Berhemat pada Tempatnya

Entah karena didikan sejak kecil atau bawaan orok, berhemat dan mengatur keuangan sebenarnya adalah kegemaranku. 😀 Ketahuilah wahai teman-temanku di dunia nyata, karena kita sudah sama-sama dewasa, aku baru berani berterus terang begini. Di masa kanak-kanak hingga remaja dulu, sungguh, aku merasa jika terang-terangan berkata begini akan sangat sukses menyebabkanku tidak punya teman lalu membuat Heidy kecil (atau abg) yang masih sangat labil itu sedih dan gelisah…hehehe. Sekarang? Ah masa iya, kau yang pasti sudah jauh lebih bijaksana masih memilih teman berdasarkan hal semacam ini. Yah.. kalaupun ada yang begitu, aku rugi apa, ya?

Soal aku dan berhemat. Didikan sejak kecil sebenarnya perlu dipertanyakan juga, sih. Wong aku berbeda kok, dengan mama dan adik perempuanku. Hmm. Wallahu a’lam (hanya Allah yang tahu kenapa) deh. Jadi kalau ada orangtua mengkhawatirkan anaknya gila belanja, untuk kasusku, yang dikhawatirkan justru  ketidakpedulian itu sendiri. Lalu adikku pun ikut mengkhawatirkan kakaknya ini. Dan setelah menikah, bertambahlah yang khawatir: suamiku. Kalau pada umumnya suami pusing melihat istrinya yang terus menerus belanja baju, sepatu, perhiasan dan sebangsanya, suamiku sendiri pusing melihatku yang entah kapan tergerak hatinya untuk membeli baju baru. Walhasil, hampir tiap pakaian baru di lemariku adalah hasil belanja Hamdan, mamaku, atau adik perempuanku. Sebuah upaya keras menyelamatkan seorang Heidy dari ‘pakai baju yang itu-itu juga’! Hihihi.

Nah, mari pindah ke persoalan selain pakaian. Aku teringat ketika di tahun-tahun pertama pernikahan, aku bercerita pada mamaku tentang bagaimana rasanya aku harus sedikit menyesuaikan pemikiranku soal berhemat. Ini berhubungan dengan Hamdan yang waktu itu bekerja jauh dariku. Meski sebagian besar waktu bekerjanya adalah di tengah laut dan aku tak boleh ikut serta, ada kalanya ia harus berada di darat selama beberapa hari. Daratan yang dimaksud adalah kota Balikpapan. Nah, pada masa-masa itu, aku dapat datang mengunjunginya. Ada uang, cari tiket pesawat, beli, terbang, sampai, bertemu. Beres. Mudah sekali, tapi lalu aku sempat meragukan kebijaksanaanku dalam menggunakan uang. Tiket pesawat kan tidak semurah harga bajuku. Apakah ini tidak termasuk hidup bermewah-mewahan?

Mamakulah yang kemudian membawaku pada sudut pandang lain dalam berpikir. Apa sesungguhnya yang mahal di dunia ini? Tiket pesawat Jakarta-Balikpapan mungkin lebih mahal jika dibandingkan dengan sepotong baju. Tapi bagaimana jika perbandingannya adalah dengan ridho suami dan berkah Allah? Wah, aku tidak berani membayangkan jika aku menolak mendatangi suamiku hanya karena pertimbangan berhemat namun kemudian malah memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Ujung-ujungnya, mana yang lebih mahal? Naudzubillahi mindzalik...semoga kita semua terhindar dari hal-hal semacam itu.  Syukurlah, ternyata keputusanku untuk mengeluarkan beberapa rupiah demi kebersamaan dengan suami itu bukan merupakan hal yang tidak bijaksana.

Namun, pemikiranku soal berhemat masih terus berlanjut. Salah satu yang banyak terpikirkan olehku dan Hamdan adalah pengeluaran-pengeluaran dalam rangka program hamil. Dulu, meski punya asuransi kesehatan (dari perusahaan tempat bekerja),  hal itu tak ada gunanya untuk masalah-masalah infertilitas. Karena itu, kami harus merogoh kocek sendiri untuk melakukan pengobatan-pengobatan terkait. Terapi PLI yang memaksaku mengeluarkan uang sekitar delapan ratus ribu rupiah per bulan itu, misalnya. Kali terakhir melakukan terapi itu, aku dan Hamdan membahas tentang uang yang keluar dan penghematan disana-sini yang harus dilakukan demi si urusan program hamil. Pembicaraan itu membuat kami sama-sama merasa tidak nyaman. Aku sedih dan tersinggung, suamiku pusing dan stres. Sungguh tidak enak rasanya, apalagi mengingat terakhir kali kami bertengkar sebelumnya adalah sekitar dua tahun yang lalu. Saat itulah aku merasa ada yang tidak benar. Untuk apa bayar mahal demi sebuah terapi medis yang katanya mengatasi masalah infertilitas, kalau  suami istri sang pemeran utamanya malah jadi tidak rukun damai sentosa? Sebaliknya pun begitu: untuk apa sibuk menghitung harta, memperketat pengeluaran di sana-sini demi satu impian yang ternyata sudah sangat dini terlihat: bukannya mendatangkan ketentraman, malah memicu ketidakharmonisan? Bukankah semuanya jadi sia-sia?

