Kabar Bahagia untuk Siapa?

Ada rasa yang berbeda ketika seorang teman mengabarkan kehamilannya atau kelahiran anaknya. Bukan sebuah perasaan sederhana. Baik dan buruk tercampur. Antara turut senang, antusias, sedih, dan iri.

Dua yang terakhir tentu saja lebih mudah dijelaskan penyebabnya. Karena aku sendiri belum mengalaminya (hamil dan melahirkan), maka ada perasaan sedih dan iri itu. Sedih karena seolah-olah hanya jadi penonton dan tak tahu kapan akan mendapatkan kesempatan yang sama. Iri karena merasa mendapat ketidakadilan. Dulu di tahun-tahun pertama perkawinan, aku bisa sampai kesal sekali jika mendengar kabar gembira itu dari pasangan yang menikah setelah kami. Rasanya seperti kalah dalam semacam lomba yang entah diselenggarakan dan dipopulerkan oleh siapa.

Soal senang dan antusias itu sebenarnya sebuah keajaiban. Yang hamil atau melahirkan orang lain, tidak ada hubungannya denganku, tetapi kenapa senang dan antusias itu bisa timbul juga? Kalau teman-teman yang sudah pernah mengalaminya sendiri ikut senang dan antusias karena mengingatkan pada pengalamannya sendiri, mungkin yang terjadi padaku adalah senang dan antusias karena masih ada satu prasangka baik: suatu saat nanti aku akan mengalaminya juga.

Dua rasa dari kutub yang berlawanan, seolah tarik menarik dan berusaha saling mengalahkan. Mana yang menang?

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman bercerita tentang sahabatnya yang juga mengalami hal serupa denganku dan Hamdan. Di usia perkawinannya yang kalau tidak salah sudah lebih dari tujuh tahun, mereka juga belum dikaruniai keturunan. Menurut cerita temanku itu, sahabatnya tersebut bahkan selalu menghapus kontak teman-teman di ponsel blackberry-nya kalau mereka hamil, melahirkan, lalu memajang foto bayi mereka sebagai foto profil. Eh, sebenarnya yang melakukan itu suaminya, sih. Namun itu dilakukannya demi melindungi sang istri yang selalu menangis tiap kali melihat foto bayi baru lahir milik teman-temannya.

Mendengar cerita itu, aku termangu. Tentu saja aku mengerti sekali perasaan itu. Bukan tidak pernah aku merasakan kesedihan yang sama hingga benar-benar menangis. Dan bukan tidak pernah aku pun mengadukan kesedihan itu pada suamiku. Tapi bagaimanapun, aku maupun Hamdan tidak pernah sampai menghapus kontak teman-teman yang memajang foto anak-anak mereka. Yang terjadi malah sebaliknya: aku senang sekali berlama-lama memandangi bayi-bayi itu atau bahkan sang calon ibu dengan perut hamil mereka. Apalagi kalau orangtua sang bayi termasuk teman dekat. Wah, aku dan Hamdan sampai punya ‘agenda wisata bayi’: mencari waktu khusus untuk mengunjungi bayi-bayi baru lahir itu, lengkap dengan membawa kamera! Saking senangnya aku melakukannya, mungkin hal ini sampai sudah masuk kategori hobi. Jadi kalau ada perempuan yang punya hobi melihat foto-foto baju, tas, atau sepatu di toko online, aku punya hobi melihat foto-foto bayi dan perut ibu hamil. Kalau ada yang ‘banci foto’ dalam acara kumpul-kumpul bersama teman, aku ‘banci foto’ bersama bayi-bayi. Beda-beda tipis kan, kita? Hahhahaha.

bersama sahabat kami Chica, dan Azka, anak pertamanya Momo, putera pertama teman kami Sano & Ami (saat foto ini dibuat, mereka sendiri bahkan belum sempat berfoto bertiga!)bersama Kalya-nya Rieka mengunjungi Aishana-nya MegaEnzo, anak kedua teman kami, Cicil&Alfon

