Kelanjutan Cerita Ikhtiar Kehamilan: Ketika Soal Lama Datang Kembali

Duh. Baru pindah, sudah pergi lagi berbulan-bulan. Maaf ya blog baru…

Sebagai manusia yang kegiatannya tidak hanya bermeditasi di dalam rumah, tentu saja aku mengalami banyak hal selama tidak ‘muncul’ di blog ini sejak tiga bulan lalu. Kesibukan kuliah memang menjadi alasan pertama yang menghalangiku untuk berbagi cerita baru. Tapi itu bukan satu-satunya alasan. Alasan lain yang sepertinya lebih berperan besar adalah suasana hati. Suasana hatiku. Tsaah… *galau mode ON*

Kegundahgulanaan itu masih berhubungan dengan persoalan rencana kehamilan yang sudah kuceritakan secara runtut sebelumnya. Sebelumnya aku sudah bercerita detil masalah yang aku dan Hamdan alami dalam rangka berketurunan. Secara ringkas: hampir segala faktor masalah ada pada kami. Faktor dariku, ada. Faktor dari suami, ada juga. Bahkan ditambah dengan faktor kombinasi suami-istri (masalah ASA yang membuatku mengikuti terapi PLI sampai belasan kali itu loooh). Namun alhamdulillah, satu per satu masalah itu dapat diatasi seiring dengan berjalannya waktu dan usaha-usaha yang ditempuh. Karena anugerah inilah, aku dan Hamdan terus optimis. Tiap masalah baru selalu datang disertai dengan solusi (meski tentu tidak datang bersamaan saat itu juga)! Kami pun makin yakin bahwa rangkaian perjalanan ini memang nikmat yang khusus diturunkan untuk kami.

Tiga bulan yang lalu, aku datang berkonsultasi ke dsog baru dengan semangat. Masalah-masalahku yang pernah ada seperti kadar hormon dan ASA sudah teratasi dengan baik. Hamdan masih punya masalah saat terakhir kali memeriksakan diri, tapi menurut dsog sebelumnya, hal itu bisa diatasi melalui langkah inseminasi buatan. Karena itu, datanglah aku ke dsog baruku ini dengan berbekal segudang cerita dan satu rencana: kembali mencoba inseminasi buatan. Jika benar analisis androlog kami bahwa inseminasi pertama dulu gagal karena masalah ASA, maka seharusnya sekarang tidak ada masalah.

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya dalam topik ASA dan terapi PLI, dokter-dokter masih memperdebatkan kebenaran hal ini sebagai faktor penyebab dan solusi dalam masalah infertilitas. Nah, dsog-ku yang baru ternyata termasuk yang tidak percaya atau membenarkan, meski ia juga tidak mengatakannya terang-terangan. Dengan sabar ia mendengarkan ceritaku dan tetap membaca hasil-hasil lab terkait masalah si level ASA, tapi tidak menyarankanku meneruskan terapi PLI. Ia hanya mengakui adanya pro dan kontra di kalangan dokter dan menyerahkan keputusan padaku. Terserah padaku, mau meneruskan atau tidak.

Pemeriksaan – Pemeriksaan Ulang

Langkah yang diambil oleh dsog baruku ini sebelum menyetujui pemikiranku untuk inseminasi adalah pemeriksaan HSG ulang terhadapku dan tentu saja, pemeriksaan terhadap suamiku. Karena saat itu Hamdan masih di laut, maka aku memeriksakan diri lebih dulu (ditemani adik perempuanku, dan alhamdulillah…tidak setraumatis saat pertama kali HSG dulu). Menurut sang dsog, pemeriksaan ulang ini perlu karena pemeriksaan HSGku yang pertama sudah lama sekali (hampir 4 tahun yang lalu) dan mengingat tahun lalu aku sempat mengalami usus buntu. Pemikiran beliau ini kuperoleh setelah panjang lebar menanyainya, karena sepertinya ia sangat berhati-hati bicara demi menjauhkanku dari kegelisahan yang tak perlu. Yah…dasar pasien tak tahu diuntung, aku malah cari masalah sendiri. Awalnya kan aku cukup optimis bahwa saluran telurku tak pernah bermasalah. Gara-gara bertanya itu, aku jadi stres memikirkan bagaimana masalah usus buntu ternyata bisa berdampak negatif terhadap tubaku! Errrgghh…

Aku sujud syukur setelah mendapati hasil foto tuba falopii-ku: kedua saluran tampak paten alias tidak ada sumbatan! Hasil yang sama dengan empat tahun lalu! Alhamdulillaah. Dengan demikian, tinggal menunggu Hamdan. Kecemasan kembali muncul ketika sang dokter menyatakan tidak setuju dengan pendapat dsog sebelumnya mengenai masalah gerak sperma yang dapat dibantu oleh inseminasi buatan. Menurutnya, suami dan istri harus memenuhi syarat untuk melakukan inseminasi buatan: keduanya subur! Lhooo, bingunglah aku jadinya. Kalo dua-duanya subur, buat apa inseminasi buatan, dok? Jawabannya: inseminasi buatan hanya membantu faktor-faktor penghambat yang terjadi melalui cara berhubungan biasa! Wheew…kepalaku seperti diudek-udek oleh info-info yang berbeda ini.

