Rezeki yang Berbeda

Dua tahun terakhir ini, aku menghabiskan cukup banyak waktu dengan teman-teman kuliah yang mempunyai latar belakang dan kehidupan masing-masing yang unik.  Ada seorang ibu muda, seumur denganku, yang mempunyai dua anak laki-laki dengan jarak sangat rapat. Ada seorang bapak dengan enam anak. Ada dua orang perempuan yang lebih tua dariku yang belum menikah. Ada seorang laki-laki muda yang berencana menikah dalam waktu dekat. Lalu yang termuda, perempuan, beda usianya kira-kira tujuh tahun denganku. Pokoknya, asyik sekali kalau kami saling berbagi cerita.

Bagiku, salah satu yang menyenangkan dari berkumpul dengan orang-orang yang kisah hidupnya beraneka rupa adalah aku dapat belajar banyak hal dan melihat suatu hal dari sudut-sudut pandang yang berbeda. Dari teman seusiaku yang sudah beranak dua itu, misalnya. Kemiripan pengalaman dan perasaan kami terhadap pengalaman tersebut benar-benar seperti bumi dan langit (dengan kata lain ya nggak mirip sama sekali…hahhaha). Aku, sampai tahun keenam pernikahanku saat ini, belum pernah hamil sama sekali. Sementara itu, ia, di tahun pertamanya menikah, sudah langsung hamil dan kemudian punya seorang anak laki-laki yang sangat lucu. Kemudian di saat ia berniat melakukan KB, ternyata Tuhan sudah menganugerahinya dengan kehamilan berikutnya, yang membuatnya sangat shock. Oh, ya. Sebenarnya ada satu hal yang benar-benar mirip: kami berdua pernah mengalami uring-uringan yang luar biasa karena masalah kami masing-masing itu. 😀

Aku menceritakan suka dukaku menjalankan ikhtiar agar dapat hamil, sedangkan ia  bercerita tentang suka dukanya mempunyai dua anak laki-laki yang jarak umurnya sangat dekat dan betapa ia merindukan momen-momen berduaan saja dengan suami. Seiring dengan semakin banyaknya kisah yang kami  pertukarkan, aku semakin merasa diingatkan untuk bersyukur. Aku punya apa yang ia inginkan dan aku dapat melakukan apa yang tidak dapat ia lakukan: momen-momen pacaran dengan suami yang sering sekali dan sudah tak terhitung jumlahnnya. Acara menonton bioskop, jalan-jalan, hingga pergi ke luar kota dapat dilakukan sespontan mungkin tanpa banyak memikirkan dan mempersiapkan macam-macam hal. Namun, begitu pula sebaliknya. Tentu saja temanku itu punya dan dapat melakukan banyak hal yang tak kupunya dan tak dapat kulakukan.

Jadi, siapa yang lebih beruntung, hidup siapa yang lebih enak? Jawabannya jelas. Tidak ada yang lebih beruntung dan  hidup lebih enak, seperti juga tidak ada yang lebih sial dan hidupnya lebih tidak enak. Semua orang punya rezekinya masing-masing, dialami dan dirasakan secara berbeda, tetapi tentu saja memperoleh keadilan yang sama.

Namun, ada satu hal yang kemudian kuyakini: keberuntungan dan hidup enak itu ternyata bisa diatur! Bagaimana? Kembali lagi ke pertanyaan di atas tentang siapa yang lebih beruntung dan siapa yang hidupnya lebih enak. Dengan kehidupan masing-masing, aku dan temanku itu bisa sama-sama beruntung, bisa sama-sama sial, atau salah satu dari kami lebih beruntung daripada yang lain. Kami jelas sama-sama sial dan memiliki hidup yang sangat tidak enak ketika terus menerus iri pada rezeki yang lain dan menggerutu atas apa yang kami sendiri peroleh. Sebaliknya, tentu, kami adalah orang-orang yang sangat beruntung ketika memutuskan untuk belajar dari kehidupan satu sama lain dan sungguh-sungguh mensyukuri apa yang dianugerahkan pada kami masing-masing.