Sebenarnya wujud antusiasmeku atas kehamilan atau persalinan orang lain masih lebih jauh dari sekedar memandangi bayi-bayi atau perut ibu hamil itu. Sejak tahun pertama perkawinan, aku juga sudah rajin sekali mengikuti wacana-wacana kehamilan, persalinan, perawatan bayi dan balita  hingga pendidikan anak. Mulai dari nimbrung dalam percakapan teman-teman yang sudah menjadi ibu sampai mencari informasi sendiri melalui buku dan situs-situs di internet. Oya, juga kultwit di twitter. Tidak jarang aku tahu lebih dulu keberadaan akun yang giat menyebarkan informasi seputar kehamilan, persalinan atau parenting dan kemudian meneruskannya kembali pada teman-teman yang benar-benar membutuhkan (sedang hamil, akan bersalin, atau sedang pusing soal parenting). Belum lagi ditambah faktor mamaku yang kebetulan pada saat yang sama mendapat berbagai kesempatan untuk ‘mencicipi’ berbagai subdirektorat pada direktorat ibu dan anak di Kemenkes.  Segala macam ilmu dan kebijakan terbaru terkait kesehatan dan pendidikan pun kusantap dengan lahap.

Kalau dipikir-pikir, aku sendiri pernah merasa aneh. Semua wawasan itu belum tentu kubutuhkan (jika aku memang tidak akan pernah hamil dan berketurunan) dan bisa saja justru membangkitkan kesedihan karena semakin mengingatkanku pada kondisiku sendiri. Tapi itu kalau dipikir. Kenyataannya, perasaanku tidak sejalan dengan pemikiran itu, kok. Aku benar-benar senang melakukannya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, layaknya sebuah hobi saja!

Aku mendapat pemahaman baru saat beberapa tahun yang lalu mulai membuka usaha jasa ‘teman belajar’ di rumahku sendiri. Di ‘rumah belajar’ku ini, aku bukan hanya menjadi teman belajar untuk pelajaran sekolah. Dengan serius, semangat, dan senang hati aku juga merancang kegiatan-kegiatan bermain sambil belajar dan menyelipkan misi pendidikan keluarga. Di sini murid-muridku tidak hanya belajar menghitung bilangan pecahan atau melakukan percakapan Bahasa Inggris. Mereka juga belajar untuk menghabiskan makanan dan minuman yang telah mereka ambil sendiri dan bertanggungjawab atas ‘kecelakaan-kecelakaan’ kecil yang mereka timbulkan. Gembira sekali rasanya ketika setelah beberapa waktu, salah seorang muridku yang sebelumnya memilih-milih makanan dan menyisakan minuman di gelas malah mulai mengingatkan temannya untuk selalu menghabiskan makanan dan minuman yang diambilnya! Bahagia tak terkira pula ketika salah satu murid meminta orangtuanya yang telah datang menjemput untuk menunggu karena ia begitu bersemangat ingin menyapu lantai yang kotor oleh tumpahan sampah rautan pensilnya. 😀

Ternyata, ada pencerahan yang kuperoleh setelah memutuskan untuk menjadi seorang guru: aku tidak perlu menunggu untuk hamil dan melahirkan sendiri demi menjadi seorang ibu. AKU SUDAH MENJADI IBU. Anak-anakku adalah murid-muridku (dan karena aku sudah mengajar di berbagai tempat selama beberapa tahun, jumlahnya sudah tak terhitung). Dan sebagai seorang ibu, ada harapan yang besar saat ‘menghadapi anak-anakku’: berharap mereka berakhlak mulia, tumbuh menjadi orang-orang yang berguna, sukses dan bahagia dunia akhirat.

Pencerahan itu menjadi semacam jawaban mengapa perasaan bahagia dan antusiasku pada akhirnya selalu mengalahkan sedih maupun iriku saat mendengar kabar kehamilan atau kelahiran bayi seorang teman: ANAK MEREKA ADALAH ANAKKU JUGA.

Jika dibutuhkan, aku siap menjadi teman berbagi mereka. Nah, jadi ada gunanya kan aku menyantap segala ilmu soal ibu dan anak itu? Karena teman berbagiku bukan hanya pasutri lain yang juga belum berketurunan. Ibu hamil, ibu menyusui, ibu yang anaknya telah bersekolah pun tetap teman-temanku. Teman-teman yang tak ingin kuhindari saat sedang asyik membahas anak-anak mereka.  Teman-teman yang tak akan mungkin kuhapus kontaknya dari ponselku hanya karena mereka hamil dan melahirkan dan memasang foto anak-anak mereka.

