Setelah rujuk …

Sesuai judul di atas, cerita yang akan kubagi di bawah ini adalah lanjutan dari tulisanku yang berjudul “Rujuk”, yaitu apa saja yang kami lakukan sejak memutuskan kembali ke dokter kandungan. Layaknya utang, aku sudah bertekad pasti menuliskan ceritanya … meskipun kejadiannya sudah lewat hitungan bulan atau bahkan tahun, haha … maaf yaah, tentu saja ini tak lain tak bukan karena ada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup kami (yang sepertinya tidak dapat kuceritakan semua sekaligus karena saking banyaknya).

Dalam tulisan sebelumnya, aku sudah bercerita bahwa dari pemeriksaan-pemeriksaan terakhir yang dilakukan (pada pertengahan tahun 2013), dokter menyimpulkan bahwa aku dan suamiku mengalami unexplained infertility, yang artinya kurang lebih: hanya Allah yang Tahu kenapa kami belum bisa berketurunan, karena seharusnya secara teori sih kondisi kami sudah baik-baik saja … hehehe. Hasil ini sebenarnya cukup mengejutkan bagi kami, mengingat selama 5 tahun lebih kami selalu ‘bertemu’ masalah baru. Kalau bukan aku, Hamdan yang bermasalah. Kalau tidak, dua-duanya sekaligus. Masalah yang satu selesai, muncul masalah berikutnya. Masalah berikutnya selesai, ada lagi masalah lainnya. Bahkan pernah pula setelah ‘menyelesaikan banyak masalah’, masalah pertama datang lagi! Hahahaa (ya sekarang bisa ketawa, dulu mah adanya nangis) …. betapa serunya perjalanan kami!

Jadii, berbekal analisis tentang unexplained infertility itu, dokter terbaru kami dengan santainya menyarankan untuk mencoba cara alami dulu selama beberapa bulan. Tidak ada terapi obat-obatan apapun, yang dia lakukan hanyalah membantu memonitor masa subur melalui USG. Haha … seandainya aku mendapat saran ini pada tahun-tahun sebelumnya, mungkin bulan depannya aku sudah meninggalkan dokter tersebut karena merasa jengkel. Bok … ngitung masa subur mah eike yakin udah cukup ahli, mengingat si siklus bulanan amat sangat teratur. Kalau ujung-ujungnya disuruh alami ya untuk apa ke dokter? Namun, yang terjadi kali ini tidak demikian. Dengan ringan aku dan Hamdan mengikuti saja saran sang dokter. Setiap bulan kami rajin mengunjunginya, kadang antre di klinik berjam-berjam hanya untuk diperiksa dan mengobrol selama 10 menit dengan si dokter! Apa yang membuat kami bisa santai-santai saja melakukannya? Jam terbang, kali ya …. saking udah kenyangnya dengan lika-liku ikhtiar berketurunan ini. Anggap saja kencan, dan anggap saja langkah ini sekadar menunaikan kewajiban berikhtiar, tanpa mengharapkan apapun.

Inseminasi, lagi

Setelah melewati beberapa siklus bulanan dan belum hamil juga, akhirnya sang dokter menawarkan pilihan langkah berikutnya: inseminasi buatan (lagi) atau operasi laparoskopi (lagi, juga). Hwah … pilihan yang sangat mudah, mengingat sampai saat itu aku masih ingat betul ketakutanku di ruang operasi ketika menjalani laparoskopi pada pertengahan tahun 2011.

Maka, pada tahun 2014, kami pun memutuskan untuk mencoba inseminasi lagi. Karena kami sudah pernah melakukannya juga pada tahun 2011, ini bukan inseminasi kami yang pertama, melainkan …. inseminasi yang kedua, ketiga, dan bahkan keempat! Yap, betul … Anda tidak salah baca. Hingga pertengahan tahun 2014, total inseminasi yang sudah pernah kami lakukan adalah 4 KALI. Puas, puas deh.

Laparoskopi, lagi juga

Setelah berkali-kali mencoba inseminasi tetapi belum hamil juga, akhirnya kami pun menghadapi opsi terakhir: laparoskopi lagi. Sebenarnya, beberapa inseminasi yang telah kami coba itu setidaknya menghasilkan satu manfaat: mengulur waktu, menyiapkan mental kami untuk melakukan operasi lagi. Kami mantap memutuskan untuk mencoba laparoskopi lagi pada awal Agustus 2014, tiga tahun setelah laparoskopi yang pertama.

