Ibu Tersayang

Dua hari yang lalu, aku mengobrol dengan Ibu (sebutanku untuk ibu mertua) lewat telepon. Yah, memang sih, sebenarnya  jarak rumah kami tidak terlalu jauh, tapi tidak terlalu dekat juga dan kesibukanku belakangan ini membuatku tidak sempat mengunjunginya dalam seminggu terakhir.

Ibu menanyakan kabarku dan Hamdan, lalu ‘lapor’ bahwa siang harinya baru pergi ke berobat ke healer langganan kami yang hanya datang sebulan sekali ke Jakarta. Kemudian pembicaraan berlanjut kemana-mana. Tentu saja yang paling asyik adalah berangkat dari pembicaraan tentang anaknya alias suamiku, disusul diskusi yang mengharu biru seputar doa, salat, sedekah, dan berkah. Oya, ada juga sekilas tentang asisten rumah tangga. Hmm…lalu apa lagi ya? Aku lupa. Yang jelas, hampir satu jam lamanya kami mengobrol!

Usai mengobrol dengan Ibu, aku langsung menghubungi Hamdan di Bandung dan meng’interogasi’nya: kapan terakhir menelepon Ibu. Meski Ibu tak akan pernah bilang, tapi aku bisa merasakan dari kata-katanya bahwa Ibu sedang rindu dan terpikir tentang anaknya yang sudah seminggu lebih tak bertemu dengannya. Memang, bukan pertamakalinya aku menangkap hal ini. Sewaktu suamiku masih bekerja di lepas pantai selama berminggu-minggu dulu, tentu saja aku lebih gelisah setiap Ibu menanyakan anaknya.

Pernah aku berkata akan meminta Hamdan menelepon, Ibu malah protes: “Jangan! Biar aja, kasihan lagi kerja jangan diganggu-ganggu. Ibu cuma nanya aja, yang penting sehat, kan?” Dan kemarin lusa, kata-katanya pun masih setali tiga uang, “Kasihan, lagi ujian. Biarin lagi konsentrasi belajar. Yang penting sehat, kan?”

“Masa’ Ibu lebih deket ke Dy (aku) daripada ke anaknya sendiri. Sampe nanyain kabar anaknya sendiri juga ke Dy,” protesku  pada Hamdan.

“Lho ya bagus, dong? Kan Dy juga udah jadi anak Ibu,” jawab suamiku santai, tanpa mau repot-repot menjanjikan atau memberitahuku kapan akan menghubungi Ibu lagi (meskipun ternyata langsung dilakukannya), membiarkanku gelisah sendirian.

***

Ibu. Pertama kali aku mengenal beliau adalah tak lama setelah Hamdan melamarku secara pribadi. Waktu itu aku diajak Hamdan ke rumahnya (rumah Ibu) dan beliaulah yang pertamakali kutemui. Layaknya umumnya perempuan, seperti juga aku, Ibu senang mengobrol dan aku langsung diajaknya bercerita. Percakapan kami berangkat dari A, merambat kemana-mana, lalu berujung di Z. Aku jadi langsung mengenal banyak tentangnya dari pertemuan pertama itu. Meskipun Ibu tidak berbicara tentang dirinya sendiri, tapi dari obrolan itu aku jadi memahami bagaimana cara pandang dan sikapnya atas berbagai hal. Dan aku pun langsung jatuh cinta.

Ibu dan kesederhanaannya. Itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.  Beliau sederhana dalam berpikir dan bertindak. Mungkin itu hal yang sangat berbeda dariku sehingga membuatku terkagum-kagum. Sungguh menyejukkan dan menentramkan hati saat mengobrol dengannya. Tak jarang dalam hati aku menjadi malu atau menertawakan diri sendiri: “….gitu aja kok repot, ngapain mikir yang ribet-ribet…contoh nih Ibu yang nggak aneh-aneh, hidupnya indah damai sentosa!”