Saat aku dan suamiku mulai membahas rencana-rencana terdekat untuk masa depan, topik tentang bayi tabung tercakup di dalamnya. “Apakah kita akan melirik solusi bayi tabung?” sempat menjadi pertanyaan besar bagi kami. Hamdan bahkan sempat berpikir untuk membatalkan rencana kuliahnya jika aku sangat ingin mencoba program bayi tabung. Kembali lagi, aku serius bertanya pada diriku sendiri: mana yang terpenting? Kehadiran keturunan itu hanya kuasaNya. Bagaimanapun orang berpendapat bahwa itu adalah langkah yang patut dicoba (mengingat terutama usia kami masih muda sehingga peluang keberhasilannya tinggi), bukankah tetap saja kepastian itu tidak ada? Maka bukankah tidak bijaksana, jika demi hal itu aku mengorbankan hal yang tak kalah penting seperti hasrat dan usaha untuk hidup yang lebih baik?

Ada yang lebih baik daripada gila-gilaan menguras tabungan demi program bayi tabung: sedekah. Bukan bermaksud hitung-hitungan bisnis dalam rangka ‘menyogok’ Tuhan untuk dapat anak, tapi demi ikut serta dalam sistem semesta yang diciptakanNya: memelihara berkah. Dalam sebagian harta kita, terdapat hak orang lain yang membutuhkan (Sesungguhnya aku sangsi, jika setiap orang di dunia ini mengeluarkan zakatnya dan tidak mengambil hak orang lain, apa iya masih ada orang miskin?). Jika hak itu kita tahan, apa yang terjadi? Untuk apa menahan beberapa puluh atau ratus ribu rupiah tapi kemudian Allah tidak ridho dan kemudian kita malah mendapat musibah yang sampai membuat rugi berjuta-juta rupiah atau bahkan mungkin sudah tak ternilai lagi oleh uang? Lalu apalah artinya menyisihkan sedekah doa, senyum, membantu memudahkan urusan  atau melancarkan rezeki orang lain tanpa berharap imbalan dari mereka jika ternyata itulah yang menjadi jalan untuk segala berkah dalam hidup kita sendiri?

Mama, wanita teladan dalam hidupku pernah berkata: “Kita tidak akan miskin selama terus bersedekah, berbuat baik, dan tidak malas.” Dan aku pun sudah menyaksikan sendiri buktinya. Semakin banyak memberi, yang datang bukan kemiskinan atau kekurangan, malah rezeki yang terus mengucur. Sungguh ajaib, bagi sepasang mata manusia.

Bagiku, berhemat itu tetap sebuah hobi penting. Namun kini, sudah ada pesan sponsor yang mengikuti: berhematlah pada tempatnya. Jika hal itu tak berhubungan dengan siapapun (hanya kepentinganku sendiri), maka itulah saat yang tepat untuk berhemat. Jika itu erat kaitannya dengan rezeki, kemudahan, kebahagiaan hidup orang lain, aku tidak berani. Mari berbagi tanpa mengharap imbalan dari sesama dengan hati yang ringan. Mari berbagi tanpa dihitung-hitung karena Allah-lah yang Maha Menghitung (InsyaAllah untung terus!). Mari berbagi hanya karena mengharap ridhoNya dan keberkahan dalam hidup, dalam bentuk apapun.

Salam semangat berbagi!

Heidy

Kelanjutan Cerita Ikhtiar Kehamilan: Ketika Soal Lama Datang Kembali

Duh. Baru pindah, sudah pergi lagi berbulan-bulan. Maaf ya blog baru…

Sebagai manusia yang kegiatannya tidak hanya bermeditasi di dalam rumah, tentu saja aku mengalami banyak hal selama tidak ‘muncul’ di blog ini sejak tiga bulan lalu. Kesibukan kuliah memang menjadi alasan pertama yang menghalangiku untuk berbagi cerita baru. Tapi itu bukan satu-satunya alasan. Alasan lain yang sepertinya lebih berperan besar adalah suasana hati. Suasana hatiku. Tsaah… *galau mode ON*

Kegundahgulanaan itu masih berhubungan dengan persoalan rencana kehamilan yang sudah kuceritakan secara runtut sebelumnya. Sebelumnya aku sudah bercerita detil masalah yang aku dan Hamdan alami dalam rangka berketurunan. Secara ringkas: hampir segala faktor masalah ada pada kami. Faktor dariku, ada. Faktor dari suami, ada juga. Bahkan ditambah dengan faktor kombinasi suami-istri (masalah ASA yang membuatku mengikuti terapi PLI sampai belasan kali itu loooh). Namun alhamdulillah, satu per satu masalah itu dapat diatasi seiring dengan berjalannya waktu dan usaha-usaha yang ditempuh. Karena anugerah inilah, aku dan Hamdan terus optimis. Tiap masalah baru selalu datang disertai dengan solusi (meski tentu tidak datang bersamaan saat itu juga)! Kami pun makin yakin bahwa rangkaian perjalanan ini memang nikmat yang khusus diturunkan untuk kami.

