Cerita Ikhtiar Kehamilan : Tahun II-III

Tahun kedua pernikahan (2008-2009)

Satu-satunya ‘oleh-oleh’ yang kudapat dari kunjungan ke dokter kandungan sebelumnya adalah bagaimana memperkirakan tanggal masa subur. Jadi sebisa mungkin minta Hamdan menyesuaikan hari off-nya dengan masa suburku….(meskipun tak selalu bisa juga sih).

Nah, setelah ulangtahun pertama pernikahan dan aku belum hamil juga, datanglah aku kembali ke dsog (dokter spesialis obstetri dan ginekologi). Namun, bukan dokter yang sama dengan sebelumnya. Kali ini untuk pertamakalinya, aku ditangani oleh dsog laki-laki. Beberapa pemeriksaan pun mulai dilakukan (curhatan lebih lengkap pernah kutulis di Pemeriksaan Infertilitas 2, Pemeriksaan Infertilitas 3, dan Pemeriksaan Infertilitas 4) :

–           Cek hormon melalui pengambilan darah di hari ke-3 & 21(Ini berarti dihitung dari hari pertama menstruasi. Oya, fyi kalau ada yg perlu tahu juga, biaya cek hormon ini sekitar 800 ribu rupiah. Waktu itu aku periksa di Lab Makmal UI Salemba dengan membawa surat pengantar dari dsog-ku. )

–          Cek saluran telur (HSG) antara hari ke-9 s/d ke-12 (Biaya sekitar 900 ribu rupiah, aku periksa di RSIA Hermina Jatinegara. Sebaiknya membawa pembalut dan ditemani seseorang ya, periksanya…karena kadang terjadi rasa mual/pusing setelahnya)

–          Cek sperma suami setelah puasa berhubungan seksual minimal 3 hari dan maksimal 5 hari, dianjurkan pengambilan dilakukan sebelum pukul 10 pagi (kami melakukan pemeriksaan sperma ini di RSIA Herina Jatinegara juga)

Lalu kami mendapati bahwa beberapa hasil dari pemeriksaan-pemeriksaan di atas tidak bagus. Yang pertama, didapati bahwa kadar progesterone-ku rendah, sehingga ada dugaan bahwa sel telur yang kuhasilkan tidak pernah matang (bantet, kata si dokter!). Tapi alhamdulillah kalau soal saluran telur, aku nggak bermasalah. Sementara itu dari hasil tes sperma suami pun ditemukan bahwa dari tingginya jumlah spermanya (jadi dari segi jumlah amat sangat tak masalah, produktif banget ternyata dia!), morfologi (bentuk) sperma yang normal hanya sedikit, begitu pula dengan persentase yang bergerak cepat dan lurus..

Kembali ke sang dsog. Untuk mengobatiku, beliau berniat melakukan terapi obat penyubur. Tapi ada masalah besar: sejak beberapa tahun sebelumnya aku minum Medrol, sejenis steroid (meski dalam dosis yg sangaaat kecil) yang diresepkan oleh dokter hematolog-ku (dokter penyakit dalam sub spesialis darah) karena aku didiagnosa menderita anemia hemolisis (curhat lengkap ada di “Anemia Hemolisis vs Kemungkinan Anovulasi”). Masalahnya terletak pada BERTENTANGANNYA sifat obat penyubur dengan si steroid ini. Jadi kalau aku minum obat penyubur, si steroid harus berhenti. Tapi kalau si steroid berhenti, aku anemia. Padahal, kehamilan beresiko tinggi jika si ibu hamil anemia (bisa kehabisan darah saat melahirkan).

Lalu gimana, dong? Dsog-ku berkata: “Kamu umroh aja, deh!” Wah, aku senang dokterku mengingatkanku untuk berserah diri padaNya. Namun aku juga memahami sesuatu dari kata-katanya itu: tidak ada penyelesaian untuk masalahku melalui cara kedokteran barat! Sejak saat itu….aku berhenti ke dokter. Nggak cuma ke dsog, tapi juga ke hematolog. Aku merasa agak marah juga pada hematolog-ku, karna jika cara kerja steroid bertolak belakang dengan obat penyubur, berarti….steroid-lah yang membuatku tidak subur??

Sementara itu suamiku mendapat kabar lebih baik dari dokternya (androlog), yang menyatakan dari analisa sperma yg didapat, kemungkinannya untuk menghamiliku (ehm) masih lumayan.

 

Tahun ketiga pernikahan (2009-2010)

Aku berhenti ke dokter dan beralih ke berbagai pengobatan alternatif.  Beberapa metode pengobatan yang kucoba adalah terapi jus herbal, urut tradisional, pijat tusuk jari, pijat refleksi, totok Cina, dan akupunktur.

Tak semua dari pengobatan-pengobatan itu yang bertahan lama. Aku langsung berhenti berkunjung jika menemukan terapis yang berkata dengan sombong, “Hamil ini, bulan depan!” dan Tuhan membuktikan perkataannya salah pada bulan berikutnya. Jangan mendahului Tuhan, ya Pak. Segala yang terjadi itu kuasaNya!

Salah satu yang bertahan lama (hingga kini) adalah pengobatan akupunktur dan totok Cina. Masing-masing terapisnya insyaAllah rendah hati. Tidak ada yang menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk, hanya menjelaskan proses apa yang perlu kulalui.

Kata-kata si terapis totok misalnya begini, “Waah…pantes,  ini hormonnya rendah banget! Pernah jatuh, dulu?” Lalu ia pun mengobati kelainan hormonku itu dengan metode totoknya, tanpa ada banyak janji-janji tak penting. Ketika bulan depannya aku datang lagi, mengatakan belum hamil juga, ia hanya menyatakan, “Yah soal hamil nggak hamil itu kan kuasaNya, memang belum waktunya aja kali Bu…saya dulu juga 5 tahun nikah baru punya anak…” Nah, support yang begini ini yang lebih bisa kuterima! Betul pak, kita sih ikhtiar aja, soal hasil ya urusan Tuhan.

Sementara itu, ada yang menarik pula dengan metode akupunktur, yang membuatku sampai sekarang masih bertahan menjalaninya. Sebenarnya tujuan pengobatan akupunktur ini bukan untuk program kehamilan, melainkan kesehatan tubuh secara umum. Karena masalah pertamaku adalah si anemia hemolisis, maka itulah yang ditangani terlebih dulu. Prinsip dari akupunktur adalah menstimulus tubuhku agar bekerja sendiri, tidak bergantung pada obat yang masuk ke dalam tubuh. Jadi tak perlu khawatir soal efek samping, Kupikir ini bagus sekali, masuk akal dan cocok dengan keinginan & kebutuhan diriku yang sudah muak dengan obat-obatan.

Dengan akupunktur, hb-ku meningkat perlahan-lahan. Memang pelan, tapi pasti dan lebih stabil. Suamiku pun akhirnya ikut menjalani akupunktur dan ternyata beberapa bulan setelahnya mendapat hasil analisa semen yang lebih baik: morfologi spermanya normal! Menurut pendapat sang terapis, memang ada kemungkinan morfologi abnormal sperma itu dipengaruhi oleh satu sistem (maaf, aku lupa apa itu) tubuhnya yang kurang sempurna karena dulu suamiku terlahir prematur. Sayangnya soal kecepatan gerak, bisa ada begitu banyak faktor dan akupunktur mungkin tidak terlalu berpengaruh untuk menyembuhkannya (terapisnya jujur yaa!).

Tahun pertama hingga ketiga ini adalah tahun-tahun yang sungguh menantang bagi kami berdua sebagai suami istri. Sungguh tak mudah, apalagi ketika menerima kenyataan bahwa secara medis memang ada masalah yang membuat kami sulit untuk berketurunan, padahal sejak sebelum menikah sudah ada begitu banyak pembicaraan yang memikirkan berbagai kemungkinan seperti ini. Bukankah ini merupakan bukti bahwa proses berpikir dan proses merasakan itu memiliki jalannya masing-masing?

Pengalaman melewati tantangan-tantangan ini sungguh berharga. Proses pendewasaan diri masing-masing sebagai hambaNya dan sebagai pasangan yang berbagi hidup pun terjadi. Pada masa ini kami banyak berdialog tentang tujuan hidup, berkeluarga, kebahagiaan yang hakiki, arti cinta universal, lalu saling menguatkan dan membantu untuk kembali padaNya. Pada masa ini pula kami pertamakali belajar untuk benar-benar memperhatikan dan menjaga perasaan satu sama lain, berusaha mendahulukan untuk mengerti perasaan suami/istri di atas keinginan untuk dimengerti, dan sebagainya. Hal-hal seperti inilah yang lebih penting daripada meminta keturunan.

Daripada memikirkan soal belum adanya anak yang dititipi pada kami, kami memilih untuk berpuas-puas menikmati dan mensyukuri ‘masa pacaran’ kami. Apa jadinya dunia jika para pasangan yang punya anak terus mengeluh karena kerepotannya, sementara yang belum dikaruniai terus menangis? Dunia penuh dengan orang-orang yang tak tahu bersyukur, dong!

Jadi, apa kami mendapat ujian/cobaan yang sangat berat? Wah, kami sih lebih merasa bahwa yang kami peroleh adalah anugerah yang luar biasa…Subhanallah, Alhamdulillah..

Tulisan ini pun masih berlanjut ke Rencana Kehamilan: Tahun IV (Terapi PLI). Sekali lagi, terimakasih sudah sudi mampir dan membaca ya!

Salam,

Heidy

Iklan

Cerita Ikhtiar Kehamilan : Hingga Setahun Pertama

             Salah satu hal yang ditunggu-tunggu dari pasangan suami-istri baru adalah kabar kehamilan. Bahkan mungkin baru selang sebulan setelah pernikahan, sudah ada orang yang iseng menanyai si pengantin baru.  Lalu semakin bertambah usia pernikahan, makin banyak orang bertanya.

Wajar. Karena jangankan orang lain, si pasangan suami-istri saja tentu sangat menunggu-nunggu kehamilan itu sendiri, yang berarti dapat meneruskan garis keturunan.

Jadi, persoalan kehamilan bukan sesuatu yang tak penting. Apalagi ternyata bagi beberapa pasangan, tidak semudah itu memperoleh kehamilan. Ada yang sampai 3 tahun, 5 tahun, hingga lebih dari 10 tahun menunggu….tapi kehamilan tak kunjung datang.

Ada yang unik dari kaum pasutri yang tidak terlalu mudah mendapat ‘momongan’ ini. Tidak seperti yang beberapa bulan menikah langsung bisa hamil, golongan pasutri ini harus melalui berbagai perjuangan fisik dan mental. Ada begitu banyak yang perlu diperhatikan: mulai dari waktu, biaya, tenaga, sampai kondisi hati.

Tidak sembarang orang mampu menghadapi cobaan seperti itu. Ya, sebagai orang beriman, aku yakin itu. Aku percaya bahwa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bukan sebaliknya. Jadi aku yakin, cobaan seperti ini adalah bentuk lain dari kasih sayangnya, yang hanya diberikan pada orang-orang tertentu.

Apakah dirimu termasuk golongan terpilih ini? Salam, alhamdulillah, insyaAllah begitupula aku dan suamiku…mari bersyukur 🙂

Tahun ini, kami memasuki tahun kelima pernikahan. Ada begitu banyak hal yang sudah kami lalui terkait masalah kehamilan, namun juga ada hal-hal yang baru sebatas rencana. Dengan kata lain, mari sebut sebagai ikhtiar atau usaha. Selain berserah diri, kami percaya bahwa ikhtiar wajib dilakukan.  Pokoknya, berjuang hingga titik darah penghabisan! Eh, hiperbolis banget ya. Jangan ya, jangan sampe darahnya habis dong! Yah, pokoknya, selama masih dapat diupayakan dengan baik, maju terus!

Lusa aku akan kembali ke dsog (dokter spesialis obstetri dan ginekologi) setelah sekian lama. Membawa semangat baru, ke dokter yg baru pula (maksudnya bukan dokter yg sudah pernah kudatangi). Sudah kuniatkan untuk datang dengan membawa seluruh hasil pemeriksaan-pemeriksaan medis sebelumnya, beserta semacam ‘sinopsis cerita’ karanganku (ini juga berlebihan deeeng…jangan bayangin karangan betulan ya, paling aku bikin ringkasan berbentuk tabel kecil ajaàeh, apa itu pun berlebihan juga? hehehee).

Nah, dalam rangka menyiapkan si ringkasan untuk si dokter baru, aku perlu mengigat-ngingat lagi nih….segala hal yang sudah kami lalui. Dalam rangka penataan hati pun, bukan hanya hal medis yang perlu kuingat. Tapi segala petualangan batin yang menyertainya.

Baiklah. Mari inilah kilas balik perjalanan kami yang baru sejengkal itu…

Sebelum menikah.

Sebenarnya sejak masa persiapan menikah, aku tidak punya niat ‘ingin segera hamil’. Padahal aku suka anak-anak. Apalagi bayi…ohh, siapa yang nggak jatuh cinta tiap lihat wajah polos lucu mereka, sih? Yang jelas bukan aku. Yang membuatku tidak punya niat ingin segera hamil justru sebenarnya karena aku merasa tidak mempunyai kepercayaan diri dapat menjadi ibu yang baik. Duh, jadi orang baik aja kayaknya belum deh….apa yang mau kuajarkan nanti ke anakku? Tentu kan aku ingin ia tumbuh jadi anak yang baik….apa bisa, kalau ibunya masih bodoh dan nggak bisa mengajarinya? Begitulah caraku berpikir waktu itu. Sungguh pendek, ya.

Hamdan yang waktu itu masih berstatus sebagai calon suamiku sendiri tidak pernah berpikir yang aneh-aneh sepertiku. Namun, aku sudah salut pada niat dan pemikirannya yang bijak perihal berketurunan ini, ketika suatu waktu orangtuaku tiba-tiba menanyainya jika salah satu dari kami bermasalah dalam hal reproduksi sehingga kami tidak bisa berketurunan. Dengan tenang ia menyampaikan pada mereka, juga padaku, bahwa itu tidak masalah. Ia yakin bahwa tujuan sebuah pernikahan bukan semata untuk berketurunan. Sungguh bijaksana!

Tahun pertama pernikahan (2007-2008)

Setelah menikah, ternyata aku baru menyadari pikiran bodohku sebelum menikah itu tidak dapat menipu perasaanku yang sebenarnya: SESUNGGUHNYA AKU INGIN HAMIL.

Namun, hingga beberapa bulan setelah pernikahan kami, kehamilan itu tak kunjung datang. Aku pun iseng memeriksakan diri ke dokter kandungan. Hasilnya? Nggak ada pemeriksaan macam-macam. Si dokter malah ketawa dan mengusir secara halus. Inti dari pesannya adalah: terlalu berlebihan jika seorang perempuan yang belum mengalami kehamilan padahal belum setahun menikah datang memeriksakan diri ke dokter. Apalagi ditambah pula dengan kenyataan: aku dan Hamdan tidak bersama-sama setiap hari! Karena pekerjaannya, umumnya kami hanya bertemu sepuluh hari dalam sebulan (mendengar kenyataan yang ini, si dokter makin ngakak dan membuatku  makin merasa konyol mendatanginya terlalu cepat)

Agar tak terlalu panjang, tulisan ini ku’gunting’ dan kupisahkan dari  lanjutannya, Rencana Kehamilan : Tahun II-III. Siapa tahu ada yang bosan membacanya. Terimakasih sudah sudi mampir dan membaca ya!

Salam,

Heidy

 

*Terimakasih kepada pencipta gambar (ini sumbernya)!