Ikhtiar (Kehamilan) Terakhir

Dua bulan yang lalu, aku dan Hamdan telah memutuskan untuk berhenti mengunjungi dokter spesialis obstetri dan ginekologi dan menghentikan segala pengobatan medis.

Dokterku yang Baik

Khusus tentang sang dsog, aku ingin bercerita sedikit tentangnya. Sebelum berhenti mengunjunginya, dsog terakhirku itu baru dua bulan lebih sedikit menjadi langgananku. Sungguh sebentar berjodohnya kami!

Sejauh ini, menurut pengamatanku, tak ada yang salah dengannya. Meski awalnya aku menangkap kesan galak dari raut wajahnya, ternyata beliau justru baik sekali. Pada kunjungan pertama, aku langsung memberinya ‘ringkasan cerita’ terkait masalah infertilitasku dan Hamdan sejak menikah beserta bundelan hasil pemeriksaan lab kami.  Ia membaca semuanya dengan seksama, tidak terburu-buru sama sekali. Terasa benar niatnya yang ingin memberiku keleluasaan untuk berkonsultasi. Keluar dari ruangannya, aku baru sadar bahwa ia telah memberiku waktu konsultasi selama 50 menit sendiri! Subhanallah

Hal lain yang membuatku ingin mendoakan dsog yang baik ini adalah kedermawanannya. Tidak hanya sekali ia memberiku potongan biaya untuk jasa konsultasinya hingga lima puluh persen! Bahkan ketika aku mendatanginya untuk konsultasi hasil HSG, aku hanya perlu membayar dua puluh ribu rupiah untuk biaya administrasi rumah sakit. Dengan kata lain, ia menggratiskan seratus persen biaya jasa konsultasinya! Sekali lagi, subhanallah..

Lalu hal yang paling membuatku terharu adalah kebaikan, kesantunan dan kebijaksanaannya sendiri. Setelah diberitahu nomor ponselnya, sangat mudah bagiku untuk menghubunginya. Hebatnya, ia tak pernah lama membalas pesan –pesanku. Jika butuh waktu untuk menjawab pertanyaanku (biasanya seputar jadwal bertemu), ia akan mengirimkan dulu pesan seperti “Mohon waktu..” Jarang betul kan dokter sesantun ini? Ia dapat menjelaskan suatu hal dengan jelas dan rinci, tapi juga terlihat sangat berhati-hati dan tidak membuatku stres. Ia pun tidak pernah memaksakan pemikirannya untukku. Untuk setiap langkah pemeriksaan yang menurutnya perlu kulakukan, berkali-kali ia mengatakan “Jika bersedia…”  dan mengingatkan bahwa kapasitasnya hanyalah untuk menyarankan, sementara keputusan untuk melaksanakannya tetap berada di tanganku. Termasuk untuk langkah yang ia sarankan pada kunjungan terakhir kami : pemeriksaan hormon.

Ya, dengan sangat menyesal, aku menjadikan itu sarannya yang terakhir, memutuskan untuk tidak mengikutinya, dan sudah hampir dua bulan aku tak mengunjunginya kembali. Tak mudah sebenarnya memutuskan hal ini. Bagaimana pun, ia dokter yang baik dan sejauh ini tak ada hal darinya yang membuatku kecewa. Kurasa seandainya aku hamil suatu saat nanti, aku pun ingin kembali berkunjung dan berkonsultasi padanya.

(Bukan) Mengulang Perjalanan

Apa yang akhirnya membuatku memutuskan untuk tidak mengikuti langkah pemeriksaan hormon? Yang menjadi jawabannya adalah seluruh perjalanan kami sendiri terkait usaha untuk berketurunan ini. Aku selalu menerima masalah apapun yang harus kami hadapi untuk urusan berketurunan ini untuk kemudian dicari solusinya, diupayakan untuk diselesaikan. Ikhtiar atau usaha adalah kewajiban. Dengan melakukannya, aku pun memahami bahwa perjalanan kami ini adalah ujian sekaligus anugerah. Setiap pengalaman kami selalu memberikan hikmah baru, nikmat yang berbeda.

