Dari satu perjalanan yang lain …

Sejak teman tidurku bangun dan sibuk bersiap-siap untuk perjalanan dinasnya beberapa jam yang lalu, aku tak bisa memejamkan mata lagi. Sebetulnya ini perjalanan biasa, yang entah sudah berapa kali dilakukannya sejak kami menikah 11 tahun yang lalu: bangun dini hari, berangkat ke bandara, terbang ke kota/negara lain, bekerja, lalu pulang kembali beberapa hari, minggu, atau bulan kemudian. Ini perjalanan biasa, yang awalnya selama beberapa tahun pertama berumah tangga selalu menjadi pengalaman yang emosional bagiku: berharap-harap cemas, takut, sedih, dlsb tiap melepas keberangkatan dan menantikan kepulangannya dalam hitungan minggu atau bulan.

Kemudian, hal ini pelan-pelan ‘sembuh’ seiring dengan perjalanan kehidupan kami: ia keluar dari pekerjaan lamanya sehingga kami dapat mengakhiri ‘pernikahan jarak jauh’ itu dan kami dikaruniai anak-anak yang menjadi pusat perhatian kami sehari-hari. Walau selalu berpamitan berkali-kali, sering aku masih terlelap saat ia keluar dari rumah dan baru bangun saat pesawatnya sudah berada di atas awan. Tidak jarang pula aku disibukkan dengan bocah, tak ingat sama sekali dengan ponsel dan baru membaca pesan “boarding ya” darinya setelah berjam-jam ia mendarat di pulau atau laut seberang. Tak ada yang khusus, istimewa, atau luar biasa. Semuanya begitu … biasa, hingga akhirnya musibah kemarin terjadi: pesawat Lion Air JT-610 tujuan Pangkalpinang hilang setelah beberapa belas menit bertolak dari Jakarta pada pagi hari.

Bukan, suamiku bukan salah satu korban kecelakaan tersebut. Segala puji dan syukur kupanjatkan kepada Ilahi, kami masih diizinkan untuk bersama hingga saat ini. Namun, sama halnya dengan banyak keluarga lain yang tak berhubungan dengan peristiwa nahas itu, kesedihan memenuhi hati kami. Tak hanya itu, kecemasan, kegelisahan, dan ketegangan mulai kembali menyapaku dan mungkin juga orang-orang yang pasangannya akan bepergian dengan pesawat dalam waktu dekat.

Pikiranku mengembara membayangkan ratusan orang di rumah lain yang kemarin baru saja mengalami keseharian seperti kami pagi ini: seorang suami/istri/ayah/ibu berpamitan, berangkat ke bandara, terbang untuk perjuangannya mencari nafkah dan mengabdi pada negeri, meninggalkan pasangan dan anaknya di rumah yang mengharapkan pertemuan mereka kembali besok, lusa, minggu depan, atau waktu tercepat lainnya. Namun ternyata, mereka mungkin tidak dapat berkumpul lagi.

Siapa yang mengira itu akan terjadi? Siapa yang mengharapkannya?
Aku tidak, kamu tidak, pemerintah tidak, wartawan tidak, netizen pun tidak mungkin menginginkannya, kan?
Karena itu, semoga aku, kamu, dan siapa pun di dunia ini cukup bijak untuk menahan nafsu mulut dan jempol dengan tidak berkomentar maupun menyebarkan informasi yang tidak benar, tidak baik, dan tidak bermanfaat.

Membayangkan betapa remuk redamnya perasaan keluarga korban, batin siapa yang tak turut menjerit? Setelah sering kali lupa dan abai, kemarin aku disadarkan lagi bahwa setiap jiwa akan kembali ke pada Sang Pencipta dan umur setiap manusia adalah rahasia mutlak milikNya. Tak ada yang dapat menebak kapan akhirku dan akhirmu, dan betapa indahnya jika setiap pertemuan kita hanya diakhiri dengan keikhlasan, kedamaian, serta kasih sayang. Maka, untukmu, siapa saja yang pernah mengenalku dan belum berjumpa lagi denganku, kumohon maafkanlah segala kesalahanku. Undanglah diriku, selagi umur kita masih berjalan, jika ada urusan yang belum selesai di antara kita. Aku pun memaafkanmu. Terima kasih atas segalanya dan aku mencintaimu karena Allah.

Yaa Rabb, perkenankanlah akhir yang baik, jika Engkau memang menghendaki inilah akhirnya, bagi saudara-saudara kami yang mengalami kecelakaan ini. Terimalah semua amal ibadah mereka, termasuk jihad mereka saat melakukan perjalanan tersebut. Karuniailah kesabaran, ketabahan, ketangguhan, dan keihklasan yang sebesar-besarnya bagi keluarga yang ditinggalkan dan berikanlah sebaik- baiknya ganjaran bagi mereka. Sungguh Engkaulah Yang Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Pengampun, dan Maha Kuasa atas segala yang ada di langit dan bumi. Al Faatihah …

#JT610
#deepcondolences
#muhasabahdiri
#renunganpagi

++
Selamat terbang, suamiku.
Semoga selalu dalam lindungan Sang Khalik.
Maafkan aku, terima kasih, dan aku menyayangimu.

