Lebaran 1434 H

Sejak menikah, lebaran kami dari tahun ke tahun identik dengan acara tidak mudik ke luar kota (segala puji bagi Allah SWT yang mengijinkan kami tinggal berdekatan dengan kedua orang tua), memilih tempat salat Ied, menghabiskan menyantap lahap ketupat dan opor masakan Ibu, menantang berkendara di gang-gang sempit demi bersilaturahim dengan keluarga besar Bapak, menjamu keluarga besar di rumah Mama-Papa, mencicipi beraneka rupa kue lebaran sampai kembung, dan oh, tentunya tak lupa, menanggapi para kerabat yang entah kapan baru bosan bertanya: “Belum isi juga?”

Semua ‘tradisi’ itu selalu terasa menyenangkan. Melelahkan, mungkin, tapi tetap menyenangkan. Sungguh. Aku tidak bohong. Bahkan untuk ‘kebiasaan’ yang terakhir kusebutkan di atas, aku sudah lama menemukan cara untuk menikmatinya, seperti yang pernah kutuliskan di cerita terdahulu yang berjudul “Sudah Isi?”. Aku sudah belajar bahwa tidak ada manfaat yang diperoleh dari mengeluhkannya (atau mengutuknya, apalagi) selain STRES. Nikmati saja semuanya, hingga benar-benar terasa nikmat… alhamdulillah.

Mari bersyukur dan temukan bahwa bahagia itu sederhana.

Lebaran 1434 H

Lebaran 1434 H

 

Kami mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1434 H bagi siapa pun yang merayakannya juga (dan membaca tulisan ini). Jika ada kekhilafan dalam berucap dan bertindak, kami mohon dimaafkan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan mudah-mudahan kita masih diijinkan bertemu dengan Ramadan berikutnya. Aamiin…

 

Salam,

Heidy (+ Hamdan)

“Sudah isi?”

Mungkin pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang paling sering didengar oleh para pasangan suami istri yang belum berketurunan DAN semakin sering terdengar di acara-acara silaturahim antar kerabat pada masa lebaran seperti sekarang ini. Setelah melalui lima kali lebaran dengan status menikah-tapi-belum-punya-anak, aku mengoleksi lebih banyak pertanyaan yang serupa tapi tak sama. Berikut beberapa ‘cuil’ contohnya.

“Belum isi juga, ya??” >> Biasanya disampaikan oleh orang yang cukup yakin aku belum hamil, namun merasa sangat butuh, penting, dan MENDESAK untuk mendapatkan kepastian! Merdeka!!

“Jadi kapan nih, momong anak juga?” >> Pertanyaan salah alamat.  Mungkin maksudnya mau bertanya pada Tuhan dan mendoakan kami, tapi tanpa sengaja ia mengucapkan isi pikirannya itu dengan suara nyaring.

“Kok belum ngasih ‘hadiah’ juga nih ke orangtua?” >> Gagal paham atas pertanyaan ini. Apa maksud si penanya, hanya ia dan Tuhan yang tahu. Daripada berprasangka buruk, biasanya aku hanya menanggapi dengan diam dan menatap lurus matanya sambil berusaha keras mengosongkan pikiran.

Tidak sedikit sesama pasutri-belum-berketurunan yang merasa kesal dengan pertanyaan-pertanyaan serupa di atas. Kurasa kalau ada semacam sayembara untuk pertanyaan paling menyebalkan bagi kami, pastilah pertanyaan ini akan menjadi juara bertahan hingga berabad-abad.

Sebenarnya aku sendiri sudah mulai terbiasa dirongrong pertanyaan-pertanyaan serupa di atas sejak beberapa tahun yang lalu. Sedih dan kesal tiap mendengarnya pernah kurasakan, tapi lama-lama memudar juga.  Aku punya cara sendiri menghadapinya.