Meskipun judul operasinya sama, tetapi kami sangat berharap bahwa hasil yang diperoleh berbeda. Dulu, saat operasi pertama, laparoskopi kulakukan setelah kegagalan inseminasi pertama karena adanya dugaan kehamilan di luar kandungan (yang alhamdulillah tidak ditemukan, terbukti masalahku saat itu hanya usus buntu akut). Setelah operasi, sang obgyn sempat mengobrol dengan ibuku, berkata bahwa sebenarnya aku tidak mengalami masalah kesuburan apapun dan seharusnya bisa hamil kapan saja. Pernyataan inilah yang sempat membuatku ragu untuk melakukan laparoskopi kedua … untuk apa memeriksa ulang ‘isi tubuh’ yang sudah dinyatakan baik-baik saja?

Sedikit secercah harapan kudapatkan dari dsog terakhirku. Sejak aku berprogram di bawah bimbingannya, melalui USG ditemukan adanya kista dan miom yang sangaaaat kecil (kenapa ini tidak ditemukan pada laparoskopi pertama atau oleh obgyn sebelumnya, hanya Tuhan yang Tahu … mungkin saja waktu itu belum ada). Secara teori, seharusnya, kista dan miom sekecil itu tidak menghambat kehamilan. Ada banyak wanita di luar sana yang hamil-hamil saja, padahal punya kista atau miom yang jauh lebih besar. Nah, setelah inseminasi berkali-kali tetap gagal hamil, barulah sang dokter menyarankan agar kista dan miom yang itu diambil, karena … yah, namanya juga ikhtiar maksimal, siapa tahu meskipun ukurannya kecil, keduanya tetap punya peranan dalam menghalangi kehamilan.

Menghadapi laparoskopi kedua, aku lebih siap. Atau mungkin tepatnya: jauh lebih heboh. Hahahahaa. Cari literatur, tanya ke sana ke mari, sampai minta doa dari seluruh keluarga besar (kebetulan operasinya setelah lebaran). Yang paling kuwaspadai adalah masalah hipotermia-ku. Masih teringat dengan jelas, saat operasi pertama, hawa dingin menusuk hingga ke tulang sampai-sampai terbayang meninggal karena kedinginan di meja operasi, bahkan sebelum dibedah. Kalau diceritakan sih kayaknya lucu, yaa … tapi sungguh, saat mengalami sendiri dan mengingatnya sungguh-sungguh menyeramkan. Karena itulah, menjelang operasi kedua, persoalan itulah yang kubicarakan berkali-kali pada dokter-dokter dan perawat. Alhamdulillah, ternyata kekhawatiranku itu mendapat perhatian yang cukup, tidak dilupakan begitu saja. Pakdeku yang kebetulan merupakan seorang dokter spesialis anestesi menyarankan agar aku sudah dibuat ‘lupa’ sebelum masuk ke ruang operasi, dan itulah yang terjadi. Hal terakhir yang kuingat adalah cairan yang disuntikkan melalui infus tepat sebelum aku didorong masuk ke ruang operasi. Ketika sadar lagi, aku sudah berbaring di ruang pemulihan dengan selimut khusus (ada penghangatnya). Weiss … benar-benar pengalaman yang damai, aman dan nyaman …. jauh berbeda dari sebelumnya!

Harapan baru

Dari laparoskopi kedua ini, kami mendapat ‘oleh-oleh’ yang cukup menakjubkan (menurutku) atau menyeramkan (menurut Hamdan): sebuah video yang merekam seluruh tindakan pada bagian dalam tubuhku selama operasi berlangsung. Seru sekali (sekali lagi, menurutku, looh) bisa menyaksikan rekaman tindakan menyayat, mengikis, dan memotong yang dilakukan oleh dokterku. Mengingat semua itu dilakukan untuk ‘membuang’ penyakit, rasanya puassss sekali … (sementara itu, Hamdan menonton sambil bergidik, menahan rasa ngilu …. hahaha … ini kebalik nggak, sih, siapa yang harusnya merasa ngilu).

