Ulang Tahun Ke-5

Seminggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 November 2012, usia perkawinanku dan Hamdan tepat lima tahun. Usia yang masih sangat muda, tetapi terasa benar begitu banyak nikmat dan pelajaran berharga telah kami dapatkan. Subhanallah.

Masih kuingat hari ulang tahun pertama pernikahan kami empat tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang sangat menyita waktu dan tenaga. Seringkali aku terpaksa bekerja lembur dan itulah yang terjadi tepat di hari ulang tahun pertama perkawinan kami. Sembari berusaha menyelesaikan pekerjaan, aku merasa sangat sedih dan gelisah. Apalagi saat itu suamiku yang sedang dalam masa liburnya sudah menunggu di rumah. Memang, sih, hari itu berakhir indah karena ternyata suamiku sama sekali tidak ikut uring-uringan. Santai saja ia mendandani rumah dan menyiapkan candle light dinner  dalam rangka menyambutku dengan kejutan manis :’)

Meskipun begitu, kesedihan, kekesalan dan kegelisahanku saat harus bekerja lembur di hari istimewa itu entah mengapa tak dapat kulupakan. Mungkin karena esoknya, hal itu disinggung dalam pembicaraan dengan salah satu atasanku. Ia bertanya padaku, “Katanya kemarin first anniversary, ya?” Setelah aku mengiyakan, ia menambahkan komentar, “Karena itu jadi sedih, ya? Tapi itu karena baru setahun, sih! Nanti lama-lama juga biasa. Kemarin gue empat tahunan juga udah biasa aja, nggak berasa apa-apa!”

Apakah itu maksudnya menghiburku? Entahlah. Yang jelas, aku sama sekali tak merasa terhibur. Justru sebaliknya, aku malah kasihan padanya dan merasa semakin sedih. Apakah semakin bertambah usia sebuah pernikahan, semakin pudar semangat dan gairah kebersamaan itu? Apakah perkawinan itu pasti akan semakin terasa menjemukan seiring dengan berjalannya waktu?

Tahun kedua, ketiga, dan seterusnya pun kami lewati. Senang dan sedih dialami bersama. Seiring dengan banyak hal yang terlalui, ada doa dan tekad yang semakin besar untuk memelihara semangat dan gairah kebersamaan kami sampai kapan pun. Terlalu banyak nikmat yang telah diturunkan Allah SWT bagi kami dan ini hanyalah salah satu wujud usaha untuk mensyukurinya.

Pemahamanku pun bertambah. Ternyata rasa syukur itu dapat beragam wujudnya. Apa dalam setiap momen istimewa semacam ulang tahun pernikahan itu, kami harus secara khusus bersama-sama pergi ke suatu tempat untuk merayakannya? Tidak juga. Bahkan sudah tak terhitung momen istimewa yang harus kami lewatkan secara terpisah: aku di Jakarta, Hamdan di lepas pantai. Tapi tidak berarti itu menjadi alasan bahwa kami dapat melewatkannya tanpa bersyukur. Bersyukur itu harus dan wujud syukur itu beragam. Itulah pelajaran penting yang semakin kupahami.

Di malam sebelum hari ulang tahun perkawinan kami yang ke-5 minggu lalu, di tengah-tengah waktu pengerjaan Ujian Tengah Semester dan persiapan salah satu presentasi, aku pergi ke Bandung. Tentu saja tujuannya adalah agar aku dapat bersama suamiku. Sesampainya aku di Bandung, Hamdan mengajakku makan malam di sebuah restoran. Awalnya aku merasa risih karena dalam beberapa bulan terakhir kami sudah tidak pernah ‘membayar lebih’ hanya untuk kebutuhan makan kami. Maklum, kami kan sama-sama mahasiswa dan sedang tak punya pekerjaan tetap :D

Ketika aku berkomentar bahwa harga makanan di situ hampir sepuluh kali lipat dari biaya yang biasanya kukeluarkan untuk makan di kampus, Hamdan berkata, “Nggak apa-apa dong, sekali-kali. Kan five years, five years……!” Ada rasa haru. Bukan karena soal diajak ‘makan enak’nya, melainkan karena menyaksikan sendiri ekspresi wajah suamiku yang tampak sangat bersemangat dan gembira seperti anak kecil ketika menyebutkan usia perkawinan kami. Subhanallah. Gairah itu tidak pudar, malah semakin bertambah! Semoga hal ini terus terjaga hingga berpuluh-puluh tahun lagi, aamiin ya Rabb….

Lalu esoknya, coba tebak apa yang kami lakukan di hari ulang tahun perkawinan kami itu. Kencan atau piknik di tempat umum? Tidak. Setelah berkontemplasi dan berdoa bersama di pagi harinya, sampai sore hari kami di rumah saja. Sebagian besar waktu dihabiskan di kamar, mengerjakan tugas kuliah! Hahhaha. Berdua kami duduk berdampingan menghadap meja belajar dan mengerjakan tugas masing-masing, sambil sesekali mengusap-usap punggung satu sama lain. Dan ajaib, sungguh, entah kenapa rasanya tak kalah romantis dari candle light dinner. Alhamdulillah

Beberapa orang mungkin tak setuju dengan peringatan hari ulang tahun, termasuk di antaranya ulang tahun perkawinan. Tak apa. Kita bebas berbeda pendapat, kan? Bagiku sendiri, yang perlu dihindari adalah perayaan yang berlebihan dengan berpesta pora atau berfoya-foya. Namun, kurasa memperingatinya dalam rangka memanfaatkannya sebagai momen berkontemplasi atau momen pengingat untuk lebih banyak bersyukur justru sangat penting.

Sesuai dengan pesan & harapan dari Mama kami minggu lalu: Your 5th anniversary means everything, each of your love cherish each other in every way. Through the passing time, your love grows beautifully, your understanding getting deeper and deeper, caring each other, exploring what Allah swt grants you two every seconds. May your life together gets better and better, keep on loving one another more and more. Just because you love Allah swt above all…

Ya Allah, hanya karena ridhoMu kami dapat melangkah bersama hingga detik ini. Terlalu banyak nikmat yang telah Engkau turunkan bagi kami. Ampunilah kami yang belum pandai mensyukurinya dengan sempurna. Ijinkanlah kami untuk terus belajar saling mencintai hanya karenaMu, kumpulkanlah kami selalu dalam kebaikan, nikahkanlah kami kembali kelak di surgaMu. Mampukanlah kami untuk terus berbagi kasih sayang pada sesama dan semoga kebersamaan ini membawa sebesar-besarnya manfaat hingga akhir jaman. Aamiin ya Rabb…

Salam cinta,

Heidy (+ Hamdan)

Menjelang Siklus Baru

Beberapa hari yang lalu, aku terserang sakit kepala hebat. Hari berikutnya, emosiku kacau balau. Seperti yang selalu kulakukan hampir setiap bulan sebelumnya, aku langsung mengambil dan mencermati kalender. Mungkin tidak banyak perempuan yang setiap bulan rajin mencatat waktu menstruasinya di dunia ini, tapi aku termasuk di antaranya. Satu manfaat kebiasaan ini adalah agar aku dapat paham tentang kondisiku sendiri, terutama pada hari-hari menjelang siklus haidku yang berikutnya, sehingga mencegah kepanikanku. Alih-alih mencurigai sejenis penyakit, aku langsung tahu bahwa kondisi fisik dan mental yang berbeda dari biasanya itu tak lain tak bukan hanyalah gejala pra haid atau yang lebih sering dikenal dengan Pra Menstrual Syndrome (PMS).

Paham tidak berarti otomatis aku selalu sukses mengatasi PMS-ku. Sebesar apapun keinginanku untuk tidak bergantung pada obat, terkadang aku harus menyerah pada sebutir pil pereda sakit kepala ketika istirahat atau tidur pun sama sekali tidak membantu.  Tapi dibandingkan dengan sakit kepala itu, ada lagi yang lebih parah dan seringkali tidak dapat kukendalikan sehingga menurutku cukup berbahaya:  perasaan yang labil. Kenapa kukatakan berbahaya? Karena si perasaan labil itulah yang bisa membuatku kehilangan cara berpikir jernih yang biasanya ‘menjaga’ agar setiap perilakuku berada dalam batas-batas yang berterima. Saat emosi sedang kacau, apapun yang terlihat, terdengar, atau terasa nyaris tak dapat kutanggapi dengan baik. Rasa sakit di badan terasa berkali lipat lebih menyengsarakan, segala kabar negatif terdengar jauh lebih parah, dan hal-hal baik lupa kusambut dengan sukacita serta penuh syukur. Bukankah ini hal yang sangat buruk?

Dalam kasusku, dapat dipastikan, hubungan suami-istri adalah yang pertama kali terkena imbas dari si PMS yang berupa perasaan labil. Meskipun aku sudah hafal semua jenis nada suara Hamdan (yang menandai apakah ia sedang santai, sibuk, tenang, gelisah, atau bahkan stress) dan pada hari-hari biasanya aku akan menyesuaikan diri ketika menghubunginya (memilih-milih kabar yang disampaikan atau menunda pembicaraan), di masa-masa saat mengalami PMS itu aku menjadi sangat egois. Tidak mau tahu apa yang sedang terjadi padanya, pokoknya aku harus didengarkan dan diperhatikan. Manja sekali.

Dan sayangnya, PMS-ku justru sering datang bertepatan dengan saat suamiku sedang dalam kondisi pikiran yang tidak prima. Entah itu ia sedang sibuk, cemas, panik, atau gelisah. Di saat yang demikian, kutambah pula penderitaannya dengan keharusan mendengarkan keluh kesahku yang berkilo-kilometer panjangnya dan tak jarang disertai dengan tangis frustasi. Frustasi, karena pada saat yang sama aku tahu betul bahwa apa yang kulakukan itu sungguh tidak bijaksana, tapi aku tak berdaya melawan ‘nafsu’ yang begitu kuat untuk menumpahruahkan segala emosi. Lucunya, semakin kutumpahkan, perasaanku bukan semakin baik. Aku malah jadi semakin kesal dan benci pada diri sendiri (kenapa sebegitu lemahnya dan sebegitu tak bergunanya sebagai istri), semakin ingin menumpahkannya, dan semakin marah lagi. Benar-benar lingkaran setan!

Di saat seperti itu, harapanku pada Hamdan melambung tinggi. Suamiku adalah pasangan jiwa, teman hidup, orang terdekat yang kuanggap paling tahu dan mengerti segala kebaikan dan keburukanku. Aku sama sekali melupakan bahwa ia juga manusia yang pada saat yang sama bisa berada pada titik ketidaknyamanan yang lebih rendah dariku, juga bahwa sebagai seorang kepala keluarga, beban pikirannya dapat berkali-kali lipat lebih berat daripada yang kurasakan. Karena itu, ketika tanggapannya atas keluh kesahku tidak sesuai dengan harapan (yang bahkan kalau dipikir-pikir lagi sekarang pun aku tak tahu, tanggapan seperti apa yang sebetulnya kuharapkan…hahaha), aku menjadi sedih, kecewa, dan semakin kesal. Jangan berharap cerita beralur klimaks-antiklimaks yang berakhir bahagia dari sini. Pembicaraan kami di akhir hari ditutup begitu saja dengan menahan ketidaknyamanan di hati masing-masing.

Namun alhamdulillah, suasana yang membaik selalu datang pada pagi hari berikutnya. Apa yang terjadi? Semalaman aku hanya berusaha sebanyak mungkin beristighfar dan berdoa minta dijauhkan dari segala macam pikiran buruk. Namun, kebaikan yang sebenarnya berawal dari sapaan ceria suamiku di pagi harinya sehingga segala keburukan dalam pembicaraan sebelumnya terasa seolah tak pernah terjadi. Lambat laun, kudapatkan kembali ketenangan dan kejernihan dalam berpikir itu.

Hari demi hari berlalu dan rasa malu serta menyesal semakin bertambah setiap kali aku mengingat tingkah atau kedzalimanku terhadap suami saat mengalami PMS. Seingatku, perasaan ini juga selalu kualami. Herannya, ketika masa itu datang kembali, tetap saja aku amnesia (bahwa aku selalu akan malu dan menyesal di kemudian hari) dan tetap ‘cari gara-gara’. Tentu saja, saat ini jiwaku sedang sangat sehat sehingga dapat menuliskan semua ini. Bukan saja dapat, tapi bertekad. Kurasa siapapun bercita-cita menjadi manusia yang lebih baik seiring dengan pertambahan usianya. Dalam koridor cita-cita itu, aku bertekad ingin menyembuhkan penyakit ‘amnesia’ku. Semoga menuliskan dan berbagi pengalaman ini dapat menjadi salah satu jalan.

Kepada diriku di masa depan (tepatnya yang terdekat ya bulan depan ya…hehehe), saat sebuah siklus baru akan kembali datang, ingatlah untuk memperbanyak istighfar dan mohon dijauhkan dari pengaruh setan yang terkutuk. Segeralah berhenti berpikir yang tidak-tidak, jangan mengambil keputusan apapun dalam kondisi perasaan yang kacau (baca: cepat tidur!). Lalu kepada suamiku yang terkasih, terimakasih atas pengertian dan kesabaranmu yang luar biasa, juga kebesaran dan kerendahan hatimu. Sungguh beruntung diriku, dianugerahi suami yang begitu penyayang, pemaaf dan kuat. Subhanallah Alhamdulillah. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, dikumpulkan dalam kebaikan dan dijauhkan dari segala keburukan. Aamiin ya Rabb

Salam belajar,

Heidy

Saat Seorang Suami Sakit

Kemarin sebelum memulai kuliah, dosenku menyampaikan informasi tentang alasan ketidakhadiran salah seorang peserta kuliah yang tidak sejurusan denganku. Ternyata suaminya terkena serangan jantung, untuk yang kedua kalinya. “Terakhir masuk ICU, sudah keluar, eh…serangan lagi,” kata Bu dosen meneruskan cerita yang diperolehnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Perasaanku ikut tak keruan mendengar cerita itu. Tak terbayang bagaimana rasanya jika aku yang berada di posisi sang istri. Tentu lebih dari sedih. Kalut, kurasa. Ah, sudahlah, aku sungguh tak sanggup meneruskan membayangkannya.

Seorang suami. Sebelum ijab kabul dilakukan, laki-laki itu tidak termasuk anggota keluarga. Namun setelahnya, tidak saja ia masuk dalam lingkaran keluarga, ia bahkan menjadi yang terdekat, yang –seharusnya– nyaris tak terpisahkan denganmu. Bahkan jika yang dijalani adalah rumahtangga jarak jauh sepertiku. Seandainya terpisah jarak hingga setengah keliling bumi pun, seorang suami tetap yang terdekat, orang nomor satu bagi istrinya.

Aku jadi teringat saat Hamdan divonis terserang flu AH1N1 dan ‘dipenjara’ tanpa boleh menerima seorang tamu pun di sebuah kamar isolasi rumah sakit khusus penyakit infeksi pada tahun 2009 dulu. Biarpun itu samasekali bukan penyakit gawat (baca: penyakit ecek-ecek yang dibesar-besarkan oleh media), rasanya duniaku terguncang hebat. Betapapun jauhnya jarak geografis yang pernah memisahkan raga kami, rasanya ternyata masih jauh lebih enak daripada ‘pemisahan’ saat itu. Padahal ia bukannya tergeletak di kamar ICU dalam keadaan tak sadar. Sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan apa yang terjadi pada suami teman kuliahku saat ini!

Namun kurasa karena pengalaman itulah, aku jadi selalu ikut sedih sekali setiap kali mendengar berita semacam “suami si A sakit!”. Meski mungkin tak tahu persis bagaimana perasaan sang istri, aku dapat membayangkan betapa beratnya ujian itu. Cobaan yang mungkin tak cukup kuat kuhadapi jika terjadi padaku sendiri.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dari surat Al Baqarah ayat 156, aku memahami bahwa kata-kata yang artinya “sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali” itu adalah ucapan terbaik saat seseorang ditimpa suatu musibah. Musibah yang dimaksud di sini tidak hanya meninggal dunianya seseorang. Kesehatan kita. Kecerdasan kita. Kekayaan kita. Semua adalah milik-Nya, titipan-Nya untuk kita. Dan ketika semua atau salah satu di antaranya diambil kembali, apa yang dapat kita lakukan?

Yaa Rabb, janganlah berikan kami ujian yang tak sanggup kami menanggungnya. Karuniailah kekuatan, kesabaran, ketabahan, ketegaran bersamaan dengan ujian yang Engkau hadapkan pada saudara kami. Jadikanlah sakit sang suami sebagai penghapus dosa-dosa mereka, penambah keimanan dan ketaqwaan mereka kepadaMu serta perekat cinta, kasih sayang dan kemesraan di antara mereka. Berikanlah kesembuhan dan anugerahkanlah nikmat yang Engkau ridhoi, hilangkanlah segala penyakit dan kesusahan mereka. Aamiin…

Salam,

Heidy