Tiga Dasawarsa yang Menginspirasi

Tiga puluh tahun yang lalu, pada tanggal dan bulan ini, orangtuaku mulai membangun rumah tangga mereka. Tentu saja aku tak tahu tepatnya bagaimana awal atau tahun pertama pernikahan mereka karena aku belum dihadirkan ke dunia ini pada saat itu. Begitu pula beberapa tahun berikutnya, pada saat aku belum mampu mengingat apapun.

Memoriku mulai jelas mungkin setelah lima tahun mereka bersama, namun awalnya hampir tak ada pula yang kuingat tentang mereka. Yang kuingat hanya aku dan dunia bermainku. Apa mereka suami-istri yang mesra dan berbahagia pada saat itu? Aku tak tahu. Yang kutahu, aku aman tak kekurangan apapun dan dunia bermainku benar-benar indah. Cukupkah itu bagiku? Itu sempurna! Begitu banyak anak di dunia ini yang tak punya rasa aman dan bahagia karena apa yang terjadi di antara orangtuanya, tapi aku bukan salah satu di antaranya. Sungguh keterlaluan jika aku tidak mensyukurinya.

Aku baru mulai dan terus memperhatikan interaksi orangtuaku sebagai suami-istri sejak remaja. Ternyata, mereka hanya manusia biasa. Bukan malaikat, maksudku. Bukannya tak pernah saling sedih, kesal atau bahkan marah karena satu sama lain. Sering, malahan! Maklum, kadang-kadang keduanya terlalu ‘bervariasi’ dalam bersikap atau berpendapat…hahahaha.😀

Seiring dengan bertambahnya usia perkawinan mereka, seiring dengan semakin giatnya mereka mengupayakan keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah, semakin banyak pula ujian maupun nikmat yang diberikan pada mereka. Sebagian di antaranya kusaksikan dan masih kuingat. Dan aku bersyukur karenanya.

Itu adalah kesempatan yang berharga untukku, dan kemudian pula untuk suamiku. Tak ada guru yang lebih baik daripada pengalaman. Dan syukur alhamdulillah, pengalaman orangtuaku selama tiga dasawarsa mengarungi bahtera rumahtangga tak sungkan mengajarkan kami banyak hal.

Orangtuaku tak selalu sependapat dalam berbagai hal. Kadang mereka menyenangi hal yang bertentangan, juga membenci hal yang berbeda. Kehidupan berumahtangga tak selalu mudah. Berbagai cobaan datang silih berganti. Mulai dari yang ringan hingga yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dan terasa maha berat. Namun, sebanyak apapun kesusahan yang bisa mereka jadikan alasan untuk berhenti bekerja sama, mereka tetap bergandengan tangan.🙂

Entah sejak kapan, hingga kini aku terbiasa menyaksikan kebiasaan orangtuaku saling meminta maaf dan mengungkapkan sayang setiap usai salat berjamaah. Kebiasaan kecil, sih. Kalau ditotal, jumlahnya pun mungkin bersaingan dengan jumlah adegan debat yang mereka lakukan…hihihi. Namun, aku merasa kebiasaan yang tampak remeh ini sesungguhnya punya arti yang besar: bahwa apapun yang terjadi di antara mereka, tujuan mereka tetap satu: Allah SWT.

Mengapa menyayangi, menghargai, dan menghormati suami atau istrimu? Apakah karena harta, jabatan, ketenaran, atau berbagai kenyamanan dalam hidup yang disangka nikmat? Bukankah itu sangat meragukan dan menakutkan, bergantung pada ketidakkekalan? Lain halnya jika alasan itu adalah DIA Yang Maha Kekal. Sebuah alasan sekaligus tujuan yang meyakinkan dan menentramkan.

Aku telah melihatnya pada orangtuaku. Dua insan yang kini sungguh-sungguh berupaya dalam mendapatkan ridhoNya untuk dunia dan akhirat. Dalam apapun yang mereka lakukan, itulah harap cemas mereka. Karena itu, kurasa dan kuharap ketentraman, kebahagiaan dan kasih sayang dalam kebersamaan mereka yang mencapai usia tiga dasawarsa di dunia ini barulah secuil dari limpahan berkah dariNYA Yang Maha Memberi. Semoga Allah SWT senantiasa menyayangi dan melindungi mereka, kemudian kelak di akhirat pun keduanya kembali dipersatukan dengan cinta yang berkekalan.

Selamat ulang tahun pernikahan ketigapuluh, Mama dan Papa. Terimakasih telah menginspirasi kami dan –mungkin– pasangan muda lainnya. Semoga kita semua mampu membangun dan menjaga keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Amin.

Pasangan idolaku!

salam doa & cinta,

Heidy

6 thoughts on “Tiga Dasawarsa yang Menginspirasi

  1. wow….happy annivesary om tante… bahagia menyaksikan kehidupan keluarga yang dibangun sehingga membuahkan anak2 yg memiliki kehidupan yang indah dalam keluarga… heidy thanks for share this cute and inspiring story🙂 *miss u_pipien

      • masih heidy…aku masih bertahan dengan keluarga kecil ku dimedan…sering2 share ya, aku akan menatap mu dari kejauhan untuk menyaksikan indahnya hidup heidy disana..maklum blogku dah lama parkir, jadi skrg senengnya baca2 blog temen…*missu2*

        • ah..jadi makin kangeen! Doakanlah aku segera dapat rezeki untuk bisa berkunjung lagi ke Medan ya Pien..ingin sekali reunian denganmu dan teman2 lainnya. Thanks for caring ya….ayo blogmu juga jangan diparkir aja dong🙂

  2. Mungkin aku bisa saja menyebut mba Heidy hmm bunda Rinni junior. Karena pola pikir hampir serupa dengan beliau. Bunda Rinni memang sosok ibu yang hebat, bahkan meskipun aku bukan anak yang terlahir dari dalam rahimnya, tapi aku dapat merasakan cinta yang tanpa pamrih diberi oleh beliau. Sedikit flashback ketika aku berusia 17 tahun, dimana masa-masa itu adalah masa-masa strom and stress remaja, aku mendapati sebuah kerikil yang menancap di kaki ku yang menghalangi perjalanan ku. Perih, sakit dan hmm *membuang nafas* aku tidak dapat mendeskripsikannya. Lalu aku berinisiatif untuk bercerita tentang permasalahan ku kepada bunda Rinni. Sekitar jam 8 malam aku telpon ke rumah bunda, dengan seksama dan nada bicara lembut tanpa rasa bosan, bunda mendengarkan cerita dan tangisan ku, padahal saat itu bunda baru saja pulang bekerja. Karena semangat dan nasihat yang diberikan, aku semakin percaya kalau ALLAH maha Adil, dan aku pun masih dapat tertawa lepas juga berdiri tegar. Terimakasih bunda Rinni🙂 I love you

    • Subhanallah alhamdulillah, Allah meridhoi saat itu Jessica mendapat ‘pencerahan’ melalui mamaku. Dan alhamdulillah, aku pun turut senang di usia muda Jessica sudah bisa mengambil pelajaran dari sebuah pengalaman yang menyakitkan. Semoga pada kesempatan lain, Jessica juga punya bisa berbagi dan menjadi jalan bagi seseorang lain untuk kembali padaNya…aamiin. Terimakasih banyak sudah begitu menghargai dan menyayangi mamaku ya…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s