Pada kunjungan pertama ke dokter setelah operasi, aku sudah mendapat hasil pemeriksaan patologis: kista yang ditemukan adalah kista endometriosis. Selanjutnya, dokterku meresepkanku Tapros, yaitu terapi (dengan cara disuntik) untuk mengistirahatkan rahimku dari siklus bulanan. Terapi ini dilakukan 3 kali, sehingga diharapkan aku tidak mengalami menstruasi selama kurang lebih 3-4 bulan.

Oh, ya. Sebelum dan sesudah operasi, aku sempat bertemu dan mengobrol dengan beberapa suster yang kebetulan juga pernah melakukan operasi serupa. Mereka semua mendoakanku dan menyemangatiku dengan menceritakan kisah sukses mereka: hanya selang beberapa bulan setelah operasi, akhirnya mereka hamil! Masya Allah … yaa setelah kurang lebih tujuh tahun menikah, meskipun ini bukan pertama kalinya aku disemangati, bukan pertama kalinya berprogram hamil, bukan pertama kalinya dioperasi, mendengar kisah sukses seperti itu selalu menumbuhkan harapan baru. Alhamdulillah, meskipun kekecewaan demi kekecewaan juga sudah sangat sering kami lalui, ternyata kami masih diperkenankan memelihara harapan itu. Terima kasih, ya Allah

Iklan

Rujuk

Lho, kok tiba-tiba ada kata rujuk? Sebenarnya ini tidak berniat mencari sensasi saja (perhatikan kata saja, berarti ada juga niat cari sensasi itu …. hahhaha …), tetapi juga memang karena kata itulah yang pertama kali terlintas di benakku saat akan membuat tulisan ini. Aku tidak akan merangkum teori tentang bagaimana cara membuat judul karangan yang menarik, tetapi izinkanlah kukutip sedikiiit saja salah satu pengertian kata rujuk dalam bahasa Indonesia: ‘bersatu kembali’.

Nah, apanya yang disatukan kembali? Apa yang sempat terpisah? Apa yang sebetulnya ingin kuceritakan? Jawabannya: hubunganku dan Hamdan dengan dokter atau klinik untuk urusan kehamilan.

Alasan “berpisah”

Para sahabat atau pengunjung yang menjelajahi lapak kami ini karena didorong oleh satu minat khusus bertemakan “infertilitas”, “ikhtiar kehamilan”, “trying to conceive”, dan sebangsanya, mungkin sempat membaca tulisanku yang berjudul “ikhtiar (kehamilan) terakhir”. Dalam tulisan yang kubuat hampir dua tahun yang lalu itu, salah satu yang kusampaikan adalah keputusanku dan Hamdan untuk berhenti berkunjung ke dokter untuk urusan program kehamilan. Keputusan itu sebetulnya berkaitan dengan banyak hal, seperti masalah infertilitas yang berulang, masalah keuangan, hingga masalah stres.

Intinya, waktu itu kami tidak melihat ada solusi baru di bidang medis untuk masalah infertilitas kami yang berulang (setelah setiap masalah baru diatasi, muncul masalah lama). Aku tidak siap menghadapi kenyataan bahwa setiap masalah yang telah berhasil kami atasi sebelumnya (sel telur tidak matang, morfologi sperma, hingga antibodi antisperma) ternyata tidak berhasil mengantarkanku pada hasil yang diharapkan: hamil. Terus datang ke dokter pun lebih sering membuatku sedih, kesal, atau bahkan marah, daripada senang dan bersemangat. Belum lagi pada saat itu baik aku dan Hamdan memutuskan untuk kuliah lagi dan sedang tidak bekerja sebagai pegawai tetap di mana pun. Sebanyak apa pun tabungan yang ada, kami tidak segila itu untuk menghabiskannya dalam sekejap hanya untuk mengusahakan kehamilan, yang tidak kami kategorikan sebagai kebutuhan primer.