Kegelisahanku karena masalah Hamdan tidak berlangsung lama. Tahu dia juga sempat stres, aku terus menyemangatinya untuk bersama-sama terus mendalami keikhlasan kami. Apapun hasilnya, tidak masalah! Beberapa minggu berselang, Hamdan pun pulang dan memeriksakan diri. Kemudian dengan penuh kesiapan hati , aku pun menanyakan hasilnya pada suster lewat telepon.

“Benar itu atas nama …..?” Aku menyebutkan nama lengkap suamiku, bertanya ulang karena tak percaya ketika sang suster membacakan hasilnya. Suamiku tidak pernah punya masalah dalam hal jumlah sperma. Jumlahnya selalu luar biasa banyak. Yang menjadi masalahnya selama bertahun-tahun adalah pergerakan dan bentuk, yang sempat diperkirakan (lupa oleh siapa, saking banyaknya terapis kami) sebagai bawaan lahir karena dulu ia terlahir sebagai bayi prematur. Masalahnya ini pelan-pelan diatasi oleh berbagai terapi. Pelan-pelan. Bukan ces pleng. Nah, lama tak periksa, wajar kan aku dikagetkan oleh hasil yang jauh lebih baik? Subhanallah Alhamdulillah…

Kami pun mengunjungi sang dsog bersama-sama dengan riang. Sang dokter juga turut senang, karena berarti syarat kami untuk melaksanakan inseminasi buatan telah terpenuhi. Langkah berikutnya adalah persiapan. Pada pertemuan yang merupakan hari ke-3 siklus haidku itu, melalui usg transvaginal, ia melakukan pematauan terhadap sang pujaan hati, sel telurku. Tak lama kemudian, keriangan kami lenyap. Ada kista di salah satu ovariumku.

Padaku yang tak tahu apa-apa soal kista, sang dokter menjelaskan bahwa tampaknya kista yang ia temukan adalah jenis kista persisten (disebut demikian karena ia keras kepala tetap ada, padahal seharusnya setelah masa subur berlalu ia semakin kecil dan hilang pada masa menstruasi). Lalu ia meyakinkanku bahwa biasanya ia akan mengecil dengan sendirinya. Tidak perlu diapa-apakan, kecuali jika ia terus membesar.

Kami mengakhiri pertemuan dengan sang dokter kali itu dengan membuat janji untuk kembali sekitar empat hari kemudian. Aku melalui hari-hari itu dengan terus menenangkan diri melalui shalat, doa, meditasi. Kubayangkan kista itu semakin kecil.

(Bukan) Masalah Baru

Pada pertemuan berikutnya, hal pertama yang kutanyakan pada dokter tentu saja adalah tentang si kista. Ternyata ia masih ada, mengecil namun tidak signifikan. Dan yang baru kusadari: sang dokter tidak terlalu ambil pusing soal itu. Ia lebih memikirkan perihal sel telurku di ovarium satu lagi (yang bebas kista), yang ternyata ukurannya tidak berkembang banyak! Jadi baru pada saat itu aku memahami bahwa sebenarnya tak masalah kista ada di salah satu ovarium, asalkan sel telur di ovarium lainnya berkembang dengan baik! (Djeggaaar…..salah fokus dong gue waktu meditasiii??!!)

Pada kondisi normal, seharusnya terjadi perkembangan seperti ini.

Sel telur yang tidak berkembang = tidak subur. Aku, Hamdan, dan bahkan sang dokter pun terbingung-bingung. Ini adalah masalahku dahuluuuuuuuuu kala, saat pertama kali melakukan pemeriksaan infertilitas. Masalah yang sempat membuat dokter pertamaku menyerah karena terapi hormon tidak dapat disarankan padaku yang dulu juga sedang mengonsumsi steroid yang cara kerjanya bertentangan, untuk masalah anemia hemolisisku. Masalah yang membuatku lari ke berbagai pengobatan alternatif. Masalah yang akhirnya diyakini selesai (entah oleh terapi yang mana) tiga tahun kemudian, dikonfirmasi oleh dokter yang melakukan operasi laparoskopi terhadapku tahun lalu. Masalah yang sudah kulupakan. Dan sekarang….muncul kembali tanpa memberi salam??

