Kesibukan vs Kebersamaan

Waw…sudah lebih dari sebulan aku tidak mengisi blog. Terbukti bahwa kesibukan di masa akhir semester perkuliahan ternyata sukses menyita sebagian besar waktu, pikiran, dan tenagaku. Boro-boro update blog, sekadar menumpahkan curahan hati di jurnal pribadi pun tak sempat. Atau lebih parah: boro-boro menulis di jurnal, membatin tentang hal-hal yang tak berhubungan dengan perkuliahan pun nyaris tak ada waktu! Hahahhaha.

Kalau dipikir-pikir, kesibukan yang seperti itu bagus juga. Terutama untuk orang yang punya bakat sering terserang perasaan gundah atau gelisah tak menentu (atau dalam bahasa sekarang: galau!). Dan mungkin aku termasuk di dalamnya.

Dalam kehidupan pernikahanku, aku mencatat ‘penyakit’ itu sangat mengganggu ketika pada suatu masa dulu aku pernah tidak bekerja di luar rumah dan tidak punya jadwal khusus yang mengikat untuk kesibukan lainnya. Tidak ada jam kantor, kuliah, atau tenggat waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Ternyata ini bahaya untuk seorang Heidy. Memang, aku jadi punya banyak waktu ‘mendengarkan’ perasaanku sendiri dan lebih produktif dalam menulis. Namun di saat yang sama, aku jadi semakin manja. Terkait masalah hamil-nggak hamil, misalnya, aku jadi lebih terlarut merenunginya terus-menerus. Seolah aku merasa ‘berhak’ menggunakan waktu sebanyak yang kumau untuk melakukan hal tak berguna seperti itu. Lalu dalam hal komunikasi dengan suami yang waktu itu masih bekerja di pulau seberang dan pulang sebulan sekali, aku jadi lebih banyak menganggunya. Sehari bisa menelpon sampai lima kali. Sudah seperti salat wajib saja.😀

Untunglah masa-masa itu tak lama. Syukur alhamdulillah, aku dan Hamdan lebih banyak diberi kesempatan untuk memiliki kesibukan masing-masing. Sibuk bekerja, berkarya, belajar, dan sebagainya. Sibuk di kota yang berbeda, di pulau yang tak sama, bahkan sampai di negara yang jaraknya terpisah lebih dari setengah keliling bumi. Mengobrol tak harus setiap hari. Bertemu sekali dalam seminggu atau dua minggu saja pun terasa sebagai anugerah yang luar biasa.

Banyak komentar kuterima terkait kondisi kami ini. Mulai dari candaan sampai tanggapan serius.  Yang tersering dan paling membingungkanku adalah pernyataan-pernyataan penuh rasa kasihan atau waswas seperti contoh berikut.

“Kasihan amat suaminya nggak di rumah, belum punya anak, pula. Di rumah bengong sendiri, dong?” >> ASTAGA. Memangnya seorang perempuan jadi lumpuh kalau lagi nggak punya urusan yang terkait suami atau anak? Gue punya banyak kerjaan lain juga, kaleee.

“Ih kasihan banget sih ada libur tapi nggak sama suami. Nelpon juga nggak bisa? Kebersamaan suami-istrinya kurang, deh ya…”  >> Alhamdulillah kami selalu saling mendampingi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun, dst tanpa bergantung pada kuantitas tatap muka atau mengobrol!

“Kalo saling berjauhan gitu kan banyak godaan. Kalo masing-masing tergoda sama yang lain gimana? Belum ada anak, pula. Ada strategi khusus, nggak nih?” >> InsyaAllah kami saling percaya dan Allah yang Maha Menjaga. Itu cukup.

Dengan adanya siklus hari-hari saat tinggal seatap dan hari-hari saat berjauhan, aku dan Hamdan menikmati begitu banyak hal. Aku sangat terbiasa untuk sedih dan khawatir saat suamiku akan pergi, dan terbiasa pula untuk gembira berbunga-bunga menyambut kepulangannya. Begitu pula Hamdan. Setelah beberapa lama tidak bertemu, tingkahnya saat bertemu kembali denganku tak berbeda dari ekspresi antusias dan kebahagiaan sederhana seorang anak kecil. Nah, jadi di mana letak kasihannya? Bukankah kami pasangan yang sangat beruntung dan akan menjadi tak tahu diri kalau tak mensyukurinya? (Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan, hai manusia!)