Pemeriksaan hormon sudah pernah kulakukan empat tahun yang lalu sebagai pemeriksaan infertilitasku yang pertama dan waktu diketahui bahwa hormon kesuburanku tidak normal. Terapi hormon bukan solusi yang aman untukku yang saat itu juga masih melakukan terapi obat untuk anemia hemolisis. Karena itulah, aku menempuh berbagai jalan pengobatan alternatif dan masalah berhasil terselesaikan beberapa waktu kemudian, meski aku tak tahu persis cara mana yang menyembuhkan kondisiku itu. Bisa jadi salah satu pengobatan alternatif yang kulakukan, atau semuanya sekaligus. Yang jelas kutahu, Allah ridho dan masalah itu pun lenyap, entah melalui jalan yang mana. Nah, wajar kan jika aku termangu begitu mendapati aku kembali mengalami masalah perkembangan sel telur yang diduga terkait masalah hormon, masalah yang sama dengan masalah terdahulu itu? Bagaimana bisa? Apa yang harus kulakukan? Mengulangi seluruh ikhtiarku dulu?

Ketika bertanya pada dsog-ku, ia menjawab bahwa penyebab masalah tidak berkembangnya sel telur tak dapat diuraikan secara tepat. Ada beragam faktor yang dapat mempengaruhinya dan wajar jika seorang wanita mencapai masa subur pada satu siklus dan tidak mencapainya pada siklus berikutnya. Lihatlah kasusku yang delapan bulan sebelumnya diyakini seratus persen subur berdasarkan pemeriksaan laparoskopi. Menurutmu, apa yang terjadi dalam delapan bulan berikutnya? Jika perubahan-perubahan seperti ini wajar atau pasti terjadi, untuk apa aku mencari pengobatan? Bukankah bisa saja nanti aku lagi-lagi sembuh hanya untuk sesaat, lalu kembali lagi ke kondisi ini?

Sama seperti empat tahun lalu, aku tak melirik terapi hormon sebagai solusi. Bagiku, efek samping atau dampak negatif dari cara pengobatan tersebut terlalu besar atau tidak sebanding dengan persentase keberhasilan yang diharapkan. Aku pun berhenti mengunjungi dsog-ku.

Meski demikian, aku tak berhenti mencari informasi dari berbagai sumber dan jika semua sumber informasi itu dituliskan, mungkin jumlahnya mencapai ratusan halaman. Memang, hal ini bukan baru saja kulakukan. Namun kali ini aku semakin ketagihan. Daripada diam melamun sendiri, aku lebih memilih menyibukkan pikiranku dengan membaca. Apa hasil dari kegiatan melahap segunung informasi itu? Kenyang dan buncit, tentu saja. Lalu pusing tujuh keliling karena seperti halnya untuk masalah lain, tak sedikit informasi yang bertentangan di dunia ini. Menurut sumber 1, melakukan A dan mengonsumsi B sangat dianjurkan. Sementara menurut sumber 2, sebaiknya hindari melakukan A dan mengonsumsi B. Begitu seterusnya hingga kuperoleh puluhan sumber. Jadi, mana yang harus kuikuti??

Pada masa kebingungan itu, rasa kesal, marah, dan frustasi merayapiku. Dalam hampir setiap percakapanku dengan Tuhan, kulontarkan pertanyaan apa maksudNYa kali ini? Kenapa? Jadi apa yang diinginkanNya dariku? Lalu ketika teringat olehku Mama yang berkata bahwa orang beriman tidak bertanya “kenapa” pada Tuhannya, aku pun menyadari betapa aku tidak termasuk golongan orang yang beriman.

Kepusinganku akhirnya terobati setelah dari diskusi-diskusi eksklusif dengan Hamdan, aku teringat akan hal terpenting, hal yang menjadi prioritas kami. Apa yang menjadi tujuan hidup kami berdua dan bagaimana kami tak boleh salah ambil jalan, yang ternyata malah menghalangi pencapaian tujuan itu.