Tiga bulan yang lalu, aku datang berkonsultasi ke dsog baru dengan semangat. Masalah-masalahku yang pernah ada seperti kadar hormon dan ASA sudah teratasi dengan baik. Hamdan masih punya masalah saat terakhir kali memeriksakan diri, tapi menurut dsog sebelumnya, hal itu bisa diatasi melalui langkah inseminasi buatan. Karena itu, datanglah aku ke dsog baruku ini dengan berbekal segudang cerita dan satu rencana: kembali mencoba inseminasi buatan. Jika benar analisis androlog kami bahwa inseminasi pertama dulu gagal karena masalah ASA, maka seharusnya sekarang tidak ada masalah.

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya dalam topik ASA dan terapi PLI, dokter-dokter masih memperdebatkan kebenaran hal ini sebagai faktor penyebab dan solusi dalam masalah infertilitas. Nah, dsog-ku yang baru ternyata termasuk yang tidak percaya atau membenarkan, meski ia juga tidak mengatakannya terang-terangan. Dengan sabar ia mendengarkan ceritaku dan tetap membaca hasil-hasil lab terkait masalah si level ASA, tapi tidak menyarankanku meneruskan terapi PLI. Ia hanya mengakui adanya pro dan kontra di kalangan dokter dan menyerahkan keputusan padaku. Terserah padaku, mau meneruskan atau tidak.

Pemeriksaan – Pemeriksaan Ulang

Langkah yang diambil oleh dsog baruku ini sebelum menyetujui pemikiranku untuk inseminasi adalah pemeriksaan HSG ulang terhadapku dan tentu saja, pemeriksaan terhadap suamiku. Karena saat itu Hamdan masih di laut, maka aku memeriksakan diri lebih dulu (ditemani adik perempuanku, dan alhamdulillah…tidak setraumatis saat pertama kali HSG dulu). Menurut sang dsog, pemeriksaan ulang ini perlu karena pemeriksaan HSGku yang pertama sudah lama sekali (hampir 4 tahun yang lalu) dan mengingat tahun lalu aku sempat mengalami usus buntu. Pemikiran beliau ini kuperoleh setelah panjang lebar menanyainya, karena sepertinya ia sangat berhati-hati bicara demi menjauhkanku dari kegelisahan yang tak perlu. Yah…dasar pasien tak tahu diuntung, aku malah cari masalah sendiri. Awalnya kan aku cukup optimis bahwa saluran telurku tak pernah bermasalah. Gara-gara bertanya itu, aku jadi stres memikirkan bagaimana masalah usus buntu ternyata bisa berdampak negatif terhadap tubaku! Errrgghh…

Aku sujud syukur setelah mendapati hasil foto tuba falopii-ku: kedua saluran tampak paten alias tidak ada sumbatan! Hasil yang sama dengan empat tahun lalu! Alhamdulillaah. Dengan demikian, tinggal menunggu Hamdan. Kecemasan kembali muncul ketika sang dokter menyatakan tidak setuju dengan pendapat dsog sebelumnya mengenai masalah gerak sperma yang dapat dibantu oleh inseminasi buatan. Menurutnya, suami dan istri harus memenuhi syarat untuk melakukan inseminasi buatan: keduanya subur! Lhooo, bingunglah aku jadinya. Kalo dua-duanya subur, buat apa inseminasi buatan, dok? Jawabannya: inseminasi buatan hanya membantu faktor-faktor penghambat yang terjadi melalui cara berhubungan biasa! Wheew…kepalaku seperti diudek-udek oleh info-info yang berbeda ini.

Kegelisahanku karena masalah Hamdan tidak berlangsung lama. Tahu dia juga sempat stres, aku terus menyemangatinya untuk bersama-sama terus mendalami keikhlasan kami. Apapun hasilnya, tidak masalah! Beberapa minggu berselang, Hamdan pun pulang dan memeriksakan diri. Kemudian dengan penuh kesiapan hati , aku pun menanyakan hasilnya pada suster lewat telepon.

“Benar itu atas nama …..?” Aku menyebutkan nama lengkap suamiku, bertanya ulang karena tak percaya ketika sang suster membacakan hasilnya. Suamiku tidak pernah punya masalah dalam hal jumlah sperma. Jumlahnya selalu luar biasa banyak. Yang menjadi masalahnya selama bertahun-tahun adalah pergerakan dan bentuk, yang sempat diperkirakan (lupa oleh siapa, saking banyaknya terapis kami) sebagai bawaan lahir karena dulu ia terlahir sebagai bayi prematur. Masalahnya ini pelan-pelan diatasi oleh berbagai terapi. Pelan-pelan. Bukan ces pleng. Nah, lama tak periksa, wajar kan aku dikagetkan oleh hasil yang jauh lebih baik? Subhanallah Alhamdulillah…

Kami pun mengunjungi sang dsog bersama-sama dengan riang. Sang dokter juga turut senang, karena berarti syarat kami untuk melaksanakan inseminasi buatan telah terpenuhi. Langkah berikutnya adalah persiapan. Pada pertemuan yang merupakan hari ke-3 siklus haidku itu, melalui usg transvaginal, ia melakukan pematauan terhadap sang pujaan hati, sel telurku. Tak lama kemudian, keriangan kami lenyap. Ada kista di salah satu ovariumku.