Saat mendengar sebuah kabar kehamilan atau kelahiran, yang sampai ke telingaku bukan sekedar kabar lahirnya bayi pasangan suami istri yang lain, melainkan sebuah pengingat tentang kebesaran Sang Maha Agung: telah hadir lagi seorang hambaNya, bagian dari ruhNya, yang insyaAllah akan menjadi khalifahNya yang kelak akan menebar banyak manfaat di bumi. Maka bukankah wajar jika aku berbahagia, tulus mendoakannya, dan sedapat mungkin turut mendukungnya mencapai harapan itu? Soal ia keturunan kami atau bukan, tidak ada hubungannya. Ini kabar bahagia untuk kita semua! 🙂

Salam bahagia,

Heidy

Iklan

Berhemat pada Tempatnya

Entah karena didikan sejak kecil atau bawaan orok, berhemat dan mengatur keuangan sebenarnya adalah kegemaranku. 😀 Ketahuilah wahai teman-temanku di dunia nyata, karena kita sudah sama-sama dewasa, aku baru berani berterus terang begini. Di masa kanak-kanak hingga remaja dulu, sungguh, aku merasa jika terang-terangan berkata begini akan sangat sukses menyebabkanku tidak punya teman lalu membuat Heidy kecil (atau abg) yang masih sangat labil itu sedih dan gelisah…hehehe. Sekarang? Ah masa iya, kau yang pasti sudah jauh lebih bijaksana masih memilih teman berdasarkan hal semacam ini. Yah.. kalaupun ada yang begitu, aku rugi apa, ya?

Soal aku dan berhemat. Didikan sejak kecil sebenarnya perlu dipertanyakan juga, sih. Wong aku berbeda kok, dengan mama dan adik perempuanku. Hmm. Wallahu a’lam (hanya Allah yang tahu kenapa) deh. Jadi kalau ada orangtua mengkhawatirkan anaknya gila belanja, untuk kasusku, yang dikhawatirkan justru  ketidakpedulian itu sendiri. Lalu adikku pun ikut mengkhawatirkan kakaknya ini. Dan setelah menikah, bertambahlah yang khawatir: suamiku. Kalau pada umumnya suami pusing melihat istrinya yang terus menerus belanja baju, sepatu, perhiasan dan sebangsanya, suamiku sendiri pusing melihatku yang entah kapan tergerak hatinya untuk membeli baju baru. Walhasil, hampir tiap pakaian baru di lemariku adalah hasil belanja Hamdan, mamaku, atau adik perempuanku. Sebuah upaya keras menyelamatkan seorang Heidy dari ‘pakai baju yang itu-itu juga’! Hihihi.

Nah, mari pindah ke persoalan selain pakaian. Aku teringat ketika di tahun-tahun pertama pernikahan, aku bercerita pada mamaku tentang bagaimana rasanya aku harus sedikit menyesuaikan pemikiranku soal berhemat. Ini berhubungan dengan Hamdan yang waktu itu bekerja jauh dariku. Meski sebagian besar waktu bekerjanya adalah di tengah laut dan aku tak boleh ikut serta, ada kalanya ia harus berada di darat selama beberapa hari. Daratan yang dimaksud adalah kota Balikpapan. Nah, pada masa-masa itu, aku dapat datang mengunjunginya. Ada uang, cari tiket pesawat, beli, terbang, sampai, bertemu. Beres. Mudah sekali, tapi lalu aku sempat meragukan kebijaksanaanku dalam menggunakan uang. Tiket pesawat kan tidak semurah harga bajuku. Apakah ini tidak termasuk hidup bermewah-mewahan?

Mamakulah yang kemudian membawaku pada sudut pandang lain dalam berpikir. Apa sesungguhnya yang mahal di dunia ini? Tiket pesawat Jakarta-Balikpapan mungkin lebih mahal jika dibandingkan dengan sepotong baju. Tapi bagaimana jika perbandingannya adalah dengan ridho suami dan berkah Allah? Wah, aku tidak berani membayangkan jika aku menolak mendatangi suamiku hanya karena pertimbangan berhemat namun kemudian malah memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Ujung-ujungnya, mana yang lebih mahal? Naudzubillahi mindzalik...semoga kita semua terhindar dari hal-hal semacam itu.  Syukurlah, ternyata keputusanku untuk mengeluarkan beberapa rupiah demi kebersamaan dengan suami itu bukan merupakan hal yang tidak bijaksana.

