Cerita Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Terapi PLI

 Pemeriksaan ASA

Sejak menikah, aku berusaha untuk lebih teliti memperhatikan kesehatan organ kewanitaanku. Salah satu usahaku adalah dengan rutin melakukan pemeriksaan papsmear setiap tahunnya. Nah, sebenarnya di tahun ketiga pernikahan  aku melakukan papsmear dengan seorang dsog perempuan di klinik yang sama dengan tempatku berkonsultasi tentang masalah infertilitas pertamakalinya dulu. Eh, dia iseng…buka-buka halaman terdahulu buku catatan kesehatanku, menanyakan lama menikah, rencana kehamilan, dsb. Lalu tiba-tiba saja dia menyampaikan ‘tahap pemikiran’ yang berbeda:

  1. Bahwa subur-tidaknya seorang wanita tidak harus dilihat dari tes hormon, tapi bisa juga dilihat ketika usg, dari ukuran diameter si ovum hingga semacam kulit pembungkusnya ‘pecah’.
  2. Ada faktor lain yang lebih penting dari ‘kelemahan’ sperma, yaitu antibodi anti sperma. Antibodi yang dimaksud adalah yang terdapat dalam tubuh istri dan melakukan penolakan terhadap sperma yang masuk karena dianggap benda asing, sehingga terjadi penggumpalan-penggumpalan pada si sperma.
  3. Dengan cepat di dokter menyebutkan peluang besar melalui metode inseminasi buatan sebagai solusi dari kecepatan dan arah gerak sperma yang kurang optimal. Namun sebagai syarat, jika benar ada masalah seperti yang disebutkan di nomor (2) di atas, harus diselesaikan lebih dulu.

Usulan lain di atas baru kami tindak lanjuti ketika memasuki tahun keempat perkawinan. Dengan berbekal surat rujukan sang dokter, kami melakukan pemeriksaan Anti Sperm Antibody (ASA) di RSIA Sayyidah Pondok Kelapa yang merupakan salah satu rumah sakit unggulan imunologi reproduksi (seingatku ada beberapa rumah sakit serupa, kalau tak salah di antaranya Klinik Sam Marie di Wijaya dan RS Permata Cibubur).

Memang, belakangan kami baru tahu bahwa soal ASA sebagai salahsatu hambatan dalam berketurunan masih diperdebatkan di kalangan para dsog. Ada yang setuju, ada yang tidak sepemikiran. Kami sendiri tidak terlalu banyak memikirkannya. Meskipun masih ada perdebatan, toh masih dalam ruang lingkup medis. Pokoknya asalkan masih bisa diterima akal (bukan semacam sihir atau usaha yang mengarah ke syirik), kenapa tidak?

Ada 2 tahap dalam pemeriksaan ASA ini. Pertama adalah pengambilan sample semen (sperma suami). Yang kedua adalah pengambilan darah istri. Di laboratorium, diamati pengenceran serum darah istri atau plasma semen yang dapat menyebabkan aglutinasi spermatozoa suami. Normalnya, penggumpalan terjadi hanya pada ukuran pengenceran 1:64. Lebih dari angka 64 itu, ASA mulai dianggap tinggi. Semakin menjauh dari angka tersebut, berarti ASA semakin tinggi.

Hasil pemeriksaan ASA kami cukup…ehm, menggemparkan. Hahaha…berlebihan kali, ya. Tapi dari reaksi yang susah payah disembunyikan para dokter dan suster, dan juga perbandingan yang kudapat dengan beberapa pasien yang tak sengaja bertemu belakangan, sepertinya tidak. Mungkin sudah pernah ada sebelumnya, tapi sepertinya juaraaang sekali perempuan memiliki level ASA setinggiku, yaitu masih menyebabkan aglutinasi sperma pada pengenceran 1: 1.048.576. SATU JUTA! Padahal pasien-pasien lain sudah sedih sekali karena mencapai angka dua ribuan atau tiga puluh ribuan (yang terakhir ini ada yang menyebutnya stadium 4…lha, aku stadium berapa dong kalo gitu?) Yah, alhamdulillah, begitu ketemu denganku sepertinya mereka tampak lebih lega dan bisa mensyukuri kondisinya sendiri…hehehehe.