Padaku yang tak tahu apa-apa soal kista, sang dokter menjelaskan bahwa tampaknya kista yang ia temukan adalah jenis kista persisten (disebut demikian karena ia keras kepala tetap ada, padahal seharusnya setelah masa subur berlalu ia semakin kecil dan hilang pada masa menstruasi). Lalu ia meyakinkanku bahwa biasanya ia akan mengecil dengan sendirinya. Tidak perlu diapa-apakan, kecuali jika ia terus membesar.

Kami mengakhiri pertemuan dengan sang dokter kali itu dengan membuat janji untuk kembali sekitar empat hari kemudian. Aku melalui hari-hari itu dengan terus menenangkan diri melalui shalat, doa, meditasi. Kubayangkan kista itu semakin kecil.

(Bukan) Masalah Baru

Pada pertemuan berikutnya, hal pertama yang kutanyakan pada dokter tentu saja adalah tentang si kista. Ternyata ia masih ada, mengecil namun tidak signifikan. Dan yang baru kusadari: sang dokter tidak terlalu ambil pusing soal itu. Ia lebih memikirkan perihal sel telurku di ovarium satu lagi (yang bebas kista), yang ternyata ukurannya tidak berkembang banyak! Jadi baru pada saat itu aku memahami bahwa sebenarnya tak masalah kista ada di salah satu ovarium, asalkan sel telur di ovarium lainnya berkembang dengan baik! (Djeggaaar…..salah fokus dong gue waktu meditasiii??!!)

Pada kondisi normal, seharusnya terjadi perkembangan seperti ini.

Sel telur yang tidak berkembang = tidak subur. Aku, Hamdan, dan bahkan sang dokter pun terbingung-bingung. Ini adalah masalahku dahuluuuuuuuuu kala, saat pertama kali melakukan pemeriksaan infertilitas. Masalah yang sempat membuat dokter pertamaku menyerah karena terapi hormon tidak dapat disarankan padaku yang dulu juga sedang mengonsumsi steroid yang cara kerjanya bertentangan, untuk masalah anemia hemolisisku. Masalah yang membuatku lari ke berbagai pengobatan alternatif. Masalah yang akhirnya diyakini selesai (entah oleh terapi yang mana) tiga tahun kemudian, dikonfirmasi oleh dokter yang melakukan operasi laparoskopi terhadapku tahun lalu. Masalah yang sudah kulupakan. Dan sekarang….muncul kembali tanpa memberi salam??

Otak dan hatiku mati rasa saat itu. Aku tak tahu sedang berpikir apa atau merasa apa secara tepat. Belakangan, perlahan aku tahu bahwa sedih itu ada, begitu pula dengan kecewa dan marah. Tapi aku tak tahu pada siapa rasa itu sebenarnya ditujukan. Tuhan? Memang apa hakku terhadap Tuhan? Dengan segala konsep ikhlas yang bukan baru saja kupelajari, aku tahu bahwa itu tidak benar. Dan jika saja pengetahuan itu mampu mengendalikan emosi, masalah selesai.

Mengetahui dan mengerti saja tidak cukup, tidak menjamin keberhasilan dalam menerapkannya. Inilah bukti betapa luar biasa sulitnya pelajaran berjudul IKHLAS. Mata kuliah Kalkulus 3, Mekanika, atau Termodinamika tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu yang satu ini. Jika saja masuk dalam tiap kurikulum pendidikan, kurasa boro-boro profesor….sarjana pun tidak akan banyak jumlahnya di muka bumi ini!

Kira-kira sebulan kemudian, perasaanku mulai jelas. Waktu itu aku sempat melakukan pemeriksaan ulang pada dokter lain ketika sekaligus melakukan pemeriksaan pap smear rutin tahunan. Temuannya tidak berbeda dengan dsog-ku. Ia pun menyarankanku untuk melanjutkan konsultasi dan mungkin mengambil langkah terapi hormon dengan dsog-ku. Dari emosi yang tak terbendung saat itu (air mataku mengalir terus tak bisa berhenti bahkan ketika sedang menyetir), aku pun memahami apa yang membuatku merasa begitu sakit : ketidakberdayaanku, ketidakmampuanku untuk memahami.

Sebelumnya, tiap masalah baru yang datang selalu mengajariku tentang hal baru. Dituntun pemikiran-pemikiran yang mengembara kesana kemari, aku pun lebih mudah mendalami keikhlasan yang diperlukan. Aku merasakan serunya perjalanan itu, meyakini langkah yang terus maju, meski tak tahu persis mana yang menjadi tujuan akhir.

Kali ini berbeda. Apa yang dihadapkan padaku sama sekali bukan hal baru. Masalah yang datang adalah masalah yang dulu sudah pernah menjumpaiku lalu mengucapkan salam perpisahan denganku. Bukankah wajar, jika aku terkejut dengan kemunculannya kembali? Demi apa kedatangannya kini? Pesan, hal, ilmu baru apa yang belum ia ajarkan padaku? Tepat di situ, egokulah yang berteriak. Tak terima.