Segala puji bagi Tuhan yang Maha Memberi Rezeki, Tuhan yang Maha Adil. Alhamdulillah…

Salam berbagi,

Heidy

Iklan

Kesibukan vs Kebersamaan

Waw…sudah lebih dari sebulan aku tidak mengisi blog. Terbukti bahwa kesibukan di masa akhir semester perkuliahan ternyata sukses menyita sebagian besar waktu, pikiran, dan tenagaku. Boro-boro update blog, sekadar menumpahkan curahan hati di jurnal pribadi pun tak sempat. Atau lebih parah: boro-boro menulis di jurnal, membatin tentang hal-hal yang tak berhubungan dengan perkuliahan pun nyaris tak ada waktu! Hahahhaha.

Kalau dipikir-pikir, kesibukan yang seperti itu bagus juga. Terutama untuk orang yang punya bakat sering terserang perasaan gundah atau gelisah tak menentu (atau dalam bahasa sekarang: galau!). Dan mungkin aku termasuk di dalamnya.

Dalam kehidupan pernikahanku, aku mencatat ‘penyakit’ itu sangat mengganggu ketika pada suatu masa dulu aku pernah tidak bekerja di luar rumah dan tidak punya jadwal khusus yang mengikat untuk kesibukan lainnya. Tidak ada jam kantor, kuliah, atau tenggat waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Ternyata ini bahaya untuk seorang Heidy. Memang, aku jadi punya banyak waktu ‘mendengarkan’ perasaanku sendiri dan lebih produktif dalam menulis. Namun di saat yang sama, aku jadi semakin manja. Terkait masalah hamil-nggak hamil, misalnya, aku jadi lebih terlarut merenunginya terus-menerus. Seolah aku merasa ‘berhak’ menggunakan waktu sebanyak yang kumau untuk melakukan hal tak berguna seperti itu. Lalu dalam hal komunikasi dengan suami yang waktu itu masih bekerja di pulau seberang dan pulang sebulan sekali, aku jadi lebih banyak menganggunya. Sehari bisa menelpon sampai lima kali. Sudah seperti salat wajib saja. 😀

Untunglah masa-masa itu tak lama. Syukur alhamdulillah, aku dan Hamdan lebih banyak diberi kesempatan untuk memiliki kesibukan masing-masing. Sibuk bekerja, berkarya, belajar, dan sebagainya. Sibuk di kota yang berbeda, di pulau yang tak sama, bahkan sampai di negara yang jaraknya terpisah lebih dari setengah keliling bumi. Mengobrol tak harus setiap hari. Bertemu sekali dalam seminggu atau dua minggu saja pun terasa sebagai anugerah yang luar biasa.

Banyak komentar kuterima terkait kondisi kami ini. Mulai dari candaan sampai tanggapan serius.  Yang tersering dan paling membingungkanku adalah pernyataan-pernyataan penuh rasa kasihan atau waswas seperti contoh berikut.

“Kasihan amat suaminya nggak di rumah, belum punya anak, pula. Di rumah bengong sendiri, dong?” >> ASTAGA. Memangnya seorang perempuan jadi lumpuh kalau lagi nggak punya urusan yang terkait suami atau anak? Gue punya banyak kerjaan lain juga, kaleee.

“Ih kasihan banget sih ada libur tapi nggak sama suami. Nelpon juga nggak bisa? Kebersamaan suami-istrinya kurang, deh ya…”  >> Alhamdulillah kami selalu saling mendampingi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun, dst tanpa bergantung pada kuantitas tatap muka atau mengobrol!

“Kalo saling berjauhan gitu kan banyak godaan. Kalo masing-masing tergoda sama yang lain gimana? Belum ada anak, pula. Ada strategi khusus, nggak nih?” >> InsyaAllah kami saling percaya dan Allah yang Maha Menjaga. Itu cukup.

Dengan adanya siklus hari-hari saat tinggal seatap dan hari-hari saat berjauhan, aku dan Hamdan menikmati begitu banyak hal. Aku sangat terbiasa untuk sedih dan khawatir saat suamiku akan pergi, dan terbiasa pula untuk gembira berbunga-bunga menyambut kepulangannya. Begitu pula Hamdan. Setelah beberapa lama tidak bertemu, tingkahnya saat bertemu kembali denganku tak berbeda dari ekspresi antusias dan kebahagiaan sederhana seorang anak kecil. Nah, jadi di mana letak kasihannya? Bukankah kami pasangan yang sangat beruntung dan akan menjadi tak tahu diri kalau tak mensyukurinya? (Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan, hai manusia!)