Ketika aku menceritakan riwayat kesehatan pribadiku, salah seorang dokter berpendapat bahwa apa yang kualami ini masuk akal. Anemia hemolisis yang pernah kuderita menunjukkan bahwa aku membawa kelainan autoimun sejak lahir (sebangsa dengan lupus, nefrotic syndrome, dll). Wajar dong, jika orang yang punya autoimun memiliki antibodi jauh di atas normal termasuk antibodi anti sperma? Kira-kira begitulah penjelasannya..

Terapi PLI untuk Menurunkan ASA 

Terapi yang harus kujalani untuk mengatasi masalah ASA yang tinggi ini adalah terapi Paternal Leucocyte Immunization atau PLI. Pertama-tama, dilakukan pemeriksaan terhadap darah suami (untuk mencegah adanya penyakit tertentu yang dapat ditularkan melalui darah). Setelah dinyatakan sehat, maka terapi PLI dapat dimulai. Terapi PLI ini sendiri berarti menyuntikkan sel darah putih ke tubuh istri, dengan tujuan kelak tubuh istri dapat ‘mengenali’ sperma yang masuk, tidak menganggapnya ‘musuh’….hehehe. Ternyata betul kaan, emang kami harus ‘pacaran’ lebih lama nih!

Pengambilan sel darah putih suami dilakukan oleh laboran di laboratorium (kami melakukannya di laboratorium RSIA Sayyidah), persis seperti cara pengambilan untuk pemeriksaan darah biasa. Setelah itu, dilakukan pemisahan sel darah putih dalam Luminar Air Flow di laboratorium selama kira-kira 1,5 jam. Darah putih ini kemudian disuntikkan ke bawah jaringan lemak istri (bukan ke pembuluh darah) oleh dokter (di RSIA Sayyidah, yang melakukannya adalah dokter umum yang sedang bertugas jaga).

Langkah di atas diambil jika penyuntikan ingin langsung dilakukan saat itu juga. Ada pilihan lain yang disebut freezing, yaitu penyimpanan sel darah putih karena belum perlu langsung disuntikkan. Ini juga pernah menjadi solusi bagi kami, karena pada suatu waktu suamiku tidak ada di Jakarta pada jadwal PLI kami. Tapi cukup sekali saja kami memilih cara ini, karena freezing ini juga tidak gratis…sekali simpan Rp 270.000! Lumayan banget, kan. Jadi lebih baik sebisa mungkin suami menyesuaikan jadwal saja deh..

Terapi PLI bisa dilakukan kapan pun, karena laboratorium buka setiap hari 24 jam, begitu pula dengan selalu adanya dokter umum yang mendapat giliran jaga. Setelah pengalaman beberapa kali, aku suka memilih waktu berdasarkan giliran jaga dokter umum….karena ada yang jago menyuntik tanpa terasa terlalu sakit olehku, sementara ada pula yang setelahnya sampai membuat kulitku seperti gosong dan pecah-pecah!

