Mendalami Keikhlasan Melalui Persoalan Infertilitas

Kali ini aku ingin bercerita tentang ‘perjalanan hati’ kami, yang sebenarnya masih berhubungan dengan topik rencana kehamilan. Karena urusan hati yang abstrak sulit dijelaskan secara singkat, maka perlu kuingatkan terlebih dahulu: ini akan menjadi bacaan yang lumayan panjang bagi siapapun yang sudi membacanya. Terimakasih atas perhatiannya! 🙂

Kegelisahan yang berlalu

Dalam masa dua tahun pertama perkawinan dahulu, topik infertilitas yang erat dalam kehidupan kami sebenarnya cukup menyulut kegelisahan hati. Ini jelas terlihat padaku, yang memang lebih ekspresif saat emosi terganggu. Hamdan sih terlihat santai-santai saja, meskipun mungkin tidak benar-benar demikian dalam hatinya. Maklum, sebagai suami, ia berpikir bahwa menjagaku lahir batin lebih penting ketimbang mengurusi perasaannya sendiri. Maka ia pun sibuk menenangkanku, menuntunku pada rasa damai, dan tidak memamerkan kegelisahannya sendiri. Hiks. Terimakasih, suamiku!

Memasuki tahun ketiga perkawinan, kegelisahan itu mulai berkurang. Menangis dan marah-marah tak jelas yang sering terjadi padaku di dua tahun pertama perkawinan sudah tak ada lagi, mungkin karena aku dan Hamdan sibuk menikmati masa-masa pacaran halal ini…hehehe.

Sebenarnya hilang benar-benar tidak juga, karena ada kalanya kegelisahan itu tersamarkan oleh antusiasme. Setiap memulai langkah baru seperti terapi PLI, pengobatan-pengobatan alternatif hingga inseminasi buatan, rasa antusias itu selalu tak terbendung. Antusias itu tidak buruk, tentu, namun ternyata cukup mempengaruhi ketenangan pikiranku. Kalau diingat-ingat lagi, aku terlalu banyak berpikir sejak konsepsi terjadi pada masa subur hingga mengetahui hasilnya di hari pertama menstruasi (termasuk kecanduan memakai testpack, hoh…tell me about it!)

Pesan-pesan orang tentang keikhlasan, kepasrahan, dan sebangsanya terkait dengan soal rencana kehamilan kami nyaris seperti angin lalu bagiku. Bukan karena tidak percaya, tapi justru karena aku merasa kami sudah melakukannya. Lha wong kami sudah sering membicarakan soal rencana adopsi dan bagaimana jika hanya-berdua-saja-hingga-kakek-nenek. Bukankah itu bukti bahwa kami memang sudah ikhlas? Karena itulah aku dengan sok tahu merasa bahwa ‘pesan-pesan sponsor’ itu sudah tidak diperlukan…astaghfiruloh 😦

Memaknai ibadah

Pada suatu waktu, ada anjuran untuk melakukan ikhtiar yang kata orang-orang ‘sulit dirasionalisasi’: memaksimalkan sedekah. Cukup banyak yang menyampaikan hal ini padaku, bukan hanya 1-2 orang. Di antaranya juga menyebut-nyebut bahwa itu adalah ajaran ustad yang cukup populer di televisi (yang sepertinya kau pun tahu tanpa kusebut namanya itu:D).

Tanpa mengurangi rasa hormat pada sang ustad kondang, aku dan Hamdan merasa sulit menelan bulat-bulat seluruh ‘ajaran’nya. Bukan soal sedekahnya, tapi soal mengapa dan bagaimana penjelasan di balik itu. Yang kupahami (mohon koreksi jika salah) adalah memaksimalkan sedekah dan ibadah lainnya dalam rangka memohon dikabulkannya suatu keinginan. Untuk sedekah, ada nominal yang berbeda yang dianjurkan untuk dikeluarkan untuk hajat yang berbeda. Lalu soal ibadah lain misalnya shalat, dianjurkan untuk mengedrop mata kuliah yang menyebabkan tidak dapat salat Dzuhur berjamaah di awal waktu di masjid dan diulang pada tahun berikutnya (Kataku: lalu gimana kalau masih bentrok juga tahun depannya? Kata Hamdan: lalu kenapa Rasul mencontohkan dirinya juga tidak selalu salat di awal waktu??) Seorang teman bahkan menjelaskan prinsip ini seperti membujuk rayu, atau bahkan lebih kasar lagi: membeli Tuhan.

Apa yang salah dengan itu? Mungkin tidak ada. Hanya saja tidak sesuai dengan keyakinanku dan Hamdan. Persoalan demi persoalan yang kami hadapi mengajarkan banyak hal tentang ketuhanan, yang dapat dibenangmerahi : Tuhan itu Maha Pengasih lagi Penyayang, Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Mungkin tidak bagi banyak orang, tapi entah kenapa aku sulit membayangkan Tuhan hanya memberi jika ‘dirayu’ dengan berbagai bentuk ibadah. Soalnya yang kutahu dan kurasakan hingga kini, Tuhan telah mengaruniaiku begitu banyak hal tanpa ku’rayu’, bahkan tanpa kutahu bahwa itu baik untukku, dan sebelum aku tahu dan ingat berterimakasih padaNya. Pemikiran bahwa karena aku membujukNyalah maka anugerah itu turun justru tak rasional bagiku sendiri.