Aku sungguh-sungguh kecewa, sedih, marah, dan …..yah, sebutkanlah segala emosi negatif yang mungkin ada di dunia ini, kurasa semua pun tercampur sempurna menjadi satu dalam hatiku. Hingga tinggal setitik tersisa dari gelap itu, aku paham apa yang terjadi : aku sungguh TIDAK IKHLAS.

Dan kemudian tahulah aku alasan kedatangan kembali si masalah lama: menggemblengku dalam bidang ilmu keikhlasan ini. Subhanallah. Baiklah. Bismillahirrahmannirrahiim. Mari lihat, berapa jumlah kredit mata kuliah yang satu ini dan nilai akhir apa yang kuperoleh nanti?

Salam belajar,

Heidy

Gambar diambil dari sana dan sini.

Ikhtiar Kehamilan Tahun V : Kembali ke ObGyn

Kegelisahan Baru

Terakhir kali aku ke dsog (dokter spesialis obstetri dan ginekologi) adalah saat melakukan inseminasi buatan pada Mei 2011 lalu. Setelah mendapati tidak ada hasil dari langkah tersebut dan dokter androlog kami menduga level ASA-ku (Anti Sperm Antibody) yang masih tinggi adalah penyebabnya, kami pun berhenti ke obgyn dan fokus melanjutkan terapi PLI (Paternal Lecocyte Immunization).

Ketika beberapa bulan kemudian level ASA-ku sudah hampir normal dan telah terjadi pula peningkatan kualitas gerak sperma suamiku (Subhanallah!), sang androlog pun menyarankan agar kami mengusahakan kehamilan secara alami saja dulu (bukan inseminasi buatan) sambil tetap melanjutkan terapi PLI untuk pemeliharaan (frekuensinya lebih jarang dengan ketika bertujuan untuk menurunkan). Beliau bahkan ‘mengusir’ kami agar tidak bolak-balik konsultasi padanya ketika ingat bahwa Hamdan lebih banyak tidak bertemu denganku…hahaha.  “Gimana mau jadi kalo nggak ketemu?? Usaha dulu sana yang rajin, nanti kalau udah 4-5 bulan nggak jadi baru datang lagi!” katanya galak (galak bercanda loh, bukan betulan).

Maka kami pun menyambut tahun ke-5 perkawinan dengan langkah yang semakin ringan dan riang gembira. Sebenarnya seiring dengan berjalannya waktu, pikiran memang semakin tidak terbebani oleh masalah ‘ikhtiar berketurunan’. Dan sebenarnya tak perlu dokter juga kalau soal ‘rajin berusaha’, sih…pasangan suami istri masih muda begini, masa iya nggak rajin? Ups…ada anak di bawah umur di sini? Maksudnya rajin belajar di sekolah ya deek 😀

Akhir Februari 2012. Kira-kira sudah 4 bulan berlalu sejak androlog kami menyatakan peluang suami untuk menghamiliku (ehrm!) sudah cukup besar dan menganjurkan untuk berupaya hamil secara alami dulu. Namun selama itu, ia pun meminta kami tetap melakukan terapi PLI untuk penjagaan (bukan lagi penurunan) level ASA hingga setidaknya trimester pertama kehamilan terlewati. Karena itulah kami melakukan terapi PLI yang ke-13 pada bulan Februari itu.

Kegelisahan yang sudah lama sekali tak kukenal, timbul kembali di hari pelaksanaan PLI itu. Kami tidak bisa berkonsultasi dengan sang androlog karena ia sedang cuti. Lalu dokter dan suster jaga juga tidak bisa membantu memberikan saran yang berguna!

Bagaimana pun, kami tidak berniat melakukan terapi PLI seumur hidup. Terapi ini harus dihentikan, tapi mulai kapan dan bagaimana, tepatnya? Tidak adil jika pertanyaan ini hanya dijawab “Ya nanti, setelah hamil.” Lha, ini sudah berbulan-bulan sejak ASA normal tapi belum hamil, jadi sudah 3x kami melakukan PLI yang merupakan terapi ‘bonus’ (pemeliharaan, bukan untuk penurunan). Berpikir positif sih iya, tapi rasional juga dong. Bagaimanapun tidak ada yang memastikan aku akan segera hamil atau bahkan aku akan hamil atau tidak suatu saat nanti. Masa’ selama itu kami tetap harus lakukan si PLI itu? Kalo gratis sih masih mungkin-barangkali-agak-sedikit (Ini contoh bahasa Indonesia yang tidak baik, jangan ditiru!) bisa dipertimbangkan, deh..

Dokter, Klinik, dan Hati yang Memilih

Maka seperti yang sudah kusebutkan ketika mulai menulis rangkaian cerita Rencana Kehamilan ini, akhirnya aku dan Hamdan pun berpikir bahwa sudah tiba saatnya kami berkonsultasi kembali ke pangkuan dsog tercinta…ehm! Aku kembali ke dsog pada awal Maret 2012. Namun, bukan dsog yang sama yang kutemui. Sejak mengalami kegagalan inseminasi buatan pertama pada Juni 2011 lalu, aku sudah bertekad untuk benar-benar memilih dokter dan klinik secara jauh lebih teliti.