Namun, pemikiranku soal berhemat masih terus berlanjut. Salah satu yang banyak terpikirkan olehku dan Hamdan adalah pengeluaran-pengeluaran dalam rangka program hamil. Dulu, meski punya asuransi kesehatan (dari perusahaan tempat bekerja),  hal itu tak ada gunanya untuk masalah-masalah infertilitas. Karena itu, kami harus merogoh kocek sendiri untuk melakukan pengobatan-pengobatan terkait. Terapi PLI yang memaksaku mengeluarkan uang sekitar delapan ratus ribu rupiah per bulan itu, misalnya. Kali terakhir melakukan terapi itu, aku dan Hamdan membahas tentang uang yang keluar dan penghematan disana-sini yang harus dilakukan demi si urusan program hamil. Pembicaraan itu membuat kami sama-sama merasa tidak nyaman. Aku sedih dan tersinggung, suamiku pusing dan stres. Sungguh tidak enak rasanya, apalagi mengingat terakhir kali kami bertengkar sebelumnya adalah sekitar dua tahun yang lalu. Saat itulah aku merasa ada yang tidak benar. Untuk apa bayar mahal demi sebuah terapi medis yang katanya mengatasi masalah infertilitas, kalau  suami istri sang pemeran utamanya malah jadi tidak rukun damai sentosa? Sebaliknya pun begitu: untuk apa sibuk menghitung harta, memperketat pengeluaran di sana-sini demi satu impian yang ternyata sudah sangat dini terlihat: bukannya mendatangkan ketentraman, malah memicu ketidakharmonisan? Bukankah semuanya jadi sia-sia?

Saat aku dan suamiku mulai membahas rencana-rencana terdekat untuk masa depan, topik tentang bayi tabung tercakup di dalamnya. “Apakah kita akan melirik solusi bayi tabung?” sempat menjadi pertanyaan besar bagi kami. Hamdan bahkan sempat berpikir untuk membatalkan rencana kuliahnya jika aku sangat ingin mencoba program bayi tabung. Kembali lagi, aku serius bertanya pada diriku sendiri: mana yang terpenting? Kehadiran keturunan itu hanya kuasaNya. Bagaimanapun orang berpendapat bahwa itu adalah langkah yang patut dicoba (mengingat terutama usia kami masih muda sehingga peluang keberhasilannya tinggi), bukankah tetap saja kepastian itu tidak ada? Maka bukankah tidak bijaksana, jika demi hal itu aku mengorbankan hal yang tak kalah penting seperti hasrat dan usaha untuk hidup yang lebih baik?

Ada yang lebih baik daripada gila-gilaan menguras tabungan demi program bayi tabung: sedekah. Bukan bermaksud hitung-hitungan bisnis dalam rangka ‘menyogok’ Tuhan untuk dapat anak, tapi demi ikut serta dalam sistem semesta yang diciptakanNya: memelihara berkah. Dalam sebagian harta kita, terdapat hak orang lain yang membutuhkan (Sesungguhnya aku sangsi, jika setiap orang di dunia ini mengeluarkan zakatnya dan tidak mengambil hak orang lain, apa iya masih ada orang miskin?). Jika hak itu kita tahan, apa yang terjadi? Untuk apa menahan beberapa puluh atau ratus ribu rupiah tapi kemudian Allah tidak ridho dan kemudian kita malah mendapat musibah yang sampai membuat rugi berjuta-juta rupiah atau bahkan mungkin sudah tak ternilai lagi oleh uang? Lalu apalah artinya menyisihkan sedekah doa, senyum, membantu memudahkan urusan  atau melancarkan rezeki orang lain tanpa berharap imbalan dari mereka jika ternyata itulah yang menjadi jalan untuk segala berkah dalam hidup kita sendiri?