Saat-saat akan berpisah dan bertemu kembali selalu menjadi momen istimewa bagi kami. Sementara itu, masa saat berjauhan di antaranya pun terasa sebagai nikmat dan berkah tersendiri. Kami tidak hanya sama-sama mendapat kesempatan untuk berdikari dan fokus berkarya di bidang masing-masing. Baik aku dan Hamdan masih bisa sering bepergian dengan teman masing-masing layaknya para gadis dan bujangan. Sebuah kesempatan yang ternyata jarang dinikmati pasutri muda lain yang sudah punya anak.

Banyak berjauhan dan punya kesibukan masing-masing tidak pernah membuatku maupun Hamdan merasa bahwa kami kurang memiliki kebersamaan. Dalam kesibukan masing-masing, sejauh apapun kami terpisah secara geografis, kami selalu merasa menemani dan ditemani satu sama lain. Dan kurasa, mungkin ini ada hubungannya dengan momen setiap akan berpisah.

“Dy hati-hati lho ya, nggak boleh mepet-mepet kalau mau pergi. Jangan buru-buru. Nggak boleh ngebut! Itu membahayakan diri sendiri dan orang lain. Nanti kalau ada….” Kutipan ini adalah contoh ucapan yang sering disampaikan Hamdan padaku sebelum kami berpisah. Bentuk kekhawatirannya yang mungkin bagi orang lain berlebihan (karena diucapkan berulang-ulang dan panjang lebar) inilah yang menjadi bekal bagiku selama berjauhan dengannya. Pesan itu membuatku merasa bahwa Hamdan selalu duduk di sampingku dan ikut menjagaku saat aku menyetir sendirian, sejauh apapun sebenarnya raga kami terpisah.

Aku, tentu saja, jauh lebih cerewet dan lebay: “Aduuh Mas mau pergi, jauh dari Dy, kok malah sakit! Minum air putih yang banyaaaak! Buah sama sayurnya dibanyakin, dong! Vitaminnya jangan lupa! Kalo bisa jangan sampe minum obat tapi kalo udah terpaksa ini udah Dy siapin lengkap..liat dosisnya..trus….blablabla….. Pokoknya harus cepet sembuuh, kalo nggak ntar Dy….dst dst…” Dan karena aku bisa memaksimalkan kemampuanku untuk mengoceh terus jika tidak dihentikan, tak ada cara lain bagi Hamdan selain berjanji memenuhi permintaanku tersebut satu per satu…hahhaha. Saat berjauhan, kami sudah sama-sama tenang. Aku tenang karena telah memberikan seribu pesan (meskipun akhirnya hanya dilaksanakan satu-dua!), sementara suamiku tenang karena melihat aku ada bersamanya melalui seperangkat bekal buah, vitamin, obat beserta tulisanku tentang  aturan-aturan konsumsinya yang ikut ‘pergi’ bersamanya. 😀

Jadi, terima kasih atas perhatiannya. Tak perlu kasihan, karena kami orang-orang yang diberi nikmat. Tak perlu waswas berlebihan, karena insyaAllah kami sepenuhnya sadar atas ujian yang datang bersama nikmat itu dan menyerahkannya kembali padaNya. Kami suami istri yang selalu bersama, tak pernah terpisahkan. Ini tak ada hubungannya dengan kuantitas pertemuan fisik, karena sang hatilah yang bertugas. Anugerah terindah dari Allah SWT untuk kami sejak lima tahun lalu. Alhamdulillah

Salam bahagia,

Heidy (+Hamdan)

Ulang Tahun Ke-5

Seminggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 November 2012, usia perkawinanku dan Hamdan tepat lima tahun. Usia yang masih sangat muda, tetapi terasa benar begitu banyak nikmat dan pelajaran berharga telah kami dapatkan. Subhanallah.

