Buku Harian Mama

Akhirnya, suamiku mulai kuliah lagi! Karena aku sendiri baru akan kembali ke kampus minggu depan, aku memanfaatkan waktu berharga selama seminggu ini untuk menemaninya lebih dulu di Bandung. Menemani dan ditemani sih, tepatnya, hehehe. Lagipula selain demi kebersamaan, aku juga merasa penting untuk ikut ke Bandung pada masa ini untuk mempersiapkan kenyamanan fasilitas akomodasi untuk kegiatan perkuliahan Hamdan di kota ini selama dua tahun ke depan. Ehem! Ini kan kegiatan favorit misi maha penting bagi seorang istri, bukan begitu? *suaralatar:”begituuu!”*

Alhamdulillah, berkat kemurahan hati papaku tercinta, kami tidak perlu menyewa kamar kos. Hamdan dapat menggunakan kamar yang dulu dipakai adikku dulu di rumah Papa di Bandung. Namun berhubung beberapa barang milik adikku masih ada di kamar lamanya ini, aku perlu merapikannya terlebih dahulu. Di sela-sela kegiatan yang menyenangkan meski melelahkan itu, aku menemukan buku harian adikku. Aku pun bertanya pada adikku apakah benda berharga itu perlu kubawakan saat bertemu dengannya lagi di Jakarta. Ia mengiyakan seraya mewanti-wanti agar aku tidak membacanya, kemudian menanyakan buku harian Mama. “…yang itu boleh dibaca,” katanya, lalu menjelaskan bahwa Mama-lah yang memberikan buku itu padanya. He?

Benda ‘keramat’

Aku melanjutkan acara merapikan kamar sambil berpikir. Kok hebat sekali ya, mamaku bisa mempersilakan kami anak-anaknya untuk membaca buku harian lamanya. Aku membandingkan hal ini dengan pemikiranku sendiri selama ini. Selain menulis di blog yang dapat dibaca semua orang ini, aku pun punya buku harian yang hanya dapat diakses olehku dan suamiku. Perbedaan mendasar antara tulisan-tulisan yang termuat di laman ini dengan yang dirahasiakan di buku itu adalah bumbu emosi yang bertaburan di dalamnya. Salah satu alasan aku tidak dapat menulis setiap hari di blog adalah karena aku memerlukan saat hatiku sedang bersuasana baik atau mengendapkan pikiran maupun perasaanku terlebih dahulu atas suatu hal yang ingin kubagi sehingga tulisanku di sini  tidak terlalu emosional dan relatif ‘aman dan nyaman’ untuk dibaca siapapun. Sementara itu, aku tidak memerlukan momen atau proses serupa untuk menulis di buku harian rahasiaku. Bahkan sebagai seorang perempuan yang emosinya seolah masih rajin naik-turun Gunung Semeru berkali-kali, aku menulis di buku itu justru untuk menumpahkan segala luapan emosiku. Jadi jika tulisan-tulisan dalam buku itu dibaca ulang, niscaya akan ikut terasalah petualangan naik turun gunung emosi itu, hahaha. Ber-ba-ha-ya. 😀

Aku sendiri pernah melakukannya: membaca ulang tulisanku sendiri di buku harian setelah berlalu beberapa bulan atau bahkan tahun dari saatku menulisnya. Rasanya malu sekali. Kadang aku geleng-geleng kepala sendiri menyaksikan tingkahku yang terdahulu, entah terlalu cepat berprasangka buruk hingga salah paham dan larut dalam emosi negatif atau terlalu manja dan kekanak-kanakan. Karena itulah, pada suatu waktu aku mengusulkan pada suamiku, “Setelah halaman dalam buku kita ini habis ditulisi, gimana kalau buku ini segera kita bakar? Supaya tak ada yang bisa membacanya saat kita sudah sama-sama nggak ada!” Sebagai jawaban, Hamdan menolak mentah-mentah. Menurutnya, tak apa-apa jika buku itu dibaca orang lain saat kami sudah tak ada karena akan menjadi sebuah kenangan. Apalagi oleh anak-anak kami kelak (jika akan ada, aamiin). Lalu aku mendebatnya lagi. Kenangan apa? Mungkin lebih tepat disebut kejutan daripada kenangan. Kejutan yang tak nyaman karena tiba-tiba diajak naik turun gunung berkali-kali! Akhirnya, pembicaraan waktu itu berakhir tanpa kesepakatan. Dan sampai saat tulisan ini kubuat, buku itu masih belum kubakar.