Otak dan hatiku mati rasa saat itu. Aku tak tahu sedang berpikir apa atau merasa apa secara tepat. Belakangan, perlahan aku tahu bahwa sedih itu ada, begitu pula dengan kecewa dan marah. Tapi aku tak tahu pada siapa rasa itu sebenarnya ditujukan. Tuhan? Memang apa hakku terhadap Tuhan? Dengan segala konsep ikhlas yang bukan baru saja kupelajari, aku tahu bahwa itu tidak benar. Dan jika saja pengetahuan itu mampu mengendalikan emosi, masalah selesai.

Mengetahui dan mengerti saja tidak cukup, tidak menjamin keberhasilan dalam menerapkannya. Inilah bukti betapa luar biasa sulitnya pelajaran berjudul IKHLAS. Mata kuliah Kalkulus 3, Mekanika, atau Termodinamika tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu yang satu ini. Jika saja masuk dalam tiap kurikulum pendidikan, kurasa boro-boro profesor….sarjana pun tidak akan banyak jumlahnya di muka bumi ini!

Kira-kira sebulan kemudian, perasaanku mulai jelas. Waktu itu aku sempat melakukan pemeriksaan ulang pada dokter lain ketika sekaligus melakukan pemeriksaan pap smear rutin tahunan. Temuannya tidak berbeda dengan dsog-ku. Ia pun menyarankanku untuk melanjutkan konsultasi dan mungkin mengambil langkah terapi hormon dengan dsog-ku. Dari emosi yang tak terbendung saat itu (air mataku mengalir terus tak bisa berhenti bahkan ketika sedang menyetir), aku pun memahami apa yang membuatku merasa begitu sakit : ketidakberdayaanku, ketidakmampuanku untuk memahami.

Sebelumnya, tiap masalah baru yang datang selalu mengajariku tentang hal baru. Dituntun pemikiran-pemikiran yang mengembara kesana kemari, aku pun lebih mudah mendalami keikhlasan yang diperlukan. Aku merasakan serunya perjalanan itu, meyakini langkah yang terus maju, meski tak tahu persis mana yang menjadi tujuan akhir.

Kali ini berbeda. Apa yang dihadapkan padaku sama sekali bukan hal baru. Masalah yang datang adalah masalah yang dulu sudah pernah menjumpaiku lalu mengucapkan salam perpisahan denganku. Bukankah wajar, jika aku terkejut dengan kemunculannya kembali? Demi apa kedatangannya kini? Pesan, hal, ilmu baru apa yang belum ia ajarkan padaku? Tepat di situ, egokulah yang berteriak. Tak terima.

Aku sungguh-sungguh kecewa, sedih, marah, dan …..yah, sebutkanlah segala emosi negatif yang mungkin ada di dunia ini, kurasa semua pun tercampur sempurna menjadi satu dalam hatiku. Hingga tinggal setitik tersisa dari gelap itu, aku paham apa yang terjadi : aku sungguh TIDAK IKHLAS.

Dan kemudian tahulah aku alasan kedatangan kembali si masalah lama: menggemblengku dalam bidang ilmu keikhlasan ini. Subhanallah. Baiklah. Bismillahirrahmannirrahiim. Mari lihat, berapa jumlah kredit mata kuliah yang satu ini dan nilai akhir apa yang kuperoleh nanti?

Salam belajar,

Heidy

Gambar diambil dari sana dan sini.

Iklan

Cerita Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Inseminasi Buatan

Dalam tulisan sebelumnya, aku bercerita tentang Terapi PLI (Paternal Lecocyte Immunization) yang kujalani bersama suami sebagai solusi atas tingginya level ASA (Anti Sperm Antibody). Hingga tulisan ini dibuat, kami sudah melakukan terapi itu sebanyak 13 kali selama lebih dari setahun. Namun selama berbulan-bulan itu, terapi PLI bukanlah satu-satunya langkah yang kami lakukan terkait dengan rencana kehamilan. Beberapa hal di luar dugaan yang pun terjadi.

Pada bulan Mei 2011, aku kembali melakukan pemeriksaan papsmear (pemeriksaan dalam rangka memperhatikan kesehatan organ kewanitaanku ini rutin kulakukan setiap tahun dan agar tidak lupa biasanya kupilih waktu di sekitar tanggal ulangtahunku). Dokter yang memeriksaku adalah dsog (dokter spesialis obstetri & ginekologi) yang sama, yang pada tahun sebelumnya merujukku untuk memeriksakan level ASA. Karena sudah lama tak bertemu, wajarlah sang dokter lupa denganku. Namun karena kebiasaannya adalah memeriksa buku catatan kesehatan, maka arah pertanyaannya pun mirip dengan tahun lalu. Aku pun memberitahunya bahwa kami sedang menjalani terapi PLI berdasarkan sarannya untuk memeriksakan level ASA tahun lalu.