Masih kuingat hari ulang tahun pertama pernikahan kami empat tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang sangat menyita waktu dan tenaga. Seringkali aku terpaksa bekerja lembur dan itulah yang terjadi tepat di hari ulang tahun pertama perkawinan kami. Sembari berusaha menyelesaikan pekerjaan, aku merasa sangat sedih dan gelisah. Apalagi saat itu suamiku yang sedang dalam masa liburnya sudah menunggu di rumah. Memang, sih, hari itu berakhir indah karena ternyata suamiku sama sekali tidak ikut uring-uringan. Santai saja ia mendandani rumah dan menyiapkan candle light dinner  dalam rangka menyambutku dengan kejutan manis :’)

Meskipun begitu, kesedihan, kekesalan dan kegelisahanku saat harus bekerja lembur di hari istimewa itu entah mengapa tak dapat kulupakan. Mungkin karena esoknya, hal itu disinggung dalam pembicaraan dengan salah satu atasanku. Ia bertanya padaku, “Katanya kemarin first anniversary, ya?” Setelah aku mengiyakan, ia menambahkan komentar, “Karena itu jadi sedih, ya? Tapi itu karena baru setahun, sih! Nanti lama-lama juga biasa. Kemarin gue empat tahunan juga udah biasa aja, nggak berasa apa-apa!”

Apakah itu maksudnya menghiburku? Entahlah. Yang jelas, aku sama sekali tak merasa terhibur. Justru sebaliknya, aku malah kasihan padanya dan merasa semakin sedih. Apakah semakin bertambah usia sebuah pernikahan, semakin pudar semangat dan gairah kebersamaan itu? Apakah perkawinan itu pasti akan semakin terasa menjemukan seiring dengan berjalannya waktu?

Tahun kedua, ketiga, dan seterusnya pun kami lewati. Senang dan sedih dialami bersama. Seiring dengan banyak hal yang terlalui, ada doa dan tekad yang semakin besar untuk memelihara semangat dan gairah kebersamaan kami sampai kapan pun. Terlalu banyak nikmat yang telah diturunkan Allah SWT bagi kami dan ini hanyalah salah satu wujud usaha untuk mensyukurinya.

Pemahamanku pun bertambah. Ternyata rasa syukur itu dapat beragam wujudnya. Apa dalam setiap momen istimewa semacam ulang tahun pernikahan itu, kami harus secara khusus bersama-sama pergi ke suatu tempat untuk merayakannya? Tidak juga. Bahkan sudah tak terhitung momen istimewa yang harus kami lewatkan secara terpisah: aku di Jakarta, Hamdan di lepas pantai. Tapi tidak berarti itu menjadi alasan bahwa kami dapat melewatkannya tanpa bersyukur. Bersyukur itu harus dan wujud syukur itu beragam. Itulah pelajaran penting yang semakin kupahami.

Di malam sebelum hari ulang tahun perkawinan kami yang ke-5 minggu lalu, di tengah-tengah waktu pengerjaan Ujian Tengah Semester dan persiapan salah satu presentasi, aku pergi ke Bandung. Tentu saja tujuannya adalah agar aku dapat bersama suamiku. Sesampainya aku di Bandung, Hamdan mengajakku makan malam di sebuah restoran. Awalnya aku merasa risih karena dalam beberapa bulan terakhir kami sudah tidak pernah ‘membayar lebih’ hanya untuk kebutuhan makan kami. Maklum, kami kan sama-sama mahasiswa dan sedang tak punya pekerjaan tetap 😀

Ketika aku berkomentar bahwa harga makanan di situ hampir sepuluh kali lipat dari biaya yang biasanya kukeluarkan untuk makan di kampus, Hamdan berkata, “Nggak apa-apa dong, sekali-kali. Kan five years, five years……!” Ada rasa haru. Bukan karena soal diajak ‘makan enak’nya, melainkan karena menyaksikan sendiri ekspresi wajah suamiku yang tampak sangat bersemangat dan gembira seperti anak kecil ketika menyebutkan usia perkawinan kami. Subhanallah. Gairah itu tidak pudar, malah semakin bertambah! Semoga hal ini terus terjaga hingga berpuluh-puluh tahun lagi, aamiin ya Rabb….

Lalu esoknya, coba tebak apa yang kami lakukan di hari ulang tahun perkawinan kami itu. Kencan atau piknik di tempat umum? Tidak. Setelah berkontemplasi dan berdoa bersama di pagi harinya, sampai sore hari kami di rumah saja. Sebagian besar waktu dihabiskan di kamar, mengerjakan tugas kuliah! Hahhaha. Berdua kami duduk berdampingan menghadap meja belajar dan mengerjakan tugas masing-masing, sambil sesekali mengusap-usap punggung satu sama lain. Dan ajaib, sungguh, entah kenapa rasanya tak kalah romantis dari candle light dinner. Alhamdulillah

Beberapa orang mungkin tak setuju dengan peringatan hari ulang tahun, termasuk di antaranya ulang tahun perkawinan. Tak apa. Kita bebas berbeda pendapat, kan? Bagiku sendiri, yang perlu dihindari adalah perayaan yang berlebihan dengan berpesta pora atau berfoya-foya. Namun, kurasa memperingatinya dalam rangka memanfaatkannya sebagai momen berkontemplasi atau momen pengingat untuk lebih banyak bersyukur justru sangat penting.