Awalnya aku terpikir untuk mendatangi dsog spesialis infertilitas terkenal yang sering ditemukan namanya oleh paman Google, berdasarkan referensi orang-orang yang sudah berhasil mengatasi masalah infertilitas dengannya. Terpikir, lalu sampai berusaha menghubungi klinik tempat beliau praktek untuk mendaftar. Hasilnyaaaa…..aku mendapat nomor antrian 28, dan ia praktek malam hari. Glek. Jam kalau gitu jam berapa aku akan selesai konsultasi nanti?

Hal itu membuatku tercenung, berpikir lagi. Sudah cukup banyak yang kami lewati dalam menghadapi persoalan berketurunan ini. Kedamaian hati dan ketenangan pikiran yang ada sekarang ini tidak sejak dulu kami miliki. Saat teringat lagi bagaimana dulu kerisauan hati melanda kami di tahun-tahun pertama, aku pun sadar bahwa ‘perjalanan batinl’ yang kutempuh bersama Hamdan pun sudah cukup jauh.

Pada tahap ini, dimana sepertinya segala masalah yang ada sudah diselesaikan satu per satu (mudah-mudahan saja tidak ada masalah baru dan masalah lama tidak pernah muncul kembali), aku sudah yakin bahwa ketenangan pikiran dan kedamaian hati itu berperan besar dalam menentukan kehamilan.

Aku merasa ada keraguan yang besar saat mendaftar ke dokter terkenal yang kusebut di atas tadi. Ya mungkin saja dia hebat. Tapi apa gunanya jika aku sendiri yang malah membuat diriku tidak sehat? Berjuang menembus jalan yang macet, mengantri sampai tengah malam….sungguh, aku benar-benar tidak yakin bisa tetap sehat lahir batin menghadapi semua itu.

Selain itu, berbagai cerita dari sana-sini seputar ‘keberhasilan’ hamil pun mengingatkan kami bahwa segalanya hanya terjadi atas kuasa Allah. Apapun masalahnya, semustahil apapun menurut logika manusia, tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Jadi intinya mau ikhtiar apapun juga, kalau Allah meridhoi itu terjadi, ya terjadi. Tidak ridho, ya tidak terjadi. Tapi aku pun yakin bahwa si ikhtiar sendiri tidak boleh ditinggalkan. Apalagi untukku sendiri, karena justru ikhtiar itulah yang semakin mendekatkanku padaNya.

Analoginya begini. Kita sedang di perjalanan menuju suatu tempat. Untuk mencapai tempat itu, ada beberapa jalan yang dapat dipilih untuk dilalui. Apakah jalan tersebut yang menentukan kita sampai atau tidak ke tempat tujuan? Tentu tidak. Bisa jadi mau lewat jalan manapun, kita tetap sampai. Atau lewat jalan manapun kita tetap tidak sampai (misal ada pohon jatuh, jalan putus, kecelakaan, dsb). Jadi segalanya hanya Tuhan kan, yang menentukan? Untuk apa pusing soal sampai-tidaknya sampai tujuan, lha soal mati kapan juga kita tidak tahu (udah pusing mikirin tujuan, eh taunya hari ini hari terakhir hidup, terus mau apa coba?). Sampai-tidaknya kita pada tujuan itu urusanNya, urusan kita ya cuma milih jalan terbaik menurut kita, lalu…jalan, deh!

Nah, inilah jalan terbaik menurutku: jalan yang mempermudahku dalam menjaga ketenangan pikiran dan kedamaian hati sehingga aku jauh dari tingkah laku yang buruk dan tidak diridhoiNya (Misalnyaa, jika aku kelelahan, kesal lalu jadi gampang marah dan hubungan malah jadi tidak harmonis dengan suami atau anggota keluarga lain atau orang-orang terkait).

Karena itulah, pertimbangan pertamaku sebelum memilih dokter adalah pemilihan klinik. Kupilih klinik yang lebih mudah terjangkau olehku sendiri (relatif lebih dekat, jarang macet, dsb), mengingat akan ada waktu-waktu Hamdan sedang di laut dan tidak bisa menemaniku. Setelah itu, baru memilih dokter.. Jadi pemilihan dokter tinggal difokuskan pada dokter-dokter yang berpraktek di RS yang sudah kupilih itu.

Saat memilih dokter dari daftar yang kulihat di website, aku pun masih dihadapkan pada beberapa pilihan. Ada 2 orang dokter yang namanya juga sudah terkenal untuk masalah infertilitas. Yang menarik, ada seorang dokter lain yang namanya memang belum kukenal dan jarang sekali disebut-sebut orang di internet, tapi dialah satu-satunya dokter di daftar itu yang memiliki gelar SpOg, (K)Fer di belakang namanya. Dari hasil baca-baca, aku tahu bahwa gelar (K)Fer itu berarti konsultan fertilitas. Nah lhoo…kenapa ya si dokter yang punya background pendidikan lebih lengkap ini malah kalah tenar dari 2 dokter tadi?