Namun, alasan utama “perpisahan” kami dengan dokter kandungan waktu itu sebenarnya ada pada faktor yang terakhir kusebut: STRES. Tanpa kusadari, sebenarnya aku masih menyimpan harapan yang begitu tinggi sehingga ketika tidak terwujud, perasaan kecewa yang muncul begitu besar. Aku pun belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain. Tidak semua orang berkesempatan (meskipun ingin) untuk melakukan ikhtiar berupa pengobatan medis demi mendapatkan keturunan. Namun, di antara mereka yang tidak mendapat kesempatan tersebut, lebih banyak kutemukan rasa pasrah daripada yang sebaliknya. Kehidupan mereka seperti menunjukkan nasihat yang mengatakan: daripada menyiksa diri karena memikirkan kesempatan yang tidak diperoleh, lebih baik menerima, bersyukur atas hal yang dimiliki, lalu hidup tenang dan bahagia.

Tidak jarang pula, di antara mereka yang sudah lupa pada masalah ketiadaan anak itu, tiba-tiba pada suatu waktu dianugerahi kejutan begitu saja. Tentu saja tidak ada yang dapat menjelaskan apa persisnya yang berproses di dalam tubuh mereka sehingga kehamilan yang sebelumnya begitu sulit terjadi, datang begitu saja. Beberapa ahli (tidak hanya dokter kandungan, tetapi juga psikolog, psikiater, terapis, dll) mengatakan bahwa hal itu berhubungan dengan tingkat stres yang hilang sehngga setiap organ tubuh yang terkait menjadi lebih sehat.

Nah, itulah hal yang mendorong “perpisahan” kami dengan dokter kandungan: agar kami dapat “lupa” sejenak dan menurunkan tingkat stres yang mungkin (atau pasti) ada. Baik, mungkin aku salah. Mungkin hanya aku yang stres, Hamdan tidak. Namun dalam hal ini, perlu diingat kembali sebuah dalil yang mengatakan: istri stres akan membuat suami stres. Dalil dari mana itu? Dalil dariku, barusan, berdasarkan pengalaman pribadi!

Tentu di antara banyak pihak yang mengerti, ada juga yang menyayangkan keputusan kami tersebut. Sebaik-baiknya perjuangan adalah yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Tentu saja, kami tahu itu dan tidak memiliki pendapat yang berbeda. Selamanya kami pun meyakini bahwa kami tidak boleh menyerah. Namun, sebenarnya keputusan itu bukan soal menyerah atau tidak. Pada akhirnya, itu hanya soal menjaga “kewarasan” kami alias kesehatan batiniah dan bukankah itu salah satu faktor terpenting dalam mengusahakan kehamilan? Dengan kata lain, anggaplah “perceraian” kami dari dunia medis untuk program hamil pada saat itu sebagai salah satu ikhtiar lainnya. Selain itu, selama menjauhi dunia medis, kami pun tetap mengikuti pelbagai saran dari mana-mana untuk mencoba pengobatan-pengobatan alternatif. Jadi, niat “menyerah” yang disangkakan itu sesungguhnya memang tidak pernah ada.

Keputusan rujuk

Akhirnya, setelah kurang lebih satu tahun tidak menjumpai dokter kandungan mana pun, niat itu kembali datang. Aku memang tidak langsung menceritakannya di blog ini, tetapi sejak kira-kira pertengan tahun lalu, aku dan Hamdan sudah kembali “menjalin hubungan” dengan salah satu dokter di klinik swasta (Maaf, seperti biasa, aku yang agak “parno-an” ini belum berani untuk langsung menuliskan identitasnya di sini. Bagi yang amat sangat penasaran dan butuh, silakan tinggalkan komentar dan akan kuberi tahu secara pribadi melalui surel). Seperti halnya ada beberapa alasan yang melatari keputusan perpisahan dulu, kali ini pun keputusan rujuk itu didasari oleh beberapa alasan.

Salah satunya adalah diterimanya Hamdan bekerja di sebuah lembaga pemerintah yang berkantor di Jakarta. Akhirnya, alhamdulillah … setelah lima tahun menikah, kami merasakan apa yang namanya tinggal seatap hampir setiap hari! Lalu apa hubungannya dengan keputusan kembali ke dokter? Banyak. Dulu, saat Hamdan lebih sering jauh dariku (bekerja di lepas pantai), kebanyakan pertemuan dengan dokter kujalani sendiri. Meskipun aku tidak keberatan dengan itu (atau setidaknya begitulah yang kukira), setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya itu bukan hal yang baik. Mungkin saja itu salah satu penyebab stresku: mulai dari mengejar janji dengan dokter sendiri (termasuk menyetir saat macet dll), mengantri sendiri bersama ibu-ibu lain yang sudah berperut besar, menghadapi pemeriksaan dokter sendiri, berkonsultasi sendiri, hingga kemudian harus melakukan “transfer ilmu” ke suami. Too much trouble. Kini, dengan Hamdan berkantor di Jakarta, aku dapat berkonsultasi dengan dokter tanpa segala kesusahan itu. Benar-benar peluang yang terlalu berharga untuk dilewatkan, bukan??