Pertama adalah berprasangka baik kepada siapa pun yang mengajukan pertanyaan itu. Apa alasan mereka bertanya seperti itu? Tentu karena ingin tahu kabarku. Mereka peduli atau perhatian padaku, hanya saja kebetulan tidak punya banyak variasi cara untuk menunjukkannya. Sayang sekali mereka tidak mengikuti semacam kursus untuk belajar soal itu.

Kedua adalah menikmati perhatian yang diberikan.  Rasa sedih atau gelisah biasanya menyelinap begitu aku menjawab pertanyaan itu seadanya, entah dengan menggelengkan kepala atau sekadar mengucapkan “belum”. Karena itu, aku menetralisirnya dengan  malah bercerita panjang lebar. Rasanya jadi seperti menumpahkan curahan hati. Kasihan sih, pada si penanya, kalau sesungguhnya ia tidak sepeduli itu dan tidak mengharapkan jawaban yang sama sekali tidak singkat. Tapi  mari ingat poin pertama tadi: aku sudah berprasangka baik bahwa  yang bertanya memang benar-benar peduli padaku. Jadi kalau asumsi dan cek logika ini tidak benar, salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue? #edisiAADC* #eh

Dari tahun ke tahun, aku merasa pertanyaan serupa yang ditujukan padaku semakin jarang atau berkurang. Alhamdulillah. Mungkin karena semua orang sudah lebih bijaksana. Atau mungkin karena sudah bosan atau lelah bertanya. Atau mungkin kapok karena terakhir menanyakannya untuk basa-basi, malah mendapat curahan hati yang berkilo-kilometer panjangnya? Hihihi. Yang mana pun, segala puji bagi Allah SWT!

sasaran pertanyaan “Kapan nikah?” & “Kapan punya momongan?”

Dengan berkurangnya ‘teror’ kepadaku, aku jadi punya keleluasaan hati memperhatikan hal lain. Seperti yang sudah kita ketahui bersama sejak dahulu kala, pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu pun menyerang berbagai kalangan lain dalam wujud yang berbeda-beda. Misalnya, pertanyaan “Jadi kapan nih, ngirim undangan?” yang ditujukan pada adik perempuanku semata wayang yang biar kupromosikan sekalian di sini: baik hati, rajin, cantik, gemar menabung, dan tentu saja: JOMBLO.

Lalu pertanyaan sejenis pun dilontarkan pada orangtua kami. Lebih lengkap, pula. Pertanyaan “Kapan mantu lagi?” dan “Kapan menggendong cucu?” datang sekaligus. Subhanallah. Seolah mengikuti perjalanan hidup manusia, pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kepedulian itu memang tak ada habisnya.  Yang jomblo, ditanya kapan menikah. Yang sudah nikah, ditanya kapan punya momongan. Yang sudah punya anak satu, ditanya kapan ada adik untuk si kakak. Yang anaknya sudah dewasa, ditanya kapan punya menantu. Dan seterusnya, tapi anehnya, tak ada yang akhirnya bertanya, “Kapan berpulang?

Kusebut aneh, karena bukankah sebenarnya pertanyaan terakhir itu seharusnya masuk dalam ‘geng’ pertanyaan populer itu? Satu, karena kembali menghadap Sang Pencipta juga adalah bagian dari perjalanan hidup. Dua, karena jawaban untuk pertanyaan “kapan meninggal” SAMA PERSIS dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya di atas: HANYA TUHAN YANG TAHU!

Aku yakin, bersilaturahim dan peduli akan kabar kerabat yang sudah lama tak dijumpai adalah hal baik. Namun kurasa peduli itu tak selalu harus ditunjukkan. Apalagi jika sudah habis akal mencari cara untuk menunjukkannya. Kata-kata yang terlontar malah jadi mengada-ada, sia-sia, atau bahkan membawa keburukan. Untuk apa melontarkan pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabnya pada sesama manusia?  Tolong. Buat aku mengerti.

 

Salam bertanya,

Heidy

* Bagi yang kurang terpapar informasi, AADC adalah singkatan dari Ada Apa Dengan Cinta, sebuah judul film, bukan sejenis makanan. *krauk*