Andalan untuk Santapan Keluarga

Rasanya baru kemarin kita bersiap-siap menyambut bulan suci Ramadan. Tiba-tiba kini tinggal beberapa hari lagi saja yang tersisa menuju lebaran. Tidak sedikit keluarga yang sudah mulai sibuk bersiap-siap menyambut hari besar itu.

Salah satu hal yang lazim dipersiapkan dengan serius oleh keluarga-keluarga muslim untuk memeriahkan hari raya adalah menu hidangan istimewa untuk santapan keluarga maupun para tamu. Sebenarnya, aku merasa tidak pantas membahas resep masakan andalan di hari spesial ini. Bukankah biasanya ini bahasan para ibu yang jago dan gemar memasak? Nah … aku sendiri cukup yakin tidak masuk dalam dua kategori tersebut.

Sejak dahulu, aku memandang kegiatan memasak hanya sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup. Karena setiap manusia pasti butuh makan dan belum tentu kita dapat membeli makanan siap saji kapan pun dan di mana pun, kemampuan untuk dapat memasak memang penting dimiliki semua orang. Perhatikanlah pilihan kataku: kemampuan, bukan keahlian.

Bagiku, tujuan memasak adalah menghadirkan makanan yang siap disantap untuk memasukkan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Memasak bagiku bukan untuk memanjakan lidah, mengisi waktu luang, atau bahkan mengasah kreativitas. Biarkanlah para koki atau pengusaha kuliner yang melakukannya. Sementara itu, biarkanlah aku tetap memegang prinsipku jika masuk ke dapur: jangan repot-repot dan jangan lama-lama.

Kenalkan, aku salah satu makhluk pecinta kepraktisan. Kalau ada yang lebih mudah, kenapa harus memilih yang sulit? Kira-kira itulah salah satu semboyanku sepanjang hidup. Namun, ada kemungkinan bahwa definisi praktis yang kumaksud tidak sama dengan yang diyakini banyak orang. Selain tidak sulit dan lama dipersiapkan (jenis masakan yang paling sering kuciptakan: one pot meal!), hidangan praktis bagiku berarti tidak menimbulkan kerepotan yang lebih banyak lagi.

Meninggalkan banyak perlengkapan kotor serta kompor dan dinding yang belepotan minyak adalah contoh kerepotan yang kumaksud. Oh, ditambah satu lagi kerepotan jangka panjang yang paling tak ingin kuhadapi: menimbulkan penyakit. Maka, otomatis goreng-menggoreng (deep fry) tidak pernah masuk ke dalam kategori hidangan praktis versiku. Sudah pun lama dan membosankan (kita harus berdiri menungguinya kalau tidak mau gosong, bukan?), repot pula kita membereskan bekas-bekas minyaknya, baik yang tertinggal di dapur maupun yang masuk ke dalam tubuh.

Kerepotan lain yang juga tak kusukai adalah timbulan sampah. Sejak berusaha menghilangkan kebiasaan menyumbang sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), kami hampir tidak memiliki tempat sampah di rumah. Kami memilah, membersihkan, menyimpan, dan menimbun sampah-sampah kemasan sebelum menyetorkannya ke bank sampah sekitar empat bulan sekali. Kebiasaan ini pun berdampak pada keengganan kami untuk sering memesan makanan siap santap. Di mana letak praktisnya jika setelah kenyang makan, belakangan kami mendapat banyak tugas tambahan mengurusi plastik-plastik atau jenis bungkus lainnya itu?

Jangan salah … ini bukan berarti kami benar-benar tidak pernah jajan. Sesekali kami masih menjadi pelanggan dari bapak tukang roti atau ibu penjual masakan matang rumahan yang masuk ke kompleks perumahan kami untuk menjajakan dagangannya. Keduanya menjadi pedagang favorit kami karena mampu memenuhi pesananan khusus kami: membawa produk dagangannya dalam wadah yang kami titipkan sebelumnya. Nah, yang seperti ini baru benar-benar praktis … tinggal makan dan tidak ada PR mengurusi sampah kemasan!

Jajan Boleh, Nyampah Jangan

Si ibu penjual masakan rumahan bahkan dengan senang hati menyesuaikan masakannya agar dapat disantap oleh Anya, anak bungsuku yang alergi terhadap puluhan macam bahan makanan. Masih kuingat jelas tahun lalu ketika ia menawarkan membuatkan ketupat dan opor untuk lebaran. Kubekali ia dengan beras organik, garam gunung, dan daftar alergen Anya (ia sudah hafal sebenarnya, tetapi kuputuskan tetap memberikannya sebagai catatan pengingat).

Sebagai orang yang tidak terlalu menggemari kegiatan memasak, kurasa aku pun cukup tahu diri dan tidak rewel dalam menuntut cita rasa khusus pada suatu makanan. Biasanya komentarku terhadap tiap makanan yang kucicipi hanya dibedakan atas dua jenis: enak atau enak sekali. Oleh karena itu, begitu ditetapkan bahwa tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah resep masakan andalan di hari besar, aku tak berniat mengulik resep opor yang dibuatkan si ibu penjual masakan rumahan tadi, misalnya. Hidangan itu hanya satu dari sekian masakan enak yang ada di sekitarku. Karena bukan buatanku sendiri, aku tak terpikir membagikan suatu kisah yang cukup menarik di baliknya. Biarkanlah si ibu itu saja yang kapan-kapan menceritakannya, ya … siapa tahu ada drama perjuangan membeli bahan-bahan dan proses di dapurnya … itu juga kalau dia mau.

