnya pelajaran berjudul IKHLAS. Mata kuliah Kalkulus 3, Mekanika, atau Termodinamika tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu yang satu ini. Jika saja masuk dalam tiap kurikulum pendidikan, kurasa boro-boro profesor….sarjana pun tidak akan banyak jumlahnya di muka bumi ini!

Kira-kira sebulan kemudian, perasaanku mulai jelas. Waktu itu aku sempat melakukan pemeriksaan ulang pada dokter lain ketika sekaligus melakukan pemeriksaan pap smear rutin tahunan. Temuannya tidak berbeda dengan dsog-ku. Ia pun menyarankanku untuk melanjutkan konsultasi dan mungkin mengambil langkah terapi hormon dengan dsog-ku. Dari emosi yang tak terbendung saat itu (air mataku mengalir terus tak bisa berhenti bahkan ketika sedang menyetir), aku pun memahami apa yang membuatku merasa begitu sakit : ketidakberdayaanku, ketidakmampuanku untuk memahami.

Sebelumnya, tiap masalah baru yang datang selalu mengajariku tentang hal baru. Dituntun pemikiran-pemikiran yang mengembara kesana kemari, aku pun lebih mudah mendalami keikhlasan yang diperlukan. Aku merasakan serunya perjalanan itu, meyakini langkah yang terus maju, meski tak tahu persis mana yang menjadi tujuan akhir.

Kali ini berbeda. Apa yang dihadapkan padaku sama sekali bukan hal baru. Masalah yang datang adalah masalah yang dulu sudah pernah menjumpaiku lalu mengucapkan salam perpisahan denganku. Bukankah wajar, jika aku terkejut dengan kemunculannya kembali? Demi apa kedatangannya kini? Pesan, hal, ilmu baru apa yang belum ia ajarkan padaku? Tepat di situ, egokulah yang berteriak. Tak terima.

Aku sungguh-sungguh kecewa, sedih, marah, dan …..yah, sebutkanlah segala emosi negatif yang mungkin ada di dunia ini, kurasa semua pun tercampur sempurna menjadi satu dalam hatiku. Hingga tinggal setitik tersisa dari gelap itu, aku paham apa yang terjadi : aku sungguh TIDAK IKHLAS.

Dan kemudian tahulah aku alasan kedatangan kembali si masalah lama: menggemblengku dalam bidang ilmu keikhlasan ini. Subhanallah. Baiklah. Bismillahirrahmannirrahiim. Mari lihat, berapa jumlah kredit mata kuliah yang satu ini dan nilai akhir apa yang kuperoleh nanti?

Salam belajar,

Heidy

Gambar diambil dari sana dan sini.

Mendalami Keikhlasan Melalui Persoalan Infertilitas

Kali ini aku ingin bercerita tentang ‘perjalanan hati’ kami, yang sebenarnya masih berhubungan dengan topik rencana kehamilan. Karena urusan hati yang abstrak sulit dijelaskan secara singkat, maka perlu kuingatkan terlebih dahulu: ini akan menjadi bacaan yang lumayan panjang bagi siapapun yang sudi membacanya. Terimakasih atas perhatiannya! 🙂

Kegelisahan yang berlalu

Dalam masa dua tahun pertama perkawinan dahulu, topik infertilitas yang erat dalam kehidupan kami sebenarnya cukup menyulut kegelisahan hati. Ini jelas terlihat padaku, yang memang lebih ekspresif saat emosi terganggu. Hamdan sih terlihat santai-santai saja, meskipun mungkin tidak benar-benar demikian dalam hatinya. Maklum, sebagai suami, ia berpikir bahwa menjagaku lahir batin lebih penting ketimbang mengurusi perasaannya sendiri. Maka ia pun sibuk menenangkanku, menuntunku pada rasa damai, dan tidak memamerkan kegelisahannya sendiri. Hiks. Terimakasih, suamiku!

Memasuki tahun ketiga perkawinan, kegelisahan itu mulai berkurang. Menangis dan marah-marah tak jelas yang sering terjadi padaku di dua tahun pertama perkawinan sudah tak ada lagi, mungkin karena aku dan Hamdan sibuk menikmati masa-masa pacaran halal ini…hehehe.

Sebenarnya hilang benar-benar tidak juga, karena ada kalanya kegelisahan itu tersamarkan oleh antusiasme. Setiap memulai langkah baru seperti terapi PLI, pengobatan-pengobatan alternatif hingga inseminasi buatan, rasa antusias itu selalu tak terbendung. Antusias itu tidak buruk, tentu, namun ternyata cukup mempengaruhi ketenangan pikiranku. Kalau diingat-ingat lagi, aku terlalu banyak berpikir sejak konsepsi terjadi pada masa subur hingga mengetahui hasilnya di hari pertama menstruasi (termasuk kecanduan memakai testpack, hoh…tell me about it!)