Kembali ke soal mamaku dan buku hariannya. Jadi sekarang bisa dipahami kan, mengapa aku begitu terheran-heran dan terkagum-kagum pada keputusannya untuk memperbolehkan kami anak-anaknya untuk membaca buku hariannya dulu? Buku harian, gitu lho. Benda yang bagiku seolah keramat, tak bisa dibuka dan dibaca sembarang orang!

Seaman Roller Coaster

Akhirnya dalam lemari terakhir yang kurapikan di kamar adikku, aku pun menemukannya. Buku harian Mama. Sambil beristirahat sejenak dari si acara kerja bakti, aku membaca isinya. Buku itu ditulisi sejak kurang lebih setahun sebelum Mama dan Papa menikah hingga kira-kira setahun setelah aku lahir. Seperti juga yang terjadi pada buku harian terbaruku, buku itu sebenarnya adalah buku harian suami-istri, meskipun sang istri yang lebih banyak mengisinya. Lalu ada satu lagi kesamaan antara buku harian kami: tulisan-tulisan di dalamnya dipenuhi emosi naik-turun! Tapi setelah kupikir-pikir, sepertinya perumpaan naik turun gunung berkali-kali terlalu berlebihan. Mungkin sebenarnya lebih tepat jika dikatakan seperti bermain roller coaster mini…yuuuhuuu!

buku harian Mama

Dari tulisan-tulisan lama Mama, aku pun menemukan: ternyata Mama manusia juga loooh…#eh. Maksudku, ternyata Mama juga pernah muda! Pernah lupa untuk berprasangka baik, pernah punya keinginan bersenang-senang ala anak muda, sampai pernah keceplosan menggunakan kata-kata yang kurang santun….hihhihii. Dan tentu saja, aku pun makin sadar bahwa ternyata aku sangat mirip dengan Mama. Saat ini, memang pembedanya adalah sifat-sifat terpuji yang sudah jauh lebih banyak melekat dalam diri Mama. Beda halnya dengan Mama kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Lebih mirip aku sekarang. Eh, kebalik ya? Hehehe.

Di bagian akhir buku harian, Mama menyatakan bahwa ia menutup buku harian itu dengan harapan baik. Tak ada lagi yang akan ia tulis karena semua sudah terasa cukup dan Mama berniat memulai lagi dari bawah dengan pandangan yang jauh lebh dinamis dan rasionil. Membaca pernyataan ini, aku pun mulai sedikit mengerti. Mungkin seperti juga aku, saat itu Mama telah menyadari sifatnya yang emosional. Tulisan-tulisan dengan rasa sedih atau marah tercipta mungkin saat ia bahkan belum sempat berpikir jernih. Ini bisa dilihat dari perbedaan mencolok tulisan antara satu hari ke hari berikutnya yang bisa berbeda seratus delapan puluh derajat. Hari ini sedih atau marah, besoknya tiba-tiba bisa berbunga-bunga. Kok persissss aku, ya? #tanyakenapa 😀

Dalam kehidupan sehari-hari yang kami saksikan hingga kini, kami sekeluarga memang sudah mengenal Mama seperti itu. Jadi sebenarnya, isi buku harian itu memang tidak terlalu mengejutkan. Mama adalah sosok manusia yang sangat jujur. Perasaan sedih, marah, senang, semangat, dengan jelas diperlihatkan pada kami. Hmm…apa mungkin karena itulah Mama dengan santai bisa memperlihatkan buku harian lamanya pada kami, anak-anaknya? Kami yang tahu, sesedih atau sekesal apapun Mama terhadap Papa pada satu waktu, kepedulian, kekaguman, hormat, cinta dan kasih sayangnya pada Papa  tak pernah berkurang sedikit pun.

Jadi sekali lagi, ternyata membaca buku harian Mama rasanya tidak sampai seheboh petualangan naik turun gunung berkali-kali (padahal aku juga bukan pendaki gunung, hahaha). Layaknya menaiki roller coaster mini, membaca buku harian Mama itu aman 100% bagi kami anak-anaknya. Tulisan-tulisan dalam buku itu hanya seperti ringkasan atau miniatur dari kehidupan sehari-hari Mama yang telah akrab dengan kami. Hingga akhirnya, tak ada anggapan atau perasaan negatif yang timbul terhadap sosok Mama maupun Papa setelah membaca buku harian itu. Yang ada hanya semakin mengerti, bahwa Mama dan Papa memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Salah atau kurang memahami karakter satu sama lain itu biasa. Namun, hal seperti apapun tidak menghalangi mereka untuk selalu saling mengasihi dan membutuhkan. InsyaAllah…aamiin.

