Cerita Ikhtiar Kehamilan : Hingga Setahun Pertama

             Salah satu hal yang ditunggu-tunggu dari pasangan suami-istri baru adalah kabar kehamilan. Bahkan mungkin baru selang sebulan setelah pernikahan, sudah ada orang yang iseng menanyai si pengantin baru.  Lalu semakin bertambah usia pernikahan, makin banyak orang bertanya.

Wajar. Karena jangankan orang lain, si pasangan suami-istri saja tentu sangat menunggu-nunggu kehamilan itu sendiri, yang berarti dapat meneruskan garis keturunan.

Jadi, persoalan kehamilan bukan sesuatu yang tak penting. Apalagi ternyata bagi beberapa pasangan, tidak semudah itu memperoleh kehamilan. Ada yang sampai 3 tahun, 5 tahun, hingga lebih dari 10 tahun menunggu….tapi kehamilan tak kunjung datang.

Ada yang unik dari kaum pasutri yang tidak terlalu mudah mendapat ‘momongan’ ini. Tidak seperti yang beberapa bulan menikah langsung bisa hamil, golongan pasutri ini harus melalui berbagai perjuangan fisik dan mental. Ada begitu banyak yang perlu diperhatikan: mulai dari waktu, biaya, tenaga, sampai kondisi hati.

Tidak sembarang orang mampu menghadapi cobaan seperti itu. Ya, sebagai orang beriman, aku yakin itu. Aku percaya bahwa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bukan sebaliknya. Jadi aku yakin, cobaan seperti ini adalah bentuk lain dari kasih sayangnya, yang hanya diberikan pada orang-orang tertentu.

Apakah dirimu termasuk golongan terpilih ini? Salam, alhamdulillah, insyaAllah begitupula aku dan suamiku…mari bersyukur🙂

Tahun ini, kami memasuki tahun kelima pernikahan. Ada begitu banyak hal yang sudah kami lalui terkait masalah kehamilan, namun juga ada hal-hal yang baru sebatas rencana. Dengan kata lain, mari sebut sebagai ikhtiar atau usaha. Selain berserah diri, kami percaya bahwa ikhtiar wajib dilakukan.  Pokoknya, berjuang hingga titik darah penghabisan! Eh, hiperbolis banget ya. Jangan ya, jangan sampe darahnya habis dong! Yah, pokoknya, selama masih dapat diupayakan dengan baik, maju terus!

Lusa aku akan kembali ke dsog (dokter spesialis obstetri dan ginekologi) setelah sekian lama. Membawa semangat baru, ke dokter yg baru pula (maksudnya bukan dokter yg sudah pernah kudatangi). Sudah kuniatkan untuk datang dengan membawa seluruh hasil pemeriksaan-pemeriksaan medis sebelumnya, beserta semacam ‘sinopsis cerita’ karanganku (ini juga berlebihan deeeng…jangan bayangin karangan betulan ya, paling aku bikin ringkasan berbentuk tabel kecil ajaàeh, apa itu pun berlebihan juga? hehehee).

Nah, dalam rangka menyiapkan si ringkasan untuk si dokter baru, aku perlu mengigat-ngingat lagi nih….segala hal yang sudah kami lalui. Dalam rangka penataan hati pun, bukan hanya hal medis yang perlu kuingat. Tapi segala petualangan batin yang menyertainya.

Baiklah. Mari inilah kilas balik perjalanan kami yang baru sejengkal itu…

Sebelum menikah.

Sebenarnya sejak masa persiapan menikah, aku tidak punya niat ‘ingin segera hamil’. Padahal aku suka anak-anak. Apalagi bayi…ohh, siapa yang nggak jatuh cinta tiap lihat wajah polos lucu mereka, sih? Yang jelas bukan aku. Yang membuatku tidak punya niat ingin segera hamil justru sebenarnya karena aku merasa tidak mempunyai kepercayaan diri dapat menjadi ibu yang baik. Duh, jadi orang baik aja kayaknya belum deh….apa yang mau kuajarkan nanti ke anakku? Tentu kan aku ingin ia tumbuh jadi anak yang baik….apa bisa, kalau ibunya masih bodoh dan nggak bisa mengajarinya? Begitulah caraku berpikir waktu itu. Sungguh pendek, ya.

Hamdan yang waktu itu masih berstatus sebagai calon suamiku sendiri tidak pernah berpikir yang aneh-aneh sepertiku. Namun, aku sudah salut pada niat dan pemikirannya yang bijak perihal berketurunan ini, ketika suatu waktu orangtuaku tiba-tiba menanyainya jika salah satu dari kami bermasalah dalam hal reproduksi sehingga kami tidak bisa berketurunan. Dengan tenang ia menyampaikan pada mereka, juga padaku, bahwa itu tidak masalah. Ia yakin bahwa tujuan sebuah pernikahan bukan semata untuk berketurunan. Sungguh bijaksana!

Tahun pertama pernikahan (2007-2008)

Setelah menikah, ternyata aku baru menyadari pikiran bodohku sebelum menikah itu tidak dapat menipu perasaanku yang sebenarnya: SESUNGGUHNYA AKU INGIN HAMIL.

Namun, hingga beberapa bulan setelah pernikahan kami, kehamilan itu tak kunjung datang. Aku pun iseng memeriksakan diri ke dokter kandungan. Hasilnya? Nggak ada pemeriksaan macam-macam. Si dokter malah ketawa dan mengusir secara halus. Inti dari pesannya adalah: terlalu berlebihan jika seorang perempuan yang belum mengalami kehamilan padahal belum setahun menikah datang memeriksakan diri ke dokter. Apalagi ditambah pula dengan kenyataan: aku dan Hamdan tidak bersama-sama setiap hari! Karena pekerjaannya, umumnya kami hanya bertemu sepuluh hari dalam sebulan (mendengar kenyataan yang ini, si dokter makin ngakak dan membuatku  makin merasa konyol mendatanginya terlalu cepat)

Agar tak terlalu panjang, tulisan ini ku’gunting’ dan kupisahkan dari  lanjutannya, Rencana Kehamilan : Tahun II-III. Siapa tahu ada yang bosan membacanya. Terimakasih sudah sudi mampir dan membaca ya!

Salam,

Heidy

 

*Terimakasih kepada pencipta gambar (ini sumbernya)!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s