Alasan kedua yang terpenting berkaitan dengan masalah stres yang kusebut-sebut sebelumnya. Sebetulnya aku tidak tahu bagaimana mengukurnya, tetapi aku yakin betul, tingkat stresku telah jauh berkurang. Bukti yang kuajukan adalah … aku sampai lupa! Hahaha. Aku lupa bahwa aku punya masalah infertilitas, aku lupa bahwa sebelumnya aku selalu kesal di hari pertama menstruasi karena berarti belum hamil juga, aku lupa bahwa biasanya aku iri pada teman-teman yang melahirkan (apalagi yang lebih muda atau baru menikah), dan bahkan …. aku lupa bahwa kehamilan adalah hal yang sangat kunantikan! Hahahaha.

Mungkin, karena alasan itulah, orang tuaku menjadi lebih gelisah. Entah berapa lama mereka menahannya, akhirnya pada suatu hari, tercetuslah pertanyaan tentang –kapan-aku-kembali-ke-dokter. Aku pun ingat kembali pada segala hal yang telah kulupakan itu dan mendiskusikannya dengan Hamdan.

Tidak ada keragu-raguan atau perdebatan yang panjang, kami pun memutuskan untuk “rujuk” dengan dunia medis. Berbeda dengan sebelumnya, rasanya ringan sekali saat membuat keputusan kali ini. Yang kupersiapkan hanya mencari klinik yang banyak direkomendasikan pasutri lain yang juga memiliki masalah infertilitas dan tidak terlalu jauh dari kantor Hamdan. Kriteria terakhir ini penting karena inilah yang berbeda dari hubungan sebelumnya: sedapat mungkin kami selalu datang ke dokter bersama-sama.

Selanjutnya, di klinik tersebut, aku memilih dokter yang direkomendasikan tidak hanya karena pengalamannya dalam menyukseskan suatu program hamil, tetapi juga karena keramahannya atau keakrabannya dengan pasien. Orang mau hamil kan harus senang, pikirku. Jangan sampai nanti aku mogok periksa lagi hanya karena takut atau tegang menghadapi dokter yang sedikit bicara atau galak.

Dari nol lagi

Datang dengan ikhlas, aku tidak banyak berpikir saat pertama kali memeriksakan diri ke dokter kandungan yang baru. Seperti sebelumnya, aku menyusun dan menunjukkan riwayat lengkap ikhtiar kami selama ini pada sang dokter. Namun, entah mengapa, kali ini aku tidak menggebu-gebu membawa segudang pertanyaan untuk dikonsultasikan. Apa yang mau kutanyakan? Sepertinya aku sudah kenyang dengan semua informasi mengenai soal masalah infertilitas, kecuali mungkin tentang satu-dua pendekatan yang berbeda. Selain itu, aku dan Hamdan juga tidak banyak berharap. Mengingat masalah hormon (sel telur tidak matang) yang kudapati di pemeriksaan dokter terakhir setahun sebelumnya, kami pun ikhlas jika menemui masalah yang sama atau masalah-masalah lainnya.

Pemeriksaan demi pemeriksaan pun kami jalani kembali, termasuk di antaranya mengecek kematangan telur melalui pemeriksaan-pemeriksaan USG, cek darah untuk masalah hormon, dan pemeriksaan sperma. Satu yang sangat kusyukuri adalah tidak perlu mengulang tes HSG yang sangat traumatis itu. Lalu, apa hasilnya? Hanya Tuhan yang tahu, ke mana masalah ketidakmatangan sel telur yang terjadi setahun sebelumnya. Lenyap tak berbekas. Begitu pula dengan hasil pemeriksaan lainnya, tidak ada masalah! Alhamdulillah.

