di luar Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Appendicitis vs KET

Hanya selang beberapa minggu setelah mengalami kegagalan si inseminasi buatan (Juni 2011), aku mendapatkan pengalaman istimewa lainnya.

Pada suatu hari yang sibuk di antara hari-hari sibuk lainnya (jadi intinya bukan di hari yang santai), aku merasakan nyeri di bagian perut bawah sebelah kanan. Nyerinya hilang dan timbul setiap beberapa saat. Mulanya kuabaikan, karena menurutku nyeri perut itu biasa. Lagipula, seharian itu aku dan Hamdan memang harus ‘berkeliling kota’ untuk berbagai urusan. Mungkin saja dengan berbagai kesibukan, sakit itu akan terlupakan dan hilang sendiri.

Namun ternyata lama-kelamaan, jeda waktu antara nyeri semakin sempit, dan si nyeri makin terasa. Beberapa kali aku sampai harus membungkuk sedikit saat berjalan. Hamdan yang sedang bersamaku merasa khawatir. Ia mengusulkan untuk pergi ke dokter/ rumah sakit. Aku yang masih berpikir bahwa nyeri perut itu biasa, merasa usul itu berlebihan. Memang ada kebingungan karena nyeri terasa di bagian perut sebelah kanan bawah, yang berarti tidak mungkin karena maag (karena biasanya sakit maag terasa di ulu hati atau bagian kiri perut), namun tetap saja aku tidak ingin berpikir yang bukan-bukan.

Ketika malam tiba dan tinggal satu urusan lagi sebelum kami pulang ke rumah, aku menyerah. Saat itu aku menunaikan salat Isya dengan diimami suamiku. Ketika bangun dari sujud terakhir, aku hampir berteriak. Nyeri itu tak tertahankan lagi, dan aku langsung terkulai usai mengucap salam. Hamdan tak pikir panjang lagi, aku pun langsung dilarikan ke UGD rumah sakit umum terdekat.

Di UGD, aku diperiksa oleh dokter umum yang berjaga malam itu. Menurut diagnosanya, aku menderita appendisitis (usus buntu). Untuk memastikan, aku pun melakukan tes darah. Meningkat drastisnya kadar leukosit dalam darah menunjukkan sudah terjadinya infeksi dalam tubuhku.

Mamaku, yang kebetulan seorang dokter juga, sangat kaget waktu malam itu Hamdan menelepon dan memberitahu bahwa aku harus dioperasi usus buntu keesokan harinya. Aku kan baru mengeluh sakit sejak awal hari itu, masa’ harus operasi dalam waktu kurang dari 24 jam? Itulah hal yang membuatnya tak habis pikir.

Selain itu, Mama juga mencurigai kemungkinan lain. Menurutnya, seorang perempuan yang mengeluh sakit di perut bawah harus dicurigai dari berbagai sudut kemungkinan, tidak boleh tergesa-gesa dalam meyakini suatu diagnosa. Ditambah pula dengan kenyataan: belum genap sebulan lalu aku melakukan inseminasi buatan.

Atas permintaan Mama, operasi pun ditunda dan keesokan paginya aku dirujuk periksa ke seorang dokter kandungan yang berpraktek di rumah sakit itu. Lalu berdasarkan hasil pemeriksaannya via usg, aku diduga mengalami kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik (KET).

Perasaanku campur aduk ketika dokter mengatakan diagnosa KET yang terjadi padaku. Masalah kami yang lain belum selesai, apa pula ini? Aku juga tidak percaya mentah-mentah diagnosa tersebut, mengingat sebelumnya aku baru saja selesai mengalami menstruasi. Bukankah jika menstruasi terjadi berarti tidak ada embrio yang terbentuk dan semuanya sudah terbuang bersama penebalan dinding rahim yang meluruh?? Tapi katanya, hal itu tetap bisa saja terjadi..

Namun di luar pemikiran di atas, aku dan Hamdan yang saat itu terus bersama-sama (seharusnya tepat hari itu ia berangkat lagi ke Balikpapan, tapi batal karena aku harus opname) juga ‘menikmati’ segala yang terjadi. Berdua, kami saling bercanda yang mungkin juga sekaligus saling menghibur. Misalnya, “Ya kalo bener lumayan juga, ngerasain juga deh yang namanya hamil meskipun sebentar…kemajuan kan….hehehe.”