Pesan-pesan orang tentang keikhlasan, kepasrahan, dan sebangsanya terkait dengan soal rencana kehamilan kami nyaris seperti angin lalu bagiku. Bukan karena tidak percaya, tapi justru karena aku merasa kami sudah melakukannya. Lha wong kami sudah sering membicarakan soal rencana adopsi dan bagaimana jika hanya-berdua-saja-hingga-kakek-nenek. Bukankah itu bukti bahwa kami memang sudah ikhlas? Karena itulah aku dengan sok tahu merasa bahwa ‘pesan-pesan sponsor’ itu sudah tidak diperlukan…astaghfiruloh 😦

Memaknai ibadah

Pada suatu waktu, ada anjuran untuk melakukan ikhtiar yang kata orang-orang ‘sulit dirasionalisasi’: memaksimalkan sedekah. Cukup banyak yang menyampaikan hal ini padaku, bukan hanya 1-2 orang. Di antaranya juga menyebut-nyebut bahwa itu adalah ajaran ustad yang cukup populer di televisi (yang sepertinya kau pun tahu tanpa kusebut namanya itu:D).

Tanpa mengurangi rasa hormat pada sang ustad kondang, aku dan Hamdan merasa sulit menelan bulat-bulat seluruh ‘ajaran’nya. Bukan soal sedekahnya, tapi soal mengapa dan bagaimana penjelasan di balik itu. Yang kupahami (mohon koreksi jika salah) adalah memaksimalkan sedekah dan ibadah lainnya dalam rangka memohon dikabulkannya suatu keinginan. Untuk sedekah, ada nominal yang berbeda yang dianjurkan untuk dikeluarkan untuk hajat yang berbeda. Lalu soal ibadah lain misalnya shalat, dianjurkan untuk mengedrop mata kuliah yang menyebabkan tidak dapat salat Dzuhur berjamaah di awal waktu di masjid dan diulang pada tahun berikutnya (Kataku: lalu gimana kalau masih bentrok juga tahun depannya? Kata Hamdan: lalu kenapa Rasul mencontohkan dirinya juga tidak selalu salat di awal waktu??) Seorang teman bahkan menjelaskan prinsip ini seperti membujuk rayu, atau bahkan lebih kasar lagi: membeli Tuhan.

Apa yang salah dengan itu? Mungkin tidak ada. Hanya saja tidak sesuai dengan keyakinanku dan Hamdan. Persoalan demi persoalan yang kami hadapi mengajarkan banyak hal tentang ketuhanan, yang dapat dibenangmerahi : Tuhan itu Maha Pengasih lagi Penyayang, Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Mungkin tidak bagi banyak orang, tapi entah kenapa aku sulit membayangkan Tuhan hanya memberi jika ‘dirayu’ dengan berbagai bentuk ibadah. Soalnya yang kutahu dan kurasakan hingga kini, Tuhan telah mengaruniaiku begitu banyak hal tanpa ku’rayu’, bahkan tanpa kutahu bahwa itu baik untukku, dan sebelum aku tahu dan ingat berterimakasih padaNya. Pemikiran bahwa karena aku membujukNyalah maka anugerah itu turun justru tak rasional bagiku sendiri.

Lalu soal ibadah itu apa? Aku teringat Rasulullah yang banyak melakukan salat sunnah hingga kakinya bengkak. Bukankah beliau adalah manusia yang sudah dijamin surga olehNya? Apa lagi yang diharapkan beliau dengan melakukan ibadah-ibadah itu? Ya, mungkin tidak mendoakan dirinya sendiri melainkan umatnya, lalu juga sebagai contoh bagi kita. Namun ada hal lain yang kuinterpretasikan: betapa dahsyatnya cinta beliau pada Allah SWT, betapa beliau ingin terus memaksimalkan ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang diturunkan.