Saat-saat akan berpisah dan bertemu kembali selalu menjadi momen istimewa bagi kami. Sementara itu, masa saat berjauhan di antaranya pun terasa sebagai nikmat dan berkah tersendiri. Kami tidak hanya sama-sama mendapat kesempatan untuk berdikari dan fokus berkarya di bidang masing-masing. Baik aku dan Hamdan masih bisa sering bepergian dengan teman masing-masing layaknya para gadis dan bujangan. Sebuah kesempatan yang ternyata jarang dinikmati pasutri muda lain yang sudah punya anak.

Banyak berjauhan dan punya kesibukan masing-masing tidak pernah membuatku maupun Hamdan merasa bahwa kami kurang memiliki kebersamaan. Dalam kesibukan masing-masing, sejauh apapun kami terpisah secara geografis, kami selalu merasa menemani dan ditemani satu sama lain. Dan kurasa, mungkin ini ada hubungannya dengan momen setiap akan berpisah.

“Dy hati-hati lho ya, nggak boleh mepet-mepet kalau mau pergi. Jangan buru-buru. Nggak boleh ngebut! Itu membahayakan diri sendiri dan orang lain. Nanti kalau ada….” Kutipan ini adalah contoh ucapan yang sering disampaikan Hamdan padaku sebelum kami berpisah. Bentuk kekhawatirannya yang mungkin bagi orang lain berlebihan (karena diucapkan berulang-ulang dan panjang lebar) inilah yang menjadi bekal bagiku selama berjauhan dengannya. Pesan itu membuatku merasa bahwa Hamdan selalu duduk di sampingku dan ikut menjagaku saat aku menyetir sendirian, sejauh apapun sebenarnya raga kami terpisah.

Aku, tentu saja, jauh lebih cerewet dan lebay: “Aduuh Mas mau pergi, jauh dari Dy, kok malah sakit! Minum air putih yang banyaaaak! Buah sama sayurnya dibanyakin, dong! Vitaminnya jangan lupa! Kalo bisa jangan sampe minum obat tapi kalo udah terpaksa ini udah Dy siapin lengkap..liat dosisnya..trus….blablabla….. Pokoknya harus cepet sembuuh, kalo nggak ntar Dy….dst dst…” Dan karena aku bisa memaksimalkan kemampuanku untuk mengoceh terus jika tidak dihentikan, tak ada cara lain bagi Hamdan selain berjanji memenuhi permintaanku tersebut satu per satu…hahhaha. Saat berjauhan, kami sudah sama-sama tenang. Aku tenang karena telah memberikan seribu pesan (meskipun akhirnya hanya dilaksanakan satu-dua!), sementara suamiku tenang karena melihat aku ada bersamanya melalui seperangkat bekal buah, vitamin, obat beserta tulisanku tentang  aturan-aturan konsumsinya yang ikut ‘pergi’ bersamanya.😀

Jadi, terima kasih atas perhatiannya. Tak perlu kasihan, karena kami orang-orang yang diberi nikmat. Tak perlu waswas berlebihan, karena insyaAllah kami sepenuhnya sadar atas ujian yang datang bersama nikmat itu dan menyerahkannya kembali padaNya. Kami suami istri yang selalu bersama, tak pernah terpisahkan. Ini tak ada hubungannya dengan kuantitas pertemuan fisik, karena sang hatilah yang bertugas. Anugerah terindah dari Allah SWT untuk kami sejak lima tahun lalu. Alhamdulillah

Salam bahagia,

Heidy (+Hamdan)

2 thoughts on “Kesibukan vs Kebersamaan

  1. salam kenal mbk heidy..baca cerita mbak seperti sedang mmbaca cerita saya n suami^^
    anda tidak sndiri mbak..hehee..komentar2 yg mbak tuliskn jg sya terima..
    jadi tetap smangaat n slalu brsyukur..

    o ya trimaksh atas sharingnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s