Kami pun kembali memulai program hamil (promil) dengan perasaan yang lebih ringan dan santai. Faktor dokter juga berperan penting di sini. Setelah gonta-ganti dokter, dokter kami kali ini adalah dokter yang paling ramah: murah senyum, selalu bersikap santai dan mudah mengakrabkan diri. Meskipun antriannya cukup panjang, ternyata kami cukup dapat menghilangkan rasa lelah yang ada dan bahkan hampir tidak pernah merasa kesal. Kunjungan rutin ke dokter setiap bulannya sudah seperti plesiran atau kencan saja … hahaha. Inilah perbedaan terbesar yang kami rasakan dari saat menjalani program-program sebelumnya: tidak ada beban (termasuk di antaranya tidak banyak berharap, tidak hitung-hitungan, tidak memikirkan hal apa saja yang sudah dikorbankan demi menjalani si promil).

Ah, tak terasa, tulisanku sudah panjang lagi. Sebenarnya masih banyak yang belum kuceritakan terkait program hamil yang kembali kami jalani ini, tapi sepertinya lebih baik kulanjutkan dalam tulisan berikutnya saja, ya. Sekali lagi, terima kasih pada teman-teman yang mau berbagi bersama kami, terutama yang juga terus berjuang agar dikaruniai keturunan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita.

 

Salam,

Heidy (+Hamdan)

Minggu Pertama Kehamilan

Sebelum menikah dan mulai memikirkan soal kehamilan, aku hanya tahu seorang calon ibu mengandung selama sembilan bulan sebelum melahirkan bayinya. Aku tidak tahu kalau masa yang dimaksud sebenarnya adalah empat puluh minggu dan bahwa hitungan yang lebih diperhatikan dan digunakan oleh para ibu hamil adalah minggu, bukan bulan. Namun, kurasa perbedaan paling besar yang kutemukan adalah pengetahuanku tentang cara menghitung usia kehamilan.

Dulu, kalau aku mendengar ibu-ibu saling bertanya tentang usia kehamilan, kukira itu sama saja dengan menanyakan usia janin yang sedang dikandungnya. Ketika beberapa teman dekat mulai mengalami kehamilan dan umumnya tidak ada di antara mereka yang pernah menyatakan usia kehamilannya di bawah lima minggu, aku mulai sadar bahwa ada yang salah dengan pemahamanku.

Setelah berburu informasi dari internet dan buku-buku yang berjejer di rak topik “kehamilan” di toko buku (meskipun belum hamil, aku mengunjungi bagian itu sambil sengaja mengelus-elus perut agar pegawai tokonya maklum kenapa aku lama sekali di sana untuk afirmasi positif), barulah aku mengerti bahwa usia kehamilan itu berbeda dengan usia janin dan bagaimana usia kehamilan itu dihitung sejak hari pertama menstruasi. Ini berarti sebenarnya setiap perempuan sudah memulai masa kehamilannya sejak hari pertama menstruasinya, meskipun belum tentu beberapa waktu kemudian sel telurnya bertemu dan dibuahi sang sperma dan ia akan benar-benar menjadi hamil! Baiklah, sebenarnya sebelum mendapatkan informasi dari buku-buku itu, teman-temanku yang pernah hamil juga sudah mengatakannya. Yah… apa boleh buat, kalau belum dijelaskan serinci-rincinya, seorang Heidy memang tidak akan puas. Ya Allah, rahmatilah orangtua, guru, dosen, dokter, dan siapa pun yang pernah diuji kesabarannya melalui pertanyaan-pertanyaanku yang selalu berentet tak ada habisnya. Aamiin.

Baik, kembali ke topik. Jadi, usia kehamilan itu dihitung dari hari pertama haid (Sayangnya karena buku-buku yang ditulis para ahli itu hanya kubaca di toko, belum sampai kubeli, aku tidak bisa menuliskan rujukannya secara lengkap di sini. Silakan baca tulisan para dokter yang bisa ditemukan dengan bantuan Tuan Google untuk memperoleh wawasan yang lebh mantap). Lalu? Bagiku, memahami hal ini penting sekali. Menstruasi bukan saja berarti tidak terjadi pembuahan dari siklus sebelumnya, tetapi juga menandakan dimulainya siklus baru. Saat sebuah siklus dimulai, sel telur baru dibentuk, dimatangkan, untuk kemudian bersiap dibuahi kembali.  Dengan kata lain, inilah awal mula baru.