Kalau mau berprasangka buruk siih, aku sudah mikir sampai mana-mana soal dokter yang bergelar paling lengkap itu perihal kenapa pasiennya tidak banyak. Tapi aku memilih untuk tidak berpikir yang tidak-tidak. Ambil sisi positifnya saja: dokter yang memang memiliki bidang keahlian fertilitas berarti sesuai dengan keperluan kami, dan pasien yang tidak banyak berarti meminimalkan kelelahan mengantri dan semoga saja, memungkinkan waktu konsultasi yang lebih panjang. Hal yang terakhir disebut tentu amat sangat penting sekali buatku yang tidak mudah puas dan suka memberondong para dokter dengan segudang pertanyaan ini 😀

Maka dengan demikian, resmilah aku memilih dsog-ku yang ke-5, yaitu dokter yang bergelar SpOG, K(Fer) namun berpasien tidak banyak tadi (maaf belum berani ngumumin nama!). Ayo gunting pita, tepuk tangaaan! Lalu mohon turut amin-kan doa kami kali ini: semoga melalui dokter baru ini kami dapat membangun energi, semangat dan harapan baru pula, serta lebih dekat dengan berkah dan kebaikan dunia akhirat…

Terimakasih dan salam semangat!

Heidy

Cerita Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Inseminasi Buatan

Dalam tulisan sebelumnya, aku bercerita tentang Terapi PLI (Paternal Lecocyte Immunization) yang kujalani bersama suami sebagai solusi atas tingginya level ASA (Anti Sperm Antibody). Hingga tulisan ini dibuat, kami sudah melakukan terapi itu sebanyak 13 kali selama lebih dari setahun. Namun selama berbulan-bulan itu, terapi PLI bukanlah satu-satunya langkah yang kami lakukan terkait dengan rencana kehamilan. Beberapa hal di luar dugaan yang pun terjadi.

Pada bulan Mei 2011, aku kembali melakukan pemeriksaan papsmear (pemeriksaan dalam rangka memperhatikan kesehatan organ kewanitaanku ini rutin kulakukan setiap tahun dan agar tidak lupa biasanya kupilih waktu di sekitar tanggal ulangtahunku). Dokter yang memeriksaku adalah dsog (dokter spesialis obstetri & ginekologi) yang sama, yang pada tahun sebelumnya merujukku untuk memeriksakan level ASA. Karena sudah lama tak bertemu, wajarlah sang dokter lupa denganku. Namun karena kebiasaannya adalah memeriksa buku catatan kesehatan, maka arah pertanyaannya pun mirip dengan tahun lalu. Aku pun memberitahunya bahwa kami sedang menjalani terapi PLI berdasarkan sarannya untuk memeriksakan level ASA tahun lalu.

Kalau tidak salah, sudah 6 kali PLI yang kami lakukan saat itu. Si dokter jadi bersemangat.  Ia yakin bahwa level ASA-ku sudah mengalami penurunan. Belakangan kutahu memang betul, sih…tapi masalahnya, turun dari berapa ke berapa dulu?? Pada saat itu aku belum sempat melakukan evaluasi level ASA sama sekali! Aku tidak tahu ASA-ku sudah turun sampai level berapa, dan lebih parah lagi: saat itu aku benar-benar tidak ingat level ASA-ku ketika pertama kali diperiksa (yang ternyata luar biasa tinggi, yang mungkin tidak diduga oleh si dokter)! Ternyata hal ini sungguh fatal.

Mungkin berdasarkan pengalamannya dengan beberapa pasien sebelumnya yang (mungkin) level ASA-nya tidak setinggiku, ia pun menyampaikan pemikirannya: bahwa aku sudah memiliki peluang lebih besar untuk hamil dengan cara inseminasi buatan! Berhubung masa suburku sudah semakin dekat pada saat itu, sang dokter meminta kami untuk mengambil keputusan saat itu juga. Jika kami setuju untuk mencoba inseminasi, maka malam itu juga aku harus membeli obat untuk disuntikkan ke perutku dan melakukan perjanjian untuk pelaksanaan inseminasi buatan dua hari kemudian.

Pada hari perjanjian inseminasi dengan sang dokter, kami diminta datang 2 jam lebih dulu untuk pengambilan sperma. Yang ini tidak perlu dijelaskan secara rinci lah ya, prosedurnya….hehehe. Yang jelas klinik memberikan fasilitas ruangan tertutup berkunci semacam kamar hotel, lengkap dengan kamar mandi di dalamnya. Privasi terjamin! Sperma yang telah diambil lalu ditempatkan dalam wadah bertutup yang kemudian segera diserahkan ke bagian lab.

