Minggu Pertama Kehamilan

Sebelum menikah dan mulai memikirkan soal kehamilan, aku hanya tahu seorang calon ibu mengandung selama sembilan bulan sebelum melahirkan bayinya. Aku tidak tahu kalau masa yang dimaksud sebenarnya adalah empat puluh minggu dan bahwa hitungan yang lebih diperhatikan dan digunakan oleh para ibu hamil adalah minggu, bukan bulan. Namun, kurasa perbedaan paling besar yang kutemukan adalah pengetahuanku tentang cara menghitung usia kehamilan.

Dulu, kalau aku mendengar ibu-ibu saling bertanya tentang usia kehamilan, kukira itu sama saja dengan menanyakan usia janin yang sedang dikandungnya. Ketika beberapa teman dekat mulai mengalami kehamilan dan umumnya tidak ada di antara mereka yang pernah menyatakan usia kehamilannya di bawah lima minggu, aku mulai sadar bahwa ada yang salah dengan pemahamanku.

Setelah berburu informasi dari internet dan buku-buku yang berjejer di rak topik “kehamilan” di toko buku (meskipun belum hamil, aku mengunjungi bagian itu sambil sengaja mengelus-elus perut agar pegawai tokonya maklum kenapa aku lama sekali di sana untuk afirmasi positif), barulah aku mengerti bahwa usia kehamilan itu berbeda dengan usia janin dan bagaimana usia kehamilan itu dihitung sejak hari pertama menstruasi. Ini berarti sebenarnya setiap perempuan sudah memulai masa kehamilannya sejak hari pertama menstruasinya, meskipun belum tentu beberapa waktu kemudian sel telurnya bertemu dan dibuahi sang sperma dan ia akan benar-benar menjadi hamil! Baiklah, sebenarnya sebelum mendapatkan informasi dari buku-buku itu, teman-temanku yang pernah hamil juga sudah mengatakannya. Yah… apa boleh buat, kalau belum dijelaskan serinci-rincinya, seorang Heidy memang tidak akan puas. Ya Allah, rahmatilah orangtua, guru, dosen, dokter, dan siapa pun yang pernah diuji kesabarannya melalui pertanyaan-pertanyaanku yang selalu berentet tak ada habisnya. Aamiin.

Baik, kembali ke topik. Jadi, usia kehamilan itu dihitung dari hari pertama haid (Sayangnya karena buku-buku yang ditulis para ahli itu hanya kubaca di toko, belum sampai kubeli, aku tidak bisa menuliskan rujukannya secara lengkap di sini. Silakan baca tulisan para dokter yang bisa ditemukan dengan bantuan Tuan Google untuk memperoleh wawasan yang lebh mantap). Lalu? Bagiku, memahami hal ini penting sekali. Menstruasi bukan saja berarti tidak terjadi pembuahan dari siklus sebelumnya, tetapi juga menandakan dimulainya siklus baru. Saat sebuah siklus dimulai, sel telur baru dibentuk, dimatangkan, untuk kemudian bersiap dibuahi kembali.  Dengan kata lain, inilah awal mula baru.

Masa menstruasi dianggap sebagai minggu pertama kehamilan, yaitu saat terbentuknya sel telur baru!

Bagi para pendamba momongan seperti kami, kurasa penting sekali untuk menggunakan sudut pandang itu. Aku tentu saja tahu dan mengalami sendiri beberapa kali penderitaan secara fisik dan mental saat tamu bulanan kembali datang. Penyebab pertama adalah karena aku hampir selalu merasakan nyeri hebat sampai sulit berdiri (apalagi kalau dipaksa berjalan atau menyetir, bisa sampai menangis berderai-derai) di hari-hari pertama menstruasiku. Penyebab kedua adalah kekecewaan yang teramat sangat karena kalau haid ya berarti tidak hamil. Namun, begitu aku memahami (dan ingat, karena meski sudah paham tetap saja kadang-kadang bisa lupa sama sekali) bahwa mendapat haid berarti kembali bertemu dengan minggu pertama kehamilan, rasanya dua pertiga dari penderitaan itu terangkat. Tidak masalah apakah ‘kehamilan’ itu akan terus berlanjut hingga benar-benar hamil (setelah pembuahan terjadi di akhir minggu kedua dan hormon kehamilan mulai terdeteksi di akhir minggu keempat) atau tidak. Daripada memikirkan bahwa datangnya sang tamu bulanan menandakan bahwa kehamilan tidak terjadi dari siklus sebelumnya, aku memilih untuk berpikir bahwa aku sudah memulai masa kehamilan yang baru (kata Hamdan: “Iya hamil, tapi belum hamil bayi, baru hamil telur!”). Dengan menyadari bahwa mengalami menstruasi berarti mendapatkan anugerah dan kesempatan baru, kekecewaanku dapat segera tergantikan dengan rasa syukur, semangat, dan bahkan gembira.  Lalu, karena kesehatan jiwa berpengaruh besar terhadap kesehatan tubuh, kurasa wajar saja jika segala rasa sakit di badan pun berkurang cukup banyak. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui!

Hari pertama menstruasi adalah saat Tuhan kembali menurunkan anugerahnya padaku. Ia memberiku kesempatan baru, jauh lebih luas daripada sekadar kesempatan untuk ‘memasak’ sel telur baru. Minggu pertama kehamilan ini adalah momentum yang tepat bukan hanya untuk meningkatkan kualitas makanan yang dikonsumsi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup dalam berbagai hal: mencukupkan istirahat bagi tubuh, melakukan olahraga lebih teratur, menata emosi dengan lebih baik, dan memperbanyak ibadah di segala bidang. Dengan kata lain, inilah kesempatan baru untuk memperbaiki kualitas diri! Kemudian, jika sel telur baru itu pada saatnya nanti berhasil dibuahi, aku tidak akan punya banyak penyesalan karena telah mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. Jika tidak, yah, aku rugi apa sih, dengan menjadi diri yang lebih baik?