Oh ya. Ternyata Mama sudah sejak dulu berpikir bahwa kelak buku hariannya dapat dibaca olehku. Di halaman akhir buku hariannya, aku menemukan pesannya untukku, yang diawali dengan “Dear Heidy, anakku.. Sayang, buku ini banyak menyimpan cerita tentang Mama & Papa (juga kau). Kami saling mengasihi dan saling membutuhkan…” Nah. Apakah sebaiknya aku meniru langkah Mama itu demi niat baik untuk berbagi juga? Hmm…

 

Salam merenung,

Heidy

Iklan

“Sudah isi?”

Mungkin pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang paling sering didengar oleh para pasangan suami istri yang belum berketurunan DAN semakin sering terdengar di acara-acara silaturahim antar kerabat pada masa lebaran seperti sekarang ini. Setelah melalui lima kali lebaran dengan status menikah-tapi-belum-punya-anak, aku mengoleksi lebih banyak pertanyaan yang serupa tapi tak sama. Berikut beberapa ‘cuil’ contohnya.

“Belum isi juga, ya??” >> Biasanya disampaikan oleh orang yang cukup yakin aku belum hamil, namun merasa sangat butuh, penting, dan MENDESAK untuk mendapatkan kepastian! Merdeka!!

“Jadi kapan nih, momong anak juga?” >> Pertanyaan salah alamat.  Mungkin maksudnya mau bertanya pada Tuhan dan mendoakan kami, tapi tanpa sengaja ia mengucapkan isi pikirannya itu dengan suara nyaring.

“Kok belum ngasih ‘hadiah’ juga nih ke orangtua?” >> Gagal paham atas pertanyaan ini. Apa maksud si penanya, hanya ia dan Tuhan yang tahu. Daripada berprasangka buruk, biasanya aku hanya menanggapi dengan diam dan menatap lurus matanya sambil berusaha keras mengosongkan pikiran.

Tidak sedikit sesama pasutri-belum-berketurunan yang merasa kesal dengan pertanyaan-pertanyaan serupa di atas. Kurasa kalau ada semacam sayembara untuk pertanyaan paling menyebalkan bagi kami, pastilah pertanyaan ini akan menjadi juara bertahan hingga berabad-abad.

Sebenarnya aku sendiri sudah mulai terbiasa dirongrong pertanyaan-pertanyaan serupa di atas sejak beberapa tahun yang lalu. Sedih dan kesal tiap mendengarnya pernah kurasakan, tapi lama-lama memudar juga.  Aku punya cara sendiri menghadapinya.

Pertama adalah berprasangka baik kepada siapa pun yang mengajukan pertanyaan itu. Apa alasan mereka bertanya seperti itu? Tentu karena ingin tahu kabarku. Mereka peduli atau perhatian padaku, hanya saja kebetulan tidak punya banyak variasi cara untuk menunjukkannya. Sayang sekali mereka tidak mengikuti semacam kursus untuk belajar soal itu.

Kedua adalah menikmati perhatian yang diberikan.  Rasa sedih atau gelisah biasanya menyelinap begitu aku menjawab pertanyaan itu seadanya, entah dengan menggelengkan kepala atau sekadar mengucapkan “belum”. Karena itu, aku menetralisirnya dengan  malah bercerita panjang lebar. Rasanya jadi seperti menumpahkan curahan hati. Kasihan sih, pada si penanya, kalau sesungguhnya ia tidak sepeduli itu dan tidak mengharapkan jawaban yang sama sekali tidak singkat. Tapi  mari ingat poin pertama tadi: aku sudah berprasangka baik bahwa  yang bertanya memang benar-benar peduli padaku. Jadi kalau asumsi dan cek logika ini tidak benar, salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue? #edisiAADC* #eh

Dari tahun ke tahun, aku merasa pertanyaan serupa yang ditujukan padaku semakin jarang atau berkurang. Alhamdulillah. Mungkin karena semua orang sudah lebih bijaksana. Atau mungkin karena sudah bosan atau lelah bertanya. Atau mungkin kapok karena terakhir menanyakannya untuk basa-basi, malah mendapat curahan hati yang berkilo-kilometer panjangnya? Hihihi. Yang mana pun, segala puji bagi Allah SWT!

sasaran pertanyaan “Kapan nikah?” & “Kapan punya momongan?”

