Berumahtangga Jarak Jauh

Hamdan belum pernah jadi pegawai kantoran. Sejak sebelum menikah, aku sudah mengenalnya sebagai pekerja lapangan. Dalam hal ini, lapangan yang kumaksud bukan pemukiman penduduk, pabrik, area konstruksi, apalagi lapangan bola. Lapangan tempatnya bekerja adalah laut lepas. Ia bisa menghabiskan waktu sekitar 3 minggu tiap bulannya untuk bekerja di sana. Dengan kata lain, aku hanya melihatnya selama waktu sisanya: 10 hari.

Peciko field – Balikpapan offshore

Kesanggupanku untuk ‘berumahtangga jarak jauh’ ini sebenarnya termasuk dalam kumpulan persoalan yang ia tanyakan ketika melamarku lima tahun lalu. Saat itu, aku tak terlalu banyak berpikir. Berdasarkan pengalaman sudah pernah tinggal jauh dari orangtua selama bertahun-tahun, aku cukup yakin bahwa ditinggal suami selama tiga minggu pun bukan hal yang berat.

Keyakinanku itu langsung diuji tak lama setelah kami sah menjadi suami istri. Setelah masa cuti habis, tak sampai sebulan dari hari pernikahan, Hamdan kembali bekerja. Untuk pertama kalinya, aku merasakan beratnya berjauhan dengan suami tercinta (uhuk). Kemudian, waktu berjalan dan aku pun belajar membiasakan diri dengan kehidupan rumah tangga jarak jauh ini. Terbiasa untuk sedih, khawatir, dan takut saat Hamdan akan berangkat bekerja, lalu terbiasa untuk antusias, gembira namun juga harap-harap cemas di hari kepulangannya kembali. Sampai sekarang.

Ya, setelah hampir lima tahun menikah, ternyata perasaan-perasaan itu tak berubah. Hari keberangkatan maupun hari kepulangan Hamdan tidak pernah sekalipun menjadi hari yang biasa-biasa saja bagiku. Sempat aku mempertanyakan kedewasaanku sendiri, merasa seperti anak kecil yang tak juga bertumbuh. Namun, lama kelamaan aku sadar bahwa sesungguhnya ini berkah yang luar biasa bagi kami. Seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, gairah dan kasih sayang di antara kami bukannya memudar, melainkan sebaliknya.

Namun setelah kuingat-ingat lagi, ternyata kami juga bukannya tak belajar apa-apa dalam ‘mata kuliah’ berumahtangga jarak jauh selama lima tahun ini. Salah satunya adalah pelajaran bagiku dalam menyikapi jadwal kerja Hamdan yang makin tak beraturan (kadang ia bukan lagi 3 minggu bekerja, tapi bisa sampai sebulan lebih karena tak ada penggantinya). Dulu, di tahun pertama-kedua pernikahan, keuring-uringan dan ketidakrelaanku atas hal itu bisa sampai menyulut perselisihan di antara kami. Apalagi disertai dengan pikiran tentang kalender masa subur…hehehe. Pokoknya, kami bisa perang dingin berhari-hari. Syukurlah hidayah segera datang dan aku sadar : sudah pun jarang bertemu, berselisih pula? RUGI!

Maka sekarang, sekesepian atau sekesal atau sekangen apapun, bersayang-sayangan dan saling menjaga perasaan satu sama lain di hari-hari saat kami sedang berjauhan adalah prioritas. Ya tentu wajar kalau sesekali ada yang uring-uringan, tapi saat itu, yang lainnya wajib menjadi penetralisir. Peran ini ternyata menyenangkan. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa menetralisir perasaan negatif pasangan itu bukan mengurangi kepositifan kita, melainkan malah menambah kebahagiaan. Subhanallah, kaan? :)

Soal keterampilan bersabar, kurasa jelas sekali: Hamdan sudah lebih dulu menguasainya. Sejak awal. Mungkin terpaksa siih, karena menghadapiku yang sifat dasarnya memang sangat emosional dan tidak sabaran…hahhaha. Jadi, aku tak begitu yakin dengan perkembangannya. Sejak awal hingga kini, ia memang cukup sabar dalam menghadapiku. Akulah yang perlu bersusah payah belajar, sampai akhirnya perubahannya dapat terlihat dan terasa (oleh Hamdan juga, tentu).

Ternyata memang dulu akulah yang menyebabkan perselisihan di antara kami lebih sering terjadi. Aku yang kesepian, aku yang stres soal kalender masa subur, aku yang ingin dimanja dan diperhatikan, dan seterusnya. Dan berhubung sabarnya Hamdan yang masih manusia (bukan malaikat) itu ada batasnya, yaa wajar dong kalau ‘meledak’ juga. Apalagi kalau pekerjaannya pun sedang bermasalah, hweew…hiks, maaf ya sayaang… :(

Ibu (mertua)-lah yang secara tak langsung mengajariku dalam hal ini. Ingat ya, secara tak langsung! Mungkin ia pun tak sadar bahwa ia sedang mengajariku. Begini ceritanya. Beberapa kali, Ibu sempat sakit saat Hamdan sedang di laut. Memang bukan sakit keras, sih, tapi tetap saja judulnya: sakit. Ibu tak pernah bilang-bilang tiap sakit. Jika aku tahu, itu pasti karena aku sedang kebetulan ke rumahnya, diberitahu adik ipar, atau Bapak (mertua). Dan setelah aku tahu, Ibu pasti secara khusus selalu memintaku untuk tidak memberitahu Hamdan. “Suami lagi kerja jangan diganggu, nanti pikirannya nggak fokus. Sudah, Ibu nggak apa-apa kok,” alasannya SELALU seperti itu.

Karena dibesarkan dalam keluarga modern, sebenarnya aku nyaris tak mengerti hal-hal sederhana seperti itu. Yang kutahu persis adalah prinsip kesetaraan. Namun lambat laun, aku mengerti bahwa cara berpikir dan bersikap yang diajarkan Ibu sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip kesetaraan itu. Perempuan yang berlemahlembut pada suaminya, yang sangat memperhatikan, memikirkan dan menjaga perasaan suaminya sama sekali bukan berarti perempuan yang kalah, lemah, lebih rendah, dan seterusnya. Aku melihatnya pada Ibu, yang jadi sangat disayang dan dimanja oleh Bapak. Dan akhirnya…aku pun merasakannya pula terjadi padaku dan Hamdan.

Entah sejak kapan dan selama berapa lama, aku rajin mengamati jenis nada suara Hamdan di telepon. Yang jelas, sekarang, hanya dari SEPATAH KATA pertama yang ia ucapkan di telepon, aku langsung tahu apakah ia sedang marah, kesal, bosan, terburu-buru, stres, santai, riang, bahagia, atau kangen (padaku!). Sepertinya otakku sudah punya data rekaman berikut analisisnya, hehehe. Nah, berbekal kesadaran itu, aku pun menyesuaikan apa-apa yang kusampaikan padanya. Atau, menyesuaikan berapa lama sebaiknya aku bicara sebelum pamit dan memutus sambungan telepon. Dan itu bisa jadi cuma 3 detik, lho, setelah 48 jam tidak bisa dihubungi sama sekali: “Sibuk? Yaudah deh..I love you, mwah, Assalamualaikum!” Hehehe, ini jelas kemajuan besar dibandingkan saat baru menikah dulu. Cuma bisa ngobrol kurang dari 10 menit setelah seharian nggak bisa ditelepon? Merajuk, sudah hampir pasti kulakukan setelah itu! :D

Ingin diperhatikan, dimanja, disayang-sayang…sepertinya itu keinginan yang wajar dari setiap perempuan bersuami. Tapi untuk mendapatkannya, kurasa kita tak selalu harus meminta atau ‘memancing’ (kalau kadang-kadang, bolehlaah…). Apalagi kupikir, sebenarnya para suami itu pun punya kebutuhan atau keinginan itu. Naah…dari hasil pengamatan dan juga pengalamanku sendiri, ternyata sebaiknya sang istri yang memberikannya lebih dulu. Kenapa? Karena..yang memberi belakangan biasanya dengan bahagia dan sukarela akan menyertakan bunga berlipat! Cocok, kan dengan kebutuhan para perempuan? Hihihi…

Kembali ke soal berumahtangga jarak jauh, ya. Aku tahu, sedramatis apapun aku menceritakannya, mungkin jelas sekali terlihat ini sama sekali bukan masalah besar. Banyak pasutri lain yang hidup lebih berjauhan, bertemu lebih jarang, dan selalu baik-baik saja. Tak ada istri yang merajuk, suami yang dibuat kesal, dan sebagainya. Hidup selalu tentram damai sejahtera. Tentu saja mereka hebat luar biasa! Aku tak tahu apa ada yang namanya bakat untuk urusan ini. Yah seandainya ada, mungkin bisa dikatakan mereka itu golongan yang berbakat, sementara aku sebenarnya sama sekali tidak. Dan bagi yang tak berbakat, belajarlah yang menjadi faktor penentu keberhasilannya!

Omong-omong, aku menulis hal ini karena InsyaAllah, ini adalah minggu terakhir aku dan Hamdan terpisah ribuan kilometer setiap tiga minggu. Bulan lalu Hamdan sudah memberikan surat pengunduran diri ke perusahaan tempatnya bekerja demi kembali menjadi mahasiswa. Kini kami sama-sama mahasiswa! Sayangnya, kami memilih perguruan tinggi di kota yang berbeda, meski tidak berbeda pulau (jadi, judulnya tetap jarak jauh, hanya saja tak sampai 200km sehingga sepertinya bertemu tiap minggu pun memungkinkan jika ada duit lebih:D). Perubahan kondisi ini pasti akan membawa pengaruh baru dalam kehidupan berumahtangga kami. Pengaruh yang seperti apa? Yah, mari kita lihat nanti dan mari terus belajar! ;)

Salam belajar!

Heidy