Nyaris saja aku melupakan alasan mengapa aku melakukan langkah-langkah ikhtiar itu. Berketurunan bukanlah tujuan hidupku dan Hamdan. Kami memutuskan untuk hidup bersama karena ingin bahagia lahir dan batin, saling mendukung satu sama lain untuk sukses dunia dan akhirat. Dan bahagia maupun sukses itu tak harus terwujud atau terukur dalam hal keturunan, kekayaan, kepopuleran atau hal-hal lain yang sering dibanggakan manusia dalam kehidupan sehari-harinya.

Ikhtiar seharusnya hanyalah wujud kami menunaikan kewajiban sebagai hambaNya. Langkah-langkah kecil kami telah menapaki jalan misterius untuk berusaha mencapai bahagia dan sukses yang hakiki itu. Namun ketika berusaha untuk menganalisis secara rinci bagaimana  tepatnya jalan itu, memperkirakan panjang dan batas-batasnya, kurasa saat itulah niat suci itu tercemar. Ada pamrih, berharap akan imbalan yang setimpal setelah melihat panjangnya jalan yang telah ditempuh. Padahal sebelum iseng mengukur si jarak dan membayangkan sang imbalan itu, perjalanan sudah terasa begitu nikmat. Lihatlah… betapa manusia itu tak pernah puas, tak pandai bersyukur dan gemar mendzhalimi dirinya sendiri.

Ikhtiar itu wajib, dan salah satu kegelisahanku adalah jika kami termasuk lalai dalam melaksanakan kewajiban ini. Namun, ketika kembali kubuka catatan perjalanan kami, kukenali rasa damai itu. Kami sudah menunaikan kewajiban ini, dan terasa kini tibalah saat terindah. Bukan saat untuk mengharap akan imbalan, melainkan saat untuk benar-benar mengikhlaskan segalanya, menghapus segala pamrih. Segala usaha, semua jerih payah itu…kami ikhlas, ya Allah. Bahwa hanya Engkaulah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, kami meyakininya. Maka dengan menyebut namaMu, kami mulai rencana terakhir ini: memutuskan untuk menikmati hidup pemberianMu, berbahagia sekarang juga tanpa menunggu apapun. Jadikanlah apapun kehendakMu yang terbaik bagi kami.

Salam berbagi,

Heidy

51 thoughts on “Ikhtiar (Kehamilan) Terakhir

  1. Betapa hebatnya kawanku yang satu ini, tetap Sabar ya H2 (Hamdan n Heidy)….Ingatkah cerita salah satu nabi kita Ibrahim AS dan Istrinya yang menunggu hampir puluhan tahun? Yakinlah Allah SWT punya rencana indah dibalik ini semua….teruslah ihtiar dan berdoa dan nikmatilah hidup ini bersama-sama dengan senang tanpa memikirkan beban apapun….Semoga keluarga kalian senantiasa dinaungi keridhoan-Nya…

    Salam,
    AC

    • Waah Dede! Terimakasih sudah berkunjung kemari! Iya inget cerita Nabi Ibrahim…subhanallah. Terimakasih juga untuk doanya yang tulus, semoga keluarga Dede juga selalu dirahmati Allah SWT..aamiin🙂

  2. Be brave ya Heidy.. Berkah atau nikmat Alloh itu bisa datang dalam bentuk yang berbeda2 dan bisa datang kapan saja, yang penting kita ikhlas menjalaninya & tidak pernah berhenti bersyukur atas nikmat yang sudah kita dapatkan.

    Jangan berhenti berdoa ya sayang, ikhtiar juga bisa dilakukan dengan cara ikut serta menyayangi anak2 kecil di sekitar kita dengan ikhlas..

    I’ve been there, and I wish u all the best.