Ya, sebagai seseorang yang sudah tak terhitung menghadapi jarum suntik untuk pengambilan darah, menurutku suntik untuk PLI ini lebih nggak enak rasanya! Kalau ambil darah untuk periksa (bukan untuk donor ya) kan cuma sebentar tuh, sementara suntik PLI ini agak lebih lama rasanya, terasa panas dan sakit. Lalu bagian kulit yang telah disuntik akan kelihatan benjol, memerah…lama-lama menggelap. Benjolan biasanya hilang dalam 3 hari (tapi pernah juga sampai 2 minggu! Langsung ingat siapa nama si dokter jaga dan berusaha menghindar jangan sampai dia lagi yang menyuntik untuk PLI berikutnya!). Kadang setelah kempes, bisa muncul benjolan kecil kalau tiba-tiba alergi kita terpicu oleh suatu jenis alergen (baca soal pantangan di bawah ya). Lalu soal si warna gelap di kulit, dia juga lama banget hilangnya, jadi untuk beberapa lama aku bisa lihat noda belang di kulitku…hiks. Untuk mencegah belang bertebaran dimana-mana, setiap kali suntik aku selalu berikan tangan yang sama, kalau perlu minta suntik di titik yang sama!

area kulit yang 'mblendung' karena PLI

area kulit yang ‘mblendung’ karena PLI

Konsultan kami dalam melakukan terapi PLI ini adalah dokter spesialis andrologi. Jadi selain urusan si antibodi, ia juga menangani beberapa masalah suamiku seperti persentase sperma yang hidup serta arah dan kecepatan geraknya. Oleh sang androlog, mula-mula kami dianjurkan untuk melakukan terapi PLI sebanyak 3 kali yang masing-masing harus dilakukan dengan jarak 3-4 minggu dan biayanya cukup menguras kantong (PLI I kami harus membayar Rp 850.000, PLI II & III masing-masing Rp 800.000, lalu PLI IV hingga sekarang masing-masing Rp 750.000)!

Setelah beberapa kali melakukan PLI dan mengobrol dengan lebih banyak dokter, suster, juga pasien lainnya, aku pun tahu….kecil kemungkinan aku hanya harus melakukan 3 kali terapi PLI. Dari beberapa kasus sebelumku, yang level ASAnya tidak setinggiku, bisa sampai melakukan 9 kali terapi! Bikin sedih, ya.

Yah, mengingat pengalaman-pengalaman batin sebelumnya, kali ini aku dan suami pun bertekad untuk tidak terlalu memikirkannya. Secara rutin kami terus melakukan terapi PLI ini, sambil terus menikmati pacaran…

Beberapa Pantangan Selama PLI

Oya, beberapa tambahan informasi, nih. Selagi menjalani PLI ini, ada beberapa jenis makanan dan non-makan yang harus dihindari oleh sang istri, yaitu yang menimbulkan reaksi alergi. Pada tiap orang, jenisnya berbeda-beda. Pernah dengar kan, ada yang alergi udang, telur, debu, bulu kucing, dsb. Nah, alergen-alergen ini sangat dianjurkan untuk dihindari karena masukan alergen ke dalam tubuh juga bisa memicu peningkatan antibodi.

Jenis makanan dan bukan makanan yang dapat memicu alergi ini dapat diketahui dari tes alergi terhadap kulit (sampel cair dari suatu zat ditusukkan ke permukaan kulit). Tingkat alergi dinyatakan dengan nilai 1, 2, 3, 4, 5 (mulai dari level terendah hingga tertinggi). Berikut adalah jenis alergen makanan yang dapat dites: bandeng, udang, kakap, kepiting, cumi-cumi, tongkol, kerang, putih telur, kuning telur, ayam, susu sapi, kacang tanang, kacang mete, kedelai, tomat, wortel, nanas, cokelat, teh, kopi, dan gandung. Sementara alergen yang bukan makanan adalah debu, tungau, serpih kulit manusia (waduh!), tepung sari rumput, tepung sari padi, tepung sari jagung, tepung sari jamur, kecoa, buku kuda, bulu kucing, bulu anjing, dan bulu ayam.

Menurut salah satu dokter, jenis-jenis alergen di atas hanyalah yang kebetulan sudah dapat diperiksakan. Pada kenyataannya, bisa saja di luar dari yang disebutkan itu masih ada yang dapat memicu alergen kita. Hanya kebetulan mungkin belum ditemukan bagaimana cara mengetesnya selain dengan pengamatan sehari-hari (mungkin contohnya seperti hawa dingin gitu kali ya…)

Salah satu pantangan tersulit!

