Menjelang Siklus Baru

Beberapa hari yang lalu, aku terserang sakit kepala hebat. Hari berikutnya, emosiku kacau balau. Seperti yang selalu kulakukan hampir setiap bulan sebelumnya, aku langsung mengambil dan mencermati kalender. Mungkin tidak banyak perempuan yang setiap bulan rajin mencatat waktu menstruasinya di dunia ini, tapi aku termasuk di antaranya. Satu manfaat kebiasaan ini adalah agar aku dapat paham tentang kondisiku sendiri, terutama pada hari-hari menjelang siklus haidku yang berikutnya, sehingga mencegah kepanikanku. Alih-alih mencurigai sejenis penyakit, aku langsung tahu bahwa kondisi fisik dan mental yang berbeda dari biasanya itu tak lain tak bukan hanyalah gejala pra haid atau yang lebih sering dikenal dengan Pra Menstrual Syndrome (PMS).

Paham tidak berarti otomatis aku selalu sukses mengatasi PMS-ku. Sebesar apapun keinginanku untuk tidak bergantung pada obat, terkadang aku harus menyerah pada sebutir pil pereda sakit kepala ketika istirahat atau tidur pun sama sekali tidak membantu.  Tapi dibandingkan dengan sakit kepala itu, ada lagi yang lebih parah dan seringkali tidak dapat kukendalikan sehingga menurutku cukup berbahaya:  perasaan yang labil. Kenapa kukatakan berbahaya? Karena si perasaan labil itulah yang bisa membuatku kehilangan cara berpikir jernih yang biasanya ‘menjaga’ agar setiap perilakuku berada dalam batas-batas yang berterima. Saat emosi sedang kacau, apapun yang terlihat, terdengar, atau terasa nyaris tak dapat kutanggapi dengan baik. Rasa sakit di badan terasa berkali lipat lebih menyengsarakan, segala kabar negatif terdengar jauh lebih parah, dan hal-hal baik lupa kusambut dengan sukacita serta penuh syukur. Bukankah ini hal yang sangat buruk?

Dalam kasusku, dapat dipastikan, hubungan suami-istri adalah yang pertama kali terkena imbas dari si PMS yang berupa perasaan labil. Meskipun aku sudah hafal semua jenis nada suara Hamdan (yang menandai apakah ia sedang santai, sibuk, tenang, gelisah, atau bahkan stress) dan pada hari-hari biasanya aku akan menyesuaikan diri ketika menghubunginya (memilih-milih kabar yang disampaikan atau menunda pembicaraan), di masa-masa saat mengalami PMS itu aku menjadi sangat egois. Tidak mau tahu apa yang sedang terjadi padanya, pokoknya aku harus didengarkan dan diperhatikan. Manja sekali.

Dan sayangnya, PMS-ku justru sering datang bertepatan dengan saat suamiku sedang dalam kondisi pikiran yang tidak prima. Entah itu ia sedang sibuk, cemas, panik, atau gelisah. Di saat yang demikian, kutambah pula penderitaannya dengan keharusan mendengarkan keluh kesahku yang berkilo-kilometer panjangnya dan tak jarang disertai dengan tangis frustasi. Frustasi, karena pada saat yang sama aku tahu betul bahwa apa yang kulakukan itu sungguh tidak bijaksana, tapi aku tak berdaya melawan ‘nafsu’ yang begitu kuat untuk menumpahruahkan segala emosi. Lucunya, semakin kutumpahkan, perasaanku bukan semakin baik. Aku malah jadi semakin kesal dan benci pada diri sendiri (kenapa sebegitu lemahnya dan sebegitu tak bergunanya sebagai istri), semakin ingin menumpahkannya, dan semakin marah lagi. Benar-benar lingkaran setan!

Di saat seperti itu, harapanku pada Hamdan melambung tinggi. Suamiku adalah pasangan jiwa, teman hidup, orang terdekat yang kuanggap paling tahu dan mengerti segala kebaikan dan keburukanku. Aku sama sekali melupakan bahwa ia juga manusia yang pada saat yang sama bisa berada pada titik ketidaknyamanan yang lebih rendah dariku, juga bahwa sebagai seorang kepala keluarga, beban pikirannya dapat berkali-kali lipat lebih berat daripada yang kurasakan. Karena itu, ketika tanggapannya atas keluh kesahku tidak sesuai dengan harapan (yang bahkan kalau dipikir-pikir lagi sekarang pun aku tak tahu, tanggapan seperti apa yang sebetulnya kuharapkan…hahaha), aku menjadi sedih, kecewa, dan semakin kesal. Jangan berharap cerita beralur klimaks-antiklimaks yang berakhir bahagia dari sini. Pembicaraan kami di akhir hari ditutup begitu saja dengan menahan ketidaknyamanan di hati masing-masing.