    Love,
    Nina

  3. hii…heidy….
    salam kenal yaa….
    saya Via, boleh minta YM / alamat email tuk sharing PLI….karena ASA sy tinggi jg lho & lg bingung tuk treatment…

  4. subhanallah…saya jadi banyak belajar tentang kehidupan dari mbk Heidy.terima kasih untuk tulisan2nya.saya boleh minta ym/alamat email utk konsultasi mbk?

    • Hi Devi, terimakasih ya sudah mampir ke sini. Alhamdulillah kalau ada manfaatnya🙂 Waduh, konsultasi? Aku bukan konsultaan… tepatnya saling berbagi aja kali ya. ID YM langsung kukasih tau ke emailmu saja ya? Thanks!

  5. hai heidy,
    salam kenal yaa.. kebetulan aku lg googling mengenai PLI nemu blog kamu
    aku suka dengan tulisan2mu sekaligus terharu.. sungguh luar biasa perjuangan kalian berdua
    aku salut sekali. semoga Allah memberikan jawaban yang indah segera ya sebagai buah kesabaran kalian.
    oiya, aku selvie. sepertinya aku bernasib sama dengan kamu. jumlah antibody aku persis sama dengan jumlah antibodymu. rencana semula aku mau baru ikutan PLI pertama. tapi aku googling masih pro kontra. mungkin sama seperti via, kalau kamu berkenan aku boleh minta gtalk / alamat email tuk sharing PLI juga kah? trims ya sebelumnya.

    • Hai Selvie, salam kenal juga! Terimakasih banyak sudah membaca tulisan-tulisanku..semoga ada manfaatnya ya. Terimakasih juga atas doamu yg tulus, kudoakan yg sama juga untukmu🙂 Wah, subhanallah kita dipertemukan (jarang ya yg antibodinya di atas sejuta). Ok, seneng banget bisa nambah teman, setelah ini email langsung kukirim ke alamatmu ya.

      Salam,
      Heidy

    • Yg sabar ya mba’ Heidy…semoga الله mendengarkan do’a-do’a kita yg mengharap hadirnya si buah hati, saya sendiri hampir 14 th berumah tangga, ikhtiar mulai dr medis, alternatif, pijit sampai akupuntur sdh saya jalani, mulai dr dsog biasa hingga dsog kfer sdh kami datangi, PLI pun thn 2005 sampai 9 kali, tapi kami berusaha berfikir positif saja, mungkin الله msh menguji kesabaran kami…insya الله semua akan indah pd waktunya….

      • Terima kasih banyak mbak Noni..maaf baru buka blog ini lagi jadi telat sekali membalas komentarnya.
        Wah luar biasa sekali perjuangannya, jadi menambah semangatku juga.
        Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita, ya. Aamiin..

        Salam,
        Heidy

  6. Hi Heidy,

    Salam kenal,..saya salut sama perjuangan kalian berdua!
    Tetap ikhlas dan sabar ya…insya allah tidak ada ikthtiar yang sia-sia.
    Setidaknya satu persatu permasalahan yang dapat menghalangi kehamilan sudah ketemu dan diselesaikan — seperti ASA yang sudah normal. Banyak orang yang masalahnya pun belum ketahuan sampai sekarang…So, keep fighting! never give up!

    Oya, Saya juga mau ajak suami untuk test ASA dan PLI..awalnya sempat ragu, tapi kemaren seharian googling ternyata PLI ini juga dipakai di USA dan Jepang untuk masalah infertilitas…hmm jadi pengen coba… kalau boleh berkenan minta emailnya untuk sharing tentang pengalaman PLI dan DSOG nya.

    Salam,
    Rian

    • Hai Rian,

      Terima kasih sudah mampir dan terima kasih banyak untuk dukungannya! Rian dan suami juga tetap semangat, yaa. Ok, aku langsung kirim email ke alamat email Rian aja ya.. Semoga berguna.