Mama, wanita teladan dalam hidupku pernah berkata: “Kita tidak akan miskin selama terus bersedekah, berbuat baik, dan tidak malas.” Dan aku pun sudah menyaksikan sendiri buktinya. Semakin banyak memberi, yang datang bukan kemiskinan atau kekurangan, malah rezeki yang terus mengucur. Sungguh ajaib, bagi sepasang mata manusia.

Bagiku, berhemat itu tetap sebuah hobi penting. Namun kini, sudah ada pesan sponsor yang mengikuti: berhematlah pada tempatnya. Jika hal itu tak berhubungan dengan siapapun (hanya kepentinganku sendiri), maka itulah saat yang tepat untuk berhemat. Jika itu erat kaitannya dengan rezeki, kemudahan, kebahagiaan hidup orang lain, aku tidak berani. Mari berbagi tanpa mengharap imbalan dari sesama dengan hati yang ringan. Mari berbagi tanpa dihitung-hitung karena Allah-lah yang Maha Menghitung (InsyaAllah untung terus!). Mari berbagi hanya karena mengharap ridhoNya dan keberkahan dalam hidup, dalam bentuk apapun.

Salam semangat berbagi!

Heidy

Melangkah untuk Hidup

Jika engkau temanku, apa reaksimu jika kuberitahu bahwa aku dan suamiku kini sama-sama tidak bekerja dan sama-sama menyandang status mahasiswa?

Sebagian teman kami merasa kaget, bingung, tak habis pikir atau bahkan tak percaya sama sekali sementara sebagian lainnya justru merasa semangat dan turut bergembira ketika aku bercerita bahwa Hamdan telah mengundurkan diri dari pekerjaannya sejak dua bulan yang lalu. Pekerjaannya selama tujuh tahun terakhir. Pekerjaan pertamanya sejak menjadi sarjana. Pekerjaan yang selama ini menjadi jalan utamanya untuk mencari nafkah dan berbagi rezeki.

Ketika aku  bercerita bahwa status mahasiswa kini menggantikan statusnya sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang migas selama ini, ketidakpercayaan sebagian temanku terungkap dari pertanyaan mereka: “Serius, resign? Bukan izin atau cuti, gitu?” Dan kemudian semakin tak percaya ketika mendengar jawabanku. Lho…nanya apa nanya, nih? Apa seharusnya tak kujawab saja? Hihihi. Iya betul, sekali lagi serius, dua rius, tiga ribu rius kalau perlu: suamiku sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya itu.

Lalu dari percakapan-percakapan yang berlanjut, aku pun tahu apa yang menjadi pandangan, pemikiran atau pertanyaan di benak siapapun yang kebingungan akan langkah kami ini. Sebagian bertanya-tanya tentang biaya hidup. Sebagian lagi menyatakan tak habis pikir akan keputusan kami untuk meninggalkan si ladang tempat bekerja yang tampak begitu subur.

Sejak menikah, tak pernah sekali pun terencana dalam pikiranku untuk hanya menggantungkan biaya hidup keluarga pada gaji bulanan dari pekerjaanku maupun suamiku. Menabung dan berinvestasi harus menjadi tujuan utama setelah berzakat dan bersedekah dari setiap pendapatan kami. Selancar-lancarnya dan sebesar-besarnya uang mengalir dari gaji-gaji itu, siapa yang bisa menjamin pekerjaan itu tetap ada sampai kapan pun (meski seandainya kami sendiri tidak memutuskan untuk berhenti)? Kami berpikir bahwa harus ada jenis-jenis penghasilan pasif, dan sebisanya suatu saat nanti itulah yang menjadi penghasilan utama. Maka kami pun segera membangun ‘pos’ sebanyak mungkin untuk disinggahi gaji-gaji bulanan itu. Jenis investasi yang kami pilih sangat beragam, mulai dari rumah, emas batangan, reksadana, saham pada beberapa bisnis kecil, hingga unit link dan tabungan rencana (dua yang terakhir kusebutkan sebetulnya tak lagi dianjurkan oleh para perencana keuangan, tapi apa boleh buat…kami sudah terlanjur memilikinya sejak dulu dan toh itu tidak menjadi prioritas). Kini, sebagian di antaranya telah dapat dimanfaatkan menjadi sumber biaya hidup kami.