Bagian dari ITB Motherhood dan Suka Ngeblog? Yuk, ikut MGN!

Jadi, kini aku bertekad membagikan resep masakan andalanku sendiri. Harap tidak membandingkannya dengan masakan restoran, yaa. Meskipun masakan ini begitu matang selalu laris manis diserbu seluruh keluargaku, sebenarnya hal yang paling kuandalkan bukan cita rasanya, melainkan lagi-lagi … kepraktisannya.  Hidup masak praktis!

Sebetulnya, resep yang akan kubagikan ini hanya merupakan salah satu varian dari kategori besar resep andalanku: nasi panggang. Seperti halnya ada banyak varian rasa untuk mi instan atau selai olesan roti, nasi panggang dapat dibuat dalam beragam wujud. Yang membedakan hanyalah topping atau bahan taburannya. Kita dapat berkreasi dengan bahan-bahan lain berdasarkan padu padan jenis nutrisi, warna, dan tentu saja: bahan apa pun yang sedang tersedia di kulkas.

Mungkin, karena faktor bahan yang selalu bervariasi itulah, anak-anakku tidak pernah tidak antusias tiap kali melihat hidangan nasi panggang di atas meja. Mereka bahkan sudah gembira sebelum mencicipinya karena biasanya tertarik pada penampilannya. Nah, ternyata bukan hanya desainer yang harus menguasai keterampilan padu padan warna.  

Dalam resep berikut, unsur yang menarik perhatian anak-anak adalah pertemuan warna hijau brokoli yang segar dengan hitam-putih jamur di atas nasi merah-putih.

Judul Resep: Nasi Panggang Jamur Brokoli

Bahan (untuk 4-5 porsi):
  • 4 porsi nasi (campuran beras merah dan putih) yang agak lembek, tidak pera
  • 3 butir telur
  • 1 bonggol brokoli
  • 100 gram jamur champignon
  • 1/4 buah bawang bombay
  • 1/8 blok keju mozzarella
  • 1/2 sendok teh garam
  • 4 sendok makan minyak goreng
  • 1 mangkuk air panas dengan sejumput garam
Cara membuat:
  1. Potong-potong jamur dan brokoli, lalu rendam di dalam mangkuk air panas bergaram untuk menghilangkan ulat dan kuman-kuman.
  2. Cincang bawang bombay dan keju mozzarella.
  3. Panaskan oven hingga temperaturnya mencapai 180°C.
  4. Tuang minyak ke dalam pinggan tahan panas (saya pakai pinggan kaca) dan ratakan hingga semua dindingnya terolesi dengan minyak.
  5. Masukkan nasi ke pinggan dan ratakan permukaannya.
  6. Tiriskan jamur dan brokoli, lalu atur di atas permukaan nasi.
  7. Kocok telur dan siram ke atas nasi yang telah bertaburkan bahan-bahan lainnya.
  8. Tambahkan bawang bombay, keju, dan garam.
  9. Masukkan pinggan ke dalam oven.
  10. Panggang selama 20 menit.
Penampakan Nasi Panggang Jamur Brokoli

Kembali pada masalah kepraktisan yang kuagungkan, resep ini (juga varian nasi panggang lainnya) unggul dalam banyak hal:
  • tidak memerlukan bahan yang sulit ditemukan (kalau tidak ada, dapat diganti),
  • tidak membutuhkan banyak perlengkapan yang meninggalkan segunung PR cucian piring,
  • tidak mensyaratkan aksi-aksi yang rumit dan panjang dalam mengolah berbagai bahannya (hanya potong-potong, tidak ada acara ulek-mengulek bumbu),
  • tidak mewajibkan penggunaan bahan pokok baru, malah dapat diandalkan sebagai resep penyelamat nasi sisa kemarin (nasi yang sudah benyek paling cocok disulap menjadi nasi panggang!),
  • tidak memakan waktu yang lama untuk memasaknya: total waktu 30 menit, tetapi sebenarnya aku hanya perlu di dapur selama 10 menit dan 20 menit sisanya tentu kubiarkan sang oven bekerja sendiri (ngapain juga ditemenin?).
Selain itu, terkait dengan fungsi sebagai masakan spesial di hari besar, resep ini dapat diandalkan karena:
  • menjadi variasi makanan yang sehat, dapat menyeimbangkan masakan khas lebaran yang umumnya mengandung daging dan lemak,
  • dimasak dalam pinggan khusus yang sekaligus langsung dapat menjadi mangkuk saji yang cantik dan pantas menjadi bagian dari tampilan jamuan di meja makan untuk tamu,
  • seru dijadikan tema kegiatan memasak bersama anak-anak atau anggota keluarga lainnya,
  • keunggulan dalam kepraktisannya yang telah disebutkan di atas dapat meringankan beban kesibukan selama berlebaran.
Anya dan Nasi Panggang yang Disiapkannya

Nah … bagaimana? Tertarik untuk mencoba? Nanti bagikan cerita recook-mu, ya!

Selamat memaksimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadan dan selamat bersiap menyambut Idulfitri!

Salam,

Heidy Kaeni

5 komentar di “Andalan untuk Santapan Keluarga

  1. Wah jadi pengen coba resepnya, tampak gampang dan mudah krn bisa pakai topping apapun 🤤 btw teh, bombay ditata di atas nasi bersama brokoli dan jamur kan ya? Soalnya ga disebut bombaynya 😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s