Sesuai dengan pesan & harapan dari Mama kami minggu lalu: Your 5th anniversary means everything, each of your love cherish each other in every way. Through the passing time, your love grows beautifully, your understanding getting deeper and deeper, caring each other, exploring what Allah swt grants you two every seconds. May your life together gets better and better, keep on loving one another more and more. Just because you love Allah swt above all…

Ya Allah, hanya karena ridhoMu kami dapat melangkah bersama hingga detik ini. Terlalu banyak nikmat yang telah Engkau turunkan bagi kami. Ampunilah kami yang belum pandai mensyukurinya dengan sempurna. Ijinkanlah kami untuk terus belajar saling mencintai hanya karenaMu, kumpulkanlah kami selalu dalam kebaikan, nikahkanlah kami kembali kelak di surgaMu. Mampukanlah kami untuk terus berbagi kasih sayang pada sesama dan semoga kebersamaan ini membawa sebesar-besarnya manfaat hingga akhir jaman. Aamiin ya Rabb…

Salam cinta,

Heidy (+ Hamdan)

Menjelang Siklus Baru

Beberapa hari yang lalu, aku terserang sakit kepala hebat. Hari berikutnya, emosiku kacau balau. Seperti yang selalu kulakukan hampir setiap bulan sebelumnya, aku langsung mengambil dan mencermati kalender. Mungkin tidak banyak perempuan yang setiap bulan rajin mencatat waktu menstruasinya di dunia ini, tapi aku termasuk di antaranya. Satu manfaat kebiasaan ini adalah agar aku dapat paham tentang kondisiku sendiri, terutama pada hari-hari menjelang siklus haidku yang berikutnya, sehingga mencegah kepanikanku. Alih-alih mencurigai sejenis penyakit, aku langsung tahu bahwa kondisi fisik dan mental yang berbeda dari biasanya itu tak lain tak bukan hanyalah gejala pra haid atau yang lebih sering dikenal dengan Pra Menstrual Syndrome (PMS).

Paham tidak berarti otomatis aku selalu sukses mengatasi PMS-ku. Sebesar apapun keinginanku untuk tidak bergantung pada obat, terkadang aku harus menyerah pada sebutir pil pereda sakit kepala ketika istirahat atau tidur pun sama sekali tidak membantu.  Tapi dibandingkan dengan sakit kepala itu, ada lagi yang lebih parah dan seringkali tidak dapat kukendalikan sehingga menurutku cukup berbahaya:  perasaan yang labil. Kenapa kukatakan berbahaya? Karena si perasaan labil itulah yang bisa membuatku kehilangan cara berpikir jernih yang biasanya ‘menjaga’ agar setiap perilakuku berada dalam batas-batas yang berterima. Saat emosi sedang kacau, apapun yang terlihat, terdengar, atau terasa nyaris tak dapat kutanggapi dengan baik. Rasa sakit di badan terasa berkali lipat lebih menyengsarakan, segala kabar negatif terdengar jauh lebih parah, dan hal-hal baik lupa kusambut dengan sukacita serta penuh syukur. Bukankah ini hal yang sangat buruk?

Dalam kasusku, dapat dipastikan, hubungan suami-istri adalah yang pertama kali terkena imbas dari si PMS yang berupa perasaan labil. Meskipun aku sudah hafal semua jenis nada suara Hamdan (yang menandai apakah ia sedang santai, sibuk, tenang, gelisah, atau bahkan stress) dan pada hari-hari biasanya aku akan menyesuaikan diri ketika menghubunginya (memilih-milih kabar yang disampaikan atau menunda pembicaraan), di masa-masa saat mengalami PMS itu aku menjadi sangat egois. Tidak mau tahu apa yang sedang terjadi padanya, pokoknya aku harus didengarkan dan diperhatikan. Manja sekali.