Lalu soal ibadah itu apa? Aku teringat Rasulullah yang banyak melakukan salat sunnah hingga kakinya bengkak. Bukankah beliau adalah manusia yang sudah dijamin surga olehNya? Apa lagi yang diharapkan beliau dengan melakukan ibadah-ibadah itu? Ya, mungkin tidak mendoakan dirinya sendiri melainkan umatnya, lalu juga sebagai contoh bagi kita. Namun ada hal lain yang kuinterpretasikan: betapa dahsyatnya cinta beliau pada Allah SWT, betapa beliau ingin terus memaksimalkan ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang diturunkan.

Kisah Rasulullah itu sungguh membuatku terharu dan malu. Belum pandai aku berterimakasih dan mensyukuri anugerahNya yang telah berlimpah dalam hidupku dan aku sudah ingin menuntut minta diberikan yang lain? Pertama, aku tidak berani karena merasa tidak sopan. Kedua, aku tidak benar-benar tahu apa yang baik untukku, jelas tidak lebih baik dariNya. Seburuk, sepedih, sekeras suatu hal tampaknya di mata manusia, aku memilih untuk meyakininya sebagai sebuah anugerah. Bahkan azabNya yang pedih di dunia pun kurasa sebuah anugerah, karena masih adanya kesempatan kita untuk tersadar dan memperbaiki diri (kita belum mati dan kiamat belum terjadi!). Keyakinan atas hal inilah yang semakin membuatku berhati-hati saat berdoa. Bukan hanya doa yang terucap, tapi juga ungkapan hati saat berdialog denganNya.

Menurutku, ibadah seharusnya adalah suatu kebutuhan, bukan keharusan. Hanya dengan demikianlah aku merasa ibadah itu sama sekali tidak memberatkan, malah membuat ketagihan. Ibadah yang kumaksud di sini tentu tidak hanya sebatas salat, puasa, berzakat, dan berhaji…namun juga segala kebaikan yang dilakukan di dunia dengan menyebut namaNya dan mengharap berkahNya.

Kebutuhan untuk salat, misalnya. Aku merasa bahwa perintah Allah SWT untuk melakukannya minimal lima kali sehari sama sekali bukan untuk memberatkan kita demi memuliakanNya (memangnya Tuhan butuh kita muliakan dulu baru bisa mulia?), tapi karena tahu bahwa kita membutuhkannya: untuk berdekatan denganNya, untuk terus mengingatkan kita akan hakikat dan tujuan dari segala yang hal yang kita lakukan di dunia, untuk menjernihkan, mendamaikan serta menenangkan hati dan pikiran setelah mengalami kekalutan atas suatu hal, dan sebagainya.

Pelajaran berharga

Kembali kepada persoalan menarik sebelumnya, yaitu ibadah berupa bersedekah ‘gila-gilaan’ yang dilakukan beberapa orang dalam rangka mohon dikabulkannya suatu hajat. Aku memang belum mendapat cerita langsung dari orang yang melakukan itu namun akhirnya tidak memperoleh hasil sesuai perkiraan atau keinginannya di awal, jadi mungkin tidak salah jika ada yang menyimpulkan secara sederhana soal ‘membujuk rayu’ Tuhan tadi. Namun lagi-lagi, yang kupahami tidak demikian (aku memilih untuk tidak memahaminya begitu).

Bersedekah maksimal hingga hampir mencapai batas kemampuan penghasilan seseorang itu tidak sesederhana yang diucapkan. Yang belum pernah mencobanya sendiri mungkin bisa lebih paham dari curhat mendalam orang-orang yang sudah melakukannya. Dibutuhkan keikhlasan yang luar biasa untuk melakukan hal seperti ini. Bayangkan saja, uang yang dihasilkan dengan susah payah hingga mungkin memeras bergalon-galon (lebay sedikit boleh dong) keringat dan air mata lalu tidak dinikmati sendiri, melainkan direlakan untuk kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan. Dibutuhkan dorongan dan kekuatan yang sangat besar ketika pertama kali melakukannya (berikutnya sih biasanya ketagihan). Masih tidak terbayang? Ya sudah lakukan, rasakan, dan buktikan sendiri. 😀

Lalu apa yang terjadi setelahnya? Jika segala yang dikeluarkan itu dengan sukes tidak lagi diingat-ingat, diakui apalagi disebut-sebut, dibicarakan atau bahkan diumumkan pada dunia, maka ucapkanlah selamat pada diri kita sendiri karena berarti apa yang diajarkan Tuhan tentang ikhlas itu telah merasuk hingga tulang-tulang dan darah kita. 😀

Ya, itulah yang akhirnya kupilih untuk kupahami: sedekah yang mengajarkan ikhlas yang sebenar-benarnya. Itu adalah jalan permohonan pada Tuhan untuk diajarkan mendalami keikhlasan yang hakiki. Apa yang terjadi pada pasutri seperti kami yang melakukan sedekah seperti itu pun bukan lagi persoalan minta diberi anak. Itulah yang disebut-sebut orang ‘sudah pasrah’. Mereka sudah sibuk mendalami keikhlasan itu sendiri hingga mencapai kedamaian, tak ada lagi kegelisahan seperti yang masih sering kualami dulu.

Oh ya. Pelajaran ikhlas itu sendiri juga tidak hanya dapat diperoleh dari sedekah. Salah satu hal lain yang sepele namun ternyata penting: memaafkan orang, terutama yang dzalimnya luar biasa keterlaluan pada kita. Ketika mampu memaafkan orang seperti itu, ‘kerasukan’ ikhlas yang persis sama rasanya dengan saat sedekah besar-besaran itu pun telah terjadi pada diri kita.