Dengan berkurangnya ‘teror’ kepadaku, aku jadi punya keleluasaan hati memperhatikan hal lain. Seperti yang sudah kita ketahui bersama sejak dahulu kala, pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu pun menyerang berbagai kalangan lain dalam wujud yang berbeda-beda. Misalnya, pertanyaan “Jadi kapan nih, ngirim undangan?” yang ditujukan pada adik perempuanku semata wayang yang biar kupromosikan sekalian di sini: baik hati, rajin, cantik, gemar menabung, dan tentu saja: JOMBLO.

Lalu pertanyaan sejenis pun dilontarkan pada orangtua kami. Lebih lengkap, pula. Pertanyaan “Kapan mantu lagi?” dan “Kapan menggendong cucu?” datang sekaligus. Subhanallah. Seolah mengikuti perjalanan hidup manusia, pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kepedulian itu memang tak ada habisnya.  Yang jomblo, ditanya kapan menikah. Yang sudah nikah, ditanya kapan punya momongan. Yang sudah punya anak satu, ditanya kapan ada adik untuk si kakak. Yang anaknya sudah dewasa, ditanya kapan punya menantu. Dan seterusnya, tapi anehnya, tak ada yang akhirnya bertanya, “Kapan berpulang?

Kusebut aneh, karena bukankah sebenarnya pertanyaan terakhir itu seharusnya masuk dalam ‘geng’ pertanyaan populer itu? Satu, karena kembali menghadap Sang Pencipta juga adalah bagian dari perjalanan hidup. Dua, karena jawaban untuk pertanyaan “kapan meninggal” SAMA PERSIS dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya di atas: HANYA TUHAN YANG TAHU!

Aku yakin, bersilaturahim dan peduli akan kabar kerabat yang sudah lama tak dijumpai adalah hal baik. Namun kurasa peduli itu tak selalu harus ditunjukkan. Apalagi jika sudah habis akal mencari cara untuk menunjukkannya. Kata-kata yang terlontar malah jadi mengada-ada, sia-sia, atau bahkan membawa keburukan. Untuk apa melontarkan pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabnya pada sesama manusia?  Tolong. Buat aku mengerti.

 

Salam bertanya,

Heidy

* Bagi yang kurang terpapar informasi, AADC adalah singkatan dari Ada Apa Dengan Cinta, sebuah judul film, bukan sejenis makanan. *krauk*

Idul Fitri 1433 H

Idul Fitri tahun ini adalah Idul Fitri yang kelima bagi kami sejak menikah, meskipun baru tiga di antaranya yang benar-benar kami lalui bersama-sama, berkat pekerjaan Hamdan selama ini yang memang tidak kenal hari libur umum apapun! Kalau tanggal merah di kalender itu adalah hari gilirannya bekerja berdasarkan hitungan jatah on-off, yaa tak ada kata libur. Kalau hari libur itu bertepatan dengan jatah off-nya dan ada rekan yang bisa menggantikannya, berarti itu REJEKI!

Kalau tak salah, sampai dua kali Idul Fitri setelah menikah, Hamdan selalu bisa pulang, alhamdulillah. Ibu (mertua) sampai terheran-heran. Menurutnya, sejak bekerja dan sebelum menikah, tidak sekalipun ia pernah bisa lebaran di rumah. Yah, mungkin itu salah salah satu berkah menikah ya, bu… 😀

Lalu akhirnya aku mencicipi juga rasa berjauhan dengan suami saat lebaran. Huweee….ndak enak ya, ternyata! Kondisiku sendiri sih lumayan karena masih dikelilingi keluarga. Yang sedih ya membayangkan Hamdan yang tetap bekerja di tengah laut di hari raya itu 😦

Alhamdulillah tahun ini, dan mudah-mudahan pula bertahun-tahun berikutnya, kami bisa berlebaran bersama-sama lagi. Yeay! Ini hal yang penting sekali untuk disyukuri, kaan?

bersama sebagian anggota keluarga besar Ibu

bersama sebagian anggota keluarga besar Mama

Selamat Idul Fitri 1433H bagi siapapun yang merayakannya (dan membaca tulisan ini)! Semoga seluruh amalan kita diterima Allah SWT dan kita benar-benar kembali fitri, siap menjadi manusia-manusia yang lebih baik. Aamiin.

Salam lebaran.