Dan sayangnya, PMS-ku justru sering datang bertepatan dengan saat suamiku sedang dalam kondisi pikiran yang tidak prima. Entah itu ia sedang sibuk, cemas, panik, atau gelisah. Di saat yang demikian, kutambah pula penderitaannya dengan keharusan mendengarkan keluh kesahku yang berkilo-kilometer panjangnya dan tak jarang disertai dengan tangis frustasi. Frustasi, karena pada saat yang sama aku tahu betul bahwa apa yang kulakukan itu sungguh tidak bijaksana, tapi aku tak berdaya melawan ‘nafsu’ yang begitu kuat untuk menumpahruahkan segala emosi. Lucunya, semakin kutumpahkan, perasaanku bukan semakin baik. Aku malah jadi semakin kesal dan benci pada diri sendiri (kenapa sebegitu lemahnya dan sebegitu tak bergunanya sebagai istri), semakin ingin menumpahkannya, dan semakin marah lagi. Benar-benar lingkaran setan!

Di saat seperti itu, harapanku pada Hamdan melambung tinggi. Suamiku adalah pasangan jiwa, teman hidup, orang terdekat yang kuanggap paling tahu dan mengerti segala kebaikan dan keburukanku. Aku sama sekali melupakan bahwa ia juga manusia yang pada saat yang sama bisa berada pada titik ketidaknyamanan yang lebih rendah dariku, juga bahwa sebagai seorang kepala keluarga, beban pikirannya dapat berkali-kali lipat lebih berat daripada yang kurasakan. Karena itu, ketika tanggapannya atas keluh kesahku tidak sesuai dengan harapan (yang bahkan kalau dipikir-pikir lagi sekarang pun aku tak tahu, tanggapan seperti apa yang sebetulnya kuharapkan…hahaha), aku menjadi sedih, kecewa, dan semakin kesal. Jangan berharap cerita beralur klimaks-antiklimaks yang berakhir bahagia dari sini. Pembicaraan kami di akhir hari ditutup begitu saja dengan menahan ketidaknyamanan di hati masing-masing.

Namun alhamdulillah, suasana yang membaik selalu datang pada pagi hari berikutnya. Apa yang terjadi? Semalaman aku hanya berusaha sebanyak mungkin beristighfar dan berdoa minta dijauhkan dari segala macam pikiran buruk. Namun, kebaikan yang sebenarnya berawal dari sapaan ceria suamiku di pagi harinya sehingga segala keburukan dalam pembicaraan sebelumnya terasa seolah tak pernah terjadi. Lambat laun, kudapatkan kembali ketenangan dan kejernihan dalam berpikir itu.

Hari demi hari berlalu dan rasa malu serta menyesal semakin bertambah setiap kali aku mengingat tingkah atau kedzalimanku terhadap suami saat mengalami PMS. Seingatku, perasaan ini juga selalu kualami. Herannya, ketika masa itu datang kembali, tetap saja aku amnesia (bahwa aku selalu akan malu dan menyesal di kemudian hari) dan tetap ‘cari gara-gara’. Tentu saja, saat ini jiwaku sedang sangat sehat sehingga dapat menuliskan semua ini. Bukan saja dapat, tapi bertekad. Kurasa siapapun bercita-cita menjadi manusia yang lebih baik seiring dengan pertambahan usianya. Dalam koridor cita-cita itu, aku bertekad ingin menyembuhkan penyakit ‘amnesia’ku. Semoga menuliskan dan berbagi pengalaman ini dapat menjadi salah satu jalan.

Kepada diriku di masa depan (tepatnya yang terdekat ya bulan depan ya…hehehe), saat sebuah siklus baru akan kembali datang, ingatlah untuk memperbanyak istighfar dan mohon dijauhkan dari pengaruh setan yang terkutuk. Segeralah berhenti berpikir yang tidak-tidak, jangan mengambil keputusan apapun dalam kondisi perasaan yang kacau (baca: cepat tidur!). Lalu kepada suamiku yang terkasih, terimakasih atas pengertian dan kesabaranmu yang luar biasa, juga kebesaran dan kerendahan hatimu. Sungguh beruntung diriku, dianugerahi suami yang begitu penyayang, pemaaf dan kuat. Subhanallah Alhamdulillah. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, dikumpulkan dalam kebaikan dan dijauhkan dari segala keburukan. Aamiin ya Rabb

Salam belajar,

Heidy