Namun memang, sebesar-besarnya penghasilan bulanan kami selama ini, atau sepandai-pandainya kami  berhemat, menabung dan berinvestasi, ‘pensiun bekerja’ di usia kami masing-masing sekarang ini tetap belum dapat tergolong ke dalam kategori keputusan yang baik dan benar. Semua hasil tabungan dan investasi serta pendapatan pasif itu tidak direncanakan untuk menjadi satu-satunya sumber biaya hidup kami di usia semuda ini. Jadi, kami hanya mengambil sebagian di antaranya dan tidak memutuskan untuk pensiun. Yang menjadi keputusan kami adalah berhenti bekerja sementara untuk kurun waktu paling lama dua tahun, insyaAllah..aamiin.

Berhenti bekerja sementara dan kembali ke bangku universitas. Mengapa dan mengapa harus sekarang juga? Padahal, ketika lulus menjadi sarjana tujuh tahun yang lalu, sama sekali tak terbayang olehku akan melanjutkan sekolah lagi. Dan begitu pula dengan Hamdan. Ternyata kami sama-sama sudah merasakan bosannya sekolah waktu itu. Siapa sangka bahwa rasa bosan itu pun datang juga ketika bekerja? Hahaha. Yah, rasa bosan mungkin masih bisa disiasati. Namun bagaimana dengan rasa bosan yang kemudian berkembang menjadi malas dan tak bergairah? Saat itulah, aku merasakan adanya tanda bahaya. Sebuah tanda yang harus diwaspadai. Kali ini, tolong jangan buru-buru menganggapku berlebihan.

Apa yang menjadi tujuan hidup kita? Apa yang terpenting dalam hidup ini? Jika jawabanmu adalah uang, maka maaf, berarti kita memang berbeda pandangan. Kami tak memungkiri bahwa uang itu penting dan sangat kita butuhkan untuk dapat hidup sekarang ini. Namun, kami pun sadar bahwa bukan itu yang terpenting. Mohon maafkan kami jika ini menyinggung perasaan siapapun yang sedang mengalami kesulitan dalam keuangan. Dengan membayangkannya, aku pun mengerti bahwa kesulitan itu pasti sangat menyiksa. Nah, sekarang tolong bayangkanlah keadaan sebaliknya: hidup bergelimang harta tetapi tidak membawa berkah. Semakin banyak memperoleh uang, semakin terjerat dalam maksiat dan menemukan bahwa semua harta itu tidak berhasil mendatangkan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup. Bukankah ini pun sama menyedihkannya?

Sesungguhnya, aku sudah lama merasa khawatir. Sementara aku ‘murtad’ dari bidang pendidikan terakhirku lalu berbahagia menikmati tiap pekerjaan yang kupilih sesuka hati, Hamdan hampir tidak pernah merasakan gairah itu saat bekerja. Ia murni bekerja untuk mencari sesuap nasi (dan beberapa gram emas…hahaha). Dari belakang layar, ia mendukungku yang memilih pekerjaan tanpa pertimbangan besaran gaji. Karena itu, kukatakan keliru jika orang menyebut pilihanku mengabaikan latar belakang pendidikanku dan menjadi seorang guru adalah sebuah pengorbanan dariku. Sungguh, pengorbanan yang sebenarnya datang dari suamiku. Sekilas, orang lain mungkin hanya mengetahui status Hamdan sebagai pekerja bergaji dollar di perusahaan migas asing. Hanya sedikit yang paham bahwa dengan itu, ia tidak berfoya-foya. Ia berbagi rezeki pada sesama dan menjamin kesejahteraan istrinya yang menjadi guru. Lalu pada masa liburnya setiap bulan, ia meridhoiku yang menghabiskan sebagian hari untuk mengajar sehingga tidak bisa selalu berada di rumah dan tidak bisa menemaninya sepanjang waktu. Aku tidak berperan sebagai ibu rumah tangga penuh waktu, pun tidak memilih pekerjaan yang menyumbangkan banyak pemasukan untuk keuangan rumah tangga. Atas jasa siapa hal itu jika bukan suamiku sendiri? Maka bukankah wajar jika aku  pun menjadi orang nomor satu yang mendukung keinginan suamiku untuk segera berhenti dari pekerjaannya demi menemukan kembali gairah hidupnya? Sebelum kegelisahannya semakin mengendap, sebelum kedamaian dalam hatinya menjauh, sebelum ketidakbahagiaannya menyebar….sebelum segalanya terlambat: mati selagi hidup.