Heidy (+Hamdan)

Tiga Dasawarsa yang Menginspirasi

Tiga puluh tahun yang lalu, pada tanggal dan bulan ini, orangtuaku mulai membangun rumah tangga mereka. Tentu saja aku tak tahu tepatnya bagaimana awal atau tahun pertama pernikahan mereka karena aku belum dihadirkan ke dunia ini pada saat itu. Begitu pula beberapa tahun berikutnya, pada saat aku belum mampu mengingat apapun.

Memoriku mulai jelas mungkin setelah lima tahun mereka bersama, namun awalnya hampir tak ada pula yang kuingat tentang mereka. Yang kuingat hanya aku dan dunia bermainku. Apa mereka suami-istri yang mesra dan berbahagia pada saat itu? Aku tak tahu. Yang kutahu, aku aman tak kekurangan apapun dan dunia bermainku benar-benar indah. Cukupkah itu bagiku? Itu sempurna! Begitu banyak anak di dunia ini yang tak punya rasa aman dan bahagia karena apa yang terjadi di antara orangtuanya, tapi aku bukan salah satu di antaranya. Sungguh keterlaluan jika aku tidak mensyukurinya.

Aku baru mulai dan terus memperhatikan interaksi orangtuaku sebagai suami-istri sejak remaja. Ternyata, mereka hanya manusia biasa. Bukan malaikat, maksudku. Bukannya tak pernah saling sedih, kesal atau bahkan marah karena satu sama lain. Sering, malahan! Maklum, kadang-kadang keduanya terlalu ‘bervariasi’ dalam bersikap atau berpendapat…hahahaha. 😀

Seiring dengan bertambahnya usia perkawinan mereka, seiring dengan semakin giatnya mereka mengupayakan keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah, semakin banyak pula ujian maupun nikmat yang diberikan pada mereka. Sebagian di antaranya kusaksikan dan masih kuingat. Dan aku bersyukur karenanya.

Itu adalah kesempatan yang berharga untukku, dan kemudian pula untuk suamiku. Tak ada guru yang lebih baik daripada pengalaman. Dan syukur alhamdulillah, pengalaman orangtuaku selama tiga dasawarsa mengarungi bahtera rumahtangga tak sungkan mengajarkan kami banyak hal.

Orangtuaku tak selalu sependapat dalam berbagai hal. Kadang mereka menyenangi hal yang bertentangan, juga membenci hal yang berbeda. Kehidupan berumahtangga tak selalu mudah. Berbagai cobaan datang silih berganti. Mulai dari yang ringan hingga yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dan terasa maha berat. Namun, sebanyak apapun kesusahan yang bisa mereka jadikan alasan untuk berhenti bekerja sama, mereka tetap bergandengan tangan. 🙂

Entah sejak kapan, hingga kini aku terbiasa menyaksikan kebiasaan orangtuaku saling meminta maaf dan mengungkapkan sayang setiap usai salat berjamaah. Kebiasaan kecil, sih. Kalau ditotal, jumlahnya pun mungkin bersaingan dengan jumlah adegan debat yang mereka lakukan…hihihi. Namun, aku merasa kebiasaan yang tampak remeh ini sesungguhnya punya arti yang besar: bahwa apapun yang terjadi di antara mereka, tujuan mereka tetap satu: Allah SWT.

Mengapa menyayangi, menghargai, dan menghormati suami atau istrimu? Apakah karena harta, jabatan, ketenaran, atau berbagai kenyamanan dalam hidup yang disangka nikmat? Bukankah itu sangat meragukan dan menakutkan, bergantung pada ketidakkekalan? Lain halnya jika alasan itu adalah DIA Yang Maha Kekal. Sebuah alasan sekaligus tujuan yang meyakinkan dan menentramkan.

Aku telah melihatnya pada orangtuaku. Dua insan yang kini sungguh-sungguh berupaya dalam mendapatkan ridhoNya untuk dunia dan akhirat. Dalam apapun yang mereka lakukan, itulah harap cemas mereka. Karena itu, kurasa dan kuharap ketentraman, kebahagiaan dan kasih sayang dalam kebersamaan mereka yang mencapai usia tiga dasawarsa di dunia ini barulah secuil dari limpahan berkah dariNYA Yang Maha Memberi. Semoga Allah SWT senantiasa menyayangi dan melindungi mereka, kemudian kelak di akhirat pun keduanya kembali dipersatukan dengan cinta yang berkekalan.

Selamat ulang tahun pernikahan ketigapuluh, Mama dan Papa. Terimakasih telah menginspirasi kami dan –mungkin– pasangan muda lainnya. Semoga kita semua mampu membangun dan menjaga keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Amin.

Pasangan idolaku!

salam doa & cinta,

Heidy