      Salam,
      Heidy

  7. Benar sekali mbak….
    Keturunan adalah rezeki dari Allah
    jika kita sdh iktiar….terserah Allah yg menentukn. Sy pun begitu..teringat sy pesan t4 alternatif yg saya lakukkan….bnyk nikmat yg harus kita syukuri dari Allah

  8. hi heidy, subhanallah aq salut bgt sm kamu, smpai skrg kita belum bisa sepenuhnya ikhlas dg apa yg di anugrahi Allah, karena smw yg qt inginkan blm ada di hadapan qt. termasuk anak….aq msh mengalami dilema itu. blm bisa ikhlas untuk menerima bahwa anak yg kita dambakan tak kunjung dtg….bagaimana ya cara ikhlas yg mba heidy dah praktekkan…
    boleh aq minta emailnya mba??mau sekalian sharing n kali aja mba bs rekomendasiin alamat RS or dokter mana yang nyaman untuk program kehamilan :))
    terima kasih sebelumnya

    • hai Qanita… aku rasa ikhlas itu pelajaran tersulit bagi semua orang dan sepanjang masa. Belajar dan ujiannya tidak mungkin hanya sekali, pasti berkali-kali. Aku mengerti sekali dilema itu, aku pun merasakannya dan kebingunganku sering kambuh. Tapi aku yakin, harapan seseorang atas suatu hal yang baik tidak berarti bertentangan keikhlasan.Ikhlas tidak berarti membuang harapan, kan? Hanya saja kita diingatkan kembali, meskipun melakukan ikhtiar secanggih apapapun, harus tetap mengembalikan hasilnya pada Allah SWT. Oke aku sapa juga di email ya…sampai bertemu, terima kasih sudah mengunjungi blog ini yaa🙂

  9. Mbak heidy gmn kabarnya skrg mbak?aduuh aku ampe nangis baca tulisannya. Susah yah mbak ikhlas itu.keadaan ku yang program hamil sampe hamil,kemudian janin meninggal,laparatomy,suntik tapros sampe akhirnya di vonis kembali kena asa yang sgt tinggi padahal dulu tidak seekstrem ini nilainya disaat aku mulai start untuk program lagi.kenapa allah seperti memberi cobaan bertubi2 disaat semua sudah berbahagia.Aku berkaca dari kisah embak,berharap allaah bisa memberi kesabaran yang lebih pada tahap ini…amiinn ya allaah..kita saling mendoakan yah mbak…

    • Subhanallah…luar biasa sekali Mbak, pengalamannya.
      Terima kasih banyak sudah ikut berbagi di sini ya, Mbak Saxa.
      Semoga selain aku, banyak juga yang membaca dan terinspirasi dari ketabahan Mbak Saxa.
      Aamiin untuk doanya, semoga hanya yang terbaik yang diberikan untuk kita🙂
      Semangat terus, yaa!!

  10. Hai mba Heidy,

    Salam kenal yah mba. saya siti nuraini di jakarta, jadi sampe nangis bacanya. karena saya juga sama mba, blom dikasih keturunan. Kebetulan tgl 16 april dan 18 april tindakan insem yang ke 2 setelah nov’12 insem pertama gagal. Ternyata insem kali ini juga gagal, alhamdulillah gak terlalu sedih seperti yang pertama, mungkin karena selalu dibawa sholat malam minta yang terbaik sama Alloh kali yah. tp setelah baca blog mba heidy jadi terharu lagi terbayang yang kemarin2 kita ikhtiar. Semoga di dunia ini kita diberi keturunan yang Sholeh dan Sholeha yah. Pasti Alloh akan memberikan kita keturunan yang hebat karena kita dikasih waktu untuk selalu belajar agar nanti kl sudah punya anak tidak kaget dan sudah siap lahir dan bathin. yang penting harus terus berbaik sangka, pasti ada hikmah dibalik semua ini karena Alloh itu Maha Baik dan Maha Tau apa yang terbaik dan dibutuhkan hambanya. yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Alloh.
    Mba, kl boleh minta YM nya dong, supaya saya bisa sharing. Trima kasih.