Salah satu pantangan tersulit!

Di sinilah tantangan lainnya. Sejak tes alergi itu, dengan resmi aku menjauhi banyak jenis makanan, yang sayangnya, kebanyakan di antaranya adalah kesukaanku…hiks! Jadi ternyata, makanan yang menjadi alergenku (mulai dari yang terberat): kopi, teh, daging ayam, kuning telur, putih telur, susu sapi, gandung, ikan bandeng. Sementara itu, alergenku yang bukan makanan adalah tungau, bulu kucing, dan bulu kuda. Hiee….hahaa jadi jangan salah paham kalau aku jauh-jauh dari kucing atau kuda, ya. Aku tidak takut, tapi dilarang!

Lalu terakhir, sebenarnya ada yang lebih penting dari alergen makanan dan non makanan di atas, namun dengan bodohnya aku dan suami sempat tidak mematuhinya karena penjelasan yang kurang jelas hingga menyebabkan salah pengertian. Jadi ternyata, hingga level ASA normal, untuk mendukung terapi PLI sebaiknya istri menghindari paparan sperma secara langsung (salah satu saran: gunakan kondom)! Dengan kata lain, memang kemungkinan hamil pun dengan sengaja diperkecil lebih dulu hingga target level maksimum antibodi tercapai (tepatnya positif pada pengenceran 1:64).

Menurut sang androlog, tindakan menghindari paparan sperma itu adalah bagian dari terapi penurunan antibodi anti sperma itu sendiri. Penurunan si antibodi akan lebih lambat/sulit jika dalam prosesnya (dengan kata lain belum sampai target), sudah ‘ditantang’ oleh paparan sperma yang menaikkan kembali antibodi tersebut. Benar saja, hal ini terbukti dalam pengalaman kami. Begitu menuruti aturan ini, penurunan ASA-ku pun lebih cepat.

Langkah Berikutnya

Level ASA-ku sudah hampir mendekati normal setelah melakukan 9x terapi PLI. Diperkirakan oleh sang androlog, dengan 1x lagi terapi, level ASA-ku sudah benar-benar normal. Namun setelah normal pun, terapi PLI tetap dianjurkan untuk dilanjutkan bahkan jika sudah hamil sampai trimester pertama sebagai terapi pemeliharaan yang berjeda 6-8 minggu (lebih jarang daripada terapi penurunan: 3-4 minggu sekali).

Ketika tulisan ini dibuat, aku sudah melakukan 13 kali PLI. Yap..tigabelas!! Dokter dan suster yang melayani PLI ke-13 pun agak kurang sopan, menunjukkan ketidakpercayaannya yang seperti setengah menertawakan juga (apa maksudnya belum pernah ada pasangan ‘serajin’ kami melakukan terapi ini??)

Seperti yang sudah kusinggung sedikit di atas, beberapa dokter kandungan terutama yang menangani sub bidang fertilitas masih berbeda pendapat terhadap pelaksanaan terapi PLI ini. Ada yang mengatakan perlu, ada yang tidak. Setelah PLI ke-13 kami dan kehamilan belum juga terjadi, kami pun memutuskan untuk ‘berganti’ dokter (dsog), meskipun belum memutuskan sampai kapan kami menuruti anjuran sang androlog untuk terus melakukan terapi PLI ini.

Oya. Tulisan ini khusus menceritakan pengalamanku soal Terapi PLI yang sampai saat tulisan ini ditulis, sudah kami jalani selama setahun lebih. Sebenarnya selama melakukan terapi ini, terjadi pula beberapa hal lain yang masih terkait dengan rencana kehamilan. Berikutnya, aku akan bercerita tentang Inseminasi Buatan yang juga kami lakukan di tahun ke-4 pernikahan kami ini.

Salam,

Heidy

Iklan