Masa menstruasi dianggap sebagai minggu pertama kehamilan, yaitu saat terbentuknya sel telur baru!

Bagi para pendamba momongan seperti kami, kurasa penting sekali untuk menggunakan sudut pandang itu. Aku tentu saja tahu dan mengalami sendiri beberapa kali penderitaan secara fisik dan mental saat tamu bulanan kembali datang. Penyebab pertama adalah karena aku hampir selalu merasakan nyeri hebat sampai sulit berdiri (apalagi kalau dipaksa berjalan atau menyetir, bisa sampai menangis berderai-derai) di hari-hari pertama menstruasiku. Penyebab kedua adalah kekecewaan yang teramat sangat karena kalau haid ya berarti tidak hamil. Namun, begitu aku memahami (dan ingat, karena meski sudah paham tetap saja kadang-kadang bisa lupa sama sekali) bahwa mendapat haid berarti kembali bertemu dengan minggu pertama kehamilan, rasanya dua pertiga dari penderitaan itu terangkat. Tidak masalah apakah ‘kehamilan’ itu akan terus berlanjut hingga benar-benar hamil (setelah pembuahan terjadi di akhir minggu kedua dan hormon kehamilan mulai terdeteksi di akhir minggu keempat) atau tidak. Daripada memikirkan bahwa datangnya sang tamu bulanan menandakan bahwa kehamilan tidak terjadi dari siklus sebelumnya, aku memilih untuk berpikir bahwa aku sudah memulai masa kehamilan yang baru (kata Hamdan: “Iya hamil, tapi belum hamil bayi, baru hamil telur!”). Dengan menyadari bahwa mengalami menstruasi berarti mendapatkan anugerah dan kesempatan baru, kekecewaanku dapat segera tergantikan dengan rasa syukur, semangat, dan bahkan gembira.  Lalu, karena kesehatan jiwa berpengaruh besar terhadap kesehatan tubuh, kurasa wajar saja jika segala rasa sakit di badan pun berkurang cukup banyak. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui!

Hari pertama menstruasi adalah saat Tuhan kembali menurunkan anugerahnya padaku. Ia memberiku kesempatan baru, jauh lebih luas daripada sekadar kesempatan untuk ‘memasak’ sel telur baru. Minggu pertama kehamilan ini adalah momentum yang tepat bukan hanya untuk meningkatkan kualitas makanan yang dikonsumsi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup dalam berbagai hal: mencukupkan istirahat bagi tubuh, melakukan olahraga lebih teratur, menata emosi dengan lebih baik, dan memperbanyak ibadah di segala bidang. Dengan kata lain, inilah kesempatan baru untuk memperbaiki kualitas diri! Kemudian, jika sel telur baru itu pada saatnya nanti berhasil dibuahi, aku tidak akan punya banyak penyesalan karena telah mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. Jika tidak, yah, aku rugi apa sih, dengan menjadi diri yang lebih baik?

Beberapa hari lagi, Ramadhan sang bulan penuh berkah dan ampunan akan tiba. Inilah bulan yang kerap diibaratkan sebagai masa seseorang sebagai kepompong sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, masa untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin ini adalah masa yang paling dirindukan dan dinanti-nanti selama satu tahun oleh umat muslim yang berharap diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, kesempatan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan tentu saja menjadi sebuah anugerah bagi seorang muslim.

Nah. Dengan menggunakan cara pandang yang sama terhadap ‘tamu bulanan’nya, bukankah seorang perempuan –terutama seorang istri yang mendambakan kehamilan– sebenarnya telah diberikan anugerah yang berkali-kali lipat melalui masa menstruasi itu? Anugerah itu tidak hanya datang setahun sekali, tidak perlu ditunggu selama dua belas bulan. Lihatlah dengan hati yang jernih, sebulan sekali, sesungguhnya tamu bulanan yang kembali kita temui itu bukanlah sebuah kekecewaan, melainkan sebuah kesempatan, sebuah anugerah. Tidak semua orang mendapatkannya. Maka, mari mengucap syukur. Segala puji bagi Tuhan yang menjadikanku perempuan dan memberiku kenikmatan ini. 🙂

Salam bahagia!