    • Hai mba Siti,

      terima kasih sudah berkunjung ke blog ini dan terima kasih banyak untuk doa-doanya yang indah untuk kita.
      Untuk YM aku langsung kirim via email yaa.. sampai ketemu🙂

  11. Aslmkm mbak Heidy,
    Salam kenal ya, hsl ASA ku persis angkanya sm mbak, tinggi ya hehe.. skrg aku ditahap pli 3, blh minta ym/line/wapp nya mbak pingin sharing sm tmn senasib, makasih🙂

  12. Baru baca blognya & ngerasain banget perasaan itu🙂 tetep semangat ya Heidy, semoga Allah segera menitipkan anugrahnya untuk kalian berdua🙂

  13. mba Heidy, salam kenal..aku juga punya masalah yg sm mba..udh hampir 4 thn mnunggu khadiran baby..Semoga Alloh selalu memberi kita yang terbaik..kita tetep usaha n berdoa ya…

    • Salam kenal juga Veeka. Terima kasih yaa sudah berkunjung ke sini. Semoga kita dapat saling berbagi & bermanfaat. Aamiin, terima kasih untuk doa dan dukungannya..kudoakan yg sama untukmu, semoga kita diberikan yang terbaik… tetap semangat yaa!

  14. Jangan menyerah mbak, aku juga udah berusaha dari tahun 2004 (berarti sudah 8 tahunan) dari mulai pernikahan pertamaku. Bahkan beberapa bulan lalu aku positif hamil tapi harus diterminasi karena fetus tumbuh diluar kandungan. Sekarang aku hanya punya satu saluran sel telur (tuba falopi). Tetap semangat dan tetap berusaha yah🙂
    Kesuburan memang harus pake terapi continyu, aku juga kadang2 stress dan capek sendiri, tapi demi bisa punya baby, apapun kami lakukan.

  15. Wow…menginspirasi sekali Mbak Fascha, terima kasih atas dukungannya. Aku nggak berhenti ikhtiar kok, hanya saja memilih menempuh jalur lain begitu mentok di satu jalan… semoga kita menemukan jalan terbaik dan dikaruniai yg terbaik juga ya Mbak… thanks a lot

  16. Bismillah… Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Asy Syuura : 49-50)

    Tetep semangat ya mba, segala sesuatu telah Allah tetapkan jauh sebelum kita diciptakan, tapi tetap kita harus doa n ikhtiar, *senyum*
    Baarakallahu fiykum (smg Allah memberkahi kalian)

    • Salam, mbak Neni.

      Terima kasih ya sudah mampir ke blog ini.
      Betul, perjuangan adalah satu hal yang tidak boleh berhenti selama kita masih hidup.
      Kami tidak akan pernah berhenti ikhtiar kok, hanya cara/jalannya saja yang dipilih, berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
      Pengalaman-pengalaman itu tidak hanya jadi ‘koleksi pengalaman’, tentu, tetapi sebagai bahan pelajaran.
      Bukankah belajar juga merupakan kewajiban kita seumur hidup?🙂 *ikutan senyum maksudnya*
      Terima kasih banyak atas doanya, semoga Allah juga senantiasa memberkahi Mbak.

      Salam,
      Heidy

  17. Ping-balik: Libur telah tiba | berbagi hidup

  18. assalamualaikum..mbk.. salam kenal
    terharu baca cerita mbk.
    tgl 23 april aq inseminasi mbk.. ni td coba aq test ternyata negatif..sedikit sedih se mbk.. tp aq berusaha sabar n ikhlas menerima takdir ALLAH.
    saling mendoakan ya mbk..
    minta emailnya dong mbk..