Namun alhamdulillah, suasana yang membaik selalu datang pada pagi hari berikutnya. Apa yang terjadi? Semalaman aku hanya berusaha sebanyak mungkin beristighfar dan berdoa minta dijauhkan dari segala macam pikiran buruk. Namun, kebaikan yang sebenarnya berawal dari sapaan ceria suamiku di pagi harinya sehingga segala keburukan dalam pembicaraan sebelumnya terasa seolah tak pernah terjadi. Lambat laun, kudapatkan kembali ketenangan dan kejernihan dalam berpikir itu.

Hari demi hari berlalu dan rasa malu serta menyesal semakin bertambah setiap kali aku mengingat tingkah atau kedzalimanku terhadap suami saat mengalami PMS. Seingatku, perasaan ini juga selalu kualami. Herannya, ketika masa itu datang kembali, tetap saja aku amnesia (bahwa aku selalu akan malu dan menyesal di kemudian hari) dan tetap ‘cari gara-gara’. Tentu saja, saat ini jiwaku sedang sangat sehat sehingga dapat menuliskan semua ini. Bukan saja dapat, tapi bertekad. Kurasa siapapun bercita-cita menjadi manusia yang lebih baik seiring dengan pertambahan usianya. Dalam koridor cita-cita itu, aku bertekad ingin menyembuhkan penyakit ‘amnesia’ku. Semoga menuliskan dan berbagi pengalaman ini dapat menjadi salah satu jalan.

Kepada diriku di masa depan (tepatnya yang terdekat ya bulan depan ya…hehehe), saat sebuah siklus baru akan kembali datang, ingatlah untuk memperbanyak istighfar dan mohon dijauhkan dari pengaruh setan yang terkutuk. Segeralah berhenti berpikir yang tidak-tidak, jangan mengambil keputusan apapun dalam kondisi perasaan yang kacau (baca: cepat tidur!). Lalu kepada suamiku yang terkasih, terimakasih atas pengertian dan kesabaranmu yang luar biasa, juga kebesaran dan kerendahan hatimu. Sungguh beruntung diriku, dianugerahi suami yang begitu penyayang, pemaaf dan kuat. Subhanallah Alhamdulillah. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, dikumpulkan dalam kebaikan dan dijauhkan dari segala keburukan. Aamiin ya Rabb

Salam belajar,

Heidy

Iklan

Ibu Tersayang

Dua hari yang lalu, aku mengobrol dengan Ibu (sebutanku untuk ibu mertua) lewat telepon. Yah, memang sih, sebenarnya  jarak rumah kami tidak terlalu jauh, tapi tidak terlalu dekat juga dan kesibukanku belakangan ini membuatku tidak sempat mengunjunginya dalam seminggu terakhir.

Ibu menanyakan kabarku dan Hamdan, lalu ‘lapor’ bahwa siang harinya baru pergi ke berobat ke healer langganan kami yang hanya datang sebulan sekali ke Jakarta. Kemudian pembicaraan berlanjut kemana-mana. Tentu saja yang paling asyik adalah berangkat dari pembicaraan tentang anaknya alias suamiku, disusul diskusi yang mengharu biru seputar doa, salat, sedekah, dan berkah. Oya, ada juga sekilas tentang asisten rumah tangga. Hmm…lalu apa lagi ya? Aku lupa. Yang jelas, hampir satu jam lamanya kami mengobrol!

Usai mengobrol dengan Ibu, aku langsung menghubungi Hamdan di Bandung dan meng’interogasi’nya: kapan terakhir menelepon Ibu. Meski Ibu tak akan pernah bilang, tapi aku bisa merasakan dari kata-katanya bahwa Ibu sedang rindu dan terpikir tentang anaknya yang sudah seminggu lebih tak bertemu dengannya. Memang, bukan pertamakalinya aku menangkap hal ini. Sewaktu suamiku masih bekerja di lepas pantai selama berminggu-minggu dulu, tentu saja aku lebih gelisah setiap Ibu menanyakan anaknya.