Heidy

Gambar diambil dari sini.

Rezeki yang Berbeda

Dua tahun terakhir ini, aku menghabiskan cukup banyak waktu dengan teman-teman kuliah yang mempunyai latar belakang dan kehidupan masing-masing yang unik.  Ada seorang ibu muda, seumur denganku, yang mempunyai dua anak laki-laki dengan jarak sangat rapat. Ada seorang bapak dengan enam anak. Ada dua orang perempuan yang lebih tua dariku yang belum menikah. Ada seorang laki-laki muda yang berencana menikah dalam waktu dekat. Lalu yang termuda, perempuan, beda usianya kira-kira tujuh tahun denganku. Pokoknya, asyik sekali kalau kami saling berbagi cerita.

Bagiku, salah satu yang menyenangkan dari berkumpul dengan orang-orang yang kisah hidupnya beraneka rupa adalah aku dapat belajar banyak hal dan melihat suatu hal dari sudut-sudut pandang yang berbeda. Dari teman seusiaku yang sudah beranak dua itu, misalnya. Kemiripan pengalaman dan perasaan kami terhadap pengalaman tersebut benar-benar seperti bumi dan langit (dengan kata lain ya nggak mirip sama sekali…hahhaha). Aku, sampai tahun keenam pernikahanku saat ini, belum pernah hamil sama sekali. Sementara itu, ia, di tahun pertamanya menikah, sudah langsung hamil dan kemudian punya seorang anak laki-laki yang sangat lucu. Kemudian di saat ia berniat melakukan KB, ternyata Tuhan sudah menganugerahinya dengan kehamilan berikutnya, yang membuatnya sangat shock. Oh, ya. Sebenarnya ada satu hal yang benar-benar mirip: kami berdua pernah mengalami uring-uringan yang luar biasa karena masalah kami masing-masing itu. 😀

Aku menceritakan suka dukaku menjalankan ikhtiar agar dapat hamil, sedangkan ia  bercerita tentang suka dukanya mempunyai dua anak laki-laki yang jarak umurnya sangat dekat dan betapa ia merindukan momen-momen berduaan saja dengan suami. Seiring dengan semakin banyaknya kisah yang kami  pertukarkan, aku semakin merasa diingatkan untuk bersyukur. Aku punya apa yang ia inginkan dan aku dapat melakukan apa yang tidak dapat ia lakukan: momen-momen pacaran dengan suami yang sering sekali dan sudah tak terhitung jumlahnnya. Acara menonton bioskop, jalan-jalan, hingga pergi ke luar kota dapat dilakukan sespontan mungkin tanpa banyak memikirkan dan mempersiapkan macam-macam hal. Namun, begitu pula sebaliknya. Tentu saja temanku itu punya dan dapat melakukan banyak hal yang tak kupunya dan tak dapat kulakukan.

Jadi, siapa yang lebih beruntung, hidup siapa yang lebih enak? Jawabannya jelas. Tidak ada yang lebih beruntung dan  hidup lebih enak, seperti juga tidak ada yang lebih sial dan hidupnya lebih tidak enak. Semua orang punya rezekinya masing-masing, dialami dan dirasakan secara berbeda, tetapi tentu saja memperoleh keadilan yang sama.

Namun, ada satu hal yang kemudian kuyakini: keberuntungan dan hidup enak itu ternyata bisa diatur! Bagaimana? Kembali lagi ke pertanyaan di atas tentang siapa yang lebih beruntung dan siapa yang hidupnya lebih enak. Dengan kehidupan masing-masing, aku dan temanku itu bisa sama-sama beruntung, bisa sama-sama sial, atau salah satu dari kami lebih beruntung daripada yang lain. Kami jelas sama-sama sial dan memiliki hidup yang sangat tidak enak ketika terus menerus iri pada rezeki yang lain dan menggerutu atas apa yang kami sendiri peroleh. Sebaliknya, tentu, kami adalah orang-orang yang sangat beruntung ketika memutuskan untuk belajar dari kehidupan satu sama lain dan sungguh-sungguh mensyukuri apa yang dianugerahkan pada kami masing-masing.

Segala puji bagi Tuhan yang Maha Memberi Rezeki, Tuhan yang Maha Adil. Alhamdulillah…

Salam berbagi,

Heidy