Ramadan & Gentle Toilet Training

Momen memasuki Ramadan tidak hanya mengingatkan saya pada maaf-maafan, tetapi juga pada toilet training (TT) Anya yang pertama kali saya mulai pada Ramadan tahun lalu, setelah berbulan-bulan menundanya karena sejuta alasan dan pada akhirnya dikuatkan oleh tekad hamba Alloh yang sedang berpuasa. 😂

Saya sebenarnya tidak menargetkan anak balita saya harus lulus dalam sekian hari. Satu-satunya harapan saya hanyalah ia bisa melalui ‘pelatihan’ tersebut tanpa trauma dan tidak membenci ibunya yang parnoan .. haha. Oleh karena itu, beberapa minggu sebelum memulai TT, saya sibuk melengkapi perbekalan. Bukan hanya training pants, melainkan juga buku-buku tentang toilet training. Salah satunya adalah buku ini.

GENTLE POTTY TRAINING
oleh Sarah Ockwell-Smith

IMG_20180605_063426

Untuk melakukan Gentle Potty Training, kita perlu memahami terlebih dahulu ilmu biologi yang berhubungan dengan sistem seksresi.

Proses Buang Air Kecil (BAK)
Ketika kandung kemih penuh, dikirim sinyal ke sistem syaraf yang kemudian mengaturnya otot agar mengeluarkan urin. Proses BAK ini adalah respons kombinasi antara sistem syaraf yang mengatur proses tubuh yang tidak disadari seperti pencernaan dan sistem syaraf pusat (yang terdiri atas otak dan tulang belakang).

Kontrol kandung kemih meningkat seiring dengan pertambahan usia dan kematangan hubungan syaraf-syaraf di otak. Inilah mengapa pada bayi, proses BAK cenderung belum dapat terkontrol, seperti halnya gerakan-gerakan mereka. Pada anak batita, sistem syaraf yg lebih matang memungkinkan mereka untuk menerima dan mengirimkan pesan ke kandung kemih untuk mencegah urin keluar sebelum bertemu toilet.

Proses BAK siang dan malam berbeda, berkaitan dengan jam biologis manusia. Pada malam hari, kegelapan yang dideteksi sistem optik mata yang mengirimkan sinyal ke otak salah satunya menyebabkan peningkatan hormon anti-diuretic (ADH) sehingga tubuh menyerap lebih banyak air dan lebih sedikit memproduksi urin. Semakin bertambah usia manusia, jam biologisnya semakin dewasa dan mempengaruhi level produksi ADH. Penelitian menunjukkan bahwa produksi ADH orang dewasa kurang lebih sama dengan anak yang berusia 3 tahun ke atas.

Tanda kesiapan setiap anak untuk memulai toilet training (TT) berbeda-beda, seperti halnya tahap perkembangan tiap anak yg unik. Tanda yang perlu diperhatikan (cukup temukan 1-2 tanda di antara semua ini untuk peluang sukses TT yg lebih tinggi):
– anak mulai malu buang air besar (BAB) di depan orang lain (sembunyi-sembunyi);
– anak mulai dapat berpakaian dan melepaskannya sendiri, atau dengan bantuan yg sangat sedikit dari orang dewasa;
– anak mulai dapat menyampaikan secara verbal kondisi tubuhnya, mis: ‘panas’, ‘lapar’, dll;
– kadang-kadang anak mengatakan ingin ke toilet sebelum benar-benar melakukannya;
– anak dapat mengikuti 2-3 instruksi yang berurutan;
– kadang-kadang anak meminta agar popoknya diganti atau mengambil popok baru;
– popoknya cenderung kering selama tidur siang;
– popoknya dapat kering selama 2 jam atau lebih.

Persiapan Toilet Trainig
Versi penulis ditulis sesuai latar lokasi (rumah) dan budaya barat, misalnya menyiapkan pispot di tengah rumah, peralihan pemakaian tisu basah ke kering, nyiapin pembersih karpet/lantai kayu, menyetok penghangat  kaki, dan lain-lain. Yang kurang sesuai dgn kami adalah yg berkaitan dengan:
– adab toilet dalam Islam (harus pakai air dan di dalam toilet, tdk boleh di tengah2 rumah yg terbuka dan bisa terlihat siapapun);
– rumah kami tak berkarpet atau berlantai kayu, jadi cukup nyetok kain pel yg banyak;
– kita tinggal di daerah tropis, tak perlu penghangat kaki (dan ini maksud si penulis adalah hari-hari pertama anak biarkan telanjang bagian kemaluannya, cukup pakai penghangat kaki … Jadi kurang cocok juga menurut saya dengan adab dalam Islam utk menutup aurat).