Itulah juga, yang kukatakan pada Hamdan, salah satu alasan yang semakin memperkuat keyakinanku dulu untuk membangun keluarga  dengannya. Ia dibesarkan oleh asuhan tangan seorang ibu yang begitu bersahaja. Karena itu, kuyakini ia mewarisi begitu banyak kebaikan dalam dirinya. Dan sejauh ini, ternyata keyakinan itu tak salah. Semakin bertambahnya usia perkawinan kami, semakin banyak kulihat kebaikan dalam diri suamiku yang membuatku semakin mengagumi dan mengidolakannya. Pada saat yang sama, aku semakin bersyukur pada Allah SWT yang telah menjadikan kami berpasangan dan berterimakasih pada Ibu. Kalau bukan karena Ibu, belum tentu ada laki-laki seistimewa ini di sisiku.

Salah satu yang diajarkan agamaku adalah mengutamakan ibu. Bahkan setiap laki-laki diwajibkan untuk mendahulukan ibunya  (sebelum sang istri). Mungkin hal inilah yang sering menjadi masalah pada beberapa keluarga. Hubungan ibu dan istri tidak harmonis, lalu sang suami tercabik antara kewajiban mengutamakan ibunya atau membela istrinya.  Mengingat hal ini, aku jadi semakin bersyukur atas hubunganku dengan Ibu yang cukup baik. Ternyata keharmonisan hubungan itu sangat penting demi ketentraman hati suamiku, yang kemudian tentu saja juga membawa kebahagiaan bagi kami sendiri sebagai suami istri. Hmm…mungkin karena inilah Hamdan terlalu santai tiap kali aku mengomelinya agar ia lebih sering menelepon Ibu. Melihat hubunganku dengan Ibu yang cukup mesra, tentram sudah hatinya!

Ibumu, ibumu, ibumu. Itu yang sesering mungkin kukatakan pada Hamdan, mengingatkannya agar mendahulukan untuk memperhatikan ibunya. Alasannya adalah karena apa yang kusampaikan di atas. Karena berkat Ibulah, suamiku menjadi seseorang yang memiliki segala kebaikan dalam dirinya saat ini. Karena kebahagiaan Ibu bukannya ‘mencuri’ kesempatan kami untuk berbahagia, malah sebaliknya: mendatangkan kebahagiaan yang berlipat. Lalu karena rida Ibu menjadi jalan meraih rida Ilahi, yang kemudian mendatangkan berkah melimpah.

Bagiku sendiri, menjalin hubungan yang harmonis dengan ibu mertua bukan hanya karena kewajiban dan meminta suami untuk mendahulukan ibunya pun sungguh sama sekali bukan sejenis pengorbanan atau ‘sikap mengalah’. Ini untukku juga, demi kebahagiaan kami sendiri sebagai suami istri, dan sebentuk kecil terimakasihku kepada Ibu. Terimakasih, Ibu. Aku sangat menyayangimu :’)

Salam berbagi,

Heidy

4 thoughts on “Ibu Tersayang

  1. Membaca cerita mbk heydy, jd mengingatkan saya akan almarhumah ibu saya, saya jg berandai-andai bagaimana tanggapan beliau kalo ketemu dg saya dan istri. Saya termasuk orang yang kurang beruntung karena disamping sudah tidak mempunyai ibu, saya jg tdk sempat bertemu dg almarhumah mertua perempuan saya. Istri saya sering kali “nyeletuk” coba yah klo adek msih punya ibu, pasti beliau dapat merasakan apa yg skrg qt alami. Perlu mbk heydi ketahui bahwa saya dan isteri telah menikah > 6 tahun, tapi sampe sekarang kami jg msh belum mendapatkan kepercayaan untuk memiliki keturunan. Mudah2an ini menjadi awal silaturahim qt dan ajang untuk sharing seputar permasalahan dalam RT qt. Wasslkm

    • Salam kenal, Mas Amuza.
      Maaf ya, saya telat sekali membalas komentarnya.
      Terima kasih banyak sudah mampir dan ikut berbagi di blog ini.
      Senang rasanya disapa oleh teman baru yang mengalami hal serupa, semoga dapat saling menyemangati.
      Terima kasih juga karena ceritanya sudah mengingatkan kami untuk lebih bersyukur dan menghargai ibu-ibu kami🙂
      Al Faatihah untuk almarhumah ibu dan ibu mertua Mas Amuza…

      -Heidy-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s