Sebenarnya aku sempat menyarankan agar Hamdan berangkat kerja saja. Soalnya tiket pesawat sudah di tangan. Lagipula setahuku operasi usus buntu itu operasi biasa, nggak heboh-heboh amat. Lagipula juga aku di Jakarta, di kota yang sama dengan orangtua kandung maupun mertuaku. Bukankah ini alasan kenapa aku tinggal di kota ini? Agar kalau ada apa-apa dan suamiku masih di laut, ada begitu banyak orang yang bisa dimintai bantuan…

Tapi suamiku yang penyayang menolak mentah-mentah saranku. Bagaimanapun, ia ingin menemaniku. Menurutnya sungguh tak masuk akal, aku masuk rumah sakit dan ia terbang ke pulau lain. Akhirnya aku pun mengalah, mengikuti keputusannya yang sudah bulat, dan….tentunya menikmati perhatian ekstranya! Duh, kalau ingat ini…sungguh takkan habis rasa syukurku, dikaruniai suami yang ingat akan sifat Ar-Rahman & Ar-Rahiim dalam dirinya …Subhanallah…

Jadi mungkin itulah kenapa, baik nyeri hebat di perut maupun diagnosa KET tidak terlalu berdampak pada perasaanku. Soalnya suamiku bukan hanya setia mendampingi, tapi juga asyik pacaran denganku…hehehe. Sampai-sampai ada suster yang tak tahan bertanya pada kami, “Bapak & Ibu pengantin baru, ya? Masih mesra banget deh…” Duhh jadi malu pas jawab, “Iya sus, baru 4 tahun…”

Orang-orang sampai heran melihat wajahku segar-segar saja, tidak terlihat murung, pucat, dan sebagainya (bahkan Mama sampai makin meragukan kalau aku benar-benar sakit!). Malah ada sahabatku yang ‘menggantikanku’ menangis, karena menurutnya aku begitu tabah…heee….waduhh…aku malah bingung. Soalnya serius beneran bukannya merendah, tapi aku memang tidak merasa sedang mendapat suatu kesusahan, kok! Yang susah itu kan orang yang nggak punya makanan, kehujanan…nggak punya rumah, dsb. Nah dibandingin orang-orang itu aku malu dong, kalo ngaku-ngaku susah?

Yah, begitulah sodara-sodara. Maafkan jika mungkin bukan posisiku untuk berpesan ini: masalah apapun yang kita hadapi, ingatlah bahwa kita tidak benar-benar tahu….mungkin masih buanyaak orang di luar sana yang lebih susah dari kita. Mungkin dibandingkan mereka, masalah kita nggak ada apa-apanya banget. Malu, kalo sampai ketahuan nangis putus asa (nangis sembunyi-sembunyi untuk keluarkan emosi sesekali sih nggak apa kayaknya, aku juga sering)! Dan sebagai orang beriman, mari terus ingat : Tuhan tidak pernah memberikan ujian pada seseorang kecuali ia juga diberikan kekuatan untuk MAMPU menghadapinya.

Pesan singkat di atas ini juga untuk catatanku sendiri, karena…yah, ngomong sih gampang, ya. Kenyataannya, aku sendiri juga suka lupa. Butuh banget diingetin berulang-ulang! Mengingat pengalaman sendiri juga ternyata bermanfaat sekali. Bagiku sendiri, pengalaman di atas selalu jadi pengingat…bahwa susah atau tidaknya kita, bahagia atau tidaknya kita, bukan bergantung pada apa yang kita hadapi…tapi bagaimana kita menghadapinya. Jadi, mari tentukan sendiri: mau nangis atau senyum, mau sedih atau bahagia??

Cerita terkait rencana kehamilan di tahun ke-4 perkawinan kami ini masih berlanjut… Pada tulisan berikutnya, aku akan bercerita tentang Laparoskopi dan Operasi Usus Buntu. Terimakasih sudah membaca!

Salam,

Heidy

2 thoughts on “di luar Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Appendicitis vs KET

  1. Dy, rencana kehamilannya aku lihat pakai nalar manusia semua..
    mau mencoba yg “sulit” dinalar?
    dari kisah-kisah sedekah, ada yg sedekah gila-gilaan (baca: mendekati 100% dari yg dimiliki dan tentunya sholat wajib ga lepas, sunnah dhuha dan tahajud diusahain terus)..
    akhirnya diberikan anak..

    just suggesting.. why don’t you both give it a try?😀

    • hi Rifki.. hehe iya ini baru mulai ngeblog lg n sebenernya baru ‘bayar utang’ cerita yg udah lewat. Yg baru sempet ditulis ya emg baru yg ‘dinalar’.. InsyaAllah nanti ada jg deh share soal ‘perjalanan’ yg lain…thx anyway 4 suggesting🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s