Soal ikhlas dan berketurunan

Keikhlasan itu bisa erat hubungannya dengan kemampuan berketurunan. Secara medis pasti bisa dibuktikan, dalam keadaan yang telah benar-benar ‘terasuki’ keikhlasan itu, hormon-hormon yang awalnya tidak bekerja dengan baik seolah mengalami keajaiban dan normal dengan sendirinya.

Namun, kurasa dapat pula tidak berhubungan. Mengingat keyakinanku bahwa Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang selalu memberikan yang terbaik bagi kita, bisa jadi ajaran ikhlas yang telah dipahami sepenuhnya itu tetap tidak berpengaruh pada masalah kesehatan apapun termasuk soal infertilitas. Banyak kan, pasangan suami istri yang tidak punya anak kandung seumur hidupnya padahal tidak punya masalah kesehatan apapun secara medis? Dan sungguh keji serta sok tahu jika kita seenaknya mengatakan bahwa yang bermasalah adalah kesehatan emosional dan/atau spiritual mereka. Tahu apa kita tentang ‘perjalanan’ mereka? Tahu apa kita soal perjuangan mereka mencapai keikhlasan itu? Tahu apa kita soal kualitas ibadah dan kedekatan mereka dengan Tuhannya? Tahu apa kita soal bahagia-tidaknya mereka? Tahu dari mana kita bahwa mereka bukanlah orang-orang yang lebih dimuliakan, dirahmati, dan diselamatkan dunia akhirat dengan ketiadaan keturunan itu? Mari doakan diri sendiri dulu, semoga kita diselamatkan dari pikiran sombong dan sok tahu yang menjijikkan, amiin.

Bagiku dan Hamdan, langkah-langkah usaha untuk berketurunan tetap harus dijalankan beriringan dengan pendalaman kami atas keikhlasan. Secara empiris (Ingat kan kalau empiris dan rasional itu berbeda, tapi ilmu filsafat ini tak perlu kita bicarakan di sini yaa), memang dapat dijelaskan karena terbukti sejak awal kami memiliki beberapa masalah terkait dengan infertilitas. Dan justru saat menempuh berbagai usaha itulah, perjalanan spiritual kami semakin terasa indah. Misalnya ketika akhirnya diketahui bahwa aku menjadi 100% subur setelah sebelumnya pernah punya masalah hormon, atau ketika mendapati hasil lab Hamdan yang akhirnya membaik setelah bertahun-tahun, Tuhan mengajarkan pada kami bahwa bahagia itu sederhana, hanya sejauh rasa syukur!

Lalu ternyata segala bentuk ikhtiar itu pun sesungguhnya malah turut membantu kami dalam mempelajari keikhlasan itu sendiri. Ini kupahami salah satunya dari salah satu pasutri yang bercerita tentang ikhtiar mereka melalui bayi tabung. Di antara beberapa pasangan yang melakukannya bersamaan, kebetulan hanya merekalah yang berhasil. Sang suami bercerita bahwa dalam prosesnya, ia dan istrinya terus menerus saling mengingatkan untuk terus mendalami keikhlasan mereka.

Aku yang sudah pernah melakukan inseminasi buatan saat mendengar cerita itu merasa dapat membayangkan bagaimana sulitnya hal tersebut dilakukan. Aku saja yang waktu itu ‘cuma’ inseminasi sudah terus menerus kepikiran, bagaimana dengan bayi tabung yang berarti telah terjadi pembuahan? Betapa rawan/kritisnya saat-saat itu dalam mempertahankan keikhlasan yang terwujud dalam ketenangan pikiran dan kedamaian perasaan, serta konsisten dalam mengucapkan doa: “Ya Rabb, bimbinglah kami untuk ikhlas atas segala ketentuanMu, jauhkanlah kami dari segala prasangka buruk dan takabur.”

Subhanallah. Dari cerita mereka, aku pun makin paham kenapa inseminasi buatan pertama yang kami lakukan gagal.

Di tahun kelima pernikahan ini, kami mulai kembali melakukan perjalanan yang ‘menantang titik rawan’ untuk menguji keikhlasan penuh itu. Dan sesuai pemahaman ini, hanya ada satu hasil yang kami harapkan: tetap ikhlas atas segala ketentuanNya. Semoga niat ini diridai dan setiap langkah kami diberkahi. Amiin.

Salam ikhlas,

Heidy (+Hamdan)

Iklan

Ikhtiar Kehamilan Tahun V : Kembali ke ObGyn

Kegelisahan Baru

Terakhir kali aku ke dsog (dokter spesialis obstetri dan ginekologi) adalah saat melakukan inseminasi buatan pada Mei 2011 lalu. Setelah mendapati tidak ada hasil dari langkah tersebut dan dokter androlog kami menduga level ASA-ku (Anti Sperm Antibody) yang masih tinggi adalah penyebabnya, kami pun berhenti ke obgyn dan fokus melanjutkan terapi PLI (Paternal Lecocyte Immunization).

Ketika beberapa bulan kemudian level ASA-ku sudah hampir normal dan telah terjadi pula peningkatan kualitas gerak sperma suamiku (Subhanallah!), sang androlog pun menyarankan agar kami mengusahakan kehamilan secara alami saja dulu (bukan inseminasi buatan) sambil tetap melanjutkan terapi PLI untuk pemeliharaan (frekuensinya lebih jarang dengan ketika bertujuan untuk menurunkan). Beliau bahkan ‘mengusir’ kami agar tidak bolak-balik konsultasi padanya ketika ingat bahwa Hamdan lebih banyak tidak bertemu denganku…hahaha.  “Gimana mau jadi kalo nggak ketemu?? Usaha dulu sana yang rajin, nanti kalau udah 4-5 bulan nggak jadi baru datang lagi!” katanya galak (galak bercanda loh, bukan betulan).

Maka kami pun menyambut tahun ke-5 perkawinan dengan langkah yang semakin ringan dan riang gembira. Sebenarnya seiring dengan berjalannya waktu, pikiran memang semakin tidak terbebani oleh masalah ‘ikhtiar berketurunan’. Dan sebenarnya tak perlu dokter juga kalau soal ‘rajin berusaha’, sih…pasangan suami istri masih muda begini, masa iya nggak rajin? Ups…ada anak di bawah umur di sini? Maksudnya rajin belajar di sekolah ya deek 😀

Akhir Februari 2012. Kira-kira sudah 4 bulan berlalu sejak androlog kami menyatakan peluang suami untuk menghamiliku (ehrm!) sudah cukup besar dan menganjurkan untuk berupaya hamil secara alami dulu. Namun selama itu, ia pun meminta kami tetap melakukan terapi PLI untuk penjagaan (bukan lagi penurunan) level ASA hingga setidaknya trimester pertama kehamilan terlewati. Karena itulah kami melakukan terapi PLI yang ke-13 pada bulan Februari itu.

Kegelisahan yang sudah lama sekali tak kukenal, timbul kembali di hari pelaksanaan PLI itu. Kami tidak bisa berkonsultasi dengan sang androlog karena ia sedang cuti. Lalu dokter dan suster jaga juga tidak bisa membantu memberikan saran yang berguna!

Bagaimana pun, kami tidak berniat melakukan terapi PLI seumur hidup. Terapi ini harus dihentikan, tapi mulai kapan dan bagaimana, tepatnya? Tidak adil jika pertanyaan ini hanya dijawab “Ya nanti, setelah hamil.” Lha, ini sudah berbulan-bulan sejak ASA normal tapi belum hamil, jadi sudah 3x kami melakukan PLI yang merupakan terapi ‘bonus’ (pemeliharaan, bukan untuk penurunan). Berpikir positif sih iya, tapi rasional juga dong. Bagaimanapun tidak ada yang memastikan aku akan segera hamil atau bahkan aku akan hamil atau tidak suatu saat nanti. Masa’ selama itu kami tetap harus lakukan si PLI itu? Kalo gratis sih masih mungkin-barangkali-agak-sedikit (Ini contoh bahasa Indonesia yang tidak baik, jangan ditiru!) bisa dipertimbangkan, deh..

Dokter, Klinik, dan Hati yang Memilih

Maka seperti yang sudah kusebutkan ketika mulai menulis rangkaian cerita Rencana Kehamilan ini, akhirnya aku dan Hamdan pun berpikir bahwa sudah tiba saatnya kami berkonsultasi kembali ke pangkuan dsog tercinta…ehm! Aku kembali ke dsog pada awal Maret 2012. Namun, bukan dsog yang sama yang kutemui. Sejak mengalami kegagalan inseminasi buatan pertama pada Juni 2011 lalu, aku sudah bertekad untuk benar-benar memilih dokter dan klinik secara jauh lebih teliti.

Awalnya aku terpikir untuk mendatangi dsog spesialis infertilitas terkenal yang sering ditemukan namanya oleh paman Google, berdasarkan referensi orang-orang yang sudah berhasil mengatasi masalah infertilitas dengannya. Terpikir, lalu sampai berusaha menghubungi klinik tempat beliau praktek untuk mendaftar. Hasilnyaaaa…..aku mendapat nomor antrian 28, dan ia praktek malam hari. Glek. Jam kalau gitu jam berapa aku akan selesai konsultasi nanti?

Hal itu membuatku tercenung, berpikir lagi. Sudah cukup banyak yang kami lewati dalam menghadapi persoalan berketurunan ini. Kedamaian hati dan ketenangan pikiran yang ada sekarang ini tidak sejak dulu kami miliki. Saat teringat lagi bagaimana dulu kerisauan hati melanda kami di tahun-tahun pertama, aku pun sadar bahwa ‘perjalanan batinl’ yang kutempuh bersama Hamdan pun sudah cukup jauh.

Pada tahap ini, dimana sepertinya segala masalah yang ada sudah diselesaikan satu per satu (mudah-mudahan saja tidak ada masalah baru dan masalah lama tidak pernah muncul kembali), aku sudah yakin bahwa ketenangan pikiran dan kedamaian hati itu berperan besar dalam menentukan kehamilan.

Aku merasa ada keraguan yang besar saat mendaftar ke dokter terkenal yang kusebut di atas tadi. Ya mungkin saja dia hebat. Tapi apa gunanya jika aku sendiri yang malah membuat diriku tidak sehat? Berjuang menembus jalan yang macet, mengantri sampai tengah malam….sungguh, aku benar-benar tidak yakin bisa tetap sehat lahir batin menghadapi semua itu.

Selain itu, berbagai cerita dari sana-sini seputar ‘keberhasilan’ hamil pun mengingatkan kami bahwa segalanya hanya terjadi atas kuasa Allah. Apapun masalahnya, semustahil apapun menurut logika manusia, tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Jadi intinya mau ikhtiar apapun juga, kalau Allah meridhoi itu terjadi, ya terjadi. Tidak ridho, ya tidak terjadi. Tapi aku pun yakin bahwa si ikhtiar sendiri tidak boleh ditinggalkan. Apalagi untukku sendiri, karena justru ikhtiar itulah yang semakin mendekatkanku padaNya.

Analoginya begini. Kita sedang di perjalanan menuju suatu tempat. Untuk mencapai tempat itu, ada beberapa jalan yang dapat dipilih untuk dilalui. Apakah jalan tersebut yang menentukan kita sampai atau tidak ke tempat tujuan? Tentu tidak. Bisa jadi mau lewat jalan manapun, kita tetap sampai. Atau lewat jalan manapun kita tetap tidak sampai (misal ada pohon jatuh, jalan putus, kecelakaan, dsb). Jadi segalanya hanya Tuhan kan, yang menentukan? Untuk apa pusing soal sampai-tidaknya sampai tujuan, lha soal mati kapan juga kita tidak tahu (udah pusing mikirin tujuan, eh taunya hari ini hari terakhir hidup, terus mau apa coba?). Sampai-tidaknya kita pada tujuan itu urusanNya, urusan kita ya cuma milih jalan terbaik menurut kita, lalu…jalan, deh!

Nah, inilah jalan terbaik menurutku: jalan yang mempermudahku dalam menjaga ketenangan pikiran dan kedamaian hati sehingga aku jauh dari tingkah laku yang buruk dan tidak diridhoiNya (Misalnyaa, jika aku kelelahan, kesal lalu jadi gampang marah dan hubungan malah jadi tidak harmonis dengan suami atau anggota keluarga lain atau orang-orang terkait).

Karena itulah, pertimbangan pertamaku sebelum memilih dokter adalah pemilihan klinik. Kupilih klinik yang lebih mudah terjangkau olehku sendiri (relatif lebih dekat, jarang macet, dsb), mengingat akan ada waktu-waktu Hamdan sedang di laut dan tidak bisa menemaniku. Setelah itu, baru memilih dokter.. Jadi pemilihan dokter tinggal difokuskan pada dokter-dokter yang berpraktek di RS yang sudah kupilih itu.

Saat memilih dokter dari daftar yang kulihat di website, aku pun masih dihadapkan pada beberapa pilihan. Ada 2 orang dokter yang namanya juga sudah terkenal untuk masalah infertilitas. Yang menarik, ada seorang dokter lain yang namanya memang belum kukenal dan jarang sekali disebut-sebut orang di internet, tapi dialah satu-satunya dokter di daftar itu yang memiliki gelar SpOg, (K)Fer di belakang namanya. Dari hasil baca-baca, aku tahu bahwa gelar (K)Fer itu berarti konsultan fertilitas. Nah lhoo…kenapa ya si dokter yang punya background pendidikan lebih lengkap ini malah kalah tenar dari 2 dokter tadi?

Kalau mau berprasangka buruk siih, aku sudah mikir sampai mana-mana soal dokter yang bergelar paling lengkap itu perihal kenapa pasiennya tidak banyak. Tapi aku memilih untuk tidak berpikir yang tidak-tidak. Ambil sisi positifnya saja: dokter yang memang memiliki bidang keahlian fertilitas berarti sesuai dengan keperluan kami, dan pasien yang tidak banyak berarti meminimalkan kelelahan mengantri dan semoga saja, memungkinkan waktu konsultasi yang lebih panjang. Hal yang terakhir disebut tentu amat sangat penting sekali buatku yang tidak mudah puas dan suka memberondong para dokter dengan segudang pertanyaan ini 😀

Maka dengan demikian, resmilah aku memilih dsog-ku yang ke-5, yaitu dokter yang bergelar SpOG, K(Fer) namun berpasien tidak banyak tadi (maaf belum berani ngumumin nama!). Ayo gunting pita, tepuk tangaaan! Lalu mohon turut amin-kan doa kami kali ini: semoga melalui dokter baru ini kami dapat membangun energi, semangat dan harapan baru pula, serta lebih dekat dengan berkah dan kebaikan dunia akhirat…

Terimakasih dan salam semangat!

Heidy

di luar Ikhtiar Kehamilan Tahun IV: Laparoskopi dan Operasi Usus Buntu

Menjelang operasi

Kelanjutan dari diagnosa kehamilan di luar kandungan versus usus buntu-ku pada pertengahan tahun lalu (Juni 2011) adalah anjuran operasi usus buntu sekaligus laparoskopi. Berhubung pertamakali aku mendapat diagnosa itu di sebuah rumah sakit umum yang mengakui bahwa mereka tidak dapat menyelenggarakan operasi spesial semacam laparoskopi, maka ditransfer-lah aku ke sebuah rumah sakit ibu dan anak.

Sesampainya di RSIA yang dirujuk, aku langsung masuk ruang tunggu operasi, bukan kamar perawatan. Sayangnya aku harus menunggu dokter-dokternya (karena tidak sembarang dokter obgyn yang mampu mengerjakan laparoskopi dan Mama-ku sudah memilihkan secara khusus dokter spesialis bedah digestik yang bisa mengoperasi appendix hanya dengan sayatan kecil) dan berbagai persiapan lain hingga berjam-jam di ruangan itu, sambil berpuasa dan…sendiriii, karena suamiku terpaksa pulang ke rumah dulu untuk mengambil beberapa barang. Ternyata ruang tunggu operasi itu sungguh tidak enak, kawan. Tidak ada bel panggil suster, apalagi TV. Jadi sangat tidak disarankan deh, seorang pasien ditelantarkan sendiri di sana tanpa hiburan sama sekali (mana waktu itu HP-ku habis baterai, pula….bagusss!).

Hampir tengah malam (kalau tidak salah) dan ketika sudah mengantuk juga kelelahan, akhirnya aku masuk juga ke ruang operasi. Bersama orangtuaku, Hamdan mengantar sampai depan pintu ruang operasi dengan ekspresi wajah aneh yang agak sulit kutebak (belakangan, dia mengaku kalau ternyata saat itu dia takut sesuatu terjadi padaku…hiks). Aku sendiri yang awalnya berpikir “halah, operasi kecil ini…” tiba-tiba entah kenapa jadi tegang ketika didorong memasuki ruang operasi.

Di ruang operasi

Di ruang operasi, yang pertama kurasakan adalah…DUUINGIIIN! Sebagai perempuan bertubuh tipis, kurang lemak dan emang pecinta kehangatan (literally!), aku merasa itu situasi yang amat sangat tidak enak. Dalam hitungan detik, daguku langsung bergetar. Aku menggigil!! Sambil berusaha menenangkan diri, aku memandangi ruangan itu. Di langit-langit entah ada berapa lampu. Terang benderang, pokoknya. Lalu berbagai peralatan (yang tampak menyeramkan bagiku) mulai dipersiapkan oleh para perawat. Glek. Kok makin menakutkan ya?

Oya. Juga ada musik yang dinyalakan, dan perawat-perawat tampak berseliweran dengan santai..hingga seorang dokter anestesi juga datang dan memperkenalkan dirinya padaku. Setelah berkenalan, ia juga bersiap-siap dengan santai. Semuanya tampak santaiiii…..kecuali aku sendiri! Ya mungkin sih, mereka begitu supaya pasien juga santai, tapi yang terjadi padaku malah sebaliknya! Kenapa? Ya karena aku kedinginan setengah mati!

Mungkin tidak untuk orang lain, tapi soal kedinginan itu benar-benar masalah serius bagiku yang memang tidak kuat terhadap hawa dingin.  Jadi yang kukatakan dalam benakku saat semua orang bersiap-siap dengan santai di sekitar tubuhku adalah: “Woi cepetann! Kapan ini mulainya?? Mana biusnya?? Cepet bikin gue nggak sadar sama dingin ini!” Dan ketika menggigilku makin hebat, ketakutan yang luar biasa sampai menghampiriku: jangan-jangan nyawaku terancam bukan karena operasinya, tapi karena hipotermia…hahaha…

Selagi sibuk dengan pikiranku sendiri, dokter mengajakku bicara tentang entah apa, aku lupa. Tapi yang jelas aku merasa makin kesal, mempertanyakan kenapa operasi tidak juga dimulai. Lalu tiba-tiba, aku merasa tubuhku (beserta dipannya, tentu) didorong lagi! Lho, lho! Gimana sih? Aku berusaha melontarkan protes, tapi entah kenapa suara yg keluar lemah sekali, “Ini…mau kemana?” Dan betapa bingungnya aku ketika salah satu yang mendorongku menjawabku dengan nada geli, “Sudah,bu…sudah selesai operasinya!” Haaaahhhh????? Jadi begitu toh ternyata rasanya dibius sampai tak sadar: ya tak terasa apa-apa!

Setelah operasi

Saat diantar ke ruang pemulihan operasi, aku sudah kembali merasakan dingin itu, sampai berkali-kali minta tambahan selimut sampai 3 lapis. Sebenarnya saat itu aku masih merasa aneh….antara sadar dan tidak, karena sudah terasa nyeri luka di bagian perut, seperti ada yang ditarik….tapi aku tak bertenaga untuk melakukan apapun, bahkan untuk berteriak sakit. Suaraku bisa keluar tapi lirih sekali.

Mulanya Hamdan menemaniku di ruang pemulihan. Tapi karena aku harus berada di sana berjam-jam sementara tidak ada tempat untuk penunggu pasien, aku jadi tak tega. Kalau suamiku kelelahan kan bisa-bisa nanti dia ikut-ikutan sakit. Jadilah ia ‘kuusir’ agar lebih dulu mengungsi ke kamar rawat inap. Beberapa jam kemudian, baru aku menyusul diantar kesana.

Kalau tidak salah, hampir tiga hari aku diopname setelah menjalani operasi. Mulanya aku hampir tidak bisa makan (meskipun sudah boleh) karena reaksiku sebagai efek samping bius memang agak berlebihan: vertigo sampai muntah-muntah. Bekas operasi di perut pun terasa sangat nyeri, bahkan lebih tak enak daripada nyeri ketika aku diantar ke UGD  pertamakali. Kalau sebelumnya kan nyeri hebat tapi hilang dan timbul, sementara nyeri setelah operasi yaa memang tidak hebat tapi konsisten. 😦

Temuan-temuan

Jadi nyatalah bahwa operasi itu tidak bertujuan mengatasi rasa sakit, ya, saudara-saudara, melainkan mengatasi sumber masalah!  Masalah dan rasa sakit itu beda cerita, catat! Bersyukurlah orang-orang yang dikaruniai rasa sakit, yang berarti alarm tubuhnya bekerja dengan baik: memberitahu bahwa ada masalah yang sedang terjadi di dalam tubuh.

Nah, sekarang hasil penemuan operasiku. Dari kedua operasi yang dilakukan (operasi usus buntu oleh dokter bedah digestik dan laparoskopi oleh dokter kandungan khusus),  diketahuilah bahwa memang benar ternyata aku menderita appendicitis akut, sementara untuk urusan rahim tak ada masalah apapun. Bahkan sang obgyn menyebutkan ia melihat kista luten yang menandakan aku tidak punya masalah dengan kesuburan! Waah…alhamdulillah!!

tindakan laparoskopi

Dengan demikian, diagnosa KET (kehamilan ektopik) terhadapku tidak terbukti benar. Namun kami tidak menyesal mengambil keputusan untuk menjalani laparoskopi yang cukup menguras kantong itu (berbeda dengan operasi usus buntu, asuransi kesehatan tidak mau membayar untuk yang satu ini dengan alasan yang aneh: terlalu canggih!). Karena dengan si laparoskopi, segalanya menjadi jelas…aku tidak perlu menebak-nebak apakah benar telah terjadi kehamilan luar rahim atau tidak. Apalagi plus bonus informasi yang sudah berbeda dengan ketika pertamakali aku periksa hormon tiga tahun sebelumnya: ternyata kini aku subur! Subhanallah….

Bahagia itu Sederhana

Ketika aku tak tahan untuk mengekspresikan kebahagiaanku, banyak yang bertanya (lagi) apakah aku sudah hamil. Ketika kuceritakan apa yang membuatku gembira , ada di antaranya yang merasa heran dan menganggapku lebay: “Yah, elah.  Belum juga sampai hamil, senengnya kayak udah dapet apaa…gitu. Kecepetan tuh senengnya!”

Begitulah. Ada orang-orang yang merasa kami ini aneh, sudah begitu bahagia hanya karena hal-hal yang mereka anggap ‘kecil’. Wah, terimakasih…kami jadi semakin sadar bahwa dengan segala proses yang diberikanNya pada kami ini, kami diselamatkan dari sikap sombong dan tak tahu bersyukur. Proses ini khusus diberikan agar kami yang masih bodoh ini belajar untuk lebih pandai bersyukur dan tidak menganggap nikmat berbentuk apapun sebagai ‘sesuatu yang kecil’.

Apa sih yang perlu kita tunggu untuk mulai bersyukur? Oh ya. Nikmat.  Eh, memangnya nikmat seperti apa ya, yang belum kita dapatkan?

“…dan nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?….”

 

Salam bahagia!

Heidy

Gambar diambil dari sana dan sini. Terima kasih!

di luar Ikhtiar Kehamilan Tahun IV : Appendicitis vs KET

Hanya selang beberapa minggu setelah mengalami kegagalan si inseminasi buatan (Juni 2011), aku mendapatkan pengalaman istimewa lainnya.

Pada suatu hari yang sibuk di antara hari-hari sibuk lainnya (jadi intinya bukan di hari yang santai), aku merasakan nyeri di bagian perut bawah sebelah kanan. Nyerinya hilang dan timbul setiap beberapa saat. Mulanya kuabaikan, karena menurutku nyeri perut itu biasa. Lagipula, seharian itu aku dan Hamdan memang harus ‘berkeliling kota’ untuk berbagai urusan. Mungkin saja dengan berbagai kesibukan, sakit itu akan terlupakan dan hilang sendiri.

Namun ternyata lama-kelamaan, jeda waktu antara nyeri semakin sempit, dan si nyeri makin terasa. Beberapa kali aku sampai harus membungkuk sedikit saat berjalan. Hamdan yang sedang bersamaku merasa khawatir. Ia mengusulkan untuk pergi ke dokter/ rumah sakit. Aku yang masih berpikir bahwa nyeri perut itu biasa, merasa usul itu berlebihan. Memang ada kebingungan karena nyeri terasa di bagian perut sebelah kanan bawah, yang berarti tidak mungkin karena maag (karena biasanya sakit maag terasa di ulu hati atau bagian kiri perut), namun tetap saja aku tidak ingin berpikir yang bukan-bukan.

Ketika malam tiba dan tinggal satu urusan lagi sebelum kami pulang ke rumah, aku menyerah. Saat itu aku menunaikan salat Isya dengan diimami suamiku. Ketika bangun dari sujud terakhir, aku hampir berteriak. Nyeri itu tak tertahankan lagi, dan aku langsung terkulai usai mengucap salam. Hamdan tak pikir panjang lagi, aku pun langsung dilarikan ke UGD rumah sakit umum terdekat.

Di UGD, aku diperiksa oleh dokter umum yang berjaga malam itu. Menurut diagnosanya, aku menderita appendisitis (usus buntu). Untuk memastikan, aku pun melakukan tes darah. Meningkat drastisnya kadar leukosit dalam darah menunjukkan sudah terjadinya infeksi dalam tubuhku.

Mamaku, yang kebetulan seorang dokter juga, sangat kaget waktu malam itu Hamdan menelepon dan memberitahu bahwa aku harus dioperasi usus buntu keesokan harinya. Aku kan baru mengeluh sakit sejak awal hari itu, masa’ harus operasi dalam waktu kurang dari 24 jam? Itulah hal yang membuatnya tak habis pikir.

Selain itu, Mama juga mencurigai kemungkinan lain. Menurutnya, seorang perempuan yang mengeluh sakit di perut bawah harus dicurigai dari berbagai sudut kemungkinan, tidak boleh tergesa-gesa dalam meyakini suatu diagnosa. Ditambah pula dengan kenyataan: belum genap sebulan lalu aku melakukan inseminasi buatan.

Atas permintaan Mama, operasi pun ditunda dan keesokan paginya aku dirujuk periksa ke seorang dokter kandungan yang berpraktek di rumah sakit itu. Lalu berdasarkan hasil pemeriksaannya via usg, aku diduga mengalami kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik (KET).

Perasaanku campur aduk ketika dokter mengatakan diagnosa KET yang terjadi padaku. Masalah kami yang lain belum selesai, apa pula ini? Aku juga tidak percaya mentah-mentah diagnosa tersebut, mengingat sebelumnya aku baru saja selesai mengalami menstruasi. Bukankah jika menstruasi terjadi berarti tidak ada embrio yang terbentuk dan semuanya sudah terbuang bersama penebalan dinding rahim yang meluruh?? Tapi katanya, hal itu tetap bisa saja terjadi..

Namun di luar pemikiran di atas, aku dan Hamdan yang saat itu terus bersama-sama (seharusnya tepat hari itu ia berangkat lagi ke Balikpapan, tapi batal karena aku harus opname) juga ‘menikmati’ segala yang terjadi. Berdua, kami saling bercanda yang mungkin juga sekaligus saling menghibur. Misalnya, “Ya kalo bener lumayan juga, ngerasain juga deh yang namanya hamil meskipun sebentar…kemajuan kan….hehehe.”

Sebenarnya aku sempat menyarankan agar Hamdan berangkat kerja saja. Soalnya tiket pesawat sudah di tangan. Lagipula setahuku operasi usus buntu itu operasi biasa, nggak heboh-heboh amat. Lagipula juga aku di Jakarta, di kota yang sama dengan orangtua kandung maupun mertuaku. Bukankah ini alasan kenapa aku tinggal di kota ini? Agar kalau ada apa-apa dan suamiku masih di laut, ada begitu banyak orang yang bisa dimintai bantuan…

Tapi suamiku yang penyayang menolak mentah-mentah saranku. Bagaimanapun, ia ingin menemaniku. Menurutnya sungguh tak masuk akal, aku masuk rumah sakit dan ia terbang ke pulau lain. Akhirnya aku pun mengalah, mengikuti keputusannya yang sudah bulat, dan….tentunya menikmati perhatian ekstranya! Duh, kalau ingat ini…sungguh takkan habis rasa syukurku, dikaruniai suami yang ingat akan sifat Ar-Rahman & Ar-Rahiim dalam dirinya …Subhanallah…

Jadi mungkin itulah kenapa, baik nyeri hebat di perut maupun diagnosa KET tidak terlalu berdampak pada perasaanku. Soalnya suamiku bukan hanya setia mendampingi, tapi juga asyik pacaran denganku…hehehe. Sampai-sampai ada suster yang tak tahan bertanya pada kami, “Bapak & Ibu pengantin baru, ya? Masih mesra banget deh…” Duhh jadi malu pas jawab, “Iya sus, baru 4 tahun…”

Orang-orang sampai heran melihat wajahku segar-segar saja, tidak terlihat murung, pucat, dan sebagainya (bahkan Mama sampai makin meragukan kalau aku benar-benar sakit!). Malah ada sahabatku yang ‘menggantikanku’ menangis, karena menurutnya aku begitu tabah…heee….waduhh…aku malah bingung. Soalnya serius beneran bukannya merendah, tapi aku memang tidak merasa sedang mendapat suatu kesusahan, kok! Yang susah itu kan orang yang nggak punya makanan, kehujanan…nggak punya rumah, dsb. Nah dibandingin orang-orang itu aku malu dong, kalo ngaku-ngaku susah?

Yah, begitulah sodara-sodara. Maafkan jika mungkin bukan posisiku untuk berpesan ini: masalah apapun yang kita hadapi, ingatlah bahwa kita tidak benar-benar tahu….mungkin masih buanyaak orang di luar sana yang lebih susah dari kita. Mungkin dibandingkan mereka, masalah kita nggak ada apa-apanya banget. Malu, kalo sampai ketahuan nangis putus asa (nangis sembunyi-sembunyi untuk keluarkan emosi sesekali sih nggak apa kayaknya, aku juga sering)! Dan sebagai orang beriman, mari terus ingat : Tuhan tidak pernah memberikan ujian pada seseorang kecuali ia juga diberikan kekuatan untuk MAMPU menghadapinya.

Pesan singkat di atas ini juga untuk catatanku sendiri, karena…yah, ngomong sih gampang, ya. Kenyataannya, aku sendiri juga suka lupa. Butuh banget diingetin berulang-ulang! Mengingat pengalaman sendiri juga ternyata bermanfaat sekali. Bagiku sendiri, pengalaman di atas selalu jadi pengingat…bahwa susah atau tidaknya kita, bahagia atau tidaknya kita, bukan bergantung pada apa yang kita hadapi…tapi bagaimana kita menghadapinya. Jadi, mari tentukan sendiri: mau nangis atau senyum, mau sedih atau bahagia??

Cerita terkait rencana kehamilan di tahun ke-4 perkawinan kami ini masih berlanjut… Pada tulisan berikutnya, aku akan bercerita tentang Laparoskopi dan Operasi Usus Buntu. Terimakasih sudah membaca!

Salam,

Heidy