Kisah Rasulullah itu sungguh membuatku terharu dan malu. Belum pandai aku berterimakasih dan mensyukuri anugerahNya yang telah berlimpah dalam hidupku dan aku sudah ingin menuntut minta diberikan yang lain? Pertama, aku tidak berani karena merasa tidak sopan. Kedua, aku tidak benar-benar tahu apa yang baik untukku, jelas tidak lebih baik dariNya. Seburuk, sepedih, sekeras suatu hal tampaknya di mata manusia, aku memilih untuk meyakininya sebagai sebuah anugerah. Bahkan azabNya yang pedih di dunia pun kurasa sebuah anugerah, karena masih adanya kesempatan kita untuk tersadar dan memperbaiki diri (kita belum mati dan kiamat belum terjadi!). Keyakinan atas hal inilah yang semakin membuatku berhati-hati saat berdoa. Bukan hanya doa yang terucap, tapi juga ungkapan hati saat berdialog denganNya.

Menurutku, ibadah seharusnya adalah suatu kebutuhan, bukan keharusan. Hanya dengan demikianlah aku merasa ibadah itu sama sekali tidak memberatkan, malah membuat ketagihan. Ibadah yang kumaksud di sini tentu tidak hanya sebatas salat, puasa, berzakat, dan berhaji…namun juga segala kebaikan yang dilakukan di dunia dengan menyebut namaNya dan mengharap berkahNya.

Kebutuhan untuk salat, misalnya. Aku merasa bahwa perintah Allah SWT untuk melakukannya minimal lima kali sehari sama sekali bukan untuk memberatkan kita demi memuliakanNya (memangnya Tuhan butuh kita muliakan dulu baru bisa mulia?), tapi karena tahu bahwa kita membutuhkannya: untuk berdekatan denganNya, untuk terus mengingatkan kita akan hakikat dan tujuan dari segala yang hal yang kita lakukan di dunia, untuk menjernihkan, mendamaikan serta menenangkan hati dan pikiran setelah mengalami kekalutan atas suatu hal, dan sebagainya.

Pelajaran berharga

Kembali kepada persoalan menarik sebelumnya, yaitu ibadah berupa bersedekah ‘gila-gilaan’ yang dilakukan beberapa orang dalam rangka mohon dikabulkannya suatu hajat. Aku memang belum mendapat cerita langsung dari orang yang melakukan itu namun akhirnya tidak memperoleh hasil sesuai perkiraan atau keinginannya di awal, jadi mungkin tidak salah jika ada yang menyimpulkan secara sederhana soal ‘membujuk rayu’ Tuhan tadi. Namun lagi-lagi, yang kupahami tidak demikian (aku memilih untuk tidak memahaminya begitu).

Bersedekah maksimal hingga hampir mencapai batas kemampuan penghasilan seseorang itu tidak sesederhana yang diucapkan. Yang belum pernah mencobanya sendiri mungkin bisa lebih paham dari curhat mendalam orang-orang yang sudah melakukannya. Dibutuhkan keikhlasan yang luar biasa untuk melakukan hal seperti ini. Bayangkan saja, uang yang dihasilkan dengan susah payah hingga mungkin memeras bergalon-galon (lebay sedikit boleh dong) keringat dan air mata lalu tidak dinikmati sendiri, melainkan direlakan untuk kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan. Dibutuhkan dorongan dan kekuatan yang sangat besar ketika pertama kali melakukannya (berikutnya sih biasanya ketagihan). Masih tidak terbayang? Ya sudah lakukan, rasakan, dan buktikan sendiri. 😀

Lalu apa yang terjadi setelahnya? Jika segala yang dikeluarkan itu dengan sukes tidak lagi diingat-ingat, diakui apalagi disebut-sebut, dibicarakan atau bahkan diumumkan pada dunia, maka ucapkanlah selamat pada diri kita sendiri karena berarti apa yang diajarkan Tuhan tentang ikhlas itu telah merasuk hingga tulang-tulang dan darah kita. 😀

Ya, itulah yang akhirnya kupilih untuk kupahami: sedekah yang mengajarkan ikhlas yang sebenar-benarnya. Itu adalah jalan permohonan pada Tuhan untuk diajarkan mendalami keikhlasan yang hakiki. Apa yang terjadi pada pasutri seperti kami yang melakukan sedekah seperti itu pun bukan lagi persoalan minta diberi anak. Itulah yang disebut-sebut orang ‘sudah pasrah’. Mereka sudah sibuk mendalami keikhlasan itu sendiri hingga mencapai kedamaian, tak ada lagi kegelisahan seperti yang masih sering kualami dulu.

Oh ya. Pelajaran ikhlas itu sendiri juga tidak hanya dapat diperoleh dari sedekah. Salah satu hal lain yang sepele namun ternyata penting: memaafkan orang, terutama yang dzalimnya luar biasa keterlaluan pada kita. Ketika mampu memaafkan orang seperti itu, ‘kerasukan’ ikhlas yang persis sama rasanya dengan saat sedekah besar-besaran itu pun telah terjadi pada diri kita.