Jadi, apa tujuan hidupmu? Tujuan kami adalah hidup. Hidup untuk hidup. Untuk hidup yang berarti tidak ‘mati’ padahal masih bernyawa: yang tidak bergairah saat melangkah, tidak bersemangat saat bicara, tidak bersinar mata saat memandang dunia. Untuk hidup yang seperti itu, kami rela kau sebut nekat. Ah, tapi tentu saja kami tak sependapat dalam hal itu. Kami bukan hilang akal atau putus harap hingga cocok dengan kata nekat itu. Ini adalah langkah kecil kami yang justru mengandung sejuta harapan dan berdasar pada satu keyakinan mendalam:  hanya Allah SWT, yang kepunyaanNya-lah segala yang ada di langit dan bumi, yang Maha Memberikan kesejahteraan, yang Maha Menjamin keselamatan dan keamanan, yang Maha Melindungi, yang Maha Meluaskan rezeki, yang Memberikan kehidupan. Bukan perusahaan pemberi kerja manapun. Bismillahirrahmaanirrahiim.

Salam semangat!

Heidy (+ Hamdan)

Berbagi Satu Momen Mesra

Dalam salat Magrib terakhir di bulan Ramadan yang belum lama berlalu, suamiku melafalkan potongan ayat baru yang belum pernah kudengar selama ia menjadi imamku sebelumnya. Bacaan hasil hafalan, lancar dan…sangat merdu. Menjelang ayat terakhir, tiba-tiba hidungku mulai terasa perih dan pandangan mata mengabur. Dalam dada, ada perasaan aneh yang menggeliat.

Usai salat, aku pun langsung mendesak Hamdan membuka Qur’an dan membacakan arti dari potongan ayat yang baru dibacanya. Ternyata ia baru saja menghafalkan kembali surat Al Hasyr 18-24, potongan ayat yang dulu ia pernah hafal tapi kemudian lupa. Berikut salinan dari beberapa ayat terakhir yang langsung menghujam hatiku waktu itu:

Dia-lah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (22.) Dia-lah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Raja Yang maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga keamanan. Pemelihara keselamatan, yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (23). Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Dia Memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (24).

Aku sama sekali tidak menguasai bahasa Arab. Eh, maksudku: belum ada kesempatan mempelajarinya. Dan boro-boro hafal Qur’an, itu juz 30 saja entah kapan bisa terlafalkan di luar kepala. Jadi, saat ayat di atas tiba-tiba dibacakan dalam bahasa Arab ketika Hamdan mengimamiku, ya aku sama sekali tidak mengerti. Tapi kenapa aku bisa merasa tercekat sedemikian rupa…?

Perasaan haru semakin menguat di bagian akhir bacaan (ayat 22, 23, dan 24 itu). Ketika kata “Huwallahu..” yang artinya “Dia-lah Allah” diperdengarkan dengan sangat merdu. Deg. Jleb. Ada satu momen dimana seakan hati ini tertusuk sesuatu. Namun berikutnya syurr….seperti ada yang mengelus-elus, lembut sekali. Lalu seerrr….merembeslah itu air mata dari markas persembunyiannya! Kenapa bisa begitu, aku pun bingung.

Namun setelah Hamdan selesai membacakan arti ayat di atas, sedikit demi sedikit aku bisa mengenali perasaanku.

Salat itu doa. Bahkan tanpa menambahkan sesi zikir dan doa setelah selesai salat, jika benar-benar khusyuk, dengan shalat itu sendiri kita pasti berdoa. Salatku sendiri sih tak selalu khusyuk. Sangat jarang. Sungguh, khusyuk itu masih amat sangat sulit untukku. Namun, atas ridhonya, sepertinya aku cukup khusyuk pada salat Magrib terakhir Ramadan itu. Hatiku benar-benar hadir sepenuhnya, dan terhimpunlah rasa takut dan ketenangan itu.

