Lebaran 1434 H

Sejak menikah, lebaran kami dari tahun ke tahun identik dengan acara tidak mudik ke luar kota (segala puji bagi Allah SWT yang mengijinkan kami tinggal berdekatan dengan kedua orang tua), memilih tempat salat Ied, menghabiskan menyantap lahap ketupat dan opor masakan Ibu, menantang berkendara di gang-gang sempit demi bersilaturahim dengan keluarga besar Bapak, menjamu keluarga besar di rumah Mama-Papa, mencicipi beraneka rupa kue lebaran sampai kembung, dan oh, tentunya tak lupa, menanggapi para kerabat yang entah kapan baru bosan bertanya: “Belum isi juga?”

Semua ‘tradisi’ itu selalu terasa menyenangkan. Melelahkan, mungkin, tapi tetap menyenangkan. Sungguh. Aku tidak bohong. Bahkan untuk ‘kebiasaan’ yang terakhir kusebutkan di atas, aku sudah lama menemukan cara untuk menikmatinya, seperti yang pernah kutuliskan di cerita terdahulu yang berjudul “Sudah Isi?”. Aku sudah belajar bahwa tidak ada manfaat yang diperoleh dari mengeluhkannya (atau mengutuknya, apalagi) selain STRES. Nikmati saja semuanya, hingga benar-benar terasa nikmat… alhamdulillah.

Mari bersyukur dan temukan bahwa bahagia itu sederhana.

Lebaran 1434 H

Lebaran 1434 H

 

Kami mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1434 H bagi siapa pun yang merayakannya juga (dan membaca tulisan ini). Jika ada kekhilafan dalam berucap dan bertindak, kami mohon dimaafkan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan mudah-mudahan kita masih diijinkan bertemu dengan Ramadan berikutnya. Aamiin…

 

Salam,

Heidy (+ Hamdan)

Iklan

Idul Fitri 1433 H

Idul Fitri tahun ini adalah Idul Fitri yang kelima bagi kami sejak menikah, meskipun baru tiga di antaranya yang benar-benar kami lalui bersama-sama, berkat pekerjaan Hamdan selama ini yang memang tidak kenal hari libur umum apapun! Kalau tanggal merah di kalender itu adalah hari gilirannya bekerja berdasarkan hitungan jatah on-off, yaa tak ada kata libur. Kalau hari libur itu bertepatan dengan jatah off-nya dan ada rekan yang bisa menggantikannya, berarti itu REJEKI!

Kalau tak salah, sampai dua kali Idul Fitri setelah menikah, Hamdan selalu bisa pulang, alhamdulillah. Ibu (mertua) sampai terheran-heran. Menurutnya, sejak bekerja dan sebelum menikah, tidak sekalipun ia pernah bisa lebaran di rumah. Yah, mungkin itu salah salah satu berkah menikah ya, bu… 😀

Lalu akhirnya aku mencicipi juga rasa berjauhan dengan suami saat lebaran. Huweee….ndak enak ya, ternyata! Kondisiku sendiri sih lumayan karena masih dikelilingi keluarga. Yang sedih ya membayangkan Hamdan yang tetap bekerja di tengah laut di hari raya itu 😦

Alhamdulillah tahun ini, dan mudah-mudahan pula bertahun-tahun berikutnya, kami bisa berlebaran bersama-sama lagi. Yeay! Ini hal yang penting sekali untuk disyukuri, kaan?

bersama sebagian anggota keluarga besar Ibu

bersama sebagian anggota keluarga besar Mama

Selamat Idul Fitri 1433H bagi siapapun yang merayakannya (dan membaca tulisan ini)! Semoga seluruh amalan kita diterima Allah SWT dan kita benar-benar kembali fitri, siap menjadi manusia-manusia yang lebih baik. Aamiin.

Salam lebaran.

Heidy (+Hamdan)