Beberapa hari lagi, Ramadhan sang bulan penuh berkah dan ampunan akan tiba. Inilah bulan yang kerap diibaratkan sebagai masa seseorang sebagai kepompong sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, masa untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin ini adalah masa yang paling dirindukan dan dinanti-nanti selama satu tahun oleh umat muslim yang berharap diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, kesempatan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan tentu saja menjadi sebuah anugerah bagi seorang muslim.

Nah. Dengan menggunakan cara pandang yang sama terhadap ‘tamu bulanan’nya, bukankah seorang perempuan –terutama seorang istri yang mendambakan kehamilan– sebenarnya telah diberikan anugerah yang berkali-kali lipat melalui masa menstruasi itu? Anugerah itu tidak hanya datang setahun sekali, tidak perlu ditunggu selama dua belas bulan. Lihatlah dengan hati yang jernih, sebulan sekali, sesungguhnya tamu bulanan yang kembali kita temui itu bukanlah sebuah kekecewaan, melainkan sebuah kesempatan, sebuah anugerah. Tidak semua orang mendapatkannya. Maka, mari mengucap syukur. Segala puji bagi Tuhan yang menjadikanku perempuan dan memberiku kenikmatan ini. 🙂

Salam bahagia!

Heidy

Gambar diambil dari sini.

Advertisements

Rezeki yang Berbeda

Dua tahun terakhir ini, aku menghabiskan cukup banyak waktu dengan teman-teman kuliah yang mempunyai latar belakang dan kehidupan masing-masing yang unik.  Ada seorang ibu muda, seumur denganku, yang mempunyai dua anak laki-laki dengan jarak sangat rapat. Ada seorang bapak dengan enam anak. Ada dua orang perempuan yang lebih tua dariku yang belum menikah. Ada seorang laki-laki muda yang berencana menikah dalam waktu dekat. Lalu yang termuda, perempuan, beda usianya kira-kira tujuh tahun denganku. Pokoknya, asyik sekali kalau kami saling berbagi cerita.

Bagiku, salah satu yang menyenangkan dari berkumpul dengan orang-orang yang kisah hidupnya beraneka rupa adalah aku dapat belajar banyak hal dan melihat suatu hal dari sudut-sudut pandang yang berbeda. Dari teman seusiaku yang sudah beranak dua itu, misalnya. Kemiripan pengalaman dan perasaan kami terhadap pengalaman tersebut benar-benar seperti bumi dan langit (dengan kata lain ya nggak mirip sama sekali…hahhaha). Aku, sampai tahun keenam pernikahanku saat ini, belum pernah hamil sama sekali. Sementara itu, ia, di tahun pertamanya menikah, sudah langsung hamil dan kemudian punya seorang anak laki-laki yang sangat lucu. Kemudian di saat ia berniat melakukan KB, ternyata Tuhan sudah menganugerahinya dengan kehamilan berikutnya, yang membuatnya sangat shock. Oh, ya. Sebenarnya ada satu hal yang benar-benar mirip: kami berdua pernah mengalami uring-uringan yang luar biasa karena masalah kami masing-masing itu. 😀

Aku menceritakan suka dukaku menjalankan ikhtiar agar dapat hamil, sedangkan ia  bercerita tentang suka dukanya mempunyai dua anak laki-laki yang jarak umurnya sangat dekat dan betapa ia merindukan momen-momen berduaan saja dengan suami. Seiring dengan semakin banyaknya kisah yang kami  pertukarkan, aku semakin merasa diingatkan untuk bersyukur. Aku punya apa yang ia inginkan dan aku dapat melakukan apa yang tidak dapat ia lakukan: momen-momen pacaran dengan suami yang sering sekali dan sudah tak terhitung jumlahnnya. Acara menonton bioskop, jalan-jalan, hingga pergi ke luar kota dapat dilakukan sespontan mungkin tanpa banyak memikirkan dan mempersiapkan macam-macam hal. Namun, begitu pula sebaliknya. Tentu saja temanku itu punya dan dapat melakukan banyak hal yang tak kupunya dan tak dapat kulakukan.

Jadi, siapa yang lebih beruntung, hidup siapa yang lebih enak? Jawabannya jelas. Tidak ada yang lebih beruntung dan  hidup lebih enak, seperti juga tidak ada yang lebih sial dan hidupnya lebih tidak enak. Semua orang punya rezekinya masing-masing, dialami dan dirasakan secara berbeda, tetapi tentu saja memperoleh keadilan yang sama.

Namun, ada satu hal yang kemudian kuyakini: keberuntungan dan hidup enak itu ternyata bisa diatur! Bagaimana? Kembali lagi ke pertanyaan di atas tentang siapa yang lebih beruntung dan siapa yang hidupnya lebih enak. Dengan kehidupan masing-masing, aku dan temanku itu bisa sama-sama beruntung, bisa sama-sama sial, atau salah satu dari kami lebih beruntung daripada yang lain. Kami jelas sama-sama sial dan memiliki hidup yang sangat tidak enak ketika terus menerus iri pada rezeki yang lain dan menggerutu atas apa yang kami sendiri peroleh. Sebaliknya, tentu, kami adalah orang-orang yang sangat beruntung ketika memutuskan untuk belajar dari kehidupan satu sama lain dan sungguh-sungguh mensyukuri apa yang dianugerahkan pada kami masing-masing.

Segala puji bagi Tuhan yang Maha Memberi Rezeki, Tuhan yang Maha Adil. Alhamdulillah…

Salam berbagi,

Heidy