Lalu, apa doaku dalam salat itu? Tanpa kusangka, tanpa kupikir-pikir dan ancang-ancangkan, ternyata aku kembali berdoa tentang KEHAMILAN. Ha! Jangan bosan dengan topik ini, ya..hehehe. Untukku sendiri, doa kali ini malah lebih condong ke arah hal baru ketimbang yang membosankan. Kenapa? Karena meski temanya seolah sama, tapi entah bagaimana doaku kali ini terasa benar-benar berbeda.

Doa favoritku sebelumnya adalah meminta yang terbaik. Itu karena kesadaranku bahwa sesungguhnya aku tak tahu, apakah yang terbaik bagiku itu dikaruniai kehamilan atau tidak. Sampai sekarang, alhamdulillah kesadaran ini tetap ada, tak berubah. Siapa sih, yang berani mendahului Tuhan, menyatakan satu masa depan terbaik baginya? Fir’aun, mungkin.

Namun, mungkin saking mutlaknya pemahaman itu bagiku, ternyata aku jadi kurang ‘meresapi’ tiap doa itu. Sangkaku, aku sudah tenang-tenang saja karena sudah mulai belajar ikhlas. Entah itu benar atau tidak, tapi yang jelas aku mendapati kehilangan sesuatu: rasa takut sekaligus mesra bercakap-cakap denganNYA dalam setiap doa.

Hingga ayat-ayat terakhir Al Hasyr mengantarkanku pada momen romantis itu.

Dia-lah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Ya Allah, apakah aku telah menuhankan yang lain selain Engkau? Apakah yang kusebut ikhtiar selama ini telah menyibukkan pikiranku hingga menuhankan yang sesungguhnya hanya sebuah jalan?

Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Engkau yang Maha Tahu apa yang terjadi padaku, lahir dan batin. Engkaulah yang menurunkan bentuk kasih sayangmu…namun tak tersadari, terlihat, apalagi tersyukuri olehku…astaghfirullah

Dia-lah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia-lah Allah, Dia-lah Allah. Tidak ada tuhan selain Dia. Tidak ada tuhan selain Dia. Yaa Rabb…astaghfirullah…

Maha Raja Yang maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga keamanan. Maha Rajaku..Hanya Engkaulah Penjamin kesejahteraanku, Penjaga keamananku. Mengapa aku mengkhawatirkan segala yang tak perlu, mendzhalimi diri sendiri?? Astaghfirullah…

Pemelihara keselamatan, yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Engkaulah yang Memelihara keselamatanku. Engkaulah yang Maha Perkasa. Segala kuasa itu ada padaMu, Yang Maha Agung. Hanya padaMulah seharusnya kami bergantung. Apakah kami melupakanMu dan tersesat dengan segala ikhtiar kami selama ini? Astaghfirullah…

Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Yaa Rabb….apakah tanpa sadar kami telah mempersekutukanMu? Astaghfirullah…  

Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Dia Memiliki nama-nama yang indah. Janin. Bayi. Anak. Keturunan kami. Engkaulah Penciptanya, Yang Mengadakannya, Yang Membentuk rupanya. Engkaulah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu…

Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Semua yang terjadi di langit dan bumi adalah bukti kebesaranMu, ya Rabb…

Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Hanya Engkaulah yang Berkuasa atas segala sesuatu, hanya Engkaulah tempat kami meminta, hanya Engkaulah yang tahu apa yang terbaik bagi kami…yaa Rabb….hadirkanlah ketenangan di hati kami…

Demikian. Sesungguhnya aku malu dan sempat ragu berbagi catatan pribadi ini. Namun, aku teringat pada sebuah buku doa dan renungan yang ditulis pasutri lain yang juga mengalami hal yang sama denganku. Tiap membacanya, aku merasa tak sendirian, ditulari semangat, mendapat kekuatan, dan yang terpenting: kembali ingat untuk kembali padaNYA. Apapun urusanmu, apapun hajatmu, apapun kegelisahanmu, kembalilah pada Tuhanmu. Pesan sepenting ini, kurasa tak adil jika aku pun tak turut berbagi dan meneruskannya. Semoga catatan ini pun bermanfaat bagi siapapun yang sudi membaca.  Amin.

Salam berbagi,

Heidy