Pernah aku berkata akan meminta Hamdan menelepon, Ibu malah protes: “Jangan! Biar aja, kasihan lagi kerja jangan diganggu-ganggu. Ibu cuma nanya aja, yang penting sehat, kan?” Dan kemarin lusa, kata-katanya pun masih setali tiga uang, “Kasihan, lagi ujian. Biarin lagi konsentrasi belajar. Yang penting sehat, kan?”

“Masa’ Ibu lebih deket ke Dy (aku) daripada ke anaknya sendiri. Sampe nanyain kabar anaknya sendiri juga ke Dy,” protesku  pada Hamdan.

“Lho ya bagus, dong? Kan Dy juga udah jadi anak Ibu,” jawab suamiku santai, tanpa mau repot-repot menjanjikan atau memberitahuku kapan akan menghubungi Ibu lagi (meskipun ternyata langsung dilakukannya), membiarkanku gelisah sendirian.

***

Ibu. Pertama kali aku mengenal beliau adalah tak lama setelah Hamdan melamarku secara pribadi. Waktu itu aku diajak Hamdan ke rumahnya (rumah Ibu) dan beliaulah yang pertamakali kutemui. Layaknya umumnya perempuan, seperti juga aku, Ibu senang mengobrol dan aku langsung diajaknya bercerita. Percakapan kami berangkat dari A, merambat kemana-mana, lalu berujung di Z. Aku jadi langsung mengenal banyak tentangnya dari pertemuan pertama itu. Meskipun Ibu tidak berbicara tentang dirinya sendiri, tapi dari obrolan itu aku jadi memahami bagaimana cara pandang dan sikapnya atas berbagai hal. Dan aku pun langsung jatuh cinta.

Ibu dan kesederhanaannya. Itulah yang membuatku jatuh cinta padanya.  Beliau sederhana dalam berpikir dan bertindak. Mungkin itu hal yang sangat berbeda dariku sehingga membuatku terkagum-kagum. Sungguh menyejukkan dan menentramkan hati saat mengobrol dengannya. Tak jarang dalam hati aku menjadi malu atau menertawakan diri sendiri: “….gitu aja kok repot, ngapain mikir yang ribet-ribet…contoh nih Ibu yang nggak aneh-aneh, hidupnya indah damai sentosa!”

Itulah juga, yang kukatakan pada Hamdan, salah satu alasan yang semakin memperkuat keyakinanku dulu untuk membangun keluarga  dengannya. Ia dibesarkan oleh asuhan tangan seorang ibu yang begitu bersahaja. Karena itu, kuyakini ia mewarisi begitu banyak kebaikan dalam dirinya. Dan sejauh ini, ternyata keyakinan itu tak salah. Semakin bertambahnya usia perkawinan kami, semakin banyak kulihat kebaikan dalam diri suamiku yang membuatku semakin mengagumi dan mengidolakannya. Pada saat yang sama, aku semakin bersyukur pada Allah SWT yang telah menjadikan kami berpasangan dan berterimakasih pada Ibu. Kalau bukan karena Ibu, belum tentu ada laki-laki seistimewa ini di sisiku.

Salah satu yang diajarkan agamaku adalah mengutamakan ibu. Bahkan setiap laki-laki diwajibkan untuk mendahulukan ibunya  (sebelum sang istri). Mungkin hal inilah yang sering menjadi masalah pada beberapa keluarga. Hubungan ibu dan istri tidak harmonis, lalu sang suami tercabik antara kewajiban mengutamakan ibunya atau membela istrinya.  Mengingat hal ini, aku jadi semakin bersyukur atas hubunganku dengan Ibu yang cukup baik. Ternyata keharmonisan hubungan itu sangat penting demi ketentraman hati suamiku, yang kemudian tentu saja juga membawa kebahagiaan bagi kami sendiri sebagai suami istri. Hmm…mungkin karena inilah Hamdan terlalu santai tiap kali aku mengomelinya agar ia lebih sering menelepon Ibu. Melihat hubunganku dengan Ibu yang cukup mesra, tentram sudah hatinya!