Soal ikhlas dan berketurunan

Keikhlasan itu bisa erat hubungannya dengan kemampuan berketurunan. Secara medis pasti bisa dibuktikan, dalam keadaan yang telah benar-benar ‘terasuki’ keikhlasan itu, hormon-hormon yang awalnya tidak bekerja dengan baik seolah mengalami keajaiban dan normal dengan sendirinya.

Namun, kurasa dapat pula tidak berhubungan. Mengingat keyakinanku bahwa Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang selalu memberikan yang terbaik bagi kita, bisa jadi ajaran ikhlas yang telah dipahami sepenuhnya itu tetap tidak berpengaruh pada masalah kesehatan apapun termasuk soal infertilitas. Banyak kan, pasangan suami istri yang tidak punya anak kandung seumur hidupnya padahal tidak punya masalah kesehatan apapun secara medis? Dan sungguh keji serta sok tahu jika kita seenaknya mengatakan bahwa yang bermasalah adalah kesehatan emosional dan/atau spiritual mereka. Tahu apa kita tentang ‘perjalanan’ mereka? Tahu apa kita soal perjuangan mereka mencapai keikhlasan itu? Tahu apa kita soal kualitas ibadah dan kedekatan mereka dengan Tuhannya? Tahu apa kita soal bahagia-tidaknya mereka? Tahu dari mana kita bahwa mereka bukanlah orang-orang yang lebih dimuliakan, dirahmati, dan diselamatkan dunia akhirat dengan ketiadaan keturunan itu? Mari doakan diri sendiri dulu, semoga kita diselamatkan dari pikiran sombong dan sok tahu yang menjijikkan, amiin.

Bagiku dan Hamdan, langkah-langkah usaha untuk berketurunan tetap harus dijalankan beriringan dengan pendalaman kami atas keikhlasan. Secara empiris (Ingat kan kalau empiris dan rasional itu berbeda, tapi ilmu filsafat ini tak perlu kita bicarakan di sini yaa), memang dapat dijelaskan karena terbukti sejak awal kami memiliki beberapa masalah terkait dengan infertilitas. Dan justru saat menempuh berbagai usaha itulah, perjalanan spiritual kami semakin terasa indah. Misalnya ketika akhirnya diketahui bahwa aku menjadi 100% subur setelah sebelumnya pernah punya masalah hormon, atau ketika mendapati hasil lab Hamdan yang akhirnya membaik setelah bertahun-tahun, Tuhan mengajarkan pada kami bahwa bahagia itu sederhana, hanya sejauh rasa syukur!

Lalu ternyata segala bentuk ikhtiar itu pun sesungguhnya malah turut membantu kami dalam mempelajari keikhlasan itu sendiri. Ini kupahami salah satunya dari salah satu pasutri yang bercerita tentang ikhtiar mereka melalui bayi tabung. Di antara beberapa pasangan yang melakukannya bersamaan, kebetulan hanya merekalah yang berhasil. Sang suami bercerita bahwa dalam prosesnya, ia dan istrinya terus menerus saling mengingatkan untuk terus mendalami keikhlasan mereka.

Aku yang sudah pernah melakukan inseminasi buatan saat mendengar cerita itu merasa dapat membayangkan bagaimana sulitnya hal tersebut dilakukan. Aku saja yang waktu itu ‘cuma’ inseminasi sudah terus menerus kepikiran, bagaimana dengan bayi tabung yang berarti telah terjadi pembuahan? Betapa rawan/kritisnya saat-saat itu dalam mempertahankan keikhlasan yang terwujud dalam ketenangan pikiran dan kedamaian perasaan, serta konsisten dalam mengucapkan doa: “Ya Rabb, bimbinglah kami untuk ikhlas atas segala ketentuanMu, jauhkanlah kami dari segala prasangka buruk dan takabur.”

Subhanallah. Dari cerita mereka, aku pun makin paham kenapa inseminasi buatan pertama yang kami lakukan gagal.

Di tahun kelima pernikahan ini, kami mulai kembali melakukan perjalanan yang ‘menantang titik rawan’ untuk menguji keikhlasan penuh itu. Dan sesuai pemahaman ini, hanya ada satu hasil yang kami harapkan: tetap ikhlas atas segala ketentuanNya. Semoga niat ini diridai dan setiap langkah kami diberkahi. Amiin.

Salam ikhlas,

Heidy (+Hamdan)