Menjawab Ancaman Kelangkaan Air

“Kenapa harus hemat air? Kan banyak air di bumi.”

Siapa yang pernah bertanya atau mendapat pertanyaan seperti itu? Aku pernah menanyakannya pada orang tuaku. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ternyata beberapa dasawarsa kemudian, giliran aku ditanyai hal yang sama. Saat itu, aku yang menghadapi anak-anak SD sebagai guru mereka. Pertanyaan itu mereka lontarkan ketika diingatkan untuk tidak berlama-lama mencuci tangan, mencuci piring, atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang membutuhkan air.

Sangat jarang kuberikan langsung jawaban lugas atas pertanyaan anak-anak itu. Aku lebih sering balik bertanya kepada mereka. Kalau murid jahil, gurunya harus lebih jahil lagi! Ini prinsip penting, Bapak dan Ibu sekalian.

“Yang mana yang banyak? Air asin?”

Nah, pertanyaanku inilah yang biasanya menjadi pemicu obrolan tentang pentingnya menghemat air. Tidak semua anak (atau mungkin juga orang dewasa) paham bahwa meskipun jumlah air di bumi tidak akan berkurang, kita harus mewaspadai kelangkaan sebagian di antaranya, yang merupakan kebutuhan pokok manusia: air bersih. Akibat ulah kita sendiri, kualitas air yang dapat kita konsumsi akan terus menurun. Dengan demikian, ketersediaan air bersih pun akan makin terbatas.

Kesadaran penuh atas ancaman kelangkaan air bersih sudah sewajarnya mendesak manusia untuk bersikap peduli. Aksi hemat air menjadi wajib diterapkan dalam keseharian kita. Terus saling mengingatkan untuk menggunakan air secukupnya adalah hal yang wajar. Sebaliknya, marah ketika diingatkan tergolong hal yang konyol. Setidaknya, inilah prinsip yang kami anut di keluarga kami.

Memanfaatkan kembali air cucian beras dan air bekas mengepel rumah (dengan eco enzyme, tanpa campuran sabun/deterjen pabrikan) untuk tanaman dan komposter menjadi salah satu cara kami untuk meminimalkan konsumsi air bersih. Cara lainnya adalah memanfaatkan air hujan. Berkat sistem penampungan air hujan yang dipasang Hamdan sejak tahun lalu, setidaknya kami dapat menyiram tanaman, mencuci mobil, dan menyikat carport tanpa menyedot air sumur.

Selain menghemat penggunaan air, ada aksi penting lainnya yang menurutku tidak boleh dilewatkan demi mengantisipasi ancaman kelangkaan air. Ini masih ada hubungannya dengan apa yang kubahas di tulisan sebelumnya, yaitu peduli sampah. Kita tidak mungkin mengabaikan fakta bahwa limbah rumah tangga memiliki andil besar dalam mencemari air tanah maupun perairan di lingkungan sekitar kita. Kebiasaan untuk terus santai menyumbang sampah ke TPA atau memilih deterjen dengan busa melimpah akhirnya akan membawa dampak buruk bagi ketersediaan air bersih di bumi. Karena itulah, kupikir siapa pun wajib untuk sekuat tenaga mencegah timbulan limbah dan mengelola sampah yang telanjur ada (Hidup 3R!).

Manusia mana sih yang tidak membutuhkan air bersih? Adakah orang yang dapat menjamin ketersediaannya di seluruh permukaan bumi sepanjang masa? Jika benar-benar menghayati persoalan pelik ini, kurasa kita tidak akan lalai dalam menunaikan dua pekerjaan rumah (PR) di atas: hemat air dan peduli sampah.

Peduli Lingkungan, Dimulai dari Keluarga

Di tulisan sebelumnya, aku menyinggung bahwa sampah, sebagai salah satu masalah lingkungan, adalah masalah kita bersama. Sudah seharusnya sampah yang kita timbulkan menjadi tanggung jawab kita masing-masing, bukan ditimpakan pada pemerintah atau para petugas kebersihan. Pengelolaan sampah secara bertanggung jawab harus dilaksanakan di setiap rumah tangga.

Dalam menangani sampah rumah tangga, kami berusaha untuk mengikuti prinsip 3R atau reduce-reuse-recycle. Demi mencegah sampah baru (reduce), kami membiasakan diri untuk membawa kantung belanja, wadah makanan, dan botol minum sendiri saat bepergian. Sebagai ganti pembalut sekali pakai, aku dan si sulung juga sudah terbiasa memakai menstrual pad setiap “datang bulan” sejak beberapa tahun yang lalu. Sementara itu, sampah yang telanjur timbul seperti botol minuman, sikat gigi, dan kotak sepatu kami gunakan kembali untuk fungsi lainnya (reuse). Terakhir, sampah sisa makanan pun disulap oleh Pak Hamdan menjadi eco enzyme dan kompos. Sampah sulit terurai kami pilah lagi sesuai jenis bahannya untuk diteruskan ke pihak pendaur ulang (recycle).

Selain urusan sampah, sebenarnya masih banyak hal lain yang juga harus kita perhatikan sebagai wujud kepedulian kita kepada lingkungan. Saling menegur dengan keras ketika ada yang lupa mematikan lampu atau pendingin udara setelah keluar ruangan sudah biasa terjadi di rumah kami. Begitu pula halnya jika ada yang terlalu lama mandi atau lupa menutup keran air.

Prinsip efisiensi transportasi juga kami terapkan dan ajarkan pada anak-anak. Kata “sekalian” cukup sering disebut dalam berbagai situasi. Saat harus pergi ke beberapa tempat (“Ibhuu mau ke bank, katanya. Indri bisa nebeng sekalian berangkat latihan!”) atau membeli beberapa barang kebutuhan, misalnya (“Jangan berkali-kali belanjanya! Beli sekaligus banyak, jadi sekalian diantarnya!”).

Hidup Transportasi Publik!

Kalau diingat-ingat kembali, aku sadar bahwa semua kebiasaan itu bukan kebiasaan baru. Didikan untuk menghemat energi sudah kenyang kuterima dari orang tuaku sejak aku masih kecil. Kata Hamdan, kebiasaan untuk selalu menghabiskan makanan hingga piring licin tandas juga berasal dari ibunya. Benarlah semboyan yang mengatakan bahwa keluarga adalah pendidikan yang utama. Misi global untuk melestarikan lingkungan tidak akan pernah tercapai jika langkah-langkah kecil pertamanya tidak dimulai dari keluarga masing-masing.

Bagaimana dengan keluargamu? Sudahkah misi peduli bumi ini masuk ke dalam “garis-garis besar haluan keluarga”? Ceritakan juga, dong!