Setelah dokter datang, aku dipanggil ke kamar khusus untuk pelaksanaan inseminasi buatan. Entah kenapa istri diminta untuk masuk kamar sendiri, tanpa didampingi suami. Setelah proses inseminasi yang dilakukan oleh dokter selesai dan aku masih harus berbaring hingga sejam kemudian, barulah suamiku diperbolehkan masuk (itu pun aku yang meminta). Yah, karena tegang, aku tak sempat banyak bertanya waktu itu. Hanya ada 3 orang di kamar tersebut: aku, dokter, dan perawat yang membantu sang dokter. Inseminasi (atau istilah kerennya: Intra Uterine Insemination) ini dilakukan dengan cara menyemprotkan sperma suami yang telah diproses di lab (dipilih yang kualitasnya paling baik) ke dalam rahim. Penyemprotan itu menggunakan semacam alat suntik dengan selang panjang agar sperma dapat mencapai rahim lebih dalam dan lebih dekat dengan saluran telur (tuba falopi) sehingga diharapkan kemungkinannya untuk ‘bertemu’ dengan sel telur menjadi lebih besar.

tindakan inseminasi buatan pada manusia (Intra Uterine Insemination)

Esok harinya, kami diminta datang kembali untuk melihat apakah ‘telurnya sudah pecah’.  Pengecekan dilakukan melalui usg transvagina lagi, dan hasil usg pun sesuai dengan perkiraan. Pertemuan ini pun kami manfaatkan untuk berkonsultasi, bertanya lebih banyak. Di antaranya adalah tentang hal-hal yang harus diperhatikan setelah inseminasi. Ternyata tidak ada larangan berkegiatan seperti biasa (tidak harus bed rest, seperti yang kukira sebelumnya) kecuali satu: berenang/berendam. Ini masuk akal, karena dikhawatirkan dapat terjadi infeksi di daerah vagina.

Dokter mengatakan bahwa hasil dari inseminasi itu sendiri dapat diketahui 2 minggu kemudian. Namun dasar aku yang tidak sabar, tahu bahwa testpack biasanya bisa mendeteksi kehamilan sejak seminggu setelah ‘pertemuan’ sperma dan sel telur, pada H+7 sudah iseng mengetes. Sebenarnya tidak benar-benar iseng, sih. Alasan sebenarnya adalah demi menjaga perasaanku sendiri. Kupikir, jika tak berhasil, lebih baik tahu lebih cepat. Sepertinya aku lebih bisa santai menerima kenyataan saat melihat tanda pada testpack ketimbang saat mendapat menstruasi. Apalagi biasanya saat menstruasi, emosiku lebih tak terkendali. Jadi, niatku adalah bersiap-siap agar harapan tidak terlalu melambung tinggi dulu..

Dan hasilnya….seperti biasa, hanya ada satu garis pada si testpack. Harap-harap cemasku berakhir. Kecewa, tentu. Tapi sesuai janji yang sudah kubuat pada diri sendiri, aku langsung mengendalikan emosi. Suamiku sendiri tidak keberatan aku melakukan tes lebih awal, tapi ternyata tidak dengan mamaku. Aku memberitahunya dengan maksud serupa dengan niat awalku: agar tidak ada harapan-harapan yang terlanjur melambung tinggi. Daan…Mama marah karena aku begitu tidak sabar!

Karena siklus menstruasiku yang pendek, kenyataan bahwa aku memang belum hamil dapat langsung dipastikan tanpa tes pada tanggal yang ditentukan oleh dokter, melainkan dengan datangnya menstruasi pada keesokan harinya.

Sebenarnya ketika terakhir kali berkonsultasi dengan sang dsog, aku diminta untuk datang kembali begitu hamil/mendapat menstruasi. Ada pula obat yang sudah diresepkan untuk diminum pada hari ke-2 menstruasi, dalam rangka langsung merencanakan inseminasi buatan berikutnya. Namun, aku dan Hamdan tidak begitu saja mengikuti anjuran sang dsog. Kebetulan karena kami masih melakukan terapi PLI, kami juga berkonsultasi dengan androlog kami. Setelah evaluasi terhadap level ASA-ku, ia pun menduga bahwa kegagalan inseminasi sebelumnya disebabkan oleh ASA-ku yang masih tinggi! Aku menyesali kecerobohan kami berdua karena tidak pernah mengingat-ingat level ASA pertamaku, tapi suamiku juga marah dan kecewa pada dsog kami yang juga tidak teliti/berhati-hati saat menyarankan kami untuk melakukan inseminasi buatan, terlalu terburu-buru! Hamdan pun memintaku untuk tidak kembali ke dsog yang sama.

Oya. Sebagai gambaran, total biaya yang kami keluarkan untuk inseminasi buatan ini adalah sekitar empat juta rupiah (lupa persisnya, mungkin kurang atau lebih). Maaf karena dalam tulisan ini aku tidak menyebutkan nama dokter maupun klinik tempatku melakukan inseminasi buatan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika ada yang benar-benar perlu untuk rujukan, lewat jalur pribadi saja ya…silakan tinggalkan alamat email untuk berkorespondensi lebih lanjut 😉

Cerita terkait rencana kehamilan di tahun ke-4 perkawinan kami ini masih berlanjut. Pada tulisan berikutnya, aku akan bercerita tentang Kehamilan Ektopik (kehamilan di luar rahim).

Salam,

Heidy

 

Gambar diambil dari sini.