    • Alaikumsalam wr wb

      Salam kenal juga, mbak Nurul. Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisanku, ya. Semoga bermanfaat.
      Wah.. abis inseminasi juga, ya. Alhamdulillah kalau sudah bisa ikhlas dan tetap sabar … salut … dulu aku agak susah dalam hal itu, hehe.
      Terima kasih untuk doanya, kudoakan juga mbak Nurul mendapat yang terbaik. Aku hubungi langsung ke alamat surelnya, yaa. Terima kasih🙂

  19. Subhanalloh Mbak saya nangis baca yang terakhir ini..

    Setelah iseng googling “setahun menikah belum hamil”, sampailah saya ke blog mbak Heidy.. Saya yang baru setahun udah galau jadi tertohok, ga ada apa-apanya dibanding yang udah ditempuh Mbak Heidy.. (tapi tahun tahun awal emang yang paling frustasi kan ya? hehe, ngeles..)

    Semoga ikhtiar Mbak mendapat balasan yg indah kelak.. Amin..

    • Aamiin YRA … terima kasih banyak Mbak untuk doanya, saya doakan ikhtiar Mbak juga diridai Allah Swt dan mendapatkan balasan yang indah. Maaf yaa lama membalas komentarnya karena baru buka sempat blog lagi.. hehe.

  20. Lagi blogwalking cari2 info soal program hamil, ketemu blog ini. Baca2 sekilas perjalanannya dan loncat ke tulisan ini.

    Kebetulan aku juga sedang trying to conceive juga, bedanya aku anak kedua. Heran anak pertama begitu mudahnya, kenapa yg kedua ini sulit sekali (si kakak udh 6,5thn).

    Tulisan ini mengingatkan aku kembali untuk selalu pasrah, ikhlas walaupun tidak melalaikan segala ikhtiar.

    Aku doakan semoga semua permasalahan Heidy diselesaikan oleh tangan Allah SWT, keikhlasan serta kesabaran kalian nantinya akan berbuah manis, semanis mimpi2 dan harapan kalian berdua. Pesanku, jangan berhenti berharap🙂 *sekalian ngomong ama kaca*

    Salam kenal yah. Btw boleh tau ga dokter yang baik hati itu siapa? Thanks

  21. Salut buat mba heidy, semoga Allah karuniakan yg terbaik buat mba Heidy & qt semua. Tulisan mba menginspirasi aq, buat aq merasa tegar. Aq sdh menikah 3 th 8 bln tp msh blm ada keturunan, lbh dr 5 dokter yg aq datangi menyatakan aq PCOS. Tgl 14 juli aq d jadwal buat inseminasi, semoga ikhtiarqu dirahmati Allah dan aq bs belajar ttg ikhlas itu.

    • Aamiin YRA, terima kasih banyak mba Fina. Aamiin juga untuk doa-doa Mba Fina.
      Maaf nih telat banget balas komennya, udah lewat sebulan .. hehe.
      Inseminasinya jadi, Mbak? Semoga sukses yaa. Semangat sabar dan ikhlas …🙂

  22. Ass, mba heidy

    salam kenal mba, boleh minta YM/ email/wa/pin bb mungkin kita senasib krn aq jg sedang menanti kehamilan yg tak kunjung dtg..penikahan ku telah mencapai usia 3 th..smg mba heidy berkenan ya..dan smg apa yg dicitakan oleh Kita dikabulkan ALLAH SWT..Amiin YRA

  23. asslm Mbak Heidy

    saya sempet nangis sendiri, waktu baca tulisannya Mbak Heidy
    Kita senasib sepenanggunngan yang samai saat ini pun belum dikaruniai keturunan.

    Semoga semangat Mbak heidy menular ke saya ya
    untuk tidak pernah berputus asa
    pernah sebel sama Tuhan, entah maksud apa sebenarnya dibalik ujian ini
    Semoga kehidupan kita berkah ya mbak

    Terima KAsih

    • alaikumsalam wr wb

      Subhanallah … terima kasih sudah mampir dan ikut berbagi di sini juga ya Mbak.
      Mohon maaf kalau balasan komentar ini basi (tapi saya sih berharap basi = Mbak skrg sudah berketurunan juga).
      Aamiin untuk doanya, semoga Allah selalu memberkahi kehidupan kita, semoga kita selalu bersemangat dalam menghadapi ujian-ujianNya dan ikhlas atas segala ketentuannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s