Tips yg bisa saya pakai atau dimodifikasi utk Anya:
– menyiapkan baju terusan atau rok supaya gampang melorotin/narik ke atas,
– menyiapkan pispot di toilet dgn pintu yg mudah didorong atau tidak ditutup rapat;
– membeli cairan antiseptik dalam kemasan besar dan banyak kain pel;
– membeli training pants d  travel toilet (walau telatt bgt datangnya, hiks);
–  memakai kembali wetbag dan clodi zaman Anya bayi dulu utk dipakai pergi-pergi.

Memulai Toilet Training
Yang perlu dinanti-nantikan di hari pertama: pipis berceceran di mana-mana. Siapkan mental dan fisik yang mantap, jangan mulai saat sakit, nggak ada suami/prt/dll, pindahan, dsb. Pada Anya, saya melakukannya setelah setengah tahun saya terbiasa tidak lagi memakai pembantu, sudah selesai pindahan, daaan saat suami libur (Sabtu-Minggu). TT berarti anak sedang belajar, dan percayalahlah kalau sudah waktunya, mereka pasti bisa. Yang perlu hati-hati justru bagaimana orang tuanya merespons. Saat pipis keluar di toilet maupun di lantai, anak sama-sama belajar: belajar memerhatikan tubuhnya, kondisi yg berbeda, dll. Mereka sedang belajar mengira-ngira kemampuan mengontrol kandung kemih dan sebagainya. Oleh karena itu, JANGAN marah atau mengejek saat mereka belum berhasil ke toilet pada waktunya (sudah keburu ngompol) atau saat sudah ke toilet tapi tidak juga keluar pipis atau pupnya. Pada saat itu pun, mereka sedang belajar … belajar mendengarkan alarm tubuhnya sendiri. Jangan kita kacaukan. Pemberian hadiah setiap berhasil pipis/pup pun sangat tidak dianjurkan karena:
– tidak alami (kita setelah dewasa juga tak akan dapat hadiah karena berhasil pipis/pup, kan?);
– saat tidak berhasil dan tidak dapat hadiah, anak dapat mengartikannya sebagai hukuman.

Resume buku ini saya awalnya saya tulis untuk teman-teman yang juga tertarik pada buku ini, tetapi mungkin kegiatannya sedang lebih padat daripada saya waktu itu sehingga tidak memiliki banyak waktu dan energi untuk membaca buku berbahasa asing, hehe. Berhubung saya memang bahagia kalau disuruh menulis, saya tulislah ini, tetapi dibagikan untuk teman-teman dekat saja. Namun ternyata, hingga belakangan ini, banyak yang ingin membacanya juga. Terlebih saat mendengar TT Anya hanya berlangsung dua hari.

Nah, mungkin saya perlu menjelaskan lebih lengkap di sini. Dari secuil pengalaman sejak menjadi ibu, saya melihat dan akhirnya meyakini bahwa perilaku anak tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan dan tindakan orang tuanya. Ada sifat dan karakter bawaan. Ingatlah faktor keunikan, keberuntungan, serta keberkahan di baliknya. Anak Anda pasti berbeda dengan anak saya (bisa sedikit atau banyaaak perbedaannya) karena Tuhan menciptakan setiap anak sebagai individu yang khas. Silakan gunakan cerita saya ini sebagai tambahan masukan saja. Sisihkanlah keburukan dan ketidakcocokannya. Semoga saja masih tersisa kebaikan dan kecocokan yang dapat terpakai dan bermanfaat. Selamat berjuang dan semangaat!

Oh ya, selamat memasuki bulan Ramadan bagi yang saudara-saudara kami yang merayakan. Mohon maafkan kesalahan lahir dan batin kami. Semoga Ramadan kita tahun ini diberkahi Allah Swt. dan lebih baik daripada tahun sebelumnya.💟🙏

Salam,
@heidykaeni bunda Anya

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s