Ibumu, ibumu, ibumu. Itu yang sesering mungkin kukatakan pada Hamdan, mengingatkannya agar mendahulukan untuk memperhatikan ibunya. Alasannya adalah karena apa yang kusampaikan di atas. Karena berkat Ibulah, suamiku menjadi seseorang yang memiliki segala kebaikan dalam dirinya saat ini. Karena kebahagiaan Ibu bukannya ‘mencuri’ kesempatan kami untuk berbahagia, malah sebaliknya: mendatangkan kebahagiaan yang berlipat. Lalu karena rida Ibu menjadi jalan meraih rida Ilahi, yang kemudian mendatangkan berkah melimpah.

Bagiku sendiri, menjalin hubungan yang harmonis dengan ibu mertua bukan hanya karena kewajiban dan meminta suami untuk mendahulukan ibunya pun sungguh sama sekali bukan sejenis pengorbanan atau ‘sikap mengalah’. Ini untukku juga, demi kebahagiaan kami sendiri sebagai suami istri, dan sebentuk kecil terimakasihku kepada Ibu. Terimakasih, Ibu. Aku sangat menyayangimu :’)

Salam berbagi,

Heidy

Saat Seorang Suami Sakit

Kemarin sebelum memulai kuliah, dosenku menyampaikan informasi tentang alasan ketidakhadiran salah seorang peserta kuliah yang tidak sejurusan denganku. Ternyata suaminya terkena serangan jantung, untuk yang kedua kalinya. “Terakhir masuk ICU, sudah keluar, eh…serangan lagi,” kata Bu dosen meneruskan cerita yang diperolehnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Perasaanku ikut tak keruan mendengar cerita itu. Tak terbayang bagaimana rasanya jika aku yang berada di posisi sang istri. Tentu lebih dari sedih. Kalut, kurasa. Ah, sudahlah, aku sungguh tak sanggup meneruskan membayangkannya.

Seorang suami. Sebelum ijab kabul dilakukan, laki-laki itu tidak termasuk anggota keluarga. Namun setelahnya, tidak saja ia masuk dalam lingkaran keluarga, ia bahkan menjadi yang terdekat, yang –seharusnya– nyaris tak terpisahkan denganmu. Bahkan jika yang dijalani adalah rumahtangga jarak jauh sepertiku. Seandainya terpisah jarak hingga setengah keliling bumi pun, seorang suami tetap yang terdekat, orang nomor satu bagi istrinya.

Aku jadi teringat saat Hamdan divonis terserang flu AH1N1 dan ‘dipenjara’ tanpa boleh menerima seorang tamu pun di sebuah kamar isolasi rumah sakit khusus penyakit infeksi pada tahun 2009 dulu. Biarpun itu samasekali bukan penyakit gawat (baca: penyakit ecek-ecek yang dibesar-besarkan oleh media), rasanya duniaku terguncang hebat. Betapapun jauhnya jarak geografis yang pernah memisahkan raga kami, rasanya ternyata masih jauh lebih enak daripada ‘pemisahan’ saat itu. Padahal ia bukannya tergeletak di kamar ICU dalam keadaan tak sadar. Sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang terjadi pada suami teman kuliahku saat ini!

Namun kurasa karena pengalaman itulah, aku jadi selalu ikut sedih sekali setiap kali mendengar berita semacam “suami si A sakit!”. Meski mungkin tak tahu persis bagaimana perasaan sang istri, aku dapat membayangkan betapa beratnya ujian itu. Cobaan yang mungkin tak cukup kuat kuhadapi jika terjadi padaku sendiri.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dari surat Al Baqarah ayat 156, aku memahami bahwa kata-kata yang artinya “sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali” itu adalah ucapan terbaik saat seseorang ditimpa suatu musibah. Musibah yang dimaksud di sini tidak hanya meninggal dunianya seseorang. Kesehatan kita. Kecerdasan kita. Kekayaan kita. Semua adalah milik-Nya, titipan-Nya untuk kita. Dan ketika semua atau salah satu di antaranya diambil kembali, apa yang dapat kita lakukan?

Yaa Rabb, janganlah berikan kami ujian yang tak sanggup kami menanggungnya. Karuniailah kekuatan, kesabaran, ketabahan, ketegaran bersamaan dengan ujian yang Engkau hadapkan pada saudara kami. Jadikanlah sakit sang suami sebagai penghapus dosa-dosa mereka, penambah keimanan dan ketaqwaan mereka kepadaMu serta perekat cinta, kasih sayang dan kemesraan di antara mereka. Berikanlah kesembuhan dan anugerahkanlah nikmat yang Engkau ridhoi, hilangkanlah segala penyakit dan kesusahan mereka. Aamiin…

Salam,

Heidy