Advertisements

Tiga Sebelas Kesembilan dan Kabar Terbaru

Alhamdulillah
Segala puji bagi Allah Swt. yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah menganugerahi kami kehidupan dengan segala kesempatan dan pengalaman luar biasa di dalamnya.

Hari ini, tanggal tiga bulan sebelas –yang bukan sebuah kebetulan menjadi nama blog ini- adalah salah satu momen istimewa bagi kami. Sembilan tahun yang lalu, pada tanggal inilah kami mulai membangun rumah tangga. Sudah mulai tak terhitung (dan tak sanggup kusebutkan satu demi satu) apa saja yang telah kami peroleh, lakukan, dan alami bersama. Yang jelas tidak hanya satu rasa di dalamnya. Manis, asin, asam, pedas, pahit … semua ada, meskipun saat aku menulis ini, lebih banyak manisnya yang teringat … alhamdulillah!

Para pengunjung blog kami yang budiman, dalam kesempatan ini (nggak apa ya, sekali-kali meniru pemimpin upacara yang lagi ceramah), izinkanlah kami menyampaikan permohonan maaf. Pertama, mohon maaf atas setiap komentar yang belum terbalas (atau bahkan belum tertampilkan). Kemudian, maaf berikutnya adalah maaf karena mungkin kami belum sanggup memaparkan seluruh pengalaman berharga yang sebenarnya amat sangat ingin kami bagi. Yah .. walaupun memang hak setiap orang untuk berbagi atau tidak berbagi tentang kisah hidupnya, sebenarnya rasanya seperti punya utang bertahun-tahun gitu lho, selama blog ini tak dibuka-buka.

Awalnya, dulu, aku cukup takjub melihat ternyata blog yang ‘sudah dipenuhi laba-laba’ ini masih sering dikunjungi dan bahkan dikomentari. Namun kemudian, aku ingat apa yang menyebabkannya adalah hal yang pernah membuatku gelisah dan galau selama bertahun-tahun setelah menikah: infertilitas. Betapa tidak sedikit ternyata pasangan lain yang mengalaminya juga!

Eits …coba deh, rewind.
Yang tidak kenal kami di dunia nyata, silakan baca lagi tulisan di atas:
………. yang PERNAH membuatku gelisah……….

Apa? / Ya, PERNAH.
Sekarang bagaimana? Sudah tidak galau? / Alhamdulilah, sudah tidak lagi.
Kenapa? Jangan-jangan …. / Alhamdulillah, sekarang sih adanya susaaaaah cari waktu luang, bahkan untuk merenung sejenak. Boro-boro mau galau. Mandi, makan, bahkan ke toilet  pun sering diburu-buru, seolah-olah ada timer. Yang memegang timernya: anak-anak. Si bayi dan kakaknya.
Hah? Bayi? Kakak? / Iya, benar. Saat ini kami punya bayi. Atas kuasa Allah, ia kulahirkan secara spontan kira-kira sebelas bulan yang lalu dari sebuah kehamilan yang alami. Namanya Anya, perempuan. Selain itu, alhamdulillah begitu lahir, Anya juga sudah punya kakak. Namanya Indri, perempuan juga. Usianya tahun ini 9 tahun, hampir sama persis dengan usia pernikahan kami saat ini. Dialah yang amat sangat menantikan kehadiran seorang adik, yang dengan ketulusannya sungguh-sungguh berdoa secara konsisten agar bundanya yang belum pernah hamil seumur hidupnya segera dapat mengandung seorang bayi. Malaikat kecil ini lahir dari hati kami, dipertemukan dan dijodohkan dengan kami melalui cara yang luar biasa. Kami telah sah mengadopsinya secara legal dari sebuah panti milik pemerintah, setelah melalui prosesnya yang cukup menguji iman selama kurang lebih 2 tahun.

Nah, jadi begitu. Itulah salah satu alasan mengapa blog ini terbengkalai begitu lama …
dan alasan mengapa sekarang (setelah beberapa kata lagi, tepatnya) aku harus berhenti menulis dulu dan melanjutkannya lagi kapan-kapan (ketika si bayi sedang tidur nyenyak lama sekali, bisa dititipkan, atau apalah). Maaf yaaah …. mohon doakan saja aku segera menguasai ilmu supernya emak-emak: multitasking
… dan tentunya, doa kami pula untuk kita semua: semoga kita diberikan keikhlasan atas apapun yang ditentukanNya, karena in sya Allah itulah yang terbaik. Aamiin.

Sampai jumpa!
Heidy (+Hamdan)