Kalau tidak salah, sudah 6 kali PLI yang kami lakukan saat itu. Si dokter jadi bersemangat.  Ia yakin bahwa level ASA-ku sudah mengalami penurunan. Belakangan kutahu memang betul, sih…tapi masalahnya, turun dari berapa ke berapa dulu?? Pada saat itu aku belum sempat melakukan evaluasi level ASA sama sekali! Aku tidak tahu ASA-ku sudah turun sampai level berapa, dan lebih parah lagi: saat itu aku benar-benar tidak ingat level ASA-ku ketika pertama kali diperiksa (yang ternyata luar biasa tinggi, yang mungkin tidak diduga oleh si dokter)! Ternyata hal ini sungguh fatal.

Mungkin berdasarkan pengalamannya dengan beberapa pasien sebelumnya yang (mungkin) level ASA-nya tidak setinggiku, ia pun menyampaikan pemikirannya: bahwa aku sudah memiliki peluang lebih besar untuk hamil dengan cara inseminasi buatan! Berhubung masa suburku sudah semakin dekat pada saat itu, sang dokter meminta kami untuk mengambil keputusan saat itu juga. Jika kami setuju untuk mencoba inseminasi, maka malam itu juga aku harus membeli obat untuk disuntikkan ke perutku dan melakukan perjanjian untuk pelaksanaan inseminasi buatan dua hari kemudian.

Pada hari perjanjian inseminasi dengan sang dokter, kami diminta datang 2 jam lebih dulu untuk pengambilan sperma. Yang ini tidak perlu dijelaskan secara rinci lah ya, prosedurnya….hehehe. Yang jelas klinik memberikan fasilitas ruangan tertutup berkunci semacam kamar hotel, lengkap dengan kamar mandi di dalamnya. Privasi terjamin! Sperma yang telah diambil lalu ditempatkan dalam wadah bertutup yang kemudian segera diserahkan ke bagian lab.

Setelah dokter datang, aku dipanggil ke kamar khusus untuk pelaksanaan inseminasi buatan. Entah kenapa istri diminta untuk masuk kamar sendiri, tanpa didampingi suami. Setelah proses inseminasi yang dilakukan oleh dokter selesai dan aku masih harus berbaring hingga sejam kemudian, barulah suamiku diperbolehkan masuk (itu pun aku yang meminta). Yah, karena tegang, aku tak sempat banyak bertanya waktu itu. Hanya ada 3 orang di kamar tersebut: aku, dokter, dan perawat yang membantu sang dokter. Inseminasi (atau istilah kerennya: Intra Uterine Insemination) ini dilakukan dengan cara menyemprotkan sperma suami yang telah diproses di lab (dipilih yang kualitasnya paling baik) ke dalam rahim. Penyemprotan itu menggunakan semacam alat suntik dengan selang panjang agar sperma dapat mencapai rahim lebih dalam dan lebih dekat dengan saluran telur (tuba falopi) sehingga diharapkan kemungkinannya untuk ‘bertemu’ dengan sel telur menjadi lebih besar.

tindakan inseminasi buatan pada manusia (Intra Uterine Insemination)

Esok harinya, kami diminta datang kembali untuk melihat apakah ‘telurnya sudah pecah’.  Pengecekan dilakukan melalui usg transvagina lagi, dan hasil usg pun sesuai dengan perkiraan. Pertemuan ini pun kami manfaatkan untuk berkonsultasi, bertanya lebih banyak. Di antaranya adalah tentang hal-hal yang harus diperhatikan setelah inseminasi. Ternyata tidak ada larangan berkegiatan seperti biasa (tidak harus bed rest, seperti yang kukira sebelumnya) kecuali satu: berenang/berendam. Ini masuk akal, karena dikhawatirkan dapat terjadi infeksi di daerah vagina.

Dokter mengatakan bahwa hasil dari inseminasi itu sendiri dapat diketahui 2 minggu kemudian. Namun dasar aku yang tidak sabar, tahu bahwa testpack biasanya bisa mendeteksi kehamilan sejak seminggu setelah ‘pertemuan’ sperma dan sel telur, pada H+7 sudah iseng mengetes. Sebenarnya tidak benar-benar iseng, sih. Alasan sebenarnya adalah demi menjaga perasaanku sendiri. Kupikir, jika tak berhasil, lebih baik tahu lebih cepat. Sepertinya aku lebih bisa santai menerima kenyataan saat melihat tanda pada testpack ketimbang saat mendapat menstruasi. Apalagi biasanya saat menstruasi, emosiku lebih tak terkendali. Jadi, niatku adalah bersiap-siap agar harapan tidak terlalu melambung tinggi dulu..

Dan hasilnya….seperti biasa, hanya ada satu garis pada si testpack. Harap-harap cemasku berakhir. Kecewa, tentu. Tapi sesuai janji yang sudah kubuat pada diri sendiri, aku langsung mengendalikan emosi. Suamiku sendiri tidak keberatan aku melakukan tes lebih awal, tapi ternyata tidak dengan mamaku. Aku memberitahunya dengan maksud serupa dengan niat awalku: agar tidak ada harapan-harapan yang terlanjur melambung tinggi. Daan…Mama marah karena aku begitu tidak sabar!

Karena siklus menstruasiku yang pendek, kenyataan bahwa aku memang belum hamil dapat langsung dipastikan tanpa tes pada tanggal yang ditentukan oleh dokter, melainkan dengan datangnya menstruasi pada keesokan harinya.

Sebenarnya ketika terakhir kali berkonsultasi dengan sang dsog, aku diminta untuk datang kembali begitu hamil/mendapat menstruasi. Ada pula obat yang sudah diresepkan untuk diminum pada hari ke-2 menstruasi, dalam rangka langsung merencanakan inseminasi buatan berikutnya. Namun, aku dan Hamdan tidak begitu saja mengikuti anjuran sang dsog. Kebetulan karena kami masih melakukan terapi PLI, kami juga berkonsultasi dengan androlog kami. Setelah evaluasi terhadap level ASA-ku, ia pun menduga bahwa kegagalan inseminasi sebelumnya disebabkan oleh ASA-ku yang masih tinggi! Aku menyesali kecerobohan kami berdua karena tidak pernah mengingat-ingat level ASA pertamaku, tapi suamiku juga marah dan kecewa pada dsog kami yang juga tidak teliti/berhati-hati saat menyarankan kami untuk melakukan inseminasi buatan, terlalu terburu-buru! Hamdan pun memintaku untuk tidak kembali ke dsog yang sama.

Oya. Sebagai gambaran, total biaya yang kami keluarkan untuk inseminasi buatan ini adalah sekitar empat juta rupiah (lupa persisnya, mungkin kurang atau lebih). Maaf karena dalam tulisan ini aku tidak menyebutkan nama dokter maupun klinik tempatku melakukan inseminasi buatan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika ada yang benar-benar perlu untuk rujukan, lewat jalur pribadi saja ya…silakan tinggalkan alamat email untuk berkorespondensi lebih lanjut 😉

Cerita terkait rencana kehamilan di tahun ke-4 perkawinan kami ini masih berlanjut. Pada tulisan berikutnya, aku akan bercerita tentang Kehamilan Ektopik (kehamilan di luar rahim).

Salam,

Heidy

 

Gambar diambil dari sini.

Cerita Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Terapi PLI

 Pemeriksaan ASA

Sejak menikah, aku berusaha untuk lebih teliti memperhatikan kesehatan organ kewanitaanku. Salah satu usahaku adalah dengan rutin melakukan pemeriksaan papsmear setiap tahunnya. Nah, sebenarnya di tahun ketiga pernikahan  aku melakukan papsmear dengan seorang dsog perempuan di klinik yang sama dengan tempatku berkonsultasi tentang masalah infertilitas pertamakalinya dulu. Eh, dia iseng…buka-buka halaman terdahulu buku catatan kesehatanku, menanyakan lama menikah, rencana kehamilan, dsb. Lalu tiba-tiba saja dia menyampaikan ‘tahap pemikiran’ yang berbeda:

  1. Bahwa subur-tidaknya seorang wanita tidak harus dilihat dari tes hormon, tapi bisa juga dilihat ketika usg, dari ukuran diameter si ovum hingga semacam kulit pembungkusnya ‘pecah’.
  2. Ada faktor lain yang lebih penting dari ‘kelemahan’ sperma, yaitu antibodi anti sperma. Antibodi yang dimaksud adalah yang terdapat dalam tubuh istri dan melakukan penolakan terhadap sperma yang masuk karena dianggap benda asing, sehingga terjadi penggumpalan-penggumpalan pada si sperma.
  3. Dengan cepat di dokter menyebutkan peluang besar melalui metode inseminasi buatan sebagai solusi dari kecepatan dan arah gerak sperma yang kurang optimal. Namun sebagai syarat, jika benar ada masalah seperti yang disebutkan di nomor (2) di atas, harus diselesaikan lebih dulu.

Usulan lain di atas baru kami tindak lanjuti ketika memasuki tahun keempat perkawinan. Dengan berbekal surat rujukan sang dokter, kami melakukan pemeriksaan Anti Sperm Antibody (ASA) di RSIA Sayyidah Pondok Kelapa yang merupakan salah satu rumah sakit unggulan imunologi reproduksi (seingatku ada beberapa rumah sakit serupa, kalau tak salah di antaranya Klinik Sam Marie di Wijaya dan RS Permata Cibubur).

Memang, belakangan kami baru tahu bahwa soal ASA sebagai salahsatu hambatan dalam berketurunan masih diperdebatkan di kalangan para dsog. Ada yang setuju, ada yang tidak sepemikiran. Kami sendiri tidak terlalu banyak memikirkannya. Meskipun masih ada perdebatan, toh masih dalam ruang lingkup medis. Pokoknya asalkan masih bisa diterima akal (bukan semacam sihir atau usaha yang mengarah ke syirik), kenapa tidak?

Ada 2 tahap dalam pemeriksaan ASA ini. Pertama adalah pengambilan sample semen (sperma suami). Yang kedua adalah pengambilan darah istri. Di laboratorium, diamati pengenceran serum darah istri atau plasma semen yang dapat menyebabkan aglutinasi spermatozoa suami. Normalnya, penggumpalan terjadi hanya pada ukuran pengenceran 1:64. Lebih dari angka 64 itu, ASA mulai dianggap tinggi. Semakin menjauh dari angka tersebut, berarti ASA semakin tinggi.

Hasil pemeriksaan ASA kami cukup…ehm, menggemparkan. Hahaha…berlebihan kali, ya. Tapi dari reaksi yang susah payah disembunyikan para dokter dan suster, dan juga perbandingan yang kudapat dengan beberapa pasien yang tak sengaja bertemu belakangan, sepertinya tidak. Mungkin sudah pernah ada sebelumnya, tapi sepertinya juaraaang sekali perempuan memiliki level ASA setinggiku, yaitu masih menyebabkan aglutinasi sperma pada pengenceran 1: 1.048.576. SATU JUTA! Padahal pasien-pasien lain sudah sedih sekali karena mencapai angka dua ribuan atau tiga puluh ribuan (yang terakhir ini ada yang menyebutnya stadium 4…lha, aku stadium berapa dong kalo gitu?) Yah, alhamdulillah, begitu ketemu denganku sepertinya mereka tampak lebih lega dan bisa mensyukuri kondisinya sendiri…hehehehe.

Ketika aku menceritakan riwayat kesehatan pribadiku, salah seorang dokter berpendapat bahwa apa yang kualami ini masuk akal. Anemia hemolisis yang pernah kuderita menunjukkan bahwa aku membawa kelainan autoimun sejak lahir (sebangsa dengan lupus, nefrotic syndrome, dll). Wajar dong, jika orang yang punya autoimun memiliki antibodi jauh di atas normal termasuk antibodi anti sperma? Kira-kira begitulah penjelasannya..

Terapi PLI untuk Menurunkan ASA 

Terapi yang harus kujalani untuk mengatasi masalah ASA yang tinggi ini adalah terapi Paternal Leucocyte Immunization atau PLI. Pertama-tama, dilakukan pemeriksaan terhadap darah suami (untuk mencegah adanya penyakit tertentu yang dapat ditularkan melalui darah). Setelah dinyatakan sehat, maka terapi PLI dapat dimulai. Terapi PLI ini sendiri berarti menyuntikkan sel darah putih ke tubuh istri, dengan tujuan kelak tubuh istri dapat ‘mengenali’ sperma yang masuk, tidak menganggapnya ‘musuh’….hehehe. Ternyata betul kaan, emang kami harus ‘pacaran’ lebih lama nih!

Pengambilan sel darah putih suami dilakukan oleh laboran di laboratorium (kami melakukannya di laboratorium RSIA Sayyidah), persis seperti cara pengambilan untuk pemeriksaan darah biasa. Setelah itu, dilakukan pemisahan sel darah putih dalam Luminar Air Flow di laboratorium selama kira-kira 1,5 jam. Darah putih ini kemudian disuntikkan ke bawah jaringan lemak istri (bukan ke pembuluh darah) oleh dokter (di RSIA Sayyidah, yang melakukannya adalah dokter umum yang sedang bertugas jaga).

Langkah di atas diambil jika penyuntikan ingin langsung dilakukan saat itu juga. Ada pilihan lain yang disebut freezing, yaitu penyimpanan sel darah putih karena belum perlu langsung disuntikkan. Ini juga pernah menjadi solusi bagi kami, karena pada suatu waktu suamiku tidak ada di Jakarta pada jadwal PLI kami. Tapi cukup sekali saja kami memilih cara ini, karena freezing ini juga tidak gratis…sekali simpan Rp 270.000! Lumayan banget, kan. Jadi lebih baik sebisa mungkin suami menyesuaikan jadwal saja deh..

Terapi PLI bisa dilakukan kapan pun, karena laboratorium buka setiap hari 24 jam, begitu pula dengan selalu adanya dokter umum yang mendapat giliran jaga. Setelah pengalaman beberapa kali, aku suka memilih waktu berdasarkan giliran jaga dokter umum….karena ada yang jago menyuntik tanpa terasa terlalu sakit olehku, sementara ada pula yang setelahnya sampai membuat kulitku seperti gosong dan pecah-pecah!

Ya, sebagai seseorang yang sudah tak terhitung menghadapi jarum suntik untuk pengambilan darah, menurutku suntik untuk PLI ini lebih nggak enak rasanya! Kalau ambil darah untuk periksa (bukan untuk donor ya) kan cuma sebentar tuh, sementara suntik PLI ini agak lebih lama rasanya, terasa panas dan sakit. Lalu bagian kulit yang telah disuntik akan kelihatan benjol, memerah…lama-lama menggelap. Benjolan biasanya hilang dalam 3 hari (tapi pernah juga sampai 2 minggu! Langsung ingat siapa nama si dokter jaga dan berusaha menghindar jangan sampai dia lagi yang menyuntik untuk PLI berikutnya!). Kadang setelah kempes, bisa muncul benjolan kecil kalau tiba-tiba alergi kita terpicu oleh suatu jenis alergen (baca soal pantangan di bawah ya). Lalu soal si warna gelap di kulit, dia juga lama banget hilangnya, jadi untuk beberapa lama aku bisa lihat noda belang di kulitku…hiks. Untuk mencegah belang bertebaran dimana-mana, setiap kali suntik aku selalu berikan tangan yang sama, kalau perlu minta suntik di titik yang sama!

area kulit yang 'mblendung' karena PLI

area kulit yang ‘mblendung’ karena PLI

Konsultan kami dalam melakukan terapi PLI ini adalah dokter spesialis andrologi. Jadi selain urusan si antibodi, ia juga menangani beberapa masalah suamiku seperti persentase sperma yang hidup serta arah dan kecepatan geraknya. Oleh sang androlog, mula-mula kami dianjurkan untuk melakukan terapi PLI sebanyak 3 kali yang masing-masing harus dilakukan dengan jarak 3-4 minggu dan biayanya cukup menguras kantong (PLI I kami harus membayar Rp 850.000, PLI II & III masing-masing Rp 800.000, lalu PLI IV hingga sekarang masing-masing Rp 750.000)!

Setelah beberapa kali melakukan PLI dan mengobrol dengan lebih banyak dokter, suster, juga pasien lainnya, aku pun tahu….kecil kemungkinan aku hanya harus melakukan 3 kali terapi PLI. Dari beberapa kasus sebelumku, yang level ASAnya tidak setinggiku, bisa sampai melakukan 9 kali terapi! Bikin sedih, ya.

Yah, mengingat pengalaman-pengalaman batin sebelumnya, kali ini aku dan suami pun bertekad untuk tidak terlalu memikirkannya. Secara rutin kami terus melakukan terapi PLI ini, sambil terus menikmati pacaran…

Beberapa Pantangan Selama PLI

Oya, beberapa tambahan informasi, nih. Selagi menjalani PLI ini, ada beberapa jenis makanan dan non-makan yang harus dihindari oleh sang istri, yaitu yang menimbulkan reaksi alergi. Pada tiap orang, jenisnya berbeda-beda. Pernah dengar kan, ada yang alergi udang, telur, debu, bulu kucing, dsb. Nah, alergen-alergen ini sangat dianjurkan untuk dihindari karena masukan alergen ke dalam tubuh juga bisa memicu peningkatan antibodi.

Jenis makanan dan bukan makanan yang dapat memicu alergi ini dapat diketahui dari tes alergi terhadap kulit (sampel cair dari suatu zat ditusukkan ke permukaan kulit). Tingkat alergi dinyatakan dengan nilai 1, 2, 3, 4, 5 (mulai dari level terendah hingga tertinggi). Berikut adalah jenis alergen makanan yang dapat dites: bandeng, udang, kakap, kepiting, cumi-cumi, tongkol, kerang, putih telur, kuning telur, ayam, susu sapi, kacang tanang, kacang mete, kedelai, tomat, wortel, nanas, cokelat, teh, kopi, dan gandung. Sementara alergen yang bukan makanan adalah debu, tungau, serpih kulit manusia (waduh!), tepung sari rumput, tepung sari padi, tepung sari jagung, tepung sari jamur, kecoa, buku kuda, bulu kucing, bulu anjing, dan bulu ayam.

Menurut salah satu dokter, jenis-jenis alergen di atas hanyalah yang kebetulan sudah dapat diperiksakan. Pada kenyataannya, bisa saja di luar dari yang disebutkan itu masih ada yang dapat memicu alergen kita. Hanya kebetulan mungkin belum ditemukan bagaimana cara mengetesnya selain dengan pengamatan sehari-hari (mungkin contohnya seperti hawa dingin gitu kali ya…)

Salah satu pantangan tersulit!

Salah satu pantangan tersulit!

Di sinilah tantangan lainnya. Sejak tes alergi itu, dengan resmi aku menjauhi banyak jenis makanan, yang sayangnya, kebanyakan di antaranya adalah kesukaanku…hiks! Jadi ternyata, makanan yang menjadi alergenku (mulai dari yang terberat): kopi, teh, daging ayam, kuning telur, putih telur, susu sapi, gandung, ikan bandeng. Sementara itu, alergenku yang bukan makanan adalah tungau, bulu kucing, dan bulu kuda. Hiee….hahaa jadi jangan salah paham kalau aku jauh-jauh dari kucing atau kuda, ya. Aku tidak takut, tapi dilarang!

Lalu terakhir, sebenarnya ada yang lebih penting dari alergen makanan dan non makanan di atas, namun dengan bodohnya aku dan suami sempat tidak mematuhinya karena penjelasan yang kurang jelas hingga menyebabkan salah pengertian. Jadi ternyata, hingga level ASA normal, untuk mendukung terapi PLI sebaiknya istri menghindari paparan sperma secara langsung (salah satu saran: gunakan kondom)! Dengan kata lain, memang kemungkinan hamil pun dengan sengaja diperkecil lebih dulu hingga target level maksimum antibodi tercapai (tepatnya positif pada pengenceran 1:64).

Menurut sang androlog, tindakan menghindari paparan sperma itu adalah bagian dari terapi penurunan antibodi anti sperma itu sendiri. Penurunan si antibodi akan lebih lambat/sulit jika dalam prosesnya (dengan kata lain belum sampai target), sudah ‘ditantang’ oleh paparan sperma yang menaikkan kembali antibodi tersebut. Benar saja, hal ini terbukti dalam pengalaman kami. Begitu menuruti aturan ini, penurunan ASA-ku pun lebih cepat.

Langkah Berikutnya

Level ASA-ku sudah hampir mendekati normal setelah melakukan 9x terapi PLI. Diperkirakan oleh sang androlog, dengan 1x lagi terapi, level ASA-ku sudah benar-benar normal. Namun setelah normal pun, terapi PLI tetap dianjurkan untuk dilanjutkan bahkan jika sudah hamil sampai trimester pertama sebagai terapi pemeliharaan yang berjeda 6-8 minggu (lebih jarang daripada terapi penurunan: 3-4 minggu sekali).

Ketika tulisan ini dibuat, aku sudah melakukan 13 kali PLI. Yap..tigabelas!! Dokter dan suster yang melayani PLI ke-13 pun agak kurang sopan, menunjukkan ketidakpercayaannya yang seperti setengah menertawakan juga (apa maksudnya belum pernah ada pasangan ‘serajin’ kami melakukan terapi ini??)

Seperti yang sudah kusinggung sedikit di atas, beberapa dokter kandungan terutama yang menangani sub bidang fertilitas masih berbeda pendapat terhadap pelaksanaan terapi PLI ini. Ada yang mengatakan perlu, ada yang tidak. Setelah PLI ke-13 kami dan kehamilan belum juga terjadi, kami pun memutuskan untuk ‘berganti’ dokter (dsog), meskipun belum memutuskan sampai kapan kami menuruti anjuran sang androlog untuk terus melakukan terapi PLI ini.

Oya. Tulisan ini khusus menceritakan pengalamanku soal Terapi PLI yang sampai saat tulisan ini ditulis, sudah kami jalani selama setahun lebih. Sebenarnya selama melakukan terapi ini, terjadi pula beberapa hal lain yang masih terkait dengan rencana kehamilan. Berikutnya, aku akan bercerita tentang Inseminasi Buatan yang juga kami lakukan di tahun ke-4 